
Ken berjalan lunglai setelah makan siangnya dari kantin, dia menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan lemas, tidak percaya akan alur hidupnya yang rumit. Dia mengingat-ingat kembali setiap cerita Rai dan Ruby yang di curhatkan padanya. Adem ayem tentrem, berbanding tegak lurus dengan sudut kemiringan 90 derajat dengan ceritanya, naik, turun, belok, menikung tajam, lalu berputar-putar sampai pusing.
" Mungkin memang benar apa kata marimar, harusnya ku biarkan dia sendiri dulu " Gumamnya menyerah.
Sementara itu Kiran masih saja terus mendapat panggilan dari nomor yang semalam meneleponnya, namun karena ketakutan dia tidak mengangkatnya.
Dengan putus asa dia memutuskan akan pergi menyusul ibunya didesa nanti sepulang dari menghadiri acara arisan bersama dan mengambil cuti beberapa hari, dia sudah tidak tahan lagi dengan keanehan yang terus menghantuinya.
Dan lagi sepertinya dia perlu suasana yang tenang untuk memikirkan tentang hubungannya dengan Ken. Kata-kata Ken masih saja terngiang-ngiang di telinganya.
" Haaah... " Kiran menghela napas panjang dan membenamkan wajahnya di meja kerjanya.
" Kau pikir hanya kau yang ingin berciuman, aku juga " Gumamnya sedih.
Kiran memejamkan matanya, dan sebutir air mata berhasil meluncur turun melewati jembatan hidungnya.
Bukannya Kiran tidak memaksakan diri untuk berkontak fisik dengan Ken, tapi pengalamannya yang hampir menjadi korban pemerkosaan Ganung, serta hampir menjadi korban penjualan oleh mantan kekasihnya membuatnya sangat trauma dengan yang namanya kontak fisik secara intim. Meskipun pada akhirnya dia tau bahwa yang di lakukan Ganung semata-mata adalah untuk melindunginya, namun itu tidak merubah kenyataan bahwa Ganung pernah menciumnya dan meraba-raba tubuhnya dengan paksa. Hal itu membuat alam bawah sadarnya seperti membuat kesimpulan sendiri bahwa setiap kontak fisik yang intim adalah bentuk lain dari kejahatan, dan itu membuatnya merasa jijik dan mual.
Kiran sudah berkonsultasi dengan psikiater dan mendapatkan beberapa resep obat penenang, tapi bagaimana pun obat tetap memiliki efek samping, dan itu tidak akan baik untuk tubuhnya, jadi dia memutuskan hanya akan meminum obat penenangnya saat terdesak saja.
" Kenapa laki-laki selalu berpikir ke arah sana ? Apakah tidak cukup hanya dengan saling mencintai dan memiliki satu sama lain ? Atau aku yang terlalu egois ? " Gumamnya lagi, air matanya kembali jatuh menetes.
🍁🍁🍁🍁🍁
Semua guru sedang berkumpul di sebuah restoran kekinian yang khusus menjual berbagai macam seblak dengan berbagai level. Restoran yang terkenal di kalangan anak muda itu ternyata cukup ramai meskipun disiang hari.
Bukan lidah warga 62 jika tidak kebal dengan yang namanya rasa pedas, begitu juga Kiran. Dia dengan percaya diri memesan seblak dengan level tertinggi. Dia akan melepaskan rasa stress nya kali ini.
Tak berapa lama pelayan datang dengan membawakan pesanan masing-masing para guru. Dan hanya milik Kiran yang terlihat sangat menyeramkan. Kuah merah kental dengan isi ceker ayam yang terlihat sangat menggiurkan itu membuatnya menelan ludah senang sekaligus ngeri.
Kiran melihat Pak Doni menengok kesana kemari, membuatnya bertanya-tanya.
" Ada apa pak ? " Tanya Kiran heran.
" Tidak, ini tissu di dalam kotak habis, tapi tidak ada pelayan yang lewat " Jawabnya seraya masih menengok-nengok mencari pelayan.
" Aku saja yang akan memintakan tissu di konter kasir " Jawab Kiran tersenyum dan berdiri pergi menuju konter kasir.
Namun seseorang dihadapannya berbalik tanpa melihat hingga menubruk pundak Kiran, membuat barang bawaannya terjatuh.
" Maaf maaf " Ucap mereka bersamaan.
" Kau ? " Tunjuk mereka bersamaan lagi. Kemudian tertawa bersama.
__ADS_1
" Sedang apa disini ? " Tanya Lucas seraya membungkuk mengambil bungkusannya yang jatuh.
" Aku sedang berkumpul dengan para guru " Jawab Kiran menunjuk mejanya.
" Aah acara kantor ? " Tebak Lucas tersenyum.
" Ya seperti itu lah kira-kira " Jawab Kiran juga tersenyum.
Lucas menoleh ke arah meja yang ditunjuk Kiran, tempat teman-temannya berkumpul. Dengan pandangan menyelidik dia mengamati satu persatu wajah yang ada disana. Dan kemudian mengernyitkan keningnya heran.
" Kau sudah tidak bekerja di SMA Loyard ? " Tanyanya asal.
" Masih, kenapa ? " Tanya Kiran bingung.
" Kenapa kekasihmu tidak ada di sana ? " Lucas menunjuk kumpulan orang-orang dengan wajahnya.
" Dia tidak di undang " Jawab Kiran malas dan senyum di wajahnya kini berganti dengan cemberut. Hal itu membuat Lucas tersenyum.
" Mau menemaniku minum jus ? " Tanyanya kemudian.
" Apa ? " Tanya Kiran bingung.
" Kita kan sudah lama tidak bertemu, aku ingin ngobrol sebentar dengan mu " Jawab Lucas santai.
Mereka kemudian pergi menuju meja yang ada di depan jendela kaca besar, yang terletak agak jauh dari mejanya semula.
" Bagaimana kabar mu ? " Tanya Lucas basa-basi.
" Baik " Jawab Kiran santai.
" Aku sempat takut tadi, ku pikir Ken akan berlari menerjangku dan memukulku karena berani-beraninya menabrakmu " Ucapnya terkekeh.
" Dia tidak ada " Jawab Kiran berubah muram, seperti sudah menduganya, Lucas tau Ken dan Kiran sedang ada masalah.
" Kenapa kau lagi-lagi mangkir dari kelas psikiater ? " Tanya Lucas berbisik agar tidak ada orang lain yang mendengarnya.
" Entahlah, aku merasa tidak ada kemajuan, aku masih saja melihat bayangan-bayangan Ganung di kepala ku, bahkan semakin parah saja sejak kematiannya " Jawab Kiran memelas, tanpa sadar menceritakan masalahnya pada Lucas.
" Hei kau tau, aku sekarang kuliah lagi dan mengambil jurusan psikologi, ya sebagai pencegahan jika penyakitku kambuh kembali " Ceritanya malu-malu.
" Coba kau ceritakan masalahmu padaku, jadi aku bisa menerapkan ilmu yang kudapatkan saat kuliah, apakah aku akan berhasil menjadi psikiater yang handal atau tidak " Lanjutnya bersemangat.
" Sungguh ? Wah selamat ya, tentu saja kau pasti jadi psikiater yang handal, kau kan selalu bersemangat setiap sesi pengobatan " Jawab Kiran ikut bersemangat.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu ceritakan masalahmu " Cecar Lucas percaya diri.
Kemudian Kiran menceritakan semua masalah-masalah yang dia hadapi dengan Ken, mulai dari hal sepele hingga bom waktu yang baru saja meledak tempo hari.
" Hmm... " Lucas mengangguk-anggukan kepalanya paham.
" Ini bukan keinginan ku, aku sendiri juga sama tidak berdayanya melawan trauma ku " Jawab Kiran sedih.
" Kiran " Panggil Lucas lirih dan kemudian mencondongkan tubuhnya menghadap Kiran.
" Kenapa kau tidak melakukannya secara refleks saja ? " Lanjutnya serius.
" Hm ? " Kali ini ganti Kiran yang menaikkan salah satu alisnya bingung.
" Kau terlalu memikirkannya, kau selalu membayangkan berciuman dengannya yang malah hanya membuat rasa trauma mu terus muncul. Kenapa tidak kau lakukan secara reflek tanpa berpikir, bayangkan saja itu seperti kau terpaksa menempelkan bibirmu di punggung orang lain saat berdesak-desakan di dalam bus. Hanya lakukan saja, cepat dan tanpa berpikir " Saran Lucas yakin.
" Entahlah aku tidak yakin " Jawab Kiran lirih.
" Ei sudahlah percaya padaku, jangan terlalu terbebani dengan masalah-masalah yang ada, hanya akan menumpuk di pikiranmu dan membuatmu terjebak " Lucas memegang tangan Kiran saat Kiran lengah.
Kiran hanya menunduk pasrah dan berpikir keras. Namun saat dia sadar bahwa tangan Lucas sedang menggenggam tangannya, secepat kilat dia menariknya dan menyembunyikannya di bawah meja.
Lucas tergelak melihat sikap Kiran.
" Lihat kan ? Saat kau melakukannya secara reflek maka tidak akan ada trauma yang muncul, karena apa ? Karena otakmu tidak akan sempat menampilkan bayangan-bayangan buruk yang bisa memicu serangan panik mu " Jelasnya masih dengan gelak tawa jahil.
Kiran tersenyum malu dan menundukkan kepalanya. Dalam hati dia juga membenarkan apa yang dikatakan Lucas, dan juga tempo hari saat Bambang secara reflek memegang tangannya, Kiran juga tidak merasakan apa-apa. Biasanya dia akan langsung menjerit ketakutan saat itu terjadi padanya. Hanya dengan Ken dia bisa berpegangan tangan dan juga berpelukan, itupun diakibatkan insiden mengerikan yang di alaminya akhir-akhir ini. Rasa aman dan nyaman membuatnya biasa saja saat Ken yang memeluknya, namun untuk lebih jauh dari itu, mentalnya belum siap.
" Kau tau saat aku memutuskan untuk kuliah lagi dan bersemangat menerima pengobatan, aku semakin banyak menyesali tindakan bodohku di masa lalu " Cerita Lucas nanar, pandangan matanya kosong seperti kembali berada di masa lalu.
" Harusnya aku tidak menundanya sampai besok apa yang mampu ku lupakan hari ini " Lanjutnya lirih, segurat penyesalan terpampang jelas di wajahnya, namun sedetik kemudian dia sudah kembali menguasai diri dan tersenyum lagi.
" Terlalu banyak memikirkan mantan bisa mengirim mu ke rumah sakit jiwa " Nasehatnya lagi seraya terkekeh, dan disambut dengan tawa lebar Kiran serta anggukan membenarkan.
" Ya kau benar tentang satu itu, kita terlalu banyak memikirkan mantan, makanya kita di kirim ke rumah sakit jiwa " Jawab Kiran ikut terkekeh.
" Biarkan saja mereka jadi awan, karena dengan begitu, saat mereka menghilang itu malah akan membuat langitmu menjadi terang, bukan begitu ? " Ucap Lucas masih dengan senyumnya yang hangat.
" Siap dokter " Jawab Kiran menggoda dan membuat tanda hormat dengan telapak tangannya.
" Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu, sekali-sekali pergilah berlibur, kau terlihat mengerikan " Ejek Lucas sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Kiran.
Seperti sebuah pelangi yang memang tercipta setelah hujan, Lucas berubah menjadi sesosok orang yang lebih baik dan bijak, hingga mampu mentertawakan penyakit mentalnya sendiri. Bukankah itu artinya kedewasaannya sedang bertumbuh.
__ADS_1
Mendapat pencerahan dari Lucas membuat rasa percaya diri Kiran kembali, dia akan mencoba mengikuti saran Lucas untuk tidak terlalu terbebani dengan masalah kontak fisik, sebagai gantinya dia akan melakukannya secara natural saja, biar waktu yang menunjukkan timing yang pas untuknya menjadi reflek tanpa segaja.