Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Kuntilanak ?


__ADS_3

Perjalanan menuju tujuan dengan bus yang mereka tumpangi tidak terlalu lama, Ken yang trauma dengan bus hanya diam saja selama perjalanan, dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan Kiran, wajahnya pucat pasi dan tangannya berkeringat dingin, untung saja wajahnya sekarang tersembunyi di balik masker, karena kalau tidak begitu sudah pasti Kiran akan tau tentang traumanya, mereka berhenti di sebuah halte yang sepi yang ada di sebuah desa pinggir utara pusat kota. Bukan desa terpencil, tapi juga tidak terlalu ramai. Dylan turun juga para detektif upin dan ipin tersebut. Ken sampai harus menghela nafas panjang sekali saat kakinya menjejakkan tanah. Membuat Kiran heran, ada apa sebenarnya dengan Ken. Kadang bersikap konyol, dan kadang misterius.


Mereka berjalan menyusuri jalan yang cukup lebar tapi bukan jalan raya, sepertinya jalan masuk ke pedesaan tersebut. Di desa itu masih lumayan banyak warga yang berlalu lalang meskipun di siang hari, kebanyakan dari mereka berjalan kaki dan membawa alat-alat pertanian.


Dylan berjalan dengan wajah tertunduk, di belakangnya, beberapa meter jauhnya upin dan ipin mengikuti mereka secara sembunyi-sembunyi. Membuat setiap orang yang lewat menghindar dan menatap mereka curiga.


Mau kemana dia sebenarnya ? Menyusahkan saja.


Maki Ken dalam hati melihat Dylan yang terus berjalan lurus mengikuti jalan.


" Menurutmu dia mau kemana ? Apa akan ada sungai di ujung jalan ini ? Apa dia memilih tempat sepi seperti ini untuk berbuat nekat ? " Kiran mencecar Ken dengan pertanyaan-pertanyaan paranoidnya. Membuat Ken menghela napas kesal.


" Kau yang terlalu berlebihan, mana mungkin cuma masalah nilai matematika membuatnya nekat begitu, kau terlalu berkhayal " Ken menjawab Kiran dengan ketus.


" Kau tidak pernah baca berita, tekanan dunia pendidikan semakin berat, membuat hampir sebagian murid merasa depresi " Kiran membalas ketus juga.


" Darimana kau tau bahwa mereka tertekan ? " Tanya Ken tidak yakin dan tidak percaya.


" Kau lupa aku guru konseling, hampir setiap murid yang datang padaku mengeluhkan tingginya standart nilai yang di tetapkan sekolahanmu " Kiran menjelaskan kepada Ken yang masih saja tidak percaya.


" Benarkah ? Kenapa aku bisa tidak tau hal itu ya ? " Ken bergumam sendiri.


" Memangnya isi kepala mu apa sampai-sampai berkas yang setiap hari yang kau periksa tidak masuk di otak mu ? " Kiran mencibir sinis.


" Aish sudahlah, lihat dia berbelok " Ken menghentikan perdebatannya karena melihat Dylan berbelok di ujung jalan.


Upin dan Ipin semakin melambatkan langkahnya dan mendekat perlahan, bersembunyi di balik pepohonan untuk mengintip tempat apa yang di tuju oleh Dylan yang sedang dalam suasana hati bersedih.


Pemakaman umum. Begitulah plakat yang tertulis di atas gerbangnya, tulisannya jelas terukir di atas pagar besi berwarna hitam.


" Omo...kenapa dia ke pemakaman ? Apa dia sudah menggali kuburannya sendiri dan berniat mengubur dirinya sendiri agar menghilangkan jejak ? " Kiran menjadi panik, hampir saja dia berlari menghambur ke arah pemakaman untuk menghentikan Dylan, namun Ken mencegahnya, dia mengajak Kiran lebih mendekat lagi.


Mereka memasuki area pemakaman yang sedikit tidak terawat itu, bersembunyi di balik pohon beringin besar yang terlihat menyeramkan.


Suasana tiba-tiba berubah menjadi sedikit mencekam, mendung mulai bergelayut dan angin berhembus lumayan kencang.

__ADS_1


Kiran ada di depan dan Ken ada di belakang tempat persembunyian mereka. Angin yang berhembus membuat aroma tubuh Kiran tercium oleh hidung Ken karena jarak mereka yang sangat dekat.


Wangi shampoonya seperti aroma stroberi, atau apel, atau jeruk ? Aah walau wanginya seperti kebun buah sekalipun aku akan tetap menyukainya.


Ken menarik nafas panjang menghirup wangi tubuh Kiran.


Tapi Kiran terlalu berkonsentrasi penuh dengan Dylan yang sedang terduduk di dekat sebuah makam yang terlihat lebih terawat daripada makam yang lainnya. Samar-samar terdengar suara isak tangis Dylan.


Haah untunglah tidak ada lubang atau alat untuk melukai dirinya sendiri.


Kiran menghela napas lega, tapi tidak menurunkan kewaspadaannya terhadap Dylan.


" Bu aku merindukanmu " Suara Dylan samar-samar diantara tangisannya.


" Maafkan atas semua kesalahanku, kelemahanku yang tidak bisa membela mu, melindungi mu, aku bersalah bu " Dylan melanjutkan masih dengan isak tangisnya.


Tanpa sadar air mata Kiran ikut tumpah mendengar curahan hati Dylan, dia teringat akan ayahnya, sudah lama dia tidak mengunjungi makam ayahnya.


" Aku berjanji padamu, aku akan lulus dengan nilai terbaik dan menjadi jaksa penuntut yang handal, akan ku buat dia di hukum mati, akan ku buat dia membayar perbuatannya padamu. Juga siapapun yang membantunya, aku tidak peduli meski itu klan Loyard sekalipun. Seluruh dunia harus tau bisnis gelap yang di jalankan Klan Loyard, aku akan membongkar semua kebusukan mereka yang sudah membuat ibu menderita bertahun-tahun " Kali ini isak tangisnya di iringi kemarahan yang membara, seakan dendam itu telah berlangsung bertahun-tahun lamanya.


Apa maksudnya ? Apa yang telah di lakukan klan Loyard terhadap ibunya ? Apa ibunya meninggal karena klan Loyard.


Seketika Kiran menjadi merasa bersalah, dia juga yang membuat Ken akhirnya dekat dengan Dylan, dekat dengan bahaya. Kalau sampai semua anggota keluarga Ruby kenapa-kenapa, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri karena telah membuat sahabatnya menderita.


Cukup lama Kiran menguping curahan hati Dylan ke atas makam ibunya, sampai langit sudah berubah menjadi lebih gelap karena mendung.


Dylan akhirnya bangkit, melihat hal itu Kiran jadi terburu-buru untuk menghindar, dia menoleh ke arah Ken dan terkejut. Ken tertidur dengan duduk bersandar pada batang pohon.


Manusia satu ini benar-benar ajaib, tidak ada duanya.


Kiran menatap Ken kesal, bisa-bisanya dia tertidur di saat seperti ini.


Kiran kembali melayangkan pandangannya kepada Dylan yang sudah berjalan mendekat, dia terkejut dan tanpa sadar mengguncang tubuh Ken dengan keras, membuat Ken yang tadinya tertidur langsung terbangun dan bingung. Sehingga tanpa sadar dia langsung memeluk Kiran.


" Ah " Pekik Kiran, namun Ken segera menutup mulutnya.

__ADS_1


Dylan yang ikut terkejut juga menghentikan langkahnya. Ken dan Kiran menahan napas.


" Siapa itu ? " Teriak Dylan keras, dia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh area makam, sepi dan agak suram.


" Hihihihi..." Tiba-tiba terdengar suara tawa terkikik, membuat Dylan bergidik ngeri dan segera lari terbirit-birit keluar area pemakaman, mengingat makam tempat ibunya adalah makam angker, tentu saja semua makam pasti angker.


Ken dan Kiran yang melihat Dylan sudah pergi meninggalkan area pemakaman langsung bernapas lega. Bahu mereka yang semula tegang kini sedikit longgar.


" Ide bagus untuk menakutinya seperti itu " Ken memuji sikap tanggap Kiran.


" Menakuti ? Menakuti apa ? " Tanya Kiran bingung.


" Caramu menirukan tawa kuntilanak tadi untuk menakuti Dylan " Ken menjawab heran juga, kenapa Kiran harus berpura-pura bodoh tidak mengerti perkataannya.


" Aku kira kau yang menirukannya, bukankah mulutku tadi kau tutup dengan tanganmu, mana mungkin aku bisa bersuara " Kiran kembali menjawab polos.


" Ei jangan bercanda, ini tidak lucu kau tau " Ken tersenyum takut sekarang, dia mendorong pundak Kiran pelan.


" Aku tidak bercanda, ku kira kau yang menirukan tawa kuntilanak itu " Kiran menjawab yakin, kali ini wajahnya terlihat serius.


Tiba-tiba bulu di tubuh mereka meremang, mereka menyadari sesuatu, seperti ada yang mengamati mereka dari arah belakang.


" Kau merasakan tidak ? " Tanya Ken lirih kepada Kiran, karena sekarang mereka mendengar suara langkah kaki terseret di belakang mereka.


" Apa kau berpikir seperti yang aku pikirkan ? " Tanya Kiran terbata-bata, wajahnya pucat pasi saat ini.


" Aku akan menghitung sampai tiga, kita menoleh bersama-sama kearah suara di belakang kita, kau mau ? " Ken mengusulkan.


" Baik, kita hitung sama-sama oke ? " Kiran menyetujui. Mereka kemudian saling berpandangan untuk memberikan semangat.


" Tiga " Ucap mereka berbarengan. Namun hanya Ken yang menoleh ke belakang, sedangkan Kiran sudah lari terbirit-birit meninggalkan area pemakaman.


Ken terkejut dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri, antara percaya dan tidak.


" Kiran itu..itu... " Ken terbata-bata menunjuk ke arah di depannya. Namun tidak ada jawaban dari Kiran, Ken menoleh dan tidak mendapati Kiran dimanapun.

__ADS_1


" Hihihihi...." Suara tawa itu lagi, menggema ke seluruh area pemakaman yang suram dan menyeramkan.


" Tidaaaakkk " Ken menjerit ketakutan, teriakan yang panjang dan putus asa.


__ADS_2