
Malam belum larut saat Ken memulangkan Kiran dari kencan termahal yang pernah Kiran bayar, atau Ruby bayar. Tentu saja Ken menghubungi Ruby, memintanya atau memohon lebih tepatnya untuk menyelamatkan mereka kali ini.
Cafe yang cukup terkenal serta cake yang di buat oleh seorang chef, tentu saja membuat harga cake yang ditawarkan jauh di atas standart harga umumnya. Kiran sampai melongo saat melihat bill yang harus di bayarkan Ken, 5 juta untuk seluruh cake yang dia beli habis tak bersisa. Namun yang berbeda kali ini adalah Kiran sang penyelamat harga diri telah lebih dulu memberikan kartu atmnya kepada Ken sekaligus nomor pinnya, dia tidak ingin Ken terlihat memalukan jika sampai ketauan dia memakai atm Kiran untuk membayarnya. Dan satu hal yang terbaik dari kencan terburuk ini adalah Ken tau kapan ulangtahun Kiran, begitulah disetiap kesialannya selalu ada keberuntungan yang juga menyertai.
" Lalu harus ku apakan cake sebanyak itu ? " Kiran menunjuk kursi belakang mobil Ken yang sudah penuh dengan kotak-kotak berisi cake berbagai macam rasa.
" Entahlah, kau makan saja atau bisa kau bagikan kepada para tetangga " Ken menjawab asal, dia masih sangat malu dengan insiden cake tersebut.
" Makanya mulutmu itu jangan asal bicara, setiap kali terbuka selalu saja menimbulkan masalah, tidak salah kalau Ruby menjulukimu biang kerok, kau memang parah " Kiran mencibir sinis kepada Ken yang terlihat malu sekaligus kesal.
" Apa kau bilang ? Aku biang kerok ? Hei kalau saja kau tidak bersikap baik kepada Bambang atau siapapun itu apa kau pikir aku juga mau membeli cake itu ? " Elak Ken ketus, dia tidak menyangka ternyata Kiran seberani itu mengomelinya, tidak ada bedanya dengan Ruby.
" Kenapa jadi aku yang salah ? Bukankah aku sudah bilang kita tidak perlu kesana, lagipula aku tidak nyaman, tapi kau sendiri yang memaksanya, kau ini buang-buang uang hanya untuk membeli cake sebanyak itu, kalau di buang namanya mubazir " Omel Kiran kesal dan menghela nafas kasar, menyilangkan tangannya.
Ken yang memperhatikan Kiran, tersenyum dalam hati, dia yakin inilah sifat asli Kiran yang selama ini di sembunyikan, dan Ken merasa senang sekali karena Kiran menunjukkannya karena itu artinya dia menganggap Ken penting, atau setidaknya menganggapnya ada, lebih ada daripada Bambang.
" Ya sudah, kalau begitu kau bawa besok ke sekolah, bagikan kepada guru-guru yang lain, bilang kalau itu adalah hadiah karena telah menyambutmu dengan baik " Ken memutuskan asal.
" Baiklah kalau begitu, besok bawakan untukku, ok ? " Kiran mengalah pada akhirnya.
" Kenapa aku yang harus membawanya ? Bukankah itu hadiah mu ? " Ken menjawab ketus.
" Kau pikir lemari pendingin ku cukup menampung semua cake itu, kamar kost ku sangat kecil kau tau " Kiran membalas sengit menyindir.
" Kau ini benar-benar, ya sudah besok ku jemput kalau begitu " Ken berpura-pura ketus kali ini, dia tidak ingin terlihat terlalu berharap.
" Tidak perlu aku naik bus saja " Kiran menolak sopan.
" Kau pikir apa yang akan dikatakan guru-guru saat tau aku yang mengeluarkan cake itu dari mobilku lalu aku bilang itu hadiah dari mu, sedangkan kita berangkat terpisah, apa kau mengharapkan mereka akan bilang ' terima kasih bu Kiran kau baik sekali ' tentu saja mereka akan bergosip di dalam hati ada hubungan apa kita berdua, kecuali kau memang ingin kita menjadi seperti gosipnya " Ken menjelaskan logikanya tapi setengah berharap Kiran membenarkan bagian akhir kalimatnya.
" Kau ini memang benar-benar sesuatu, baiklah baiklah besok jemput aku " Kiran menyerah saja, dia tidak ingin mendebat Ken sampai akhir karena tidak akan ada ujungnya.
__ADS_1
" Ok sampai ketemu besok pagi " Ken tersenyum lebar, tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya.
" Aku ambil satu cakenya " Kiran menoleh kebelakang untuk mengambil sekotak besar cheese cake kesukaannya. Hal itu pun tidak luput dari perhatian Ken, satu lagi informasi penting menurutnya tentang Kiran, dia suka yang manis-manis.
Kiran lalu turun dan pergi lebih dulu meninggalkan Ken sampai dia menghilang masuk kedalam gedung, dan Ken melajukan mobilnya pulang.
Kiran berjalan pelan menaiki tangga, dia juga sama senangnya dengan Ken, senang karena saat bersama Ken dia tidak mengalami serangan panik sama sekali, merasa aman dan nyaman.
Saat hampir tiba di depan kamarnya, dia terkejut karena tiba-tiba Dylan juga keluar dari kamarnya, mengenakan jaket hoodie hitam besar dengan penutup kepalanya, Kiran yang tidak siap dengan hal itu terhuyung kebelakang dan tersandung kakinya sendiri, membuat tubuhnya oleng kebelakang dan hampir jatuh jika bukan saja karena gerakan refleks yang cukup cepat dari Dylan. Dia menangkap punggung belakang Kiran sebelum Kiran jatuh terjengkang.
" Kau baik-baik saja ? " Tanya Dylan khawatir.
Kiran segera bangun dan mundur menjauhi Dylan beberapa langkah. Bersikap defensif seperti biasa.
" Ya aku baik-baik saja " Kiran menjawab terbata-bata.
" Ok " Dylan mengedikkan bahunya dan akan pergi untuk mencari makan malam.
" Ini aku punya cake, apa kau mau, kurasa aku beli terlalu banyak, aku bisa membaginya separuh dengan mu kalau kau mau " Ucap Kiran ragu-ragu.
Sepertinya dia wanita yang baik, tapi kenapa harus berhubungan dengan klan Loyard.
Dylan menatapnya dari atas sampai bawah, menyelidik.
" Tentu saja " Tiba-tiba Dylan seperti terhipnotis saat melihat mata polos berbinar milik Kiran, dan dengan mudahnya mengiyakan Kiran.
" Baiklah tunggu sebentar, aku akan membaginya dulu " Kiran bergegas masuk kedalam kamarnya dan Dylan menunggu di depan pintu, tak lama kemudian Kiran kembali dengan sepotong besar cake di atas piring.
" Terima kasih " Dylan terbata-bata, wajah Kiran yang tersenyum benar-benar menghipnotisnya, pantas saja seluruh sekolah heboh saat Kiran datang, tidak terlalu berlebihan kalau mereka menyebutnya angel of Loyard school. Tenyata dia memang seperti malaikat. Wajah Dylan bersemu merah saat membayangkan Kiran, tapi dia segera memasang kembali ekspresi dinginnya sebelum Kiran menyadarinya, dan masuk kembali ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi.
Sementara itu Ken yang baru saja sampai dirumah meminta pelayan untuk membereskan cake yang ada di bagian belakang mobilnya, dia menyuruh mereka menyimpannya dan mengembalikannya lagi kedalam mobil besok pagi. Dan tentu saja Ken mengambil sekotak cake yang terlihat sangat enak untuk sogokannya kepada Ruby, sebagai bentuk terima kasih dan penghindaran dari serentetan pertanyaan yang akan di lontarkan si marimar durjananya.
__ADS_1
" Ini " Ken meletakkan sekotak besar cake di atas meja yang ada di ruang keluarga, tempat Ruby bersantai dengan Rai setelah makan malam.
" Bisa tolong jelaskan kenapa aku lagi-lagi harus mentransfermu uang ke rekening Kiran ? " Selidik Ruby dengan tangan menyilang diatas gundukan perutnya yang membuncit.
Ken menarik nafas panjang sebelum menceritakan semuanya, percuma saja dia berbohong karena Ruby sudah pasti akan mendapatkan jawabannya melalui Kiran.
" Jadi kau buang-buang uang 5 juta hanya untuk membeli cake ? Ken jangan terlalu boros, kau kira uang 5 juta itu sedikit, itu uang yang sangat banyak, bisa cukup untuk hidup selama 1 bulan setengah " Ruby melayangkan protesnya kepada Ken yang menjadi bodoh karena jatuh cinta.
" Sudahlah sayang, biarkan saja Ken dengan urusannya " Rai menengahi, dia tidak akan berkomentar tentang gaya hidup yang dipilih Ken saat akan berkencan dengan Kiran, karena kalau itu terjadi padanya, sudah pasti dia akan membeli cafe tersebut alih-alih hanya memborong cakenya saja, dia tidak akan diam melihat saingannya sesombong itu.
" Kau mengomeli ku tanpa melihat kesebelahmu, kalau saja itu kakak, aku yakin dia akan langsung membeli cafe itu dan merobohkannya saat itu juga didepan saingannya " Ken mencibir sinis Ruby yang disambut dengan tawa Rai, ternyata mereka sepemikiran, dan melakukan high five.
" Dasar kalian berdua ini sama saja " Ruby menyerah dan mengambil cake yang ada di atas meja. Dia kemudian meminta pelayan untuk mengambilkan piring dan garpu.
Tak berapa lama pelayan datang dan menyiapkannya untuk Ruby. Sebuah cake dengan coklat ganache di atasnya, dan hiasan buah cerry itu terlihat sangat menggugah selera. Ruby memotongnya dengan garpu dan kemudian menyuapkannya kedalam mulut.
" Hmmm... ini enak sekali, Ken kapan-kapan kau harus mengajak ku dan Kiran ke cafe ini lagi, aku penasaran dengan Bams dan juga cafenya " Ruby mengoceh asal sambil terus menyendok cake tersebut.
" Ken... " Panggil Rai tiba-tiba dengan nada yang berubah serius, ekspresi wajahnya datar tak terbaca.
" Besok pagi aku harap menerima laporan darimu kalau cafe itu sudah rata dengan tanah " Ucapnya dengan nada mengancam penuh kecemburuan.
" Dengan senang hati " Seringai kejam juga menghiasi bibir Ken.
Ruby yang melihat itu hanya bisa memutar bola matanya dan menghela nafas kesal.
" Baiklah 2 ronde " Ucapnya pasrah saat Ruby melihat Rai menatapnya tajam.
" Tidak semudah itu marimar " Balasnya sinis merasa di atas awan.
" Tidak Rhoma !!! " Pekik Ken dan Ruby bersamaan.
__ADS_1