
Matahari sudah tergelincir di barat, hampir terbenam, hari ini berlalu begitu saja dengan menyedihkan. Setelah makan siang yang dramatis Kiran pergi kekamarnya untuk beristirahat dengan alasan masih mabuk laut, sedangkan guru-guru yang lain sibuk menikmati pemandangan sekitar resort. Acara malam ini akan di tutup dengan api unggun di tepi pantai dan mereka akan kembali pulang setelah sarapan keesokan harinya.
Ken di kamarnya mondar mandir gelisah sedang menelepon Kiran, tapi ponselnya tidak aktif.
" Dia marah, tentu saja dia marah. Siapa yang tidak marah kalau cerita sedihnya malah di anggap berita gembira, kenapa aku jadi bodoh seperti ini, tidak, kau tidak boleh begini Ken, kau harus menjadi orang yang pintar, jangan bodoh saat berhadapan dengan cinta, kau tidak boleh jadi seperti Rhoma, dia orang yang pintar tapi saat berhadapan dengan marimar dia seperti orang paling bodoh di dunia ini " Ken bergumam gelisah dan terus mondar mandir.
" Aku harus bertemu Kiran, aku harus menjelaskan padanya maksud ku memberikan tepuk tangan tadi " Ken bergegas keluar kamar dan akan menuju kamar Kiran.
Ken berjalan santai agar tidak menimbulkan kecurigaan, resort sedang di penuhi oleh murid-murid dan para guru yang sudah kembali untuk bersiap-siap dengan acara api unggun.
Ken berjalan berhati-hati, sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang melihatnya berjalan menuju kamar Kiran. Ken mengetuk pintu dengan cepat begitu sampai di depan pintu. Dia harus bergegas sebelum terlihat oleh orang lain.
Kiran yang sedang menonton televisi samar-samar mendengar ketukan di pintunya, dia bangkit berdiri dengan malas, suasana hatinya masih buruk. Dia berjalan pelan untuk membukakan pintu.
" Kau ? " Kiran terkejut melihat Ken sudah berdiri di depan pintunya, tapi sebelum Kiran bersuara lebih keras Ken sudah membekap mulut Kiran dan mendorongnya masuk lalu menutup pintu dengan kakinya.
" Kenapa kau disini ? " Tanya Kiran setelah berada di dalam kamar dan melepaskan mulutnya dari bekapan Ken.
" Aku kesini ingin minta maaf padamu atas tindakan bodohku tadi, aku sangat menyesal. Mungkin kau akan menganggapku laki-laki yang kejam atau buruk karena memberikan tepuk tangan untuk cerita sedihmu, tapi aku mohon percayalah padaku, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya merasa kesal karena semua laki-laki itu juga memberikanmu tepuk tangan dan pujian, sedangkan aku tidak bisa melakukannya karena hubungan kita yang harus di sembunyikan, sekali lagi maafkan aku, aku sangat menyesal " Ken langsung menjelaskan dengan cepat, tidak ingin lagi ada kesalahpahaman diantara mereka.
Kiran yang masih terkejut oleh kedatangan Ken di tambah ucapan manis dari Ken membuatnya luluh, kemarahannya seketika lenyap. Bagaimana mungkin dia bisa marah hanya karena sebuah kesalahpahaman kecil seperti itu, tiba-tiba dia merasa bersalah.
" Aku juga minta maaf padamu, harusnya aku bisa lebih dewasa lagi, kau pasti tidak akan menyakitiku, aku bersalah, aku minta maaf " Kiran menjawab lirih dan menundukkan kepalanya.
Ken yang mendengar itu memeluk erat Kiran, membenamkan Kiran di dadanya.
" Aku tau hubungan kita akan lebih sulit kedepannya karena harus di sembunyikan, seharusnya aku memberikanmu tepuk tangan sedari awal, sehingga kejadian seperti itu tentu tidak akan terjadi " Ken menjelaskan lirih seraya mengelus kepala Kiran.
" Tepuk tangan ? " Tanya Kiran bingung, ada apa dengan tepuk tangan.
" Ya maafkan atas kebodohanku yang tidak peka, sewaktu kau bermain drama dengan Dylan di hutan tadi aku tidak memberikanmu apresiasi dan tepuk tangan, itu pasti membuatmu kesal. Dan saat aku menyadarinya, aku ingin memberikan hadiah tepuk tangan untukmu, tapi Pak Joni dan Pak Doni sudah lebih dulu melakukannya, kalau di lihat dari caramu yang tersenyum malu, kau pasti sangat menyukai tepuk tangan, kedepannya aku akan lebih perhatian lagi dan sering-sering memberikanmu tepuk tangan " Jelas Ken penuh percaya diri.
" Jadi kau mengira aku marah karena tidak mendapat tepuk tangan dari mu ? " Kiran bertanya memastikan.
" Tentu saja, aku dan kakakku sering menggoda Marimar dengan drama sederhana seperti itu, tapi Marimar juga tidak pernah memberikan tepuk tangannya, dia orang yang pelit, tapi jangan bilang-bilang padanya. Jadi aku tau bagaimana rasanya saat kau bersusah payah menghibur orang lain tapi tidak mendapatkan apresiasi pasti rasanya sangat tidak nyaman, aku mencoba menjelaskan ini lewat telepon, tapi ponselmu mati, jadi aku terpaksa harus kesini " Ken masih menjelaskan dengan penuh percaya diri, seakan-akan tebakannya benar 1000 persen.
__ADS_1
" Terpaksa ? Jadi kau kesini karena aku mematikan ponsel ku ? " Tanya Kiran bingung.
" Ya aku mencoba menghubungi mu berkali-kali tapi tidak bisa karena ponselmu mati " Ken menjawab santai.
" Jadi kau tidak akan menemuiku kalau ponsel ku tidak mati ? Kau akan menjelaskan semuanya hanya melalui telepon ? " Kiran bertanya meyakinkan hatinya.
" Tentu saja, kita kan sedang backstreet jadi kita harus sangat berhati-hati karena mata-mata ada di mana-mana, kita tidak boleh terlihat berduaan " Ken menjawab mantap dan tegas, dia memang tidak bercanda saat bilang mata-mata ada dimana-mana, karena bisa saja dia di awasi oleh orang suruhan ayahnya. Dan bila dia tertangkap basah berduaan dengan Kiran, tidak menuruti perintahnya, maka mereka akan dalam bahaya. Ayahnya akan melakukan apa saja untuk memisahkan mereka, mungkin mengirimnya ke antartika atau bahkan luar angkasa, begitulah pikiran Ken saat ini.
" Jadi bagimu menjelaskan sebuah kesalahpahaman hanya cukup lewat telepon ? Tidak perlu bertemu ? " Kiran kembali bertanya lambat-lambat, tapi kali ini dia mulai merasa kesal.
" Hu'um cukup lewat telepon saja, bertemu dan berpelukan seperti ini akan sangat berbahaya bagi kita " Ken menjawab santai, tapi sikapnya menunjukkan sebaliknya, dia semakin mengeratkan pelukannya kepada Kiran.
Kiran menghela napas kasar, dia benar-benar kesal karena Ken tidak peka sama sekali.
" Ken siapa kekasihmu sebelum aku ? " Tanya Kiran ketus karena bagi Kiran ini bukanlah kali pertamanya dia memiliki kekasih.
" Tidak ada " Ken menjawab santai.
" Orang yang kau sukai sebelum aku ? " Tanya Kiran lagi.
" Walau hanya sekedar naksir ? " Tanya Kiran lebih detail.
" Tidak ada, aku terlalu sibuk dengan urusan klan jadi aku tidak tertarik dengan percintaan " Ken menjawab dengan penuh percaya diri, dia merasa Kiran sedang cemburu atau sedang merasa terancam karena orang yang menjadi kekasihnya adalah seseorang yang tampan dan berwibawa dan berkuasa, jadi Kiran merasa khawatir Ken akan berpaling ke hati yang lain.
" Ok baiklah itu menjelaskan banyak hal " Kiran melepaskan diri dari pelukan Ken. Dia paham sekarang kenapa Ken tidak peka dengan perasaannya.
" Ken aku ingin membuat pengakuan dosa padamu " Kiran berkata dengan hati-hati, dia tau situasi dan kondisi mereka yang berbeda dari segi pengalaman menjalin suatu hubungan.
" Apa ? " Tanya Ken penasaran mendengar kata pengakuan dosa, dia mengurutkan daftar-daftar dosa versinya seperti memberi julukan siluman raja kerbau kepada ayahnya, itu adalah dosa terbesar dalam hidupnya, lalu menunjukkan kepada Rai video itu, dia hanya berniat membantu kakaknya saat itu, itu dosa terbesar kedua yang pernah dia buat. Lalu berbohong kepada ayahnya, mengerjai ayahnya, dan semua hanya berputar-putar pada keluarga saja. Ken merasa dosanya hanya berurusan dengan ayah dan kakaknya saja, lalu sekarang bertambah karena ada marimar.
" Begini... aku memang bukan gadis baik-baik, aku tidak seperti mu yang suci " Kiran mencoba menjelaskan dengan hati-hati agar tidak terjadi salah paham.
" Terima kasih, aku memang masih suci " Ken menjawab percaya diri dan tersenyum bangga karena kesuciannya.
" Aku pernah memiliki beberapa kekasih sebelum kau, dan ya begitu lah, kami menjalin hubungan yang cukup lama, kadang 3 bulan, kadang 6 bulan " Kiran melanjutkan kembali penjelasannya, semakin berhati-hati karena dia melihat perubahan raut wajah Ken menjadi sedikit tegang seperti menahan kesal.
__ADS_1
" Lalu kau ingin menjalin hubungan denganku juga cuma selama 6 bulan ? Sebentar itu ? Aku tidak mau, aku ingin dengan mu selamanya " Saut Ken cepat memotong pembicaraan Kiran.
" Bukan begitu, dengarkan aku dulu. Maksud ku adalah, pasangan kekasih itu harus saling peka, saling perhatian, take and give, dan aku merasa kau tidak peka, tapi aku sadar mungkin itu karena aku lebih berpengalaman dengan hubungan, jadi maukah kau belajar sedikit lebih peka lagi ? " Kiran mengutarakan keinginannya dengan lirih, dia tidak ingin Ken salah tanggap dan salah terima mengira Kiran membandingkan dirinya dengan kekasih-kekasih masa lalunya.
" Tentu saja aku peka, kalau aku tidak peka untuk apa aku kemari memberikanmu penjelasan " Saut Ken ketus.
" Iya kau sudah peka, kau memang baik, tapi apa kau tau sebenarnya aku marah karena apa ? " Tanya Kiran meragu Ken mengerti maksudnya.
" Kau marah karena aku tidak memberikanmu tepuk tangan untuk dramamu dengan rembo kan ? " Jawab Ken penuh keyakinan.
" Wah kau sangat jenius " Ucap Kiran sarkas.
" Terima kasih " Balas Ken tersenyum senang.
Daebak ! Dia benar-benar mengira aku marah karena tidak mendapatkan tepuk tangan darinya. Dia benar-benar sesuatu.
Kiran menatap tajam Ken yang masih saja tersenyum berbinar mendapatkan pujian sarkas dari Kiran.
" Baiklah karena kau sangat jenius, bisa tebak kali ini aku marah gara-gara apa ? " Kiran menghela napas kesal, dia mengatupkan mulutnya rapat-rapat menahan amarahnya yang mulai merangkak naik dari kaki ke ubun-ubunnya.
" Apa ? " Tanya Ken heran dengan maksud ucapan Kiran, dia memiringkan kepalanya mengamati ekspresi Kiran yang tersenyum tapi matanya mendelik tajam.
" Silahkan keluar sekarang karena aku sedang sangat marah " Kiran menggeram kesal dengan senyum di paksakan.
" Keluar ? Tapi kenapa ? " Tanya Ken bingung, namun Kiran sudah tidak tahan lagi, dia mendorong tubuh Ken mendekati pintu dan kemudian membukanya lalu mendorong Ken keluar.
Ken bingung dengan apa yang terjadi, dia akan mengetuk lagi pintu kamar Kiran tapi samar-samar terdengar suara para guru wanita mendekat, dia segera mengurungkan niatnya dan berbalik arah pergi.
Ada apa lagi ? Kenapa dia marah tanpa alasan ? Aku harus bertanya pada seseorang yang sudah berpengalaman, tapi siapa ?
Ken berjalan kembali ke kamarnya sambil menjentik-jentikkan jarinya di bibirnya, berpikir keras. Tiba-tiba ponselnya berdering, dan wajahnya sumringah.
Aha ! Dia pasti bisa membantuku, dia sudah pernah mengalami ini.
Ken berbinar menatap layar ponselnya.
__ADS_1
" Hei aku butuh bantuanmu, ini darurat ! " Ucapnya tegas begitu mengangkat teleponnya seraya berjalan cepat menuju kamarnya.