Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Beraksi


__ADS_3

Ken menghabiskan sepanjang sisa harinya di rumah persembunyian Kiran dan Dylan, para pelayan yang bertugas untuk melayani mereka pun sudah berdatangan, mereka akan di bagi menjadi 3 shift, yang akan bergantian menjaga Kiran agar tidak berduaan dengan Dylan. Ken memang percaya bahwa Kiran tidak akan mengkhianatinya, tapi dia tidak ingin ambil resiko. Karena Ken pernah mendengar pepatah kuno dari seorang guru di sekolahnya yang sangat dia hormati namun sudah pensiun, " witing trisno jalaran soko nggelibet " yang apabila di artikan adalah cinta bermula dari seringnya bertemu dan bersama. Ken yang mengira itu adalah pepatah kuno dari suku aztec yang telah punah, selalu mengingat-ingatnya dan dia sendiri membuktikan bahwa dia jatuh cinta pada Kiran karena sering bertemu dan bersama.


Ken kembali pulang saat malam telah sangat larut, setelah memastikan bahwa Kiran dan Dylan telah tertidur, dan dia memerintahkan pelayan untuk menjaga pintu kamar Kiran sepanjang malam, siapa tau Dylan mengendap-endap berusaha masuk kedalam kamar Kiran.


Saradanya memasuki halaman mansion dan berhenti di depan pintu utama, dia langsung turun dan pergi menuju bangunannya sendiri. Terlalu lelah untuk memeriksa apakah kakaknya masih bangun atau sudah tidur, dia akan membicarakan masalah Klan dengan kakaknya besok pagi saja, sebelum ayahnya bangun. Dia sudah mengirimkan pesan kepada Rai agar menemuinya pagi-pagi sekali di bangunannya, karena bangunannya terpisah dari bangunan utama dan tentu saja ayahnya tidak akan mungkin kesana.


Kiran dan Ken yang tadinya sempat bersitegang masalah sarada dan hinata sudah kembali akur, bahkan mereka sempat berduaan saja setelah makan malam, duduk di halaman yang luas memandang langit mendung yang tak berbintang. Mereka melakukan kencan singkatnya di temani alunan musik dari alam, suara jangkrik dan suara katak yang saling bersaut-sautan seperti musik klasik bagi mereka yang sedang di mabuk cinta.


Ken sedang tertidur pulas dan bermimpi indah sekali, dalam mimpinya dia sedang berada di halaman mansion yang telah di hias dengan puluhan ribu tangkai mawar putih, Ken berdiri di ujung halaman mengenakan tuksedo hitamnya, sedang berdiri menunggu Kiran. Ya Ken bermimpi tentang pernikahannya dengan Kiran. Tak lama kemudian Kiran yang di balut gaun pengantin warna putih dengan model ekor yang panjang menjuntai, menyapu kelopak mawar putih yang di sebarkan oleh pengiring pengantin terlihat sangat cantik dan mempersona. Ken semakin gelisah, dia tidak sabar menunggu Kiran mendekat padanya dan menggenggam tangannya.


" Aku berjanji akan selalu menemanimu dan mencintaimu apa adanya, bagaimanapun dirimu" Ken dan Kiran mengucapkan janji pernikahan mereka, dan tepuk tangan para undangan yang hadir seolah menjadi tanda bahwa mereka saat ini sudah sah sebagai suami dan istri.


" Cium, cium, cium... " Para tamu undangan bersorak menggoda mereka. Ken tersenyum lebar namun Kiran menunduk malu-malu.


Ken memegang dagu Kiran, mengangkat wajahnya agar mata mereka bertatapan.


" Ken sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan padamu " Ucap Kiran lirih dan malu-malu.


" Apa itu sayang ? " Tanya Ken dengan senyum lebar, tidak sabar ingin mencium bibir lembut milik Kiran.


" Tapi apa kau bisa berjanji bahwa kau akan menerima ku apa adanya ? " Tanya Kiran masih malu-malu, membuatnya semakin terlihat menggemaskan.


" Tentu saja, aku kan sudah berjanji " Jawab Ken semakin tidak sabaran, batas keimanannya sedang di uji.


" Aku sebenarnya adalah... " Kiran menjawab lirih, namun kemudian dia menyeringai mengerikan, tubuhnya bergetar hebat dan dalam sekejap berubah wujud menjadi ular cobra sebesar manusia, Ken terlonjak kaget dan terhuyung mundur.


" Kenapa Ken, kenapa kau menghindar, kau bilang kau akan menerimaku apa adanya. Ini lah aku yang sebenarnya, aku adalah nagini siluman ular cobra, sini sayang ciumlah aku " Desis ular berukuran besar itu kepada Ken.


Ken hanya diam membeku, namun dia sudah terlanjur mengucapkan janji setia kepada Kiran, mau tidak mau dia berjalan mendekat. Dengan tangannya yang gemetar hebat dia menyentuh kepala ular cobra tersebut, perlahan-lahan mendekatkan wajahnya kepada ular yang terus saja menjulurkan lidahnya dan mendesis-desis.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti wajah Ken dan ular kobra itu semakin dekat, namun setelah hanya berjarak beberapa centi saja tiba-tiba ular kobra tersebut berubah wujud lagi, menjadi mobil berwarna hitam. Ken yang kembali terkejut melompat mundur.


" Sarada ? " Pekik Ken keras. Dia tidak menyangka ternyata Kiran adalah perwujudan dari salah satu mobil koleksinya.


" Kenapa Ken, kenapa kau tega melakukan itu padaku ? Bukankah aku lebih baik dari hinata ? Aku tidak pernah kehabisan bahan bakar seperti hinata yang akan membuatmu malu. Aku akan menuntut balas Ken " Mobil itu bergoyang ke kanan dan ke kiri saat berbicara dengan Ken. Dan kemudian mesinnya menyala, meraung-raung keras, lampunya juga menyala dan menyorot tajam ke arah Ken yang silau dengan sinarnya.


" Tidak Kiran, ah bukan sarada, aku tidak bermaksud membandingkan mu dengan hinata " Ken menjawab terbata-bata, tapi jawaban Ken malah membuat suara mesin sarada semakin keras.


Tiiiinnn !!! Suara panjang klakson berbunyi, dan sekaligus penanda bahwa mobil tersebut bergerak maju menuju arah Ken yang masih silau oleh sinar lampu.


" Tidak, maafkan aku sarada, maafkan aku " Ken berteriak histeris.


" Hei, hei, hei bangun " Rai yang sedang di peluk erat oleh Ken mengguncang-guncang tubuhnya. Ken terbangun dan terkejut mendapati dirinya sedang memeluk Rai. Dia mundur menjaga jarak.


" Sedang apa kau disini ? " Tanya Ken panik, dia menyilangkan kedua tangannya di dada, seperti melindungi diri.


" Aish bocah ini ! Hei apa kau lupa kau sendiri yang mengirimi ku pesan semalam agar bicara 4 mata dengan mu disini pagi-pagi, dan sekarang yang aku dapat malah pemandangan aneh seperti ini " Omel Rai kesal.


" Kau itu terlalu sering menonton drama yang aneh-aneh, dan berhenti mengkoleksi mobil, kau tidak bisa menggunakan semuanya " Omel Rai, dia menegakkan punggungnya dan beranjak pergi duduk di sofa yang ada di kamar Ken.


" Cepat bicara ada apa mengundangku pagi-pagi buta seperti ini. Marimar saja belum bangun " Oceh Rai kesal.


Ken yang masih mengantuk segera menyusul Rai untuk ikut duduk di sofa, berhadapan dengan kakaknya. Lalu dengan serius dia menceritakan setiap detail masalah yang terjadi di klannya, tanpa menyebutkan Kiran ataupun Dylan.


" Aku ragu ayah tidak tau masalah ini, dia saja bisa tau kita menjulukinya siluman raja kerbau, tidak mungkin dia tidak tau masalah seserius ini " Rai memberikan pendapatnya dengan serius.


" Maka dari itu, aku tidak meragukan ayah sama sekali, tapi kenapa ayah seperti mempercayainya ? " Tanya Ken sedikit ragu.


" Kalau begitu kita harus bertanya langsung pada ayah, kenapa ayah menyembunyikan seseorang seperti itu " Usul Rai.

__ADS_1


" Tidak, jangan !! " Cegah Ken panik.


" Kenapa ? " Tanya Rai heran.


" Umm begini, bukankah ayah bilang dia akan pensiun sebentar lagi saat junior lahir, jadi kalau kita membebaninya dengan masalah ini, bukankah dia akan kepikiran ? Dia akan mengira kita tidak mampu mengurus Klan, dan itu akan membuatnya sedih bukan ? " Ken menjawab terbata-bata, dia tidak mungkin memberitahu Rai bahwa dia tidak ingin memberitahu ayahnya karena bisa saja ayahnya akan curiga dari mana dia tau masalah ini lalu mencari tau dan kemudian hubungannya dengan Kiran akan terbongkar.


" Kau benar juga, harusnya kita biarkan ayah bisa sedikit bersantai, kita yang harus menangani ini sendiri " Rai mengangguk-angguk membenarkan ucapan Ken. Dan Ken langsung menghela napas lega begitu mendengar jawaban Rai, setidaknya hubungan mereka masih aman saat ini.


Pembicaraan mereka di akhiri dengan keputusan bahwa mereka berdua sendiri yang akan menyelidiki kasus ini, karena ayahnya juga terlibat di dalamnya.


Setelah selesai berdikusi, Rai kembali untuk melakukan aktivitasnya lagi, dan Ken juga bersiap-siap untuk pergi bekerja. Hari ini dia memutuskan akan memintakan izin Dylan dan Kiran untuk tidak masuk sekolah. Dia berencana akan menyembunyikan mereka sampai masalah ini selesai. Rai dan Ken memulai penyelidikan mereka hari ini, tepat setelah Ken selesai bekerja di siang hari.


" Sst.. sst... ayah dimana ? " Tanya Ken berbisik kepada Ruby.


" Sepertinya masih dikamar " Jawab Ruby heran kenapa Rai menanyakan ayah mereka dengan berbisik. Dan di jawab dengan helaan napas lega dari Ken.


" Aku akan menunggu mu di club nanti " Ucap Rai kepada Ken saat mereka sarapan. Ruby yang tidak penasaran karena mereka terbiasa seperti itu hanya diam saja dan tidak bertanya.


" Baiklah, aku akan disana setelah makan siang, jadi jangan menungguku untuk makan " Jawab Ken dengan menganggukan kepalanya.


" Saatnya beraksi, bukankah sudah lama kita tidak beraksi seperti ini " Saut Rai antusias.


" Kau benar " Jawab Ken juga bersemangat.


Rai mengacungkan tangannya ke depan di atas meja makan, yang di sambut dengan Ken juga. Mereka berdua membuat simpul tangan bersatu seperti akan bermain adu panco di atas meja.


" Kami power rangers akan membasmi kejahatan " Teriak mereka berdua kompak, Ruby yang semula tidak peduli menjadi terkejut melihat aksi mereka.


Sepertinya aku masuk dalam keluarga yang salah. Semoga Junior tidak akan mirip mereka berdua. Kau harus tabah nak memiliki ayah dan paman seperti itu.

__ADS_1


Ruby menghela napas malas dan mengusap-usap perutnya, menyaksikan Rai dan Ken yang semakin hari semakin konyol saja.


__ADS_2