
Ken pulang kerumah dengan wajah sumringah, sebenarnya pekerjaannya yang sekarang sangat menguntungkan untuknya. Dia pulang siang hari dan bisa melakukan salah satu hobby nya, tidur siang.
Tapi kali ini dia tidak ingin tidur, dia ingin menemui Ruby untuk membicarakan sesuatu.
Tok, tok, tok !! Dia mengetuk pintu kamar Ruby, lama tidak ada jawaban.
Brak, brak, brak !!! Kali ini dia memukul pintu itu keras, sengaja untuk membuat kakak iparnya itu kesal. Membayangkan wajah kakak iparnya yang akan membuka pintu dengan kesal membuatnya cekikikan sendiri.
" Kenapa ? " Raut wajah Ruby tepat seperti yang di bayangkan Ken.
" Mungkin karena ini lah kakak ku sangat senang sekali menggoda mu, raut wajah marah mu itu benar-benar sesuatu " Kekeh Ken menggoda Ruby.
" Halo Ayah ? Tidak aku hanya ingin mem... " Ruby membalas Ken dengan berpura-pura menelefon Ayah mertuanya.
" Ei " Ken segera merebut ponsel Ruby yang menempel di telinga nya.
" Kau ini lama-lama seperti siluman raja kerbau saja, tidak bisa di ajak bercanda " Ken menyindir sinis Ruby.
" Ada apa ? " Tanya Ruby tanpa basa basi.
" Ayo jalan-jalan " Ajak Ken dengan kepalanya yang sedikit di miringkan.
Ruby kemudian mengikuti Ken dari belakang. Melihat Ken yang bersiul-siul ceria sudah bisa di pastikan itu karena mobilnya akan segera kembali.
Mereka keluar menuju halaman, di depan air mancur, ke arah bangku kayu kesukaan Ruby. Ken segera mendudukkan dirinya di bangku kayu tersebut dan menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.
" Cih, jalan-jalan apanya, aku kira kau akan mentraktirku makanan enak " Cibir Ruby yang ternyata Ken hanya mengajaknya berputar di sekeliling rumah saja.
" Kau tidak akan ngidam aneh-aneh lagi bukan ? Karena sekarang ini bukan cerita tentang mu, ini cerita tentang ku, jadi jangan rusak kisah ku " Ken menjawab Ruby dengan mengancam.
" Baiklah, baiklah " Ruby menjawab malas, Ken benar-benar cerewet.
__ADS_1
" Kak darimana kau kenal Kiran ? " Tanya Ken dengan wajah serius.
" Kiki ? Dia teman ku sewaktu aku bekerja jadi tukang cuci piring malam hari di club " Ruby menjawab heran karena Ken mempertanyakan tentang Kiran.
" Kiki ? Namanya Kiran " Ken meralat ucapan Ruby.
" Pantas saja aku seperti pernah bertemu dengannya, tapi aku lupa. Seingat ku dulu dia berambut panjang " Ken seperti berusaha mengingat-ingat masa lalu.
" Ya aku tau, tapi aku memanggilnya Kiki. Aku rasa dia memotong rambutnya saat pindah ke luar kota. Kenapa ? Apa ada sesuatu ? " Tanya Ruby penasaran.
" Dia gadis yang aneh, bagaimana kau bisa berteman dengannya " Ken menjawab heboh.
" Aneh ? Aneh apanya ? Dia biasa saja " Ruby lebih heran mendengar penilaian Ken.
" Kau tau hari ini dia bertingkah seperti orang kesurupan, dan menjerit-jerit seperti orang gila, apa menurut mu dia waras ? " Tanya Ken antusias.
" Benarkah ? Aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu, dia baik-baik saja, normal seperti biasa. Sebenarnya aku memang melihatnya sedikit berbeda saat ini. Dulu dia gadis yang ceria dan juga konyol seperti mu, tapi terakhir saat aku bertemu dengannya dia memang jadi lebih pendiam, tapi menurutku selebihnya dia biasa saja " Ruby menjelaskan detail.
" Aku rasa dia ingin menjaga image nya saja, mengingat dia sekarang kuliah jurusan keguruan, mungkin dia ingin menjadi guru yang berwibawa " Ruby mengangguk-angguk mengutarakan pendapatnya.
" Hei kalau dia pernah bekerja di club, itu artinya dia mengenalku bukan ? Karena paling tidak aku adalah orang no 2 terpenting di club " Ken menjawab percaya diri.
" Mungkin, tapi kenapa kau sebegitu tertariknya dengan Kiki, apa dia membuatmu berdebar ? " Tanya Ruby penasaran.
" Berdebar apa nya ? Dia membuat ku kesal setengah mati, mengenalku tapi berpura-pura seperti tidak mengenal ku, membuatku terlihat seperti aku ini orang mesum yang akan menerkamnya setiap saat kalau dia lengah, sampai-sampai harus menjaga jarak sebegitu jauhnya " Ken mencibir.
" Entahlah aku juga merasa ada yang aneh dengannya, dulu dia sangat cerewet, tapi sekarang dia sangat pendiam. Saat aku menemui nya bersama Rai, dia hanya diam saja sepanjang waktu, menundukkan kepalanya. Tapi saat Rai meninggalkan kami, dia seperti kembali menjadi dirinya sendiri, cerewet dan humoris " Ruby mengungkapkan penilaiannya tentang Kiran.
" Kenapa dia pindah ke luar kota ? " Kejar Ken penasaran.
" Aku tidak tau, terakhir aku bekerja sebagai tukang cuci piring dia izin tidak masuk bekerja, lalu Rai membawa ku pulang untuk menjadi istri nya, setelah itu aku terkurung disini, dan berusaha menghubunginya tapi nomornya tidak aktif, dia seperti menghilang di telan bumi. Tiba-tiba dia menghubungi ku saat pesta barbeque tempo hari, bilang kalau dia sudah kembali kesini dan ingin menemui ku " Ruby menjelaskan kepada Ken.
__ADS_1
" Seberapa lama dan seberapa jauh kau kenal dengannya ? " Cecar Ken.
" Tidak lama hanya sekitar satu setengah tahun. Kalau saja dia tidak pindah dan menghilang mungkin sekitar 2 tahun. Dia hidup bersama ibunya, hanya berdua, karena ibunya janda " Ruby mengingat-ingat informasi tentang Kiran.
" Aneh tapi tadi dia menerima telefon dari ibunya dan kemudian menjadi histeris " Ken bergumam sendiri.
" Apa ? " Tanya Ruby karena melihat Ken bergumam tidak jelas.
" Ah tidak, aku hanya merasa ada yang aneh dengannya, ada yang dia sembunyikan " Ken menjelaskan kepada Ruby.
" Seperti nya memang begitu, aku akan menanyakannya nanti saat aku bertemu lagi dengannya " Ruby menepuk pelan pundak Ken.
Sementara itu Kiran yang sudah sampai di rumah kost nya segera membuka pintu dan masuk kedalam. Tempat kost nya tidak begitu luas, terdiri dari 2 ruangan, dan satu kamar mandi. Kiran segera menuju tempat tidurnya, meletakkan tas nya secara asal di lantai dan kemudian melepas kancing kemeja nya untuk berganti baju.
Tapi tiba-tiba dia merasa seseorang sedang mengawasi nya, menatap nya tajam dari arah belakang. Membuat Kiran diam membeku.
" Dia tidak nyata, dia tidak nyata, dia tidak nyata... " Kiran terus saja mengucapkan kalimat itu berulang-ulang sambil memejamkan mata. Keringat dingin membasahi dahi nya.
Dengan segenap tenaga yang tersisa dia menoleh cepat ke arah belakang. Dia lalu jatuh terduduk dengan helaan nafas lega yang keras. Kemudian melipat lututnya dan meringkuk di lantai. Menangis sejadi-jadi nya.
Halusinasinya semakin parah, dan membuat serangan paniknya semakin buruk.
Setelah cukup lama menangis, dia mencari di dalam tas nya, obat yang di resepkan dokter untuknya. Berjalan ke arah dapur mini di sisi lain kamarnya, mengambil air dengan buru-buru dan segera meminum obatnya.
Sisa isak tangisnya masih terdengar, dengan langkah sempoyongan dia berjalan menuju kamar mandi, duduk di bawah shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
" Dasar kotor, aku harus mencuci bersih, cuci sampai bersih, bersih tidak tersisa " Dia terus saja bergumam dengan tatapan mata kosong.
Mencuci bersih seluruh pakaian yang dia gunakan, menyikatnya berulang kali. Dan menangis lagi di sela tangannya yang terus mencuci.
" Aaaarrrgggghhh " Teriakannya memenuhi ruang kamar mandi berukuran kecil itu, dia membuang baju nya, mengacak-acak deretan sabun dan shampoo yang berjajar rapi di gantungan kamar mandi.
__ADS_1
" Aku ingin mati " Lengkingnya kemudian, dan suasana hening setelahnya, hanya terdengar isak tangis nya di antara suara gemiricik air dari shower yang jatuh membasahi tubuhnya.