
Blair adalah artis pendatang baru yang langsung mendapat kontrak eksklusif dari klan Loyard untuk menjadi brand ambasador pusat perbelanjaan yang baru di buka.
Sebuah pencapaian yang tinggi jika sampai bisa bekerja sama dengan Klan Loyard, maka jalan untuk bersinar akan menjadi mulus, semulus kulit sapi.
Para produser dan agensi akan melirik mereka dan mengajak mereka untuk bermain film, atau menjadi bintang iklan.
Dan Blair yang baru saja sukses membintangi drama romantis yang sedang booming di kalangan remaja itu kini akan bersekolah di SMA klan Loyard, sebagai salah satu syarat dari ayahnya agar bisa terus mengizinkannya menjadi aktris sesuai cita-citanya.
" Kau jadi masuk sekolah hari ini ? " Tanya Ken santai kepada Blair yang menghadapnya di ruang kepala sekolah.
" Ya saya rasa lebih cepat lebih baik " Jawab Blair lemah lembut.
" Beradaptasilah dengan baik, sekolah ini tidak mengenal kata izin untuk aktifitasmu di luar sekolah, kau mengerti itu bukan ? " Jelas Ken serius.
" Justru karena itulah ayahku menyekolahkan ku disini, jika disekolah lain aku bisa izin bahkan berbulan-bulan untuk membolos tanpa masalah, tapi disini aku bahkan tidak boleh memakai pakaian yang berlebihan " Gumamnya kesal.
" Maaf ? " Tanya Ken yang melihat Blair bergumam-gumam sendiri.
" Ah tidak ada apa-apa " Jawab Blair sopan dan tersenyum manis, sebagai aktris yang mendapat banyak sorotan dia harus selalu menjaga image nya di depan banyak orang, hingga kadang membuatnya lelah sendiri karena harus berpura-pura bahagia dan selalu tersenyum.
" Baiklah, pergilah ke kelas mu sekarang, pelajaran akan segera di mulai " Ucap Ken sopan dan berdiri untuk membukakan pintu untuk Blair.
Dengan lemah lembut Blair berjalan keluar ruangan kepala sekolah dan mencari kelasnya. Sepanjang jalan dirinya selalu tersenyum manis karena ada begitu banyak mata yang sedang menatapnya.
" Kelasku... " Blair mencari kelas sesuai dengan yang tertera di kertas yang dibawanya saat ini. Dirinya tidak terlalu berkonsentrasi mencarinya hingga tidak melihat apa yang ada di depannya dan menubruknya.
Brukk !! Blair terhuyung mundur.
" Hei kalau jalan lihat-lihat " Sungut Dylan kesal, karena buku-buku yang dibawanya jadi terjatuh.
" Apa ? " Gumam Blair tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, seseorang menabraknya dan memarahinya ? Biasanya orang lain akan sangat bersyukur telah berdiri dengan jarak sedekat itu dengannya, dan kemudian meminta maaf hingga puluhan kali, tapi kenapa sekarang orang didepannya ini malah bersikap lain. Blair menatap anak laki-laki yang sedang berjongkok didepannya memunguti buku-buku yang berserakan.
" Ehem...ehem... " Blair berdehem untuk mendapatkan perhatian dari Dylan, dan dia sangat terkejut saat melihat Dylan yang kini sudah berdiri di depannya.
" Kau !! " Pekiknya syok.
Dylan hanya memandangnya dengan bingung dan memiringkan kepalanya serta mengenyitkan keningnya.
" Masih lama berdirinya ? Kau menghalangi jalan ku " Ucap Dylan datar.
Blair yang masih syok tanpa sadar menyingkir dari hadapan Dylan, lalu Dylan berlalu begitu saja melewati Blair tanpa berkata apapun.
" Wuah !! " Blair memegangi lehernya yang terasa kaku karena menahan emosi.
" Dua kali, dua kali dia menabrak ku dan mengabaikan ku " Geramnya kesal tertahan, jika saja mereka berdua di tempat sepi saat ini sudah pasti Blair akan memakinya dengan segenap hati, bahkan memukulnya kalau perlu.
Setelah berhasil menemukan kelasnya, Blair segera masuk dan tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi. Guru kelas yang akan mengajar di jam pertama juga telah tiba bersamaan dengan Blair.
" Oh kau murid baru itu ya ? Si artis itu ya ? Siapa ya namanya ? " Pekik pak Doni antusias seraya mengingat-ingat salah satu iklan yang di bintangi oleh Blair.
" Blair " Kompak seluruh murid yang ada di kelas itu meneriakkan namanya dan membuat Blair tersipu malu.
" Baiklah silahkan perkenalkan dirimu nona Blair " Ucap Pak Doni tersenyum riang.
" Hallo teman-teman semua, saya Blair dan akan menjadi teman sekelas kalian, mohon bantuannya ya " Ucapnya lemah lembut seperti sedang mempromosikan sebuah produk.
Semua mata murid-murid memandangnya dengan kagum dan terpesona, Blair mengedarkan pandangannya menyapu seluruh kelas.
Tentu saja mereka semua kagum padaku, memangnya siapa yang tidak akan terpesona oleh ku.
Blair tersenyum bangga, namun saat matanya menangkap sesosok orang yang sangat di kenalnya sedang duduk di bangku belakang dan mengacuhkannya, kemarahannya kembali memuncak, namun dia berusaha menyembunyikannya dengan dalih sebuah image.
" Baiklah nona Blair silahkan cari bangku yang kosong " Ucap Pak Doni lembut.
Dengan matanya Blair mencari kursi yang kosong dan hanya tersisa di sebelah Dylan karena memang Dylan di kucilkan oleh seisi kelas, tidak ada yang mau duduk satu bangku dengan Dylan yang sangat menyebalkan.
Jangan bilang ini seperti di drama-drama, aku harus duduk di sebelah musuhku, lalu kami jatuh cinta begitu ? Cih drama picisan begitu.
Dia terus saja berjalan menuju ke arah Dylan.
" Permisi " Ucapnya lembut meminta perhatian Dylan yang sedang membaca buku.
" Hm ? " Saut Dylan dingin tanpa mendongakkan wajahnya.
" Boleh aku duduk disini ? " Izinnya dengan sopan.
__ADS_1
" Apa aku berhak melarangmu ? Ini bukan bangku milik ku, kalau mau duduk, duduk saja " Jawabnya dingin.
Grrrrr !!!!
Blair menggeram dalam hati, ubun-ubunnya serasa berdenyut-denyut merasakan otaknya yang panas, namun lagi-lagi demi sebuah image dia harus menahan diri dan selalu memasang wajahnya yang tersenyum.
Dengan pelan dia menarik kursi dan duduk di atasnya. Dalam hati bersumpah tidak ingin berurusan dengan anak menyebalkan sepertinya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Kiran yang sedang menghadap Ken untuk menyerahkan laporan hasil kerjanya disambut Ken dengan senyum genit menggoda.
Tanpa permisi dia menarik tangan Kiran dan membuat Kiran jatuh terduduk di pangkuannya.
" Hei ini disekolah, bagaimana nanti kalau ada yang lihat " Pekik Kiran berbisik dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Ken.
" Pintunya sudah ku tutup, tenang saja " Bisik Ken lirih di telinga Kiran dan membuat Kiran bergidik geli.
" Tapi tetap saja, bagaimana jika ada yang masuk dan melihat kita seperti ini, mereka akan salah paham dan mengira aku menggoda mu " Jawab Kiran lirih.
" Kau memang sudah menggoda ku, sangat menggoda " Gemas Ken dan tersenyum.
" Bagaimana bisa kau berbuat begitu jahat padaku, heh ? " Ucapnya lagi, mengingatkan mereka akan kejadian semalam.
Saat Ken sedang berciuman lembut dengan Kiran, dengan napas memburu penuh nafsu, tiba-tiba saja ponsel Kiran yang ada di nakas berdering. Ken menghentikan ciumannya.
Kiran mengambilnya dan melihatnya siapa yang meneleponnya malam-malam begini.
" Oh ibu " Pekiknya terkejut, Ken segera bangkit dan duduk dengan tegap di tepi ranjang.
" Maafkan aku bu, aku tidak bermaksud kurang ajar " gumamnya panik dan Kiran tersenyum lucu melihat tingkah Ken menundukkan kepalanya seakan memberi hormat pada Adelia yang tidak ada disana.
" Kenapa bu ? " Tanya Kiran santai.
" Tidak apa-apa, ini nenekmu katanya tiba-tiba ingin bicara dengan mu, jadi ibu menelepon mu untuknya " Jawab Adelia lembut.
" Nenek Mis ? " Tanya Kiran dengan suara keras, sengaja melakukannya agar Ken yang duduk di sebelahnya mendengarnya.
Dan benar saja, begitu mendengar nama keramat itu di sebut Ken berjengit kaget dan semakin menegapkan punggungnya. Hal itu semakin membuat Kiran tergelak.
Kiran yang paham apa yang dimaksud ibunya langsung mengangguk-angguk paham.
" Ah penglihatan lagi ? " Saut Kiran jengah.
" Dengarkan saja sebagai bentuk penghormatan, ok " Ucap Adelia lembut.
" Baiklah aku mengerti " Jawab Kiran maklum. Memang selama ini Nenek Mis seperti memiliki sebuah kemampuan untuk melihat hal-hal yang konon kabarnya tak kasat mata, dan juga memiliki kemampuan meramal yang cukup tepat sasaran. Namun baik Kiran maupun Adelia tidak serta merta percaya begitu saja, selama ini mereka selalu berpura-pura mendengarkan dan percaya.
" Hallo nenek ku sayang, ada apa ? " Tanyanya manja.
" Aku mendapat penglihatan kalau kau sekarang sedang dalam bahaya, ada seekor kucing yang kelaparan yang akan menerkam mu " Ucapnya serius.
" Kucing ? Kelaparan ? Menerkam ku ? Sekarang ? " Ucap Kiran lambat-lambat dan mengeraskan suaranya dan menunjuk Ken dengan dagunya saat menyebut kata kucing, lalu berusaha menahan tawanya saat melihat Ken menunjuk dirinya sendiri seakan bertanya " aku kucing ? " lalu Kiran mengangguk mengiyakan.
Ken menghela napas kesal menahan marah, bagaimana bisa dirinya di samakan dengan kucing yang kelaparan, harusnya dia disamakan dengan anak anjing yang lucu dan menggemaskan.
" Tapi tidak ada kucing disini nek " Jawab Kiran lembut.
" Kucing itu perumpamaan untuk laki-laki nak, pria hidung belang yang tidak bertanggung jawab, seperti... " Ucap Nenek Mis kemudian terdiam sejenak untuk memegangi dadanya yang terasa nyeri kala mengingat Ken.
" Baiklah, baiklah nek, aku mengerti, aku akan berhati-hati " Ucapnya kemudian.
Lalu setelah neneknya menutup sambungan teleponnya tawa Kiran meledak hingga membuatnya terpingkal-pingkal.
" Ada apa ? " Tanya Ken ketus.
" Tidak ada, nenek hanya bilang aku harus hati-hati karena dia mendapat penglihatan katanya sedang ada kucing yang sedang kelaparan yang ingin menerkam ku sekarang " Jawabnya di sela gelak tawanya.
" Cih " Cibir Ken kesal.
" Kau tau nenek ku seperti nya sedang patah hati " Ucap Kiran menggoda Ken.
" Hei jangan bahas itu " Omel Ken kesal.
" Hahaha... " Kiran tergelak keras sekali membuat Ken kesal dan kemudian pergi keluar kamar.
__ADS_1
Kiran menyusulnya masih dengan gelak tawanya.
" Hei mau kemana ? " Tanyanya.
" Nonton " Jawabnya ketus.
" Ah ya kita kan janji akan nonton bioskop setelah pulang dari makan malam " Ucap Kiran dan terus mengikuti Ken yang menuju sofa besar tempat untuk melihat televisi.
" Sebenarnya aku ingin mengajakmu nonton bioskop di mansion ku saja, tapi sepertinya kurang menarik karena tidak akan seperti berkencan pada umumnya, jadi aku berniat mengajakmu nonton di bioskop " Jawab Ken menjelaskan seraya sibuk mencari dvd film-film yang sudah di siapkan Rai di rumah ini.
" Tapi karena insiden tadi, aku rasa menonton di rumah saja sepertinya cukup " Lanjutnya seraya mengangkat sebuah dvd film bergenre horor.
" Kenapa menonton film horror ? " Protes Kiran takut.
" Jika Lucas memberimu saran mengatasi trauma hubungan fisik mu, maka aku juga akan memberimu saran mengatasi trauma horror mu " Jawab Ken santai dan memasukkan kepingan kaset dvd ke dalam mesin pemutar. Kemudian dia berdiri dan berjalan menuju tombol saklar untuk mematikan lampunya. Suasana seketika berubah gelap dan hanya penerangan dari televisi yang menerangi mereka.
" Bilang saja kau tidak percaya dengan cerita ku " Jawab Kiran sinis.
" Tentu saja aku tidak percaya, hantu itu tidak ada " Sautnya pongah.
" Lihat saja nanti " Ancam Kiran ketus.
" Jika yang mengirim bunga kamboja itu aku, maka pasti ada orang lain yang sengaja meneleponmu malam-malam dan mengaku-ngaku " Ken mengungkapkan teorinya.
Mereka kemudian duduk berdampingan untuk menonton film horror bersama, di malam jumat. Lagu-lagu yang menjadi latar belakang musik film tersebut terdengar sangat menyeramkan, membuat Kiran bergidik ngeri dan menciut di sebelah Ken.
" Kalau takut, sini " Ken menepuk dadanya sombong.
Tanpa basa-basi Kiran langsung membenamkan wajahnya di dada Ken.
Film horror berdurasi 2 setengah jam itu menceritakan tentang kisah seorang gadis yang selalu mendapat telepon aneh setiap tengah malam, hingga membuatnya stress dan jiwanya sedikit terganggu.
Ken tersenyum mengejek saat melihat adegan sang gadis menjawab teleponnya.
" Hallo, siapa ini ? Kenapa kau melakukan ini padaku ? Apa salahku ? " Makinya dengan putus asa karena terus-terusan mendapat teror.
" A...( kresek, kresek, kresek )..ku...a...(kresek, kresek, kresek )...kan...mengam...( kresek, kresek, kresek )....bil...ji...( kresek, kresek, kresek )...wamu... " Jawab suara menyeramkan di ujung sana, lalu terdengar suara dentingan piano memainkan lagu furr elise yang semakin membuat suasana semakin merinding.
" Hei, ini sama persis dengan yang aku alami " Bisik Kiran dari balik dada Ken.
" Tidak ada, kau lihat saja nanti, siapa yang menelepon akhirnya akan terbongkar " Ucap Ken percaya diri.
Dan hingga akhir film terbongkar sudah bahwa yang meneror sang gadis adalah mantan kekasihnya yang tidak terima di putuskan sepihak olehnya, jadi dia melakukan hal seperti itu.
" Lihatkan ? Itu ternyata perbuatan mantannya " Ucap Ken meremehkan.
Kiran pun akhirnya mengangkat wajahnya dan tersenyum lega.
" Syukurlah, eh tapi aku kan tidak punya mantan ? " Ucap Kiran tiba-tiba.
Deg !! Sejenak jantung Ken seperti berdenyut nyeri saat Kiran mengungkapkan hal itu, namun dalam hati dia membenarkannya, Kiran tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, lalu siapa yang menghubungi Kiran.
Layar televisi yang saat ini sedang menampilkan sederet tulisan-tulisan informasi mengenai nama-nama pemain serta kru yang bertugas itu pun kembali menampilkan secuplik adegan penutup.
Dalam adegan itu yang berakhir dengan di tangkapnya sang mantan oleh pihak kepolisian, dan sang gadis yang tersenyum lega karena telah terbebas dari teror, menampilkan ending sang gadis sedang ada di rumahnya sendirian, menonton televisi di malam hari sambil memakan popcorn, lalu tiba-tiba ponselnya berdering, dan saat gadis itu mengangkatnya suara penelepon itu terdengar lagi dengan dialog yang sama yang biasa dia dengar sebelum-sebelumnya.
" Kalau bukan dia yang meneleponku lalu siapa kau ? " Tanya gadis itu gemetaran, dan lalu sesosok bayangan hitam berdiri di belakangnya dan menerjangnya, lalu film pun berhenti.
Melihat adegan terakhir dari film tersebut, baik Kiran maupun Ken hanya terdiam membeku.
" Apa memang begitu akhirnya ? " Tanya Kiran takut-takut.
" Entahlah, aku dulu menontonnya tapi tidak sampai adegan yang ini " Jawab Ken yang kini juga dengan perasaan takut.
Lalu suara ponsel Kiran yang ada di kamarnya berbunyi, dengan takut Kiran menarik Ken agar mengantarnya mengambil ponselnya.
" I-ini kan nomor itu Ken " Tunjuk Kiran takut, nomor yang selalu menelepon Kiran tepat tengah malam.
" Angkat saja " Jawab Ken juga mulai merasakan takut. Dengan tangan gemetaran Kiran mengangkatnya dan langsung terdengar suara musik lingsir wengi yang membuat bulu kuduk meremang.
" Ha-hallo ? " Ucap Kiran ragu-ragu, dia mengaktifkan mode loud speaker agar Ken juga ikut mendengarnya.
" Ga... ( kresek, kresek, kresek )...nu...( kresek, kresek, kresek )...ng " jawab suara serak berat di ujung sana.
" HIAAA !!! " Teriak mereka berdua dan lari keluar dari kamar Kiran secepat kilat.
__ADS_1