
Ken duduk di atas batu besar. Dia sama sekali tidak fokus pada tugasnya untuk menjaga bendera, dia sibuk memperhatikan Kiran yang mondar mandir gelisah di depannya.
" Kenapa kau mondar mandir seperti itu, sini duduk di sebelahku sayang " Ucap Ken lembut menggoda Kiran yang sepertinya sedang gelisah.
Mendengar kata sayang yang di ucapkan Ken membuat Kiran menoleh dengan cepat, melirik tajam lebih tepatnya. Dia tidak menyangka bisa terjebak oleh permainan Ken yang harus berakhir dengan mereka jadian, sudah terlambat, tidak ada jalan kembali.
" Jangan panggil sayang " Ucap Kiran tajam dan berbisik.
" Kenapa memangnya ? Kau kekasihku sekarang, kenapa aku tidak boleh memanggilmu sayang ? " Jawab Ken acuh.
" Bagaimana nanti kalau ada yang dengar ? Rahasia kita akan terbongkar, dan semua orang akan... " Kiran gelisah sendiri dan semakin cepat berjalan mondar mandir.
" Ini di pinggir hutan, siapa yang akan mendengarkan kita ? " Ken terkekeh, melihat Kiran yang semakin gelisah membuat Ken semakin ingin menggodanya.
" Murid-murid sedang mencari kita, apa kau lupa ? " Balas Kiran sengit, kesal karena sepertinya Ken tidak akan menepati janjinya untuk merahasiakan hubungan mereka.
" Sudahlah duduk sini, kalau ada yang datang pasti kita akan mendengar suara langkahnya " Ken menenangkan Kiran, dia bangkit berdiri dan menarik tangan Kiran agar mengikutinya duduk di atas batu besar tersebut.
" Bukankah aku sudah berjanji akan merahasiakan hubungan kita, aku akan menepatinya. Percayalah " Ken menepuk pelan tangan Kiran yang ada di genggamannya, dan mengelus pelan rambut Kiran.
Kiran yang melihat Ken bersikap sangat manis padanya menjadi tersipu malu, Ken seperti seseorang yang berbeda saat ini. Bila beberapa bulan yang lalu dia mengenal Ken sebagai sosok yang konyol dan selalu saja ceroboh, tapi saat ini sepertinya sikap itu sudah sepenuhnya hilang dari Ken, dia menjadi sangat romantis dan perhatian.
Suasana yang sejuk karena hembusan angin di tepi hutan membuat mereka lupa diri, tanpa mereka sadari seseorang sedang mengawasi mereka dengan senyum miring di sudut bibirnya. Dia menyaksikan seluruh percakapan mereka dari awal sampai akhir.
" Cih rupanya mereka jadian juga " Dylan mencibir sinis.
Dia melangkah mendekat dan menembakkan senapan paintball nya ke dekat Ken, tepat mengenai batu yang sedang di duduki Ken. Membuat upin ipin yang sedang merasakan romansa di tepi hutan itu terlonjak kaget. Mereka kompak menoleh ke arah asal tembakan.
" Uups maaf meleset " Ucap Dylan sinis ke arah Ken.
" Aish bocah ini mengganggu saja ! Kalau kau ingin benderanya ambil saja lalu cepat pergi dari sini, lagipula toh nilai-nilai mu selalu sempurna jadi tidak akan berpengaruh apapun hadiah yang di tawarkan " Jawab Ken acuh, dia sedang tidak ingin diganggu, terlebih lagi oleh Dylan yang sudah seperti musuh bebuyutan baginya.
" Kau pikir aku jauh-jauh mencarimu sampai kesini karena ingin bendera itu ? Aku sama sekali tidak tertarik " Balas Dylan sengit.
" Lalu kau mau apa ? Apalagi yang di inginkan murid selain nilai bagus ? " Ken bertanya penasaran, terkadang dia merasa Dylan bukan hanya murid biasa, dia terlihat sangat dewasa untuk ukuran usianya yang masih remaja.
" Aku ingin melawan mu, kalau aku menang aku ingin kau memberiku informasi " Dylan memberikan penawaran.
" Informasi ? Informasi apa ? Bocoran soal ujian ? " Ken masih bingung kemana arah pembicaraan Dylan.
Kiran yang merasa akan terjadi perkelahian mencoba menengahi suasana, dia tidak ingin Ken ataupun Dylan terluka.
__ADS_1
" Dylan ini benderanya, sekarang pergilah " Kiran menyerahkan bendera yang mereka jaga agar Dylan segera pergi.
" Sudah ku bilang aku tidak butuh benderanya " Dylan menepis kasar tangan Kiran yang mengulur kepadanya. Ken yang melihat itu menjadi emosi.
" Hei bocah jaga bicara dan tingkah laku mu, aku tidak peduli kau masih anak-anak di bawah umur kalau kau kasar pada Kiran aku tidak akan segan-segan untuk membalasnya " Ken berteriak keras, suaranya menggema di antara pepohonan.
" Aku memang masih anak di bawah umur, tapi lihat saja saat aku sudah menjadi jaksa nanti, aku akan membuyarkan klan busuk mu itu " Dylan menjawab sengit, nada bicaranya tidak sedang bercanda.
Ken yang merasakan hal aneh pada diri Dylan mengernyitkan alisnya, dia tidak pernah bertemu remaja dengan sikap seperti itu, ancamannya jauh melebihi remaja labil yang biasanya hanya menggertak saja, tapi Dylan mengancam dengan menggunakan hukum, badan resmi milik negara yang tentu saja juga akan di patuhi oleh Klan Loyard.
" Apa maksud mu ? " Tanya Ken dingin, wajahnya berubah serius. Dia melihat Dylan sebagai seorang pria saat ini.
" Kalian menjalankan bisnis kotor dan masih berani bilang kalian Klan yang patuh hukum ? Cih kalian hanya sekumpulan preman jalanan tanpa atitude " Cibir Dylan jijik.
" Jaga bicara mu Nak, kau tidak pernah dengar pepatah mulutmu harimau mu ? " Ken memperingatkan Dylan yang sepertinya tidak takut sama sekali dengan Klan Loyard.
" Kau yang jaga mulutmu, berani-beraninya berpura-pura bersikap baik padahal kau sendiri bagian dari monster kejam " Dylan membalas sengit.
" Jangan berputar-putar, cepat saja katakan maksud mu, aku tidak punya waktu seharian untuk meladeni remaja labil seperti mu " Ucap Ken acuh, dia menyimpan rasa penasarannya agar tidak semakin memperkeruh keadaan.
" Klan kalian, yang kalian bilang taat hukum itu menjalankan bisnis kotor, bisnis prostitusi, kalian menjual wanita seenaknya seakan-akan mereka adalah barang, dan kalian juga melindungi pembunuh, memberikan mereka tempat persembunyian dan juga dukungan bantuan pengacara agar pembunuh itu lepas dari tuduhan " Dylan menjawab dengan keras dan tegas, emosinya memuncak mengingat kembali tentang mantan ayah tirinya yang bebas dari tuduhan meskipun nyata-nyata dia membunuh ibunya.
" Aku tidak mengerti yang kau bicarakan, pembunuh apa ? Dan kami tidak menjalankan bisnis kotor seperti yang kau tuduhkan, memang benar kami memiliki bisnis club malam tapi kami tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu " Ken menyangkal dengan tegas, dia tidak terima Klannya di tuduh begitu.
" Aku tidak mengerti yang kau bicarakan " Ken memutuskan mengacuhkan Dylan, dia merasa apa yang di tuduhkan Dylan hanya omong kosong belaka, dia menarik pergi tangan Kiran yang sedari tadi hanya diam membeku dengan sikap siaga, berjaga-jaga kalau benar akan terjadi perkelahian.
" Jangan kabur dan hadapi aku seperti seorang laki-laki, pengecut ! " Suara keras Dylan menghentikan langkah Ken dan Kiran.
" Aku tidak punya urusan dengan mu, jadi aku tidak akan menghadapi mu " Ken menjawab acuh dan melanjutkan langkahnya, namun baru beberapa langkah, dia merasakan tembakan paintball mengenai punggungnya. Ken berbalik dengan kesal, habis sudah kesabarannya melihat Dylan yang semakin menunjukkan sikap permusuhan.
" Kalau aku menang beritahu aku dimana si brengsek itu, tapi kalau aku kalah, aku tidak akan bertanya lagi padamu, akan ku cari tau sendiri " Dylan sekali lagi menantang Ken berduel, dia tidak ingin melepaskan kesempatan seperti ini, yang tidak akan dia dapatkan saat berada di sekolah, dengan banyaknya orang-orang.
" Kau sendiri yang meminta, jangan tarik ucapanmu. Ah ya satu lagi, kalau kau kalah kau harus bersikap sopan padaku, ingat itu baik-baik " Ken memperingatkan dengan dingin. Dia melepaskan tangan Kiran yang menggenggamnya dengan erat, seperti menahannya agar tidak berkelahi dengan Dylan.
" Aku mohon jangan " Kiran memelas, dia tidak ingin salah satu dari mereka terluka karena jelas akan berbuntut panjang.
" Aku akan baik-baik saja " Ken mengelus pipi Kiran untuk meyakinkannya, dan perlahan melepaskan tangannya.
Ken maju untuk mendekati Dylan yang sudah memasang kuda-kuda pertahanan, bersiap-siap jika menerima serangan mendadak dari Ken.
" Kau mungkin melihatku seperti orang bodoh karena bersikap konyol selama ini, tapi perlu kau tau, aku adalah orang ke ketiga berbahaya yang paling di takuti dalam klan, terlepas dari aku putra pemimpin atau bukan " Ken merem*s jari-jari tangannya, menimbulkan suara kemeretak menyeramkan. Dia sama sekali tidak berkedip saat menatap Dylan.
__ADS_1
Perkelahian pun tidak dapat di hindari, Dylan yang pertama menyerang Ken dengan melayangkan tinjunya yang dengan mudah di hindari oleh Ken, dia tersenyum miring, merasa Dylan bukan tandingannya, jadi dia akan bersikap lunak kepadanya. Dia hanya akan menghindar sampai Dylan merasa lelah dan kemudian mengakhiri ini dengan satu kuncian yang akan membuat Dylan tak berkutik.
Setelah beberapa lama menghindari serangan Dylan yang jelas terlihat bahwa dia belajar berkelahi secara otodidak, berbeda dengan Ken yang sedari kecil sudah terlatih bela diri oleh ahlinya. Membuat keadaan tidak seimbang. Dylan yang sudah kelelahan dan napasnya tersengal-sengal pun semakin merasa kesal, bagaimana tidak, dia menyerang Ken secara membabi buta, tapi tidak satupun dari serangannya yang mengenai tubuh Ken, dia selalu berhasil menghindar dengan gesit, dan terkadang malah membalas memukul Dylan juga yang sudah pasti tepat sasaran, mengenai punggung Dylan dan membuatnya terhuyung maju hampir terjatuh. Namun yang membuat Dylan heran adalah semua serangan Ken sama sekali tidak menyakitinya, hanya membuatnya hampir terjatuh saja.
" Baiklah aku sudah lelah jadi kita akhiri ini saja " Ucap Ken dengan serius dan kemudian menerjang Dylan yang sedang terhuyung, hanya dalam satu kali gerakan cepat dia sudah memutar tubuh Dylan dan menempatkannya di tanah, kemudian mengunci tubuh Dylan dengan pitingan tangan dan kakinya di antara lengan dan leher Dylan, membuatnya susah bergerak bahkan bicara.
" Sekarang kau sudah kalah kan, jadi bersikaplah baik kepada ku, ok ? " Perintah Ken masih dengan posisinya yang mengunci tubuh Dylan.
Dylan yang tidak bisa bergerak juga tidak bisa menjawab hanya diam saja, kemarahannya yang memuncak membuatnya semakin frustasi, hingga tanpa sadar dia menangis. Menangisi kekalahannya dan kesempatannya untuk mengetahui dimana mantan ayah tirinya berada.
Ken yang melihat itu mendadak merasa iba, dia belum pernah melihat orang berjuang sekeras Dylan untuk mengalahkannya meskipun itu adalah hal yang hampir dikatakan mustahil. Ken melepaskan kunciannya, dan Dylan segera duduk tegak. Menarik kedua lututnya untuk menutupi wajahnya dan menangis sejadi-jadinya.
Ken dan Kiran yang bingung hanya bisa diam memandangi Dylan. Namun sebenarnya Kiran merasa lega karena tidak ada yang terluka dari pertarungan ini, tapi melihat Dylan yang seperti itu membuatnya juga merasa kasihan. Bayangan Dylan yang menangis di makam ibunya kembali muncul.
Ada rahasia apa sebenarnya antara Dylan dengan Klan ?
Kiran berjalan perlahan untuk mendekati Dylan, mencoba menenangkan dan menghiburnya.
Ken mencebik kesal, dia merasa menyesal telah melawan anak-anak yang sudah bisa dipastikan hasil akhirnya.
" Sudah jangan menangis, kau bukan satu-satunya orang yang kalah melawanku, hanya dua orang yang tidak bisa ku kalahkan, jadi kau jangan berkecil hati " Ucap Ken penuh percaya diri karena mengira alasan Dylan menangis adalah kalah darinya.
" Aku bukan menangis karena kalah melawan mu dasar ipin " Ucap Dylan sengit mengangkat wajahnya, dia menyeka air matanya dengan kasar.
" Wah kau memang benar-benar ! Wah... " Ken merasa sangat kesal karena Dylan juga ikut-ikutan memanggilnya ipin sekarang, dia sampai kehabisan kata-kata untuk membalas Dylan.
" Baiklah rembo, kita berkelahi sekali lagi, kalau kau kalah jangan pernah memanggilku ipin lagi " Ken menantang Dylan, nadanya melesat 2 oktaf.
" Cih ipin tidak akan menang melawan rembo " Dylan tersenyum sinis mendengar panggilan Ken untuknya, keberaniannya seperti telah di isi ulang karena mendengar julukan Ken untukknya, rembo lebih baik dari ipin begitu pikirnya.
" Hei kau tau rembo itu apa ? " Ken mendadak tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi serius Dylan.
" Rembo yang ada di film rembo itu kan ? Yang pemainnya sylvester stallone itu kan ? " Dylan menjawab heran karena melihat Ken yang tertawa bukannya malah takut.
" Hei area bermain mu kurang jauh Nak, rembo itu ayamnya tok dalang " Ken tertawa terbahak-bahak kembali setelah menyelesaikan kalimatnya.
" Apa ?!? " Dylan terkejut karena rembo yang dimaksud Ken adalah ayam jago dari serial kartun anak-anak itu.
Aku tidak yakin dia orang ketiga yang ditakuti dalam Klan kalau tontonannya adalah kartun animasi upin dan ipin.
Dylan menatap Ken dengan heran dan bingung.
__ADS_1
Hmm... sudah ku duga.
Kiran memutar bola matanya dan menepuk dahinya dengan malas.