
Seperti yang sudah di prediksikan, seharian ini Ken terlalu sibuk, dia bahkan tidak sempat makan siang, telepon dari Tina tadi pagi memangkas setidaknya waktunya selama 15 menit untuk berkonsentrasi penuh dalam upayanya menolak Tina secara halus. Dan bisa di pastikan Tina tidak akan mundur dengan mudah.
Melihat bagaimana kebetulannya panggilan Rahul dari Kiran untukku, dan Tina...
Ken bergidik ngeri saat membayangkan jodoh Rahul dalam serial film bollywood yang juga menjadi salah satu film favoritenya itu, karena sangat romantis menurutnya. Dia menggelengkan kepalanya mengusir sepenggal bayangan film itu, dia tidak ingin membayangkan Rahul dirinya dengan Tina yang asli, pasti bencana yang akan terjadi.
" Ini makan siangmu " Kiran menyodorkan sekotak kue yang dia beli dikantin saat makan siang bersama teman-teman guru yang lainnya.
Suara Kiran mengejutkan Ken, dia mendongak dan memandang Kiran yang tersenyum lembut.
" Aku melihatmu sangat sibuk sampai-sampai tidak sempat makan siang, jadi aku membelikanmu sedikit kue, mungkin tidak akan bisa membayar semua budi baikmu selama ini yang sudah mentraktir ku, tapi ini tulus, terima lah " Kiran mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.
Ken menunduk menatap kotak makanan di depannya dengan mata berbinar.
Apa ini lampu hijau untukku ? Apa ini artinya dia juga menyukai ku ? Aku akan benar-benar menembaknya nanti saat acara outbond di pulau Lorie.
Ken semakin memantapkan hatinya karena merasa Kiran juga merasakan hal yang sama dengannya.
" Terima kasih " Ucap Ken terbata-bata.
" Kau kenapa ? Sepertinya kau sakit, wajahmu memerah ? " Tanya Kiran khawatir.
" Ah tidak, tidak, ini mungkin... " Ken berusaha mencari alasan yang tepat untuk wajahnya yang merona saat ini.
" Kalau begitu cepat makanlah " Kiran menepuk pelan punggung tangan Ken dan pergi berlalu ke mejanya.
Ya benar, aku rasa dia juga menyukaiku, aku harus secepatnya mengungkapkannya sebelum dia berubah pikiran.
Ken menatap tangannya yang disentuh Kiran tadi, hatinya sekarang dipenuhi bunga-bunga beracun yang cukup untuk membuatnya mengkhayal yang tidak-tidak, mengkhayal tentang pernikahan. Kiran dalam balutan gaun putih panjang, dan dirinya dalam balutan tuxedo hitam, terlihat serasi dan bahagia.
Dia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum bahagia, ternyata jatuh cinta benar-benar bisa membuatnya mabuk meskipun tanpa meminum alkohol.
Bel pulang berbunyi, Kiran sudah membereskan mejanya, menata buku-bukunya dengan rapi dan sebagian memasukkannya kedalam tas. Begitu juga dengan Ken, dia sudah bersiap-siap pulang dengan penuh semangat, tidak masalah Dylan menumpang mobilnya, yang terpenting bersama Kiran, begitu pikirnya.
" Ayo " Ajak Ken yang di sambut anggukan Kiran.
Mereka kemudian keluar dan akan pergi menuju ke area parkir, namun di tengah jalan mereka bertemu Dylan, sepertinya berlainan arah dengan mereka. Kiran yang merasa heran menghampirinya.
" Dylan kau mau kemana ? Area parkirnya di sebelah sana " Kiran menyapa Dylan yang terlihat sedang sedih.
__ADS_1
" Kalian pulanglah lebih dulu, aku akan pergi ke suatu tempat " Dylan menjawab lemas, dan pergi berlalu begitu saja dengan langkah gontai, meninggalkan Kiran yang keheranan.
Melihat Dylan yang biasanya aktif dan suka membangkang khas anak muda, tapi sekarang dia malah seperti seorang pak tua yang berjalan terbungkuk-bungkuk, dengan raut wajah yang sedih seakan-akan baru putus cinta, membuat Ken mau tak mau heran juga. Dia berjalan mendekati Kiran.
" Kenapa dia ? " Tanya Ken penasaran melihat kondisi Dylan yang mirip dirinya beberapa waktu yang lalu.
" Entahlah, apa mungkin dia gagal dalam ujian matematikanya ? " Tebak Kiran asal.
" Memangnya anak jaman sekarang masih peduli dengan nilai ? " Tanya Ken skeptis.
" Kau jangan begitu, dia itu termasuk murid berprestasi asal kau tau, dia masuk kesini karena nilainya sempurna dalam ujian masuk, dan pihak sekolah memberikannya beasiswa penuh selama bersekolah, bisa dikatakan dia sekolah dengan gratis tanpa di pungut suatu biaya apapun " Kiran menjelaskan dengan takjub.
" Wow, aku tidak mengira, ku kira dia anak bandel dari keluarga kaya yang hanya tau caranya menghambur-hamburkan uang " Ken sedikit menaruh rasa kagum pada Dylan sekarang.
" Tidak, dia yatim piatu, begitu yang tertulis di data siswa " Kiran kembali menjelaskan dengan nada sedih, dia merasa Dylan dengan dirinya punya sedikit kemiripan. Sama-sama yatim piatu. Bedanya Kiran masih memiliki ibu tiri, meskipun saat ini hubungan mereka merenggang tapi ibu tiri Kiran sangat baik, dia merawat Kiran dari kecil, tapi saat pamannya yang mantan narapidana tinggal bersama mereka sikapnya berubah, mereka lebih sering cekcok dan berselisih paham.
" Kalau ujian itu gagal kan bisa mengulang lagi, kenapa bisa sampai sesedih itu ? " Heran Ken yang tidak mengerti dengan jalan pikiran anak-anak jaman sekarang.
" Ken bagaimana kalau kita ikuti Dylan, aku merasa tidak enak, aku takut Dylan akan berbuat nekat " Kiran memohon dan menggenggam tangan Ken tanpa sadar.
Ken terdiam beberapa saat, terkejut karena Kiran sekarang sudah mulai berani menyentuhnya, kemajuan yang pesat, pikir Ken.
" Nekat bagaimana maksud mu ? " Ken mengulangi kata-kata Kiran.
" Ya mungkin saja nilai matematikanya jelek jadi dia memutuskan akan melompat kesungai, atau gantung diri, atau menabrak dirinya ke mobil, atau... " Kiran mengutarakan semua kemungkinan yang akan terjadi yang bisa di lakukan oleh orang depresi.
" Wo wo wo, tahan di situ anjeli, itu tidak mungkin terjadi, itu cuma masalah nilai, tidak akan sampai seburuk itu, ok ? " Ken memotong pemikiran Kiran yang diluar nalar, tapi sejurus kemudian tatapan matanya tajam menilai Kiran. Tidak mungkin Kiran bisa mengucapkan itu kalau dia sendiri tidak pernah berpikir akan melakukannya. Bayangan Kiran yang memikirkan cara-cara mengakhiri hidup itu membuatnya bergidik ngeri, dia tidak bisa membayangkan seandainya Kiran melakukan itu, apa yang akan terjadi padanya.
" Kalau begitu ayo ikuti dia, aku takut pikirannya sedang tidak waras " Kiran segera menarik tangan Ken agar bergegas mengikuti Dylan.
" Aku ambil mobilku dulu " Ken menyela Kiran.
" Kalau kau membawa mobilmu, itu akan sangat mencolok, kita akan ketahuan " Kiran menolak ide Ken.
" Lalu kau ingin bagaimana ? " Tanya Ken malas, dia lebih suka menyuruh anak buahnya untuk melakukan pengintaian seperti ini, tapi karena ini adalah permintaan Kiran, Ken dengan berat hati menurutinya.
" Kita menyamar saja, dan mengikutinya diam-diam " Kiran memberikan ide yang tidak masuk akal menurutnya.
Menyamar bagaimana yang dimaksud Kiran, pikiran Ken melayang pada sesosok orang yang harus berpura-pura jadi orang gila untuk menyamar, di penuhi jenggot palsu, rambut palsu dan badan yang kotor menghitam. Ken mendadak mual membayangkannya.
__ADS_1
" Tidak mau " Ken menolak dengan cepat. Kemudian dia teringat sesuatu. Sekolah mereka memiliki ruang ekstrakulikuler tata busana, jadi disana pasti ada banyak sekali baju-baju hasil rancangan para siswa.
Dia meminta bantuan Pak Dim untuk membuka ruangan itu, dan dengan cepat menyambar 2 buah long coat berwarna biru dan kuning tua, serta 2 buah topi fedora yang cukup lebar, tidak lupa juga 2 buah masker wajah berwarna hitam dan putih.
Dia memberikan long coat berwarna kuning tua kepada Kiran, dan juga topi fedora berwarna coklat. Kiran yang hendak protes mengurungkan niatnya karena memang inilah yang mereka butuhkan. Setelah selesai dengan persiapan mata-matanya, mereka kembali bergegas menyusul Dylan, tidak susah menemukan sosok yang tinggi jangkung di antara para siswa yang sedang mengantri bus sekolah.
Kiran sendiri merasa heran karena bus yang menuju arah rumah mereka baru saja lewat dan Dylan tidak menaikinya.
Apa dugaan ku benar dia akan berbuat nekat ?
Kiran semakin gugup.
Mereka berdua, detektif dadakan tersebut, juga ikut berdiri mengantri di halte, penampilan mereka yang mencolok mengundang perhatian. Tapi Kiran terlalu sibuk mengamati Dylan yang masih saja terlihat sedih. Sementara Ken memikirkan sesuatu di kepalanya, namun tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk pemikirannya.
Sebuah bus tiba, sebagian murid menaikinya, termasuk juga Dylan. Kiran yang lebih waspada menarik Ken yang dari tadi hanya melamun. Dylan naik melalui pintu depan bus, sedangkan Kiran dan Ken naik melalui pintu belakang. Beruntungnya mereka Dylan mendapatkan tempat duduk di depan, jadi dia tidak akan berjalan ke belakang.
Kiran segera duduk di kursi belakang yang kosong, punggung Dylan terlihat jelas dari sana. Matanya tidak lepas sedikitpun dari Dylan, bahkan dia berjenggit kaget saat Dylan menghela nafas panjang.
Kenapa dia terlihat sangat frustasi begitu, apa benar karena nilai matematikanya ?
Kiran menebak-nebak di kepalanya.
Sementara itu Ken masih saja terlihat berpikir keras, dia terus saja menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengingat-ingat sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan penampilan mereka saat ini, serupa tapi tak sama.
Apa ya ? Apa ya ?
Ken terus saja mencoba mengingat-ingat, berpikir keras.
" Aha ! " Pekik Ken saat sudah mendapatkan ingatannya.
Kiran yang duduk di sebelahnya sampai terlonjak kaget dan reflek menutup mulut Ken yang ada di balik masker hitamnya.
" Ada apa ? Kenapa berteriak ? Bikin kaget saja " Omel Kiran berbisik di telinga Ken.
" Aku baru saja ingat penyamaran kita saat ini mirip seseorang " Ken menjelaskan dengan berbisik juga setelah melepaskan tangan Kiran dari mulutnya.
" Mirip siapa ? " Tanya Kiran malas. Kenapa Ken malah mempermasalahkan penyamaran mereka mirip siapa atau apa, bukan malah fokus ke Dylan.
" Kau Upin dan aku Ipin " Ken terkekeh mendengar betapa miripnya mereka saat ini dengan tokoh kartun dari negeri jiran tersebut.
__ADS_1
" Rahul !!! " Erang Kiran tertahan, kesal dengan sikap konyol Ken yang tidak tepat waktu, bisa-bisanya dia masih memikirkan upin dan ipin.