Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Rahasia Dylan 2


__ADS_3

Pikiran Dylan sedang tidak berada di tempatnya, menerawang jauh ke masa lalu. Masa-masa terburuk dalam hidupnya.


Dylan selama ini hanya tinggal berdua dengan ibunya, berdua dan bahagia. Walaupun seluruh dunia memandang buruk mereka, tapi selama mereka memiliki satu sama lain, itu sudah cukup. Apa artinya dunia jika tanpa ibunya, begitu pikiran sederhana Dylan kecil.


" Hei kata ibu ku, ibu mu perempuan buruk, jadi aku tidak boleh berteman dengan mu lagi " Ucap seorang anak kecil di atas ayunan sebuah taman, di sebelahnya Dylan kecil juga sedang bermain ayunan.


" Lalu sekarang apa kau tidak mau berteman dengan ku ? " Tanya Dylan kecil dengan wajah polos.


" Iya kata ibu ku kalau aku terus berteman dengan mu dia tidak akan memberikan aku uang saku dan bekal makan siang lagi " Balasnya dengan wajah tak kalah polos, untuk anak berumur 5 tahun dan masih duduk di bangku taman kanak-kanak, harga sebuah teman hanya sebatas bekal kotak makan siang dan uang saku dari orang tuanya, sedikit ancaman saja sang anak pasti sudah menurut.


" Baiklah tidak apa-apa " Dylan kecil menjawab polos dan menundukkan wajahnya, menangis. Teman sekolahnya menjauhinya lagi, dan itu tadi adalah teman terakhir yang dia miliki. Sekarang Dylan sendirian, tidak ada teman yang ingin bermain atau dekat-dekat dengan dirinya.


Saat pulang sekolah, ibu Dylan menjemputnya dan mendapati anaknya tengah bersedih.


" Sayang kenapa wajahmu sedih ? " Tanya ibunya dengan suara lembut.


" Teman-teman ku menjauhi ku bu, mereka bilang tidak boleh berteman dengan ku karena ibu jelek " Dylan kecil menangis sesegukan, tidak memiliki teman adalah kiamat bagi anak TK yang bisanya hanya bermain saja.


" Tidak apa-apa sayang, nanti ibu belikan mainan baru untukmu, kau bisa memilih mainan manapun yang kau suka " Ibunya menghibur Dylan dan mengusap air matanya. Mereka pergi dengan menaiki mobil mewah yang di kendarai sendiri oleh ibunya.


Seiring berjalannya waktu Dylan semakin di kelilingi oleh mainan, tapi tak satupun teman-temannya yang tertarik bermain dengannya, membuatnya seperti kebal merasa di jauhi dan akhirnya dia menyerah, lebih memilih menyendiri.


" Minggir anak pelacur mau lewat, beri jalan, beri jalan " Ejek seorang temannya saat Dylan pergi ke kantin untuk makan siang. Sekolah di sekolah SMP internasional nyatanya tidak membuat kehidupan Dylan lebih baik, ibunya berpikir kalau memberikan pendidikan kelas atas kepada Dylan akan membuat hidupnya sukses, namun yang terjadi justru sebaliknya, hal itu malah memberikannya tekanan batin yang lebih hebat dari hari ke hari. Ya sekarang Dylan sudah tau pekerjaan ibunya, seorang wanita malam. Pantas saja ibunya sering sekali pergi di malam hari, pantas saja Dylan tidak pernah mendapat jawaban siapa nama ayahnya saat dia meminta ke ibunya untuk keperluan menulis biodata siswa.


Bergaul dengan siswa-siswa dari anak orang kaya, petinggi negara, ternyata tidak ada bedanya dengan anak-anak dari kalangan biasa, mereka menganggap Dylan dan ibunya adalah sampah masyarakat yang harus di jauhi, dan jadi hal lumrah jika memanggilnya dengan sebutan "anak haram" atau "anak pelacur". Miris memang, tapi kenyataan memang terkadang tak seindah yang tertulis di buku cerita, bahwa semua orang adalah orang baik.


" Kau hanya anak ibu, hanya anak ibu " Begitulah jawaban yang selalu di berikan ibunya, dan Dylan tidak akan bertanya lebih lanjut, akan menyakitkan apabila mendengarnya sendiri dari mulut ibunya bahwa dia anak hasil.. ah sudahlah, Dylan sudah paham. Waktunya yang tanpa teman dia habiskan untuk membaca buku-buku, jadi dia sudah tau pasti pekerjaan ibunya seperti apa dan bagaimana.

__ADS_1


Walaupun begitu kehidupan keduanya berkecukupan bahkan bisa di bilang berlebihan. Dan sampai pada akhirnya ibunya memutuskan menikah dengan seorang laki-laki, yang konon katanya termasuk petinggi Klan Loyard, dihormati, di segani, dan di takuti. Itulah gambaran sosok laki-laki yang akan menjadi ayah barunya. Ibunya berharap dengan menikah, mereka akan menjadi keluarga yang bahagia layaknya keluarga cemara tapi malah keluarga celaka yang di dapatkan. Ayah tirinya ternyata orang yang tempramen dan kejam, dia sering melayangkan tangannya saat bertengkar dengan ibunya dan tentu saja ibunya tidak tinggal diam, mereka akan saling pukul dan melempar apapun yang bisa dilempar sebagai senjata untuk melukai satu sama lain.


Dan malam terburuk di hidup Dylan itu pun terjadi. Seperti biasa Dylan dengan acuh sedang membaca buku di kamarnya sampai tiba-tiba dia mendengar sumpah serapah keluar dari mulut ibunya yang ada di lantai bawah.


" Mereka mulai lagi " Gumam Dylan malas, jengah karena setiap hari suara teriakan dan makian menjadi soundtrack latar belakang suasana di rumahnya.


Lalu balasan teriakan dari ayah tirinya juga menggema di udara, di susul dengan bunyi perabot yang di lempar. Begitulah setiap kali pertengkaran, selalu saja memakan korban perabotan.


Cukup lama Dylan mendengarkan sumpah serapah dari keduanya, sampai akhirnya berujung pada teriakan panjang ibunya yang kesakitan, lebih kesakitan dari biasanya.


Dylan yang khawatir segera turun ke lantai bawah dan memeriksa keadaan. Suasana hening, teriakan ibunya tidak terdengar lagi. Jantung Dylan berdetak dengan cepat, seakan berpacu dengan napasnya yang juga pendek-pendek.


Dia melihat ibunya terkapar di lantai dapur dengan bersimbah darah, sebuah pisau masih menancap di perutnya. Dylan muda hanya bisa diam membeku melihat kejadian itu. Kakinya terasa lumpuh, bahkan untuk berjalan ke arah ibunya yang hanya berjarak beberapa langkah saja dia tidak sanggup.


Dia jatuh bersimpuh, memandang ibunya yang sedang sekarat dengan napas lemah, berjuang untuk hidup.


Dylan muda merangkak, menyeret tubuhnya mendekati ibunya. Tangannya yang gemetar hebat mengulur ke arah ibunya.


" I-ibu " Rintihnya lagi, namun wajah ibunya semakin memucat seakan semua darah di tubuhnya telah di tumpahkan kelantai di bawah tubuh mereka.


" S-sayang ma-maaf " Hanya kata itu yang mampu di ucapkan ibunya, lalu yang terjadi selanjutnya terasa begitu cepat dan membingungkan, Dylan pingsan.


Dylan terbangun di suatu pagi, di ranjang rumah sakit dengan tangan dan kaki terikat. Dia bingung dan sekaligus merasa pusing. Otaknya berusaha mengingat-ingat kembali kejadian yang di alaminya, dan dia tidak menemukan memori apapun, yang dia ingat hanya tubuh ibunya terkapar di lantai bersimbah darah dengan pisau menancap di perutnya.


Seorang perawat masuk, tersenyum hangat kepada Dylan.


" Kau sudah bangun ? " Tanya nya seraya membawa sebuah nampan berisi makanan dan obat-obatan, menuju meja di samping ranjang dan meletakkan nampannya.

__ADS_1


" Aku dimana ? " Tanya Dylan heran, dia mengedarkan pandangannya berkeliling.


" Hmm ? " Perawat itu mengernyitkan keningnya, lalu menghela napas prihatin.


" Kau lupa lagi ? Kau sedang ada di rumah sakit " Jawabnya lembut dan tersenyum.


" Rumah sakit ? Kenapa aku bisa ada di rumah sakit ? " Tanya Dylan semakin heran, dia meronta-ronta karena merasa tidak nyaman dengan tangan dan kakinya yang terikat di ranjang.


" Tenanglah Dylan, tarik napas pelan-pelan, lemaskan tubuhmu " Perawat itu mendekati Dylan berusaha menenangkannya.


Tapi raut wajah Dylan sudah mulai menegang marah, dia tidak suka di ikat, dan dia tidak tau alasan apa yang harus membuatnya di ikat seperti seorang penjahat.


" Aku tanya kenapa aku bisa ada di rumah sakit dan di ikat seperti ini ? " Teriaknya keras, semakin meronta-ronta ingin melepaskan diri.


Teriakan Dylan membuat beberapa perawat laki-laki datang dengan tergopoh-gopoh. Mereka memegangi Dylan dengan kuat, dan perawat wanita itu segera mengambil sebuah suntikan dari atas nampannya. Dengan cekatan dia menyuntikkannya ke lengan Dylan.


Dylan yang semula meronta-ronta kuat sekarang mulai tenang dengan perlahan. Dan para perawat laki-laki yang tadi memeganginya sudah melepaskannya. Dylan merasa matanya berat sekali, seperti tidak tidur untuk waktu yang lama. Dia berusaha melawan rasa kantuknya sekuat tenaga, dan berteriak. Namun suaranya lagi-lagi tidak keluar, dia seperti kehilangan semua tenaganya.


" Aku..ngin..bu " Dylan mulai meracau tidak jelas, pengaruh obat penenang itu akhirnya bekerja.


Dalam keadaan setengah tidak sadar samar-samar Dylan mendengar obrolan para perawat tentang dirinya.


" Itu pasti guncangan besar untuk mentalnya, bagaimana tidak, dia hanya memiliki ibunya " Perawat wanita itu berkata dengan nada penuh prihatin.


" Tentu saja, tapi dengan keadaanya yang seperti ini, kesaksiannya tidak akan di akui " Kali ini suara perawat laki-laki yang terdengar.


Ibu ku tidak mati, dia tidak boleh mati.

__ADS_1


Teriak Dylan keras dan lantang di dalam hati. Dan kemudian semuanya gelap dan hening. Dylan sudah sepenuhnya dikuasai alam bawah sadarnya, tertidur untuk kesekian kalinya karena obat penenang yang di resepkan oleh dokter yang menanginya di rumah sakit jiwa.


__ADS_2