
Suara alarm membangunkan Kiran, dia meregangkan otot-ototnya yang kaku karena tidur dengan posisi duduk. Ya Kiran memang tidur di ruang tamu bersama dengan Ken, semalam Ken yang marah karena ulah Kiran yang membuat bibirnya bengkak, menuntut pertanggung jawaban dari Kiran. Dan Kiran harus mengompres bibir Ken dengan air es agar bengkaknya hilang, Ken tidak mau berangkat sekolah dengan kondisi seperti itu.
" Sepertinya bengkaknya sudah hilang sepenuhnya " Gumam Kiran menatap Ken yang masih tertidur pulas di sofa panjang.
Dia mendekat untuk mengawasinya dari dekat, di tatapnya wajah Ken dalam. Mulai dari matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya, mata Kiran menyapu setiap lekukan di wajah Ken.
Kau sangat tampan dan sangat baik, kenapa kau harus terjebak dengan gadis sepertiku. Aku hanya harus bertahan sampai laki-laki itu di temukan, lalu aku akan menceritakan bagaimana diriku yang sebenarnya padamu, dan pada saat itu kau boleh pergi meninggalkan ku.
Kiran tersenyum sedih melihat wajah Ken yang tenang di dalam tidurnya.
" Apa aku sudah cukup tampan untuk menjadi suami mu ? " Tanya Ken dengan mata yang masih terpejam.
Kiran terperanjat dan jatuh terduduk. Dia tidak mengira Ken akan tau bahwa dia diam-diam mengamati wajahnya.
" Suami apanya, kau bahkan belum tau siapa aku sudah memutuskan untuk menikah, pikirkan lagi baik-baik, masih belum terlambat untuk membatalkannya " Saut Kiran pura-pura acuh.
" Kau ini kenapa susah sekali, aku bahkan bertaruh nyawa menghadap ayahku agar mendapat restunya " Saut Ken ketus. Dia bangun dan langsung duduk menatap Kiran dengan tajam.
" Bertaruh nyawa ? Yang kau lakukan hanya melemparkan tuduhan tidak masuk akal " Cibir Kiran sinis.
" Kau hanya tidak tau betapa menengangkannya kejadian itu " Balas Ken kesal.
Kiran yang tidak ingin berdebat lagi segera berdiri dan membereskan wadah serta sendok yang dia gunakan untuk mengompres bibir Ken. Dia berjalan menuju dapur. Para pelayan sudah memulai aktifitasnya untuk mengawali hari.
" Dasar dia penjahat berdarah dingin, bukannya senang aku akan menikahinya dia malah menganggap itu bercanda " Sunggut Ken kesal, dia menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil. Bayangan tentang penolakan Kiran semalam masih teringat jelas.
Kiran tertawa terbahak-bahak saat Ken bilang mereka akan menikah sebulan lagi. Bukan rasa terkejut bercampur haru bahagia yang di dapatkan Ken sebagai jawaban, justru tawa yang membahana diseluruh ruangan yang dia terima.
Saat ini mereka bertiga duduk rukun di meja makan untuk sarapan bersama, rukun hanya dalam wujud tapi tidak dalam tindakan. Baik Dylan maupun Ken sama-sama tak mau mengalah saat mereka kedapatan berebut lauk yang sama.
" Aku yang menempatkan sendok ku lebih dulu, singkirkan tanganmu itu " Ucap Ken ketus.
" Disini masih banyak lauk, kenapa tidak kau saja yang menyingkir ? " Balas Dylan tak kalah ketus.
Mereka saling mengadu pandangan mata yang apabila di lihat dari kacamata sinar biru maka masing-masing mata mereka akan mengeluarkan arus listrik yang saling bertabrakan.
Kiran yang sudah sangat jengah melihat tingkah mereka tanpa basa-basi memukul kedua tangan manusia itu menggunakan sendok nasi, dan kemudian mengambil piring berisi lauk yang menjadi lahan sengketa itu.
Dia menuangkan semua isinya ke atas piringnya dan dengan lahap memakannya tanpa bicara. Dylan dan Ken hanya terbengong-bengong melihat kejadian itu.
" Kiran, kenapa sikapmu seperti ini ? " Tanya Ken curiga, Dylan pun yang biasanya berperan sebagai musuh abadi Ken mengangguk setuju dengan pendapatnya kali ini.
" Ini karena kalian selalu saja bertengkar saat bersama, tidak bisakah kita hidup rukun seperti selayaknya keluarga normal ? " Omel Kiran kesal.
" Keluarga ? Dengannya ? " Ulang Ken tidak percaya.
__ADS_1
" Tidak, tidak, tidak " Ken menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak ucapan Kiran.
" Cih kau pikir hanya kau saja yang menolaknya, aku juga tidak sudi menjadi anggota keluarga mu " Cibir Dylan sinis.
Begitulah pagi mereka yang sudah di sibukkan oleh pertengkaran antara Dylan dan Ken, perdebatan itu baru akan berakhir jika salah satu dari mereka pergi, dan kali ini harus Ken yang pergi, karena dia akan pergi bekerja.
" Kenapa kau menolak ku ? " Tanya Ken serius sesaat sebelum memasuki mobil.
" Aku tidak menolakmu, tapi pasti kau yang akan menyerah sendiri nantinya " Jawab Kiran santai.
" Menyerah ? Kenapa aku harus menyerah ? " Tanya Ken tidak paham.
" Nanti kau akan tau, saat laki-laki itu kembali mencariku kau pasti akan mengerti kenapa kau harus meninggalkan ku " Ucap Kiran sedih, dia sendiri sebenarnya sangat ingin melonjak girang saat Ken memberitahukan mereka akan menikah sebulan kemudian. Tapi ada satu rahasia besar dari Kiran yang dia sangat sadar diri akan menjadi penghalang antara dirinya dan Ken.
" Kau jangan sedih, akan ku pastikan dia tidak akan kembali mencarimu, aku akan ada di antara kau dan dia untuk menghalanginya menyentuhmu " Jawab Ken serius.
Getaran perasaan di dada Kiran semakin membuncah, dia benar-benar menyukai Ken tapi tidak bisa terus bersamanya. Suasana pagi yang mendung itu juga menambah sesak kesedihan di hati Kiran, dia memandang Ken dengan lembut.
" Sini ku rapikan rambutmu " Kiran berjinjit untuk meraih rambut Ken.
Ken yang bingung hanya diam saja melihat Kiran berjinjit dan sangat dekat dengannya. Wajah mereka kini sejajar, dengan mata yang saling bertatapan.
Cup ! Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Ken, membuatnya terkejut. Wajahnya sudah tidak bisa di gambarkan lagi, pastilah merah merona.
" Sudah berangkat sana atau kau akan terlambat, hati-hati di jalan " Ucap Kiran setelah mundur satu langkah untuk memberikan mereka jarak.
Kiran yang menyaksikan itu hanya tersenyum kecil. Dia melambaikan tangannya saat Ken sudah sepenuhnya berada di dalam mobil dan mulai menyalakan mesinnya, melajukan mobilnya meninggalkan halaman yang luas itu.
Maafkan aku Ken, aku benar-benar minta maaf.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Tuan, bagaimana ini ? Huan sedang bergerak untuk menangkap kita semua. Rupanya mereka sudah merencanakan ini " Lapor laki-laki itu kepada tuannya.
" Kau tenang saja aku akan selalu ada di belakangmu, nanti siang aku akan bertemu dengan Regis, akan ku buktikan bahwa aku tidak bersalah " Jawabnya santai.
" Baiklah tuan, kami percayakan padamu " Jawabnya sedikit tenang, dan dia pun menutup panggilan teleponnya.
" Dasar para cecunguk itu, mereka pikir mereka bisa menyeretku untuk hancur bersama ? Biarkan saja mereka tertangkap, aku masih bisa mempengaruhi anggota-anggota yang baru untuk jadi sekutu ku " Laki-laki dengan luka memanjang di pipinya itu tersenyum jahat.
Regis yang sedang sarapan sendirian di temani pak Handoko dan sekertaris Yuri itu tersenyum bahagia, dia merasakan tubuhnya segar kembali setelah mendapat istirahat yang cukup semalam.
" Kau pulang jam berapa pagi ini ? " Tanya Regis pada sekertaris Yuri.
" Saya baru saja kembali dan langsung menuju kemari tuan, saya hanya mampir untuk membersihkan diri di rumah sebelum bertemu tuan " Jawabnya sopan.
__ADS_1
" Bagaimana rasanya menyu... " Regis bertanya santai di sela sarapannya, namun pertanyaan itu seperti sudah bisa di tebak oleh sekertaris Yuri, dia segera menjawab pertanyaan itu bahkan sebelum Regis menyelesaikan kalimatnya.
" Rasanya sungguh suatu kehormatan bisa melayani tuan " Jawab Sekertaris Yuri setengah berteriak karena tegang bercampur malu mengingat kejadian semalam dia harus menyusui tuan putri Raline, dia tidak ingin rahasia memalukan itu sampai bocor, karena itu dia juga sudah membuatkan draft perjanjian dengan para perawat jaga semalam bahwa tidak boleh ada yang tau kejadian itu. Dan sekarang Regis bertanya saat pak Handoko ada disebelah mereka.
Regis yang paham dengan maksud sekertaris Yuri melirik ke arah pak Handoko, kemudian mengangguk-angguk. Sementara pak Handoko yang sadar diri tengah menjadi objek ghibah hanya bisa mengernyitkan keningnya heran.
" Apa tuan ingin bicara 4 mata saja dengan sekertaris Yuri ? " Tanya sopan.
" Tidak, kami sudah selesai bicara " Jawab Regis tersenyum simpul.
Sesaat dia mendengar suara helaan napas lega dari sekertaris Yuri, dan Regis maklum itu. Kemudian dia terkekeh sendiri mengingat bagaimana dirinya juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Yuri.
Pak Handoko yang tidak paham apapun memiringkan kepalanya heran melihat sikap Tuannya, belum pernah tuannya menyimpan rahasia sampai terkekeh begitu.
Regis yang mengerti rasa penasaran dari pak Handoko segera menoleh kearahnya.
" Baiklah begini, Handoko... kau dan aku sudah berteman sangat lama bukan ? Mari sejenak lupakan persoalan tuan dan pelayan, aku tidak pernah menyuruhmu memanggil ku tuan, aku tidak pernah suka itu. Jadi sekarang anggap saja kita adalah teman akrab yang saling meminta tolong, mengerti ? " Ucap Regis kemudian.
" Katakan saja tuan, saya akan melakukan apapun perintah anda " Jawab pak Handoko sopan.
" Tidak, aku tidak ingin melakukan ini sebagai seorang tuan, aku ingin memintamu melakukan ini dari teman ke teman, meminta bantuan, kau tau " Regis menggeleng menolak pak Handoko yang menuruti perintahnya sebagai pelayan.
" Baik tuan " Jawabnya sopan.
" Kalau kau tidak sibuk malam ini, bisakah kau datang kerumah sakit menemaniku ? Aku ingin minta tolong padamu membantuku menjaga Raline " Regis bertanya santai.
" Kalau begitu anda istirahat saja di rumah tuan, saya yang akan datang sendiri ke rumah sakit untuk menjaga tuan putri Raline " Jawab Pak Handoko sopan.
" Kau yakin ? " Tanya Regis tidak percaya.
" Tentu saja tuan, jangan khawatir " jawab Pak Handoko meyakinkan.
" Baiklah kalau begitu, aku percayakan padamu " Regis menyudahi pembicaraannya dan bangkit, dia pergi menuju ruang pribadinya untuk mengurus pekerjaan.
" Hahahahaha... " Suara tawa Regis menggelegar setelah berhasil mengerjai sekertaris Yuri, dan sekarang rencananya juga berhasil mengerjai pak Handoko.
Dialah tumbal berikutnya untuk mu Raline sayang.
Regis tertawa terbahak-bahak membayangkan akan bagaimana jadinya pak Handoko nanti malam.
Wuahh !! Tuan Regis sungguh orang yang mengerikan.
Sekertaris Yuri mengelus dadanya karena takut.
Aku akan menjaga tuan putri Raline dengan sepenuh hati, akan ku pastikan dia merasa nyaman saat bersama ku.
__ADS_1
Batin Pak Handoko mantap.