Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Kematian Ken


__ADS_3

Sepanjang hari Ken menghabiskan waktu untuk mengutuki dirinya sendiri, sementara Kiran seperti biasa hanya duduk diam tanpa suara setelah Ken menolak tawaran bantuannya.


Untungnya hari ini Kiran menolak untuk di antar pulang oleh Ken, karena kalau tidak, bisa di pastikan Ken tidak akan memiliki cukup tenaga atau stok harga diri lagi untuk di hancurkan.


Ken berjalan gontai memasuki pintu utama mansion, semakin hari dia semakin terlihat mengenaskan. Pancaran rasa percaya dirinya yang tinggi sekarang telah padam. Belum pernah dia merasa seterpuruk ini.


" Kau kenapa ? " Tanya Rai yang juga baru saja pulang bekerja.


" Tolong gali kuburan ku dan kubur aku dalam-dalam, aku sudah tidak ada harganya lagi " Ken menjawab lemas dan putus asa.


Ruby yang baru saja turun dari kamarnya juga menatap Ken heran. Sejak dia menjadi kepala sekolah hidupnya seperti semakin bertambah kacau.


" Kau kelihatan buruk sekali ? Apa ini karena susu ibu hamil yang kau minum ? " Tanya Ruby penasaran, dia merasa prihatin dengan kehidupan Ken akhir-akhir ini.


" Ya ini karena susu itu, karena susu, karena susu... " Ken terus mengulang kata-kata itu dengan pandangan mata kosong sambil berjalan menuju kamarnya, meninggalkan pasangan marimar dan rhoma yang bingung dengan sikapnya.


Dia langsung merebahkan dirinya di kasur begitu sampai di dalam kamar. Tidak bersemangat untuk melakukan apapun.


" Aku akan mengundurkan diri, ya benar aku akan berhenti. Aku akan meminta ayah mencari kepala sekolah yang baru, pekerjaan itu tidak cocok untukku " Ken mengoceh sendiri, meyakinkan dirinya bahwa dia akan berhasil merayu ayahnya agar memindah tugaskan dia.


" Tidak masalah aku bekerja naik ojek, asalkan aku tidak sial saat bertemu dengan gadis lain. Bersama Kiran hidupku seperti jungkir balik. Tunggu dulu. Apa ini karma karena aku telah membantu kakak untuk selalu mengerjai kakak ipar dulu ? " Ken mengingat-ingat daftar dosa yang telah dia lakukan.


" Aish tentu saja ini karma, kalau tidak mana mungkin aku akan selalu sial seperti ini " Ken berguling-guling frustasi di atas kasurnya, bayangan tentang dirinya dan Kiran terus saja berseliweran di dalam kepalanya.


Sementara itu Kiran yang pulang naik bus berdesak-desakan di dalamnya hanya bisa diam tak bergerak. Dia berusaha menghindari setiap laki-laki yang ada di sekitarnya.


Sikapnya yang aneh di tengah penuh sesak bus itu menarik perhatian seseorang di kursi paling belakang. Dia mengamati Kiran dengan seksama.


" Cih " Tak urung dia mencibir dan memalingkan wajahnya.


Bus berhenti di halte yang ada di ujung jalan dari tempat tinggal Kiran, dia turun dan harus berjalan untuk memasuki kawasan tempat tinggalnya. Karena kawasan tempat tinggal Kiran seperti sebuah perumahan namun hanya khusus untuk bangunan kost.


Begitu juga laki-laki yang mengamati Kiran juga turun di halte yang sama. Dia berjalan lebih dulu mendahului Kiran, memakai hoodie nya agar tidak terlihat oleh Kiran. Setengah berlari menghindari Kiran dan berbelok di sebuah gang yang lumayan sepi.


Sedangkan Kiran berjalan dengan kebiasaannya yang selalu menghindari setiap orang yang lewat, berjalan lambat dengan wajahnya tertunduk dalam.


Saat dia melewati gang yang sepi, samar-samar dia mendengar teriakan seseorang. Dia mendongakkan kepalanya mencari asal suara. Jalan berjinjit dan perlahan. Indera pendengarannya menangkap asal suara, berasal dari sebuah gang buntu yang ada di belakang gedung yang tidak pernah di lewati orang lain.


" Kau pikir bisa keluar begitu saja ? Kau harus membayar biaya ganti rugi " Teriak seorang laki-laki dengan garang.


Kiran mendongak untuk mengintip, dia terlonjak kaget dengan suara tertahan. Dia menutup mulutnya agar tidak kelepasan berteriak. Di depan matanya sedang tergambar pemandangan 2 orang laki-laki dewasa menghajar seorang siswa berseragam sekolah. Kiran memberanikan diri untuk mengintip sekali lagi, meskipun saat ini seluruh tubuhnya gemetaran. Dia takut menjadi saksi mata sebuah penganiayaan berujung pembunuhan.


" Kau pikir dengan berpindah tempat tinggal kau bisa kabur dari kami ? Hei anak kecil, pikiranmu terlalu pendek " Laki-laki yang lain menimpali dan mendorong kening siswa yang sudah jatuh berlutut dengan wajah babak belur.


Bukankah itu Dylan ?


Teriak Kiran dalam hati, wajah siswa itu meskipun babak belur dan berdarah-darah tapi Kiran tetap bisa mengenalinya, dari seragamnya dan juga wajah yang tadi pagi di amati Kiran dengan lekat.


" Siapkan uangnya besok kalau kau masih ingin hidup " Laki-laki pertama itu mendorong tubuh Dylan dengan kakinya, membuat Dylan ambruk seketika.

__ADS_1


" Cuih " Dia meludahi Dylan sebelum pergi meninggalkannya terkapar dengan darah dan lebam di seluruh wajahnya.


Kiran yang menyaksikan 2 orang preman itu mendekat segera bersembunyi di balik tong sampah besar yang ada di bibir gang. Mereka berlalu tanpa tahu keberadaan Kiran, melewatinya begitu saja.


Setelah dirasa cukup aman Kiran keluar dari persembunyiannya, dengan ragu berpikir apakah harus menolong Dylan atau tidak. Jika dia menolongnya, mungkin dia akan berakhir menjadi saksi di kantor polisi. Jika dia tidak menolongnya, maka dia telah mengabaikan profesinya sebagai guru yang harus melindungi dan membimbing muridnya. Lagipula jiwa kemanusiaannya menolak untuk bersikap acuh atas kejadian yang baru saja di lihatnya.


Setelah memutuskan kegalauan di hatinya, akhirnya Kiran berlari menghampiri Dylan yang masih saja terbaring di tanah.


" Dylan kau tidak apa-apa ? " Tanya Kiran panik mengoncang-goncang tubuh Dylan yang tidak bergerak.


" Apa dia mati ? Bagaimana ini ? Telepon polisi atau berteriak minta tolong ? " Kiran mengoceh panik melihat Dylan yang masih tidak bergerak meskipun dia menggoncang tubuhnya dengan keras.


" Telepon polisi saja " Kiran memutuskan lalu mengambil ponselnya dari dalam tas. Menekan tombol 119 di papan nomor layar sentuhnya.


Dia menunggu nada teleponnya tersambung. Namun belum sempat panggilan itu terhubung, Dylan sudah merebut ponselnya. Membuat Kiran berteriak kaget dan jatuh terduduk.


" Kau masih hidup ? " Kiran memeriksa Dylan sekali lagi.


" Haah syukurlah " Dia menghembuskan nafas lega begitu melihat Dylan bergerak, terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


" Mari ku bantu berdiri " Kiran mengulurkan tangannya berniat membantu Dylan yang sedang terluka parah. Tapi Dylan malah menepis kasar uluran tangan Kiran dan menatapnya tajam dengan tidak bersahabat.


" Jangan sentuh aku " Ketusnya di sela-sela nafasnya yang berat dan tidak beraturan. Dia bangkit terhuyung sambil memegangi dadanya. Melempar kasar ponsel Kiran ke arahnya.


" Dasar Klan Loyard sialan " Cibirnya seraya berjalan sempoyongan meninggalkan Kiran yang terbengong melihat sikap angkuh Dylan.


Dia mengikuti Dylan dalam diam, berjalan lambat menjaga jarak dengannya agar bisa mengawasinya, menolongnya bila perlu.


Dylan yang berjalan merambat berpegangan pada tembok, menuju arah yang Kiran tuju. Hal itu semakin membuat Kiran heran.


Kenapa dia menuju arah sana ? Apa dia tinggal disana ?


Kiran hanya mengernyit bingung.


Lama mereka berjalan dan akhirnya sampai didepan gedung kost yang di tinggali Kiran, dan Dylan memasuki gedung tersebut. Kiran semakin terkejut tidak percaya, mungkinkah dia berada satu gedung dengan Dylan. Tapi dia tidak pernah melihat Dylan sebelumnya.


Meskipun Kiran jarang keluar dan bergaul dengan penghuni kost lainnya, tapi Kiran cukup mengenal beberapa orang yang satu gedung dengannya.


Dylan yang terus berjalan sempoyongan menuju lantai 3 dari gedung kost tersebut, semakin membuat Kiran heran sekaligus gugup. Dia yakin kamar di lantai 3 telah terisi penuh, lalu Dylan menuju kemana ?


Kiran tetap mengikuti Dylan dalam diam dan jarak aman agar Dylan tidak melihatnya. Setelah sampai di lantai 3, Dylan berjalan menyusuri lorong, untuk menuju kamarnya.


Kenapa dia ke arah sini ? Disini tidak ada kamar kosong bukan ? Kenapa dia menuju ke arah kamarku ? Siapa dia ?


Kiran semakin gugup, jantungnya berdetak tak berirama, membuat kakinya seperti lumpuh tak bertenaga. Dia berdoa dalam hati agar Dylan tidak menuju kamarnya, karena dia tidak mengenal siapa Dylan.


Dylan berhenti di depan sebuah pintu bernomor 305, mengeluarkan kunci dari sakunya dan memasukkannya ke lubang kunci. Memutar kenop pintu dan segera masuk kedalamnya.


Kenapa dia bisa tinggal disana ?

__ADS_1


Kiran terkejut menutup mulutnya. Kalau saja dia tidak berpegang pada teralis besi pengaman yang di pasang memutar di area lantai 3, sudah bisa di pastikan dia akan jatuh terduduk menyeret langkahnya untuk memasuki kamarnya. Ternyata Dylan tinggal di kamar sebelah Kiran, mereka bertetangga.


Dia segera menuju kamarnya, membuka pintu dengan tangan gemetar, membuat hal mudah seperti memasukkan kunci ke lubangnya yang seharusnya hanya memakan waktu beberapa detik menjadi sangat lama, terutama bagi Kiran.


Setelah berhasil membuka pintunya dengan susah payah, dia langsung menghambur memasuki kamarnya. Jatuh bersimpuh begitu dia melangkahkan kakinya di lantai kamarnya.


Tanpa sadar dia mengambil ponselnya, mencari kontak seseorang dan langsung menghubunginya.


Ken yang sedang memikirkan cara mengundurkan diri dengan terhormat dan keren tanpa mengurangi harga dirinya, terlonjak begitu ponselnya berbunyi. Dia mencari asal ponsel di sakunya. Melihat siapa peneleponnya dan langsung bangkit terduduk dengan mata membelalak. Jantungnya berdetak kencang dan wajahnya merona merah. Wajah Kiran yang cantik dengan senyum menawan mendadak menari-nari di kepalanya.


" Kenapa dia menelepon ku ? Apa dia ingin meminta maaf ? Tapi apa salahnya ? Atau jangan-jangan dia merasa sungkan ? Tapi sungkan kenapa ? Apa dia mulai menyukai ku ? Karena bagaimanapun tingkah aneh ku, aku tetap seseorang yang tampan dan mempesona. Ya pasti dia sudah mulai menyukai ku " Ken bergumam sendiri, memikirkan semua asumsi yang terlintas di kepalanya, dan tersenyum lebar mendapat pencerahan tentang asumsinya yang terakhir.


" Ehem ehem " Dia berdehem untuk meredam sikapnya yang sedang bahagia dan merasa tampan, dia seperti kembali mendapat suntikan percaya diri dengan dosis melebihi batas.


" Halo ! Ya ada apa ? " Jawabnya dengan kasar.


" Ah tidak, tidak itu terlalu kasar, nanti dia tidak jadi menyukai ku kalau aku seperti itu " Ken meralatnya sendiri. Ternyata dia sedang latihan bagaimana nada suaranya saat mengangkat telepon dari Kiran nanti.


" Halo ada yang bisa ku bantu ? " Suaranya lembut dan sopan.


" Ah tidak, tidak, aku seperti seorang customer service yang mengangkat telepon keluhan " Ken lagi-lagi menggeleng sendiri.


" Halo dengan siapa ini ? " Ken mencoba lagi dengan nada acuh.


" Tapi bukankah kita sudah saling kenal, mana mungkin aku tidak tau siapa yang menelepon " Ken galau dan berguling-guling di kasur, bingung harus menjawab dengan nada yang seperti apa. Sepertinya dia mulai menyukai Kiran, dan panggilan Kiran yang tiba-tiba membuatnya salah tingkah.


Ah ya kenapa tidak langsung saja.


Ken lagi-lagi mendapat pencerahan aneh.


" Halo cantik, ada apa ? " Angkatnya dengan nada menggoda khas playboy. Dan kali ini sungguhan.


Tidak ada jawaban, hening membentang di antara saluran telepon. Kiran terkejut dua kali dengan kejadian yang di alaminya.


" Tuan, apakah tugasku sebagai guru juga berlaku di luar sekolah ? " Tanya Kiran ragu-ragu karena tidak mendapat ide untuk membalas panggilan cantik yang di lontarkan Ken padanya, jadi dia memutuskan langsung saja pada inti permasalahan tanpa pembukaan lebih dulu.


" Kiran ? " Ken bertanya datar.


" Ya tuan ? " Jawab Kiran dengan nada sedikit bertanya untuk memastikan, ragu-ragu.


" Tolong besok kau siapkan teh untukku, dan jangan lupa masukkan juga racun tikus kedalamnya. Selamat malam " Ken menjelaskan dengan nada datar tanpa ekspresi.


" Ya ? " Kiran keheranan dengan permintaan Ken, dia ingin bertanya lebih lanjut namun sambungan teleponnya telah di matikan oleh Ken.


Kiran hanya bisa terbengong sendiri menatap layar ponselnya, sementara Ken sudah berbaring dengan wajah tertutup bantal.


Ok baiklah sepertinya aku sudah menyiapkan cara kematianku dengan sangat indah.


Ken menguatkan hatinya berusaha bersikap tegar.

__ADS_1


__ADS_2