Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Sebuah Bunga


__ADS_3

Dengan wajah pucat dan langkah yang lunglai Kiran berjalan menuju ruangannya, dia masih tidak percaya dirinya harus menjadi korban cerita atau bahkan bagian dari cerita dunia lain. Dia membuka handle pintunya perlahan dan menyalakan saklar lampu ruangannya.


Betapa terkejutnya dia mendapati satu buah pot berisi tanaman di atas mejanya. Dia mendekat dengan perlahan memeriksa pot bunga tersebut.


Terselip secarik kertas di sana, sebuah amplop putih bergambar tokoh cupid dibagian pojoknya. Dengan tangan gemetaran dia membukanya, menarik secarik kertas yang ada di dalamnya. Masih dengan motif gambar yang sama dengan amplopnya, kertas itu putih bersih terlipat menjadi 2 bagian.


Aku merindukanmu.


Begitulah isi yang tertulis di dalam surat kaleng tersebut. Dengan tinta merah sewarna darah.


Kiran menjatuhkan kertasnya dan terhuyung mundur saat melihat isi suratnya dan kemudian matanya beralih melihat bunganya.


“ Bu-bunga ini kan ? “ Gumamnya ketakutan dengan mata membelalak lebar.


“ Bukankah itu bunga yang seharusnya ada di pe... ? “ Kiran tidak sanggup meneruskan kalimatnya dan bergidik ngeri, dengan cepat dia meraih pot tersebut dan membawanya keluar ruangan. Berlari dengan tergopoh-gopoh menuju ruangan guru yang lainnya.


“ Ada apa bu Kiran ? “ tanya pak Doni bingung melihat Kiran yang datang dengan wajah pucat ketakutan.


“ Si-siapa yang menaruh bunga ini di ruangan saya ? “ tanyanya gemetaran.


“ Bunga ? “ Tanya pak Doni bingung dan semua guru yang melihat itu ikut berkumpul mengelilingi Kiran.


“ Apakah itu bunga... ? “ Tanya pak Tomy mengamati pot bunga yang diletakkan Kiran di meja salah satu guru.


“ Benar “ Saut pak Doni heran.


“ Memangnya siapa yang mengirimnya bu Kiran ? “ Tanyanya polos, ekspresi wajah semua guru yang ikut bingung seakan menunjukkan bahwa mereka tidak berbohong dan juga tidak tau menahu masalah pot bunga yang ada di ruangan Kiran.


“ Tidak tau pak, bunga ini ada begitu saja di ruangan saya begitu saya masuk “ Jawab Kiran semakin panik.


“ Tanya pak Dim saja, bukankah beliau selalu datang lebih awal untuk membuka seluruh kelas “ Usul bu Lia.


“ Ya pak Dim pasti tau “ Saut yang lainnya mengangguk-angguk setuju.


Dan yang dimaksud pun secara kebetulan datang membawa nampan berisi teh untuk seluruh guru.


“ Nah itu dia, pak Dim kemarilah sebentar “ Panggil Pak Doni. Pak Dim pun mendekat ke kerumunan para guru.


“ Apa bapak tau siapa yang menaruh pot bunga ini di ruangan bu Kiran ? “ Tanya Pak Doni mewakili isi hati Kiran yang tidak mampu mengucapkan sepatah kata apapun karena saking takutnya.


“ Saya belum ke ruangan bu Kiran sama sekali, biasanya saya akan mengantarkan teh untuk bu Kiran terakhir setelah mengantarkan teh untuk para guru disini “ Jawab Pak Dim polos. Dalam hati Kiran membenarkan ucapan Pak Dim, dia tau betul pak Dim selalu masuk ke ruangannya saat Kiran juga ada disana.


“ Lalu siapa yang menaruh ini di ruangan bu Kiran ? Aneh ? “ Pak Dony mengangkat tangan menopang dagunya sambil berpikir.


“ Mungkin itu dari fans anda bu Kiran “ Saut Bu Lia tersenyum hangat.


“ Tidak mungkin “ Saut pak Doni cepat.

__ADS_1


“ Mana ada fans yang mengirimkan bunga yang seperti ini pada idolanya, memangnya kau mengirimkannya dari akhirat ? Seperti mendoakannya mati saja “ Oceh Pak Doni asal mengutarakan pendapatnya.


“ Mungkin saja itu artinya dia menyukai bu Kiran sampai dia mati “ Saut pak Tomy terkekeh.


Jika saja situasinya saat ini baik-baik saja, mungkin Kiran juga akan menganggapnya sebuah lelucon dan ikut tersenyum-senyum saat para guru melontarkan pendapat konyolnya yang tak masuk akal. Tapi saat ini, di kondisinya yang seperti ini, setelah mendapatkan paranormal experience, tentu saja Kiran menganggap hal ini serius.


Kenapa justru setelah Ganung meninggal keanehan demi keanehan malah mendatanginya.


Masih dengan wajah yang pucat dia meminta pak Dim membuang pot berisi bunga tersebut.


“ Anda yakin bu Kiran ? “ Tanya pak Dim memastikan.


“ Ya tolong buang saja, saya sangat membencinya “ Jawab Kiran dingin dan kemudian pamit pergi ke ruangannya kembali.


Ken yang melihat Kiran keluar dari ruang guru pun mengernyit heran. Dia mengawasinya dari jauh, terlihat wajah Kiran yang kesal dari caranya berjalan cepat dengan sedikit menghentak-hentakkan kaki. Tak berselang lama Pak Dim pun ikut keluar dari ruang guru dengan membawa sebuah pot bunga.


“ Pak Dim “ Panggil Ken melambaikan tangannya. Pak Dim menoleh dan segera mendekat.


“ Ada apa ? “ Tanya Ken bingung, matanya terus saja menatap pot bunga yang di peluk pak Dim dengan satu tangannya itu.


“ Ini, bu Kiran mendapat kiriman pot berisi bunga dari seseorang tapi sepertinya dia tidak suka “ Jawab Pak Dim ramah.


Ken diam membeku, dia terus saja menatap pot bunga yang di bawa pak Dim. Dan rasa kesalnya membuncah naik. Tanpa berpamitan dia langsung masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Pak Dim yang keheranan dengan sikap aneh Ken.


Kiran yang sudah berada di ruangannya berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaannya, apapun itu asal bisa mengalihkan konsentrasinya dari hal-hal berbau hantu.


Disaat dia sedang berkonsentrasi penuh di ruangan yang sepi itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring. Membuatnya terlonjak kaget dan bangkit dari posisi duduknya.


" Bu sampai kapan kau disana ? " Rengeknya begitu tau yang menelepon adalah ibunya.


" Aku takut di rumah sebesar itu sendirian, entah kau percaya atau tidak, tapi sepertinya aku sedang di ikuti oleh hantu " Curhatnya memelas.


" Hahaha... sayang hantu itu tidak ada, itu cuma halusinasi mu saja " Tertawa mendengar curhatan tak masuk akal dari putri semata wayangnya.


" Aku juga sebenarnya tidak ingin percaya, tapi aku mengalaminya sendiri bu " Rengeknya lagi.


" Sudah, sudah, ibu pulang lusa. Bibi mu masih ingin bertemu ibu lebih lama lagi, bertahanlah " Jawabnya lembut.


" Jangan ! pulanglah hari ini ya ? " Kiran semakin merengek.


" Sudah ibu mau pergi kepasar dulu, jaga diri baik-baik ya. Daah " Tanpa menunggu jawaban dari Kiran, Adelia langsung memutus sambungan teleponnya. Dia tau lebih lama lagi dia menanggapi rengekan Kiran, maka dia akan semakin memaksanya segera pulang.


Sementara itu Ken yang kesal, mengambil ponselnya dan bergegas menghubungi Rai. Lama tak ada jawaban. Dia mencobanya sekali lagi.


" Kenapa ? " Jawab Rai malas begitu mengangkat teleponnya.


" Hei kau Rhoma ! " Teriaknya begitu panggilannya tersambung.

__ADS_1


" Kenapa kau menyarankan ku memberikan bunga itu pada Kiran ? " Makinya kesal.


Mendengar Ken berteriak kencang, Rai menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ruby yang ada di sampingnya tepat memandangnya heran, dia mengangkat dagunya seakan bertanya siapa yang meneleponnya.


" Si budak cinta " Jawabnya lirih kepada Ruby.


" Apa budak cinta ? Hei lalu kau sendiri apa ? Harusnya aku tau idemu ini tidak akan berhasil " Omel Ken kesal.


" Memangnya kenapa ? " Tanyanya polos.


" Kenapa ? Kau masih berani bertanya kenapa ? Dia tidak suka dan malah akan membuangnya " Geramnya kesal, menampilkan guratan-guratan otot di wajahnya yang menegang.


" Sungguh ? Aneh sekali " Jawab Rai asal.


" Bagaimana mungkin dia tidak suka bunganya ? Itu dari jepang lho " Lanjutnya santai.


" Hei kalau hanya bunga seperti itu di kebon jeruk banyak, kau hanya perlu menebangnya dengan meminta izin pada hantu kepala buntung " Makinya semakin kesal. Kemarahannya semakin menjadi-jadi sampai-sampai rasanya darahnya juga ikut mendidih.


" Hei kalau di kebon jeruk banyak, kenapa tidak kau ambil saja disana. Aku tidak perlu repot-repot menelepon tuan Yamada untuk meminta salah satu koleksi tanamannya " Kali ini ganti Rai yang kesal saat mendengar jawaban dari Ken.


" Dasar tidak tau terima kasih " Dengan marah dia segera menutup sambungan teleponnya.


Ruby yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan searah itu hanya bisa menaikkan satu alisnya bingung, terlebih melihat Rai yang marah-marah saat ini.


" Kenapa ? " Tanyanya bingung.


" Kau tau Ken semalam bertanya padaku bunga apa yang bagus untuk melambangkan perasaannya, lalu ku bilang padanya sebaiknya memberikan bunga hidup sebagai tanda bahwa cintamu juga akan terus bertumbuh. Dan untuk seseorang yang spesial maka bunganya juga harus spesial. Aku bersusah payah menelepon semua kolega ku yang berasal dari luar negeri, bertanya apa mereka punya bunga yang khas dari negara mereka, tapi mereka bilang tidak punya. Hanya tuan Yamada yang hoby menanam bunga, dan dia baru saja membawa bunga dari jepang. Demi Kiran, aku berkorban dengan pergi kerumah tuan Yamada malam-malam dan kemudian diam-diam menaruhnya di ruangan Kiran, tapi bukannya ucapan terima kasih yang ku dapat, malah makian yang dia ucapkan " Cerita Rai panjang lebar.


" Benarkah ? " tanya Ruby tidak percaya. Sepanjang dia mengenal Kiran, dia adalah tipe wanita yang melow yang akan melambung bahagia jika diberikan bunga.


" Memangnya bunga apa yang di berikan Ken ? " Tanya Ruby penasaran, karena dalam pikirannya bunga dari jepang haruslah bunga sakura yang indah.


" Bunga kamboja " Saut Rai polos.


Mendengar jawaban polos yang diberikan Rai membuat Ruby menepuk jidatnya malas.


Rhomaa....


Jerit batinnya pasrah.


" Kenapa tidak kau sarankan bunga lokal saja ? " Tanya Ruby jengah, heran dengan pikiran aneh yang dimiliki Rai.


" Hei mana mungkin aku menyarankan bunga khas negara ini untuk di berikan pada Kiran, bisa-bisa dia pingsan saat menerimanya " Jawab Rai ketus.


" Memangnya kau tau bunga khas negara ini ? " Tanya Ruby sangsi dengan pengetahuan yang Rai miliki.


" Tentu saja aku tau, bunga bangkai kan " Tebaknya percaya diri dan berkacak pinggang sombong.

__ADS_1


Bangkeee....


Ruby semakin menjerit pasrah dalam hati, menyesali dirinya sendiri yang bertanya hal seperti itu pada Rai.


__ADS_2