
Kiran dan Dylan baru saja turun dari halte bus, dan mereka berjalan beriringan menuju gedung tempat tinggal mereka. Rombongan outbond yang semula rencananya akan tiba pukul 11 tapi malah di majukan 2 jam karena banyak murid yang menderita demam setelah begadang di tiup angin laut di tepi pantai, jadi mereka memutuskan pergi dari pulau sepagi mungkin agar anak-anak yang sakit segera bisa mendapat pertolongan.
Sepanjang perjalananya Kiran hanya diam, dia terlalu sibuk memikirkan perkataan Dylan tentang sisi buruk Klan Loyard, antara rasa percaya dan tidak. Tapi semua kata-kata Dylan seakan menjadi benang merah untuknya yang membuatnya mau tidak mau percaya. Bagaimana tidak, dirinya juga hampir saja menjadi korban perdagangan yang dilakukan oleh mantan kekasih dan paman tirinya yang juga anggota Klan, semula dirinya hanya menganggap bahwa mantan kekasihnya lah yang bersalah, secara personal, tapi setelah mendengar penjelasan Dylan dia jadi merasa bahwa itu ada benarnya. Dia sedikit percaya bahwa Klan Loyard juga menjual wanita-wanita lain selain dirinya.
Apa Ruby tau tentang hal ini ? Kalau Ruby tau kenapa dia diam saja saat mendengarkan ceritaku dulu, apa dia berpikir tidak masalah mengorbankan hidup orang lain asal Klannya terus berjalan ? Apa Ruby sudah di butakan oleh harta dan kekuasaan ? Apa Ruby orang yang seperti itu ?
Kiran terus berkutat dengan pikiran-pikirannya, dan berusaha keras menyingkirkan kenangan buruknya yang hampir saja di perk*sa oleh orang yang telah membelinya.
Tanpa sadar mereka telah menaiki tangga menuju lantai 3, Dylan berjalan di depannya. Namun semua pikiran Kiran buyar setelah menabrak punggung Dylan yang berhenti tiba-tiba.
" Aaww, kenapa berhenti tiba-tiba ? Apa sudah sampai di depan kamar ? " Tanya Kiran bingung seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah, namun mereka belum sampai, masih tinggal beberapa meter lagi.
" Ada apa sih ? " Tanya Kiran semakin bingung karena Dylan seperti patung batu yang berdiri kaku di depannya, tubuh Dylan yang tinggi membuat pandangan Kiran terhalang. Dia berusaha mendongak melewati bahu Dylan, namun tak sampai, dan akhirnya memutuskan berjalan ke samping Dylan untuk melihat ada apa sebenarnya.
Deg ! Jantung Kiran serasa berhenti berdetak, dia juga ikut mematung, kakinya terasa lemas sekaligus kaku di saat yang bersamaan. Wajahnya berubah pias, memucat seiring dengan detak jantungnya yang seperti berhenti bekerja.
Sesosok laki-laki yang dia kenal dengan baik sedang berdiri di depannya, tersenyum miring dengan tatapan mata tajam.
" Selamat datang " Sapanya ramah tapi terdengar menyeramkam.
" Aku tidak menyangka takdir akan begitu baik padaku, aku berniat menangkap satu tapi malah mendapatkan dua, bukankah aku beruntung, keponakan dan anak ku ? " Tanyanya pelan dengan suara berat.
" Kau " Dylan dan Kiran berucap berbarengan tapi dengan nada yang berbeda. Dylan terlihat sangat marah, dia mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih, urat-urat kemarahan tergambar jelas di wajahnya. Sementara Kiran terlihat sangat ketakutan, dia terhuyung mundur kehilangan keseimbangan. Mimpi buruk mereka berdua sedang berdiri di hadapan mereka dengan jelas dan nyata.
" Kalian tidak ingin berpelukan ? Bukankah ini seperti reuni keluarga ? " Ucapnya terkekeh melihat ekspresi kedua targetnya.
__ADS_1
" Aku akan membalasmu " Ucap Dylan lantang, dia tidak yakin akan menang tapi yang terpenting baginya saat ini adalah balas dendam.
" Ck ck ck " Laki-laki itu berdecak mengejek saat mendengar kata-kata Dylan, tidak ada ketakutan sedikitpun di wajahnya yang buruk akibat bekas luka goresan yang mencoreng pipinya.
" Anak ku sayang, itu bukan cara yang tepat untuk menyambut ayahmu bukan ? " Ucapnya dengan nada sarkas dan seringai mengejek.
" Kau bukan ayahku, kau pembunuh, dan kau akan mati di tanganku saat ini juga " Dylan semakin emosi, dia sudah bersiap akan menerjang laki-laki di depannya yang sedang berdiri santai tanpa rasa takut itu, namun Kiran menahannya, dia memegang erat lengan Dylan.
" Jangan, aku mohon jangan " Suara Kiran tercekat, dia berusaha sekuat tenaga melawan serangan panik yang melandanya, membuatnya sesak napas dan berkunang-kunang.
Dylan yang terkejut menoleh ke arah Kiran, dia melihat wajah Kiran yang pucat pasi seperti mayat bekas pembunuhan vampire, kering tanpa darah.
" Ada apa bu Kiran ? Kau baik-baik saja ? " Tanya Dylan khawatir.
" Bawa aku pergi dari sini, kita tidak akan menang melawannya, aku mohon kita harus pergi dari sini " Kiran merengek memohon, kali ini tangisannya sudah tidak bisa di bendung lagi.
" Percayalah padaku, dia akan membunuh kita berdua dengan mudah " Kiran menjawab lirih. Dylan yang tidak mengerti maksudnya segera menoleh ke arah laki-laki tersebut, dan benar saja, dia sudah mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Dylan dan Kiran semakin terkejut.
Tidak, aku tidak boleh mati sekarang, aku harus membalas dendam dulu, tidak sekarang.
Dylan yang panik segera menarik Kiran yang masih terdiam bengong, mereka mundur dan berbalik arah lalu berlari menuruni tangga.
Dylan menggandeng tangan Kiran, memimpin di depan. Sementara Kiran yang masih syok hanya bisa mengikuti Dylan. Mereka berlari dengan cepat menuruni tangga, di belakang mereka laki-laki itu juga sedang mengejar mereka. Suasana tegang dan mendebarkan karena aksi kejar-kejaran mereka.
Dylan membimbing Kiran keluar dari gedung dan terus berlari menuju jalan raya, pikirannya memutuskan mereka akan memasuki sebuah restoran yang ramai, di tempat ramai tentu saja mereka akan tersembunyi dengan baik dan laki-laki itu tidak akan berani mendekat karena banyaknya saksi.
__ADS_1
Beruntunglah mereka, restoran di tepi jalan masuk rumah mereka sedang ramai karena akhir pekan. Jadi mereka akan aman di situ. Dylan segera menarik masuk Kiran dan langsung berbaur di kerumunan orang yang sedang mengantri di meja pemesanan. Napas mereka tersengal-sengal setelah berlari cukup jauh.
" Jangan menoleh kebelakang atau dia akan melihat " Dylan menarik Kiran mendekatinya, dan memeluk pundaknya seperti layaknya pasangan kekasih yang juga sedang mengantri di depan mereka, dia membenamkan wajah Kiran ke dalam dadanya untuk menyembunyikannya, sementara itu Dylan mengeluarkan topi dari tasnya dan memakainya agar wajahnya tersamarkan.
Laki-laki itu kehilangan jejak Dylan dan Kiran, namun dia masih mondar mandir di depan restoran tersebut. Dylan memeluk Kiran semakin erat, dan Kiran juga memeluk Dylan erat, bersembunyi di dadanya tanpa berani mengintip.
Perlahan antrian di belakang mereka semakin di penuhi orang, membuat mereka tersamarkan. Dylan melirik ke luar restoran sekilas, laki-laki itu marah dan meninju udara, kesal karena targetnya berhasil lolos, dia kemudian mengambil ponselnya dan menelpon seseorang seraya berjalan menjauh.
" Mereka berhasil lolos, jaga tempat itu, kabarkan kalau mereka kembali lagi " Perintahnya kepada seseorang di ujung telepon.
Dylan yang merasa situasi mereka sudah aman menghela napas lega, dia melepaskan pelukannya dari pundak Kiran.
" Kita selamat " Ucapnya lega kepada Kiran, namun Kiran masih tetap membenamkan wajahnya di dada Dylan, dia masih merasa takut.
" Duduklah di sudut meja sana, aku yang akan memesan makanan " Dylan menyuruh Kiran untuk pergi ke ujung ruangan, di meja yang sepi. Namun Kiran menolak, dia mencengkeram ujung jaket Dylan dengan erat. Dylan yang melihat itu merasa kasihan, dia menuntun Kiran untuk duduk di meja.
" Apa kau mengenalnya ? " Tanya Dylan saat mereka sudah duduk lebih santai di meja tersebut, Dylan menyodorkan segelas besar soda kepada Kiran, dia tau minuman manis bagus untuk menghilangkan syok.
" Kau sendiri bagaimana kau mengenalnya ? " Tanya Kiran masih di sela isak tangisnya.
" Dialah mantan ayah tiriku yang telah membunuh ibuku " Ucap Dylan dengan geraman yang tertahan.
" Dia paman tiriku yang tega menjualku kepada lelaki hidung belang " Ucap Kiran terbata-bata.
" Apa ?! " Seru Dylan terkejut tidak percaya dengan apa yang dengarnya.
__ADS_1
Jadi Dylan tidak berbohong, Klan Loyard menjalankan bisnis seperti itu. Aku benci Klan Loyard, aku benci semua anggota Klan Loyard.
Kiran menggenggam erat gelas berisi soda di hadapannya, kemarahannya memuncak.