Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Rahasia Dylan 3


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, keadaan rumah sakit seperti biasanya, selalu ramai tapi kali ini bukan ramai oleh pengunjung yang ingin berobat, namun ramai oleh pasien-pasien yang kehilangan kewarasannya, mereka berjalan lalu lalang di koridor rumah sakit, ada yang berteriak, ada yang menyanyi dan ada yang hanya senyam senyum saja.


Di sebuah ruangan, seorang dokter dan 2 orang perawat laki-laki sedang duduk untuk mengobati salah satu pasiennya. Pasien yang masih sangat muda, mengenakan pakaian khusus dengan tali pengikat karena dia selalu saja mencoba melukai dirinya sendiri. Wajahnya datar tanpa ekspresi dan tatapan matanya kosong.


" Dylan, kami tau kau hanya bersikap seperti ini, ayolah " Dokter itu seperti sudah jengah harus berurusan dengan pasiennya yang satu itu.


Dylan selalu saja diam tak bersuara ataupun bergerak setiap kali dokter menanyainya tentang ingatannya di malam itu.


" Kalau kau seperti ini terus, aku tidak bisa mengusahakan surat kepulanganmu " Dokter itu menjelaskan dengan putus asa.


Namun Dylan tetap bergeming, berkedip pun tidak. Dia sudah seperti mayat hidup, tak ada tanda-tanda kehidupan dalam dirinya jika bukan karena jantungnya yang berdetak secara otomatis, menandakan dia masih manusia dan belum menjadi mayat.


" Ok baiklah kalau itu keinginan mu, kau yang memintanya " Dokter itu menyerah dan mencoret kertas yang dia pegang dan kemudian menuliskan "Butuh perawatan lebih lama lagi". Dokter itu menoleh ke arah perawat dan mengangguk, seakan memberi perintah untuk membawa Dylan kembali ke ruangan perawatannya.


Dylan bukannya kehilangan kewarasannya seperti pasien yang lainnya, tapi dia memang sengaja berusaha menghilangkan kewarasannya, di dunia ini dia hanya memiliki ibunya, dan sekarang ibunya telah meninggal dia berpikir tidak ada gunanya lagi hidup, dia tidak menemukan alasan untuk hidup.


" Haaah melelahkan sekali, tambahkan dosis obatnya, sepertinya dia sengaja melakukan ini, dia tidak tertolong lagi " Dokter itu berbicara kepada satu perawat yang berdiri disampingnya dan menyerahkan berkas rekam medis Dylan kepadanya. Namun saat para perawat akan membantunya berdiri, sebuah berita muncul di tv yang ada di ruangan itu, sebuah berita yang membuat Dylan seperti mendapatkan kesadarannya dan keinginannya untuk keluar dari rumah sakit jiwa tersebut. Sebuah alasan yang membuatnya ingin hidup kembali. Balas dendam.


" Berita selanjutnya, tersangka yang terjerat kasus kekerasan dalam rumah tangga di nyatakan tidak bersalah oleh pengadilan, hakim memutuskan dirinya bebas dari tuduhan dikarenakan kurangnya bukti, tidak di temukannya sidik jari tersangka di pisau yang menjadi barang bukti utama membuatnya hanya menerima hukuman selama 6 bulan penjara... " Sepenggal sekilas info yang sedang tayang di tv itu membuat Dylan sangat marah dan untuk pertama kalinya dia membuka mulut setelah 2 bulan lamanya hanya diam.


" Dokter, kapan aku bisa keluar dari sini ? " Tanya nya dengan sangat tenang, namun gejolak dendam di hatinya seakan sudah membakar hangus seluruh tubuhnya. Dia ingin sekali menerjang dokter dan perawat-perawat yang ada di ruangan itu, dan kemudian melarikan diri dari sini. Tapi karena dia sekarang memiliki tujuan hidup, dia tidak boleh berbuat gegabah.

__ADS_1


" Oh astaga Dylan kau mengejutkan ku, ku kira kau sudah bisu " Dokter yang terkejut karena juga sedang serius melihat layar tv menghela napas lega. Dia melihat Dylan dengan seksama dan penuh selidik.


" Aku sepertinya sudah merasa baik-baik saja " Dylan mencoba mengelabui dokter tersebut dengan bersikap normal dan waras.


" Ok baiklah, ini hari pertama mu membuka mulut jadi tidak perlu buru-buru, kau masih harus menjalani serangkaian tes lagi untuk benar-benar memastikan kalau kau tidak akan melukai diri sendiri dan juga orang lain " Dokter itu menjelaskan dengan hati-hati, Dylan anak yang cerdas, bisa saja dia memanipulasi keadaannya sekarang.


" Baiklah, aku akan tunjukkan padamu kalau aku baik-baik saja " Dylan menjawab yakin dan tersenyum. Kemudian tanpa di bantu para perawat dia berdiri dan pergi kembali ke ruang perawatannya.


Hari-hari pun berlalu, Dylan semakin terlihat meyakinkan di depan para dokter dan perawat, dia bahkan membantu perawat untuk mengatasi orang gila lainnya yang sedang mengamuk. Membuat dokter dan para perawat yakin bahwa dia sudah sepenuhnya baik-baik saja.


" Dylan kau sangat baik, perkembanganmu pesat sekali, tapi aku ingin bertanya satu hal padamu, apa yang membuatmu berubah pikiran dan mau untuk normal kembali ? " Tanya dokter itu penuh selidik di pagi hari saat sesi konseling rutin Dylan.


" Aku sadar bahwa kematian ibu ku sudah terjadi dan waktu tidak bisa di ulang, apa lagi bisa ku lakukan selain menerima kenyataan dan berdamai dengannya ? " Dylan menjawab dengan sungguh-sungguh, tapi jauh di dalam hatinya dia terlalu sibuk mengutuki mantan ayah tirinya dan memikirkan bagaimana cara untuk membunuhnya dengan sangat keji, atau terkeji yang pernah ada mungkin.


" Dokter percaya tentang balas dendam ? Bukankah polisi bilang dia tidak bersalah, lalu kenapa aku harus meragukan polisi, lagipula aku masih berumur 14 tahun, mana mungkin seorang anak 14 tahun berniat balas dendam ? " Dylan tertawa terbahak-bahak saat menjawab pertanyaan dokter.


Namun dokter itu tidak menganggap jawaban Dylan lucu atau sekadar gurauan. Dia telah menangani banyak pasien seperti Dylan yang mencoba memanipulasi keadaan dirinya sendiri, dan setelah di lepaskan, mereka akan menggila di luaran sana.


" Baiklah kalau begitu, aku akan menanda tangani surat kepulanganmu, tapi dengan syarat kau harus wajib melapor seminggu sekali ke rumah sakit ini " Dokter memberikan pembebasan bersyarat. Dan Dylan dengan mudah menyetujuinya, tanpa penyangkalan, tanpa perdebatan.


" Ok baiklah kalau itu bisa membuat mu tenang " Dylan masih tetap tersenyum saat menjawab dokter tersebut. Dia menganggap dirinya sedang memainkan peran di sebuah sandiwara pentas.

__ADS_1


" Baiklah, senang kau bisa bekerja sama " Dokter itu bernapas lega dan kemudian berdiri menjabat tangan Dylan.


" Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal karena toh aku akan kemari seminggu sekali " Dylan juga berdiri dan balas menjabat tangan dokter itu.


" Berbahagialah, karena hanya dirimu sendiri yang bisa menciptakannya " Dokter itu memberikan nasehat untuk terakhir kalinya.


Bahagia ? Tentu saja aku akan bahagia kalau melihat laki-laki itu mati dengan cara paling mengenaskan di tanganku sendiri.


Dylan terlalu sibuk memaki mantan ayah tirinya itu sampai-sampai dia tidak mendengarkan guru matematikanya memanggilnya berulang kali.


Semua siswa sedang memandang ke arah Dylan yang duduk di bangku belakang, sekilas dia terlihat sedang berkonsentrasi kepada pelajaran, namun pandangannya kosong. Teman-temannya tidak ada yang berani untuk menyadarkannya dari lamunannya, mereka terlalu takut karena Dylan orang yang tidak bersahabat.


" Dylan ! " Hardik keras pak Ivan seraya memukulkan penggaris ke arah papan tulis. Dylan yang terkejut segera bangkit berdiri.


" Nama ku Dylan, cita-citaku menjadi jaksa penuntut umum yang handal, dan membuat penjara penuh oleh penjahat. Aku sedang jomblo saat ini dan tidak tertarik dengan gadis manapun " Dylan mengoceh tanpa sadar.


" Huuuuuu... " Sorak sorai teman-teman sekelasnya menyadarkan Dylan, dia terkejut dan kembali duduk, membenamkan wajahnya di tumpukan buku yang ada di atas mejanya, merasa malu untuk pertama kalinya.


Sementara itu Kiran yang sedang galau di ruangannya sampai menolak murid yang ingin melakukan konseling dengan alasan sibuk. Dia tidak sepenuhnya berbohong, dia sedang sibuk memikirkan Ken yang ternyata menyukainya.


" Dia tidak boleh menyukai ku, itu akan buruk untuknya, aku gadis yang tidak baik, dia layak mendapatkan seseorang yang lebih baik, lebih berpendidikan dan lebih terhormat dari aku, yang selevel dengannya, yang derajatnya sama dengan klan nya " Kiran bergumam sendiri, berusaha meyakinkan dirinya, dia tidak boleh menjadi pilihan Ken, tapi itu sama saja dengan menelan bara api, hatinya berdenyut nyeri setiap kali menyangkal bahwa dia juga tidak mencintai Ken.

__ADS_1


Siapa yang coba aku bohongi, aku juga mencintai mu Ken, lebih dari kau mencintai ku, tapi aku tidak bisa.


Penyangkalannya berujung dengan buliran air mata yang mengalir menganak sungai di pipinya. Kiran menangis terisak-isak.


__ADS_2