
Kiran yang pulang dengan deraian air mata sedang menunggu taksi online yang di pesannya di depan gerbang sekolah. Murid-murid dan para guru sudah pulang dan hanya tertinggal beberapa murid yang tersisa.
Ken yang berlari tergopoh-gopoh mengejar Kiran menemukannya sedang menangis di tepi jalan, menutup kedua wajahnya dengan telapak tangannya.
" Kiran ? " Sebuah suara memanggilnya, dan Kiran mengintip dari balik jari-jarinya, namun pandangannya terhalang oleh air mata yang berkumpul di pelupuk matanya, dia hanya mampu menangkap gambaran sebuah mobil berhenti di depannya.
Tanpa menjawab lagi Kiran segera membuka pintu penumpang di belakang sopir dan masuk kedalam, dengan tetap menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
" Tolong ke jalan Merdeka no 41 " Ucap Kiran kepada laki-laki yang tadi memanggilnya. Namun mobilnya tidak kunjung bergerak.
" Kiran... " Panggil laki-laki itu lagi.
" Ya saya Kiran yang memesan taksi ini, cepat jalan pak " Jawabnya dengan nada tak sabaran.
" Baiklah " Jawab laki-laki itu tanpa berani bertanya lagi karena melihat Kiran yang terisak-isak di kursi belakang. Dia pun kemudian melajukan mobilnya pergi meninggalkan area sekolah.
Ken yang melihat hal itu semakin marah, dan pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Melakukan manuver tajam memutar dan kemudian menginjak pedal gas kuat-kuat, membuat ban mobil berdecit keras dan meninggalkan bekas jejaknya di lantai aspal tempat parkirnya.
Dengan penuh emosi dia melajukan mobilnya pulang kerumah, bukan malah mengejar Kiran.
" Kau bilang hanya berteman ? Kau bahkan sudah janjian di depan gerbang dengan Bambang sialan itu " Makinya kesal dan meninju keras setir mobilnya.
Sementara Kiran yang masih tidak sadar bahwa laki-laki yang menjemputnya bukanlah sopir taksi online yang dia pesan melainkan Bambang yang sengaja ingin menemuinya.
Dia bertanya kepada teman-teman Kiran dimana Kiran bekerja, dan tentu saja mereka memberitahukannya karena mereka tau Bambang berniat mendekati Kiran.
Bambang yang melihat Kiran masih menangis sesegukan di kursi belakang hanya membiarkannya saja dan sesekali mencuri pandang lewat kaca spion, dia memutuskan menahan segenap rasa penasarannya dulu untuk kemudian di bicarakan nanti.
Mobil Bambang memasuki jalan Merdeka yang di maksud Kiran, dia melambatkan laju kendaraannya dan matanya awas mengamati nomor-nomor rumah yang tertempel di pagar.
41, dia menemukannya. Dia menghentikan mobilnya dengan pelan dan kembali menengok ke belakang. Kiran yang sadar mobilnya telah berhenti, segera merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, dengan wajah tertunduk dalam, berusaha menyembunyikan rasa malunya karena menangis di tempat umum, dia membuka aplikasi pemesanan yang dia lakukan.
" Saya akan membayarnya lewat dompet virtual pak, terima kasih " Ucap Kiran setelah menyelesaikan pembayaran dan memasukkan kembali ponselnya, dia kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lagi-lagi tanpa melihat sopir di depannya, dia menarik handle pintu dan kemudian mendorong pintunya agar terbuka. Dengan tergesa-gesa dia turun.
" Tunggu " Cegah Bambang cepat.
" Tenang saja pak saya akan memberikan rating bintang 5 dan juga tip " Jawab Kiran acuh tanpa menoleh dan kemudian berlari menuju gerbang rumahnya.
Dia merogoh tasnya kembali untuk mencari kunci gerbangnya. Namun ponselnya berbunyi. Mau tidak mau dia mengambilnya dan bingung mendapat panggilan dari nomor yang tidak di kenal.
" Nona Kiran ? " Sapa suara di ujung saluran teleponnya, Kiran mengernyitkan alisnya heran.
" Ya ? " Jawabnya ragu-ragu.
" Saya sopir taksi online yang anda pesan, maaf saya telat tadi karena harus mampir ke pengisian bensin, saya agak sakit perut hehe...tapi saat saya tiba anda sudah tidak ada, lalu saya mendapat pembayaran dari dompet virtual anda, bagaimana ini ? " Jelasnya dengan sungkan.
" Kalau anda sopirnya, lalu saya naik apa kesini tadi ? " Gumam Kiran takut, berbagai spekulasi langsung memenuhi kepalanya.
Taksi hantu ? Penculik ? Arwah Ganung ? Tidak mungkin, masa dalam cerita hidupku harus ada hantu mampir ? Tidak mungkin.
Tangan Kiran gemetaran hebat dan ponselnya jatuh meluncur begitu saja dari tangannya.
" Kiran " Panggil Bambang lagi seraya menepuk pelan pundak Kiran.
" HUAAA !! " Kiran berteriak histeris dan langsung memukuli Bambang dengan tasnya, dengan mata terpejam dia menyerang Bambang secara membabi buta.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Maafkan aku " Ulang Kiran untuk kesekian kalinya dengan kepala yang menunduk dalam.
" Tidak apa-apa, jangan sungkan " Jawab Bambang tersenyum seraya mengelus-elus pipinya yang memar akibat pukulan tas Kiran.
" Sekali lagi aku minta maaf " Ucap Kiran lagi masih merasa bersalah karena langsung saja memukul Bambang tanpa memeriksanya lebih dulu.
" Ei sudah tidak apa-apa, aku baik-baik saja " Jawabnya dengan terkekeh.
" Aku datang ke tempat kerjamu karena ingin tau bagaimana keadaanmu, melihatmu kemarin di seret oleh laki-laki asing seperti itu membuatku sangat khawatir " Lanjutnya menjelaskan maksud dan tujuannya menemui Kiran.
" Ya aku baik-baik saja " Jawab Kiran singkat dan masih menunduk dalam. Mereka sedang duduk di sebuah cafe yang ada di daerah dekat rumah Kiran. Bukan hal yang bijak membawa Bambang masuk kedalam rumah saat ibunya tidak ada, lagipula Kiran juga harus selalu waspada, dia tidak terlalu mengenal Bambang.
" Apa yang dikatakan laki-laki itu benar ? Kau dan dia ? " Tanya Bambang ragu-ragu, dalam hatinya dia berdoa bahwa yang didengarnya kemarin hanya salah paham, mungkin telinganya bermasalah, atau angin berhembus terlalu kencang hingga membuat suaranya hilang timbul tidak jelas.
" Ya " Jawab Kiran lagi-lagi singkat dan masih menunduk dalam.
Mendengar jawaban Kiran, Bambang masih saja belum yakin. Atau lebih tepatnya tidak terima.
" Bagaimana mungkin ? " Kejar Bambang tidak percaya. Namun Kiran tidak menjawabnya.
" Apa dia memaksa mu ? " Kejarnya lagi.
" Tidak " Jawab Kiran singkat.
__ADS_1
" Atau dia mengancam mu ? Iya ? Katakan saja tidak perlu takut, sekali lihat aku bisa tau kalau dia laki-laki brengs*k, kalau dia memang memaksa mu aku bisa membantu mu, aku akan melaporkannya ke pihak yang berwajib " Oceh Bambang masih tidak percaya dengan jawaban yang di berikan Kiran.
" Tidak, dia tidak memaksa ku, kami memang berhubungan " Jawab Kiran pelan.
" Kiran aku tau kau seperti apa, kau gadis polos pemalu dan takut dengan laki-laki, aku sudah mengamatimu dengan lama, kau selalu menghindar saat berpapasan dengan laki-laki, kau selalu menjaga jarak dengan setiap laki-laki, bahkan kau tidak pernah menoleh jika yang memanggilmu adalah laki-laki, aku memang tidak tau alasan apa yang membuatmu bersikap begitu, jadi tidak mungkin bagimu dekat dengannya, katakanlah yang sejujurnya, apa dia mengancammu ? " Dengan panik Bambang mendesak Kiran agar menjawab Ya, karena hanya dengan begitu hatinya yang saat ini berdenyut nyeri akan bisa merasa sedikit tenang.
" Tapi memang begitu hubungan kami " Jawab Kiran lirih, dia sendiri tidak yakin dengan jawaban yang dia berikan mengingat Ken yang mengatakan bahwa dia ingin kontak fisik dengannya sebagai bukti tanda cinta.
" Tidak mungkin " Tubuh tegap Bambang terhenyak mundur dan bersandar pada sandaran kursi, merasakan lemas di sekujur tubuhnya mendengar pengakuan Kiran.
" Apa sudah selesai ? " Tanya Kiran tanpa basa-basi, dia merasa tidak ada lagi yang perlu di bicarakan dengan Bambang, terlebih menyangkut hubungannya dengan Ken yang notabene adalah masalah pribadinya.
" Kiran dia bukan orang baik, dia terlihat seperti playboy yang hanya merasa beruntung sudah menangkap gadis polos seperti mu " Bambang berusaha memaksakan logikanya kepada Kiran dan memaksanya ikut meyakini apa yang dia yakini juga.
" Kalau sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, aku akan pergi " Kiran segera bangkit dan pergi meninggalkan Bambang yang masih terbengong mendapati reaksi Kiran yang seperti itu.
Tidak mungkin, dia pasti bohong, aku akan mencari tahu sendiri.
Bambang bertekad didalam hatinya, merasa tidak terima telah kalah dari laki-laki yang tidak jelas seperti Ken.
🍁🍁🍁🍁🍁
Ken yang lebih uring-uringan dari kemarin langsung menuju kamarnya dan merebahkan diri di atas kasur tanpa mengganti baju atau melepas sepatunya. Dikuasai kemarahan yang membuncah membuatnya hanya ingin tidur sepanjang sisa hari ini dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
Namun sebuah ketukan di pintunya membuatnya mau tidak mau bangun dan membukanya.
" Kenapa ? " Tanyanya ketus masih dengan mata terpejam.
" Waktunya makan malam tuan, apa anda ingin makan bersama atau dikamar saja ? Tuan Regis dan yang lainnya sudah menunggu anda di meja makan " Jawab Pelayan itu sopan.
" Hmm ? " Ken mengernyitkan alisnya bingung, dia bahkan belum tidur tapi pelayan bilang sudah waktunya makan malam.
" Memangnya ini jam berapa ? Waktunya makan malam ? Langit saja masih terang benderang begitu " Tunjuknya asal kesembarang arah masih tidak ingin membuka matanya.
" Ini sudah pukul 7 malam tuan " Jawabnya sopan.
" Hm ? " Ken membuka matanya perlahan dan mengerjapkannya untuk mencari kesadaran. Benar saja langit di halaman depan kamarnya sudah menghitam dan berganti dengan cahaya lampu hias yang menerangi taman.
" Bawa saja makanan ku kesini, kalau ayah tanya bilang saja aku tidak enak badan " Jawabnya malas dan menutup pintu kamarnya dengan cepat.
Seluruh badannya terasa sangat lelah, namun dia menuju kamar mandi untuk mandi dan membersihkan diri. Mengganti pakaiannya dengan kaos yang lebih santai serta celana pendek selutut.
Masih dengan handuk tersampir di pundaknya dia duduk di kursi tunggal di depan bar mini yang ada di kamarnya, mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari pendinginnya.
Suasana hatinya benar-benar buruk saat ini, terlebih saat melihat Kiran naik begitu saja ke mobil Bambang. Di liriknya sebotol anggur yang tertata rapi di lemari bar nya, sebenarnya bukan kebiasaannya minum anggur tapi dengan suasana segelap mendung, segelas anggur mungkin akan sedikit membantunya melepas penat.
Dengan lesu dia mengambil botol anggur dan gelas yang tergantung di rak atasnya. Membawanya ke meja yang ada di kamarnya, menuangkannya perlahan sampai gelasnya penuh.
Dia mengangkat gelasnya, menghirup aroma anggurnya sebelum meminumnya.
" Haaah " Helaan napas berat keluar dari mulutnya setelah menyesap rasa anggur di gelasnya.
Setelah mendengar alasan Kiran tadi, jauh di dalam hatinya dia menyadari kesalahannya yang menuntut Kiran agar mau berciuman dengannya tanpa memperdulikan trauma masa lalu yang dirasakan Kiran. Tapi nasi sudah menjadi bubur, kata-kata jahat itu telah keluar dari mulutnya dan melukai Kiran teramat dalam. Bukannya tidak ingin meminta maaf pada Kiran, tapi dia merasa tidak akan sanggup menatap wajah Kiran dengan sikapnya yang sangat memalukan, dengan pikiran piciknya yang memandang sempit artinya cinta.
Tok, tok, tok !! Ketukan pintu membuyarkan lamunan Ken, malas beranjak membuka pintu dia hanya berteriak sebagai gantinya.
" Masuk saja " Perintahnya acuh.
" Kau kenapa ? " Suara Ruby mengangetkan Ken. Di lihatnya Ruby datang dengan membawa nampan berisi piring makan malamnya.
" Kenapa kau yang membawanya kesini ? " Tanya Ken bingung.
" Itu karena pelayan bilang kau tidak enak badan, mana mungkin aku tidak memeriksa mu kemari " Jawab Ruby lembut, aura keibuannya semakin terpancar setelah dia melahirkan.
" Apa yang kau pikirkan ? " Tanyanya kemudian seraya meletakkan nampannya di meja dan duduk di kursi yang ada di depan Ken.
" Entahlah, aku tidak tau, aku sendiri pusing menghadapinya " Saut Ken lemas, kemudian meminum anggurnya kembali.
" Apa masalah Kiran ? " Tebak Ruby.
" Hmm " Ken hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
" Rai sudah cerita padaku tadi pagi. Aku tidak mengerti bagaimana dengan laki-laki, tapi bagi kami para wanita lebih sering menggunakan perasaan daripada pikiran. Mungkin bagimu kejujuran yang kau ucapkan adalah hal yang wajar, tapi wanita menganggap cinta selalu lebih besar pengertiannya di banding hanya dengan kontak fisik. Sebuah perhatian kecil saja sudah mampu membuat kami berbunga-bunga. Kiran sudah menjalani kehidupan yang berat sebagai wanita, jika aku hanya tau bagaimana caranya mencari uang, lain halnya dengan Kiran, dia harus mengalami sesuatu yang berhubungan dengan psikisnya, dan membuatnya di rawat di rumah sakit jiwa. Bayangkan betapa berat hidupnya harus berurusan dengan orang brengsek seperti pamannya, jadi cobalah melihat dari sudut pandangnya, meskipun mungkin kau tidak akan bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi dia, setidaknya kau bisa melihat bagaimana caranya dia melihat dunia, mungkin dia akan marah untuk beberapa waktu, tapi percayalah dia akan membaik lagi, beri dia waktu untuk menenangkan hatinya “ Hibur Ruby.
Perasaan mutlak urusan pribadi masing-masing, jadi dia tidak akan bisa memaksakan kehendaknya kepada orang lain, hanya memberikan masukan yang mungkin membantu yang bisa di lakukannya saat ini. Baik Kiran maupun Ken adalah sama-sama orang yang dia sayangi. Dan dia akan mendukung apapun keputusannya selama itu membuat mereka bahagia.
Melihat Ken yang sepertinya ingin sendiri dulu, Ruby segera pergi meninggalkan Ken yang sedang galau dengan masalah asmaranya.
Ken membuka ponselnya, dia membaca kembali pesan-pesan yang di kirimkan Kiran padanya dan tersenyum. Benar yang dikatakan Ruby, hampir seluruh isi pesan Kiran hanya menanyakan apakah dia sudah makan, atau bagaimana keadaannya, dan perhatian- perhatian kecil lainnya yang tidak pernah diberikan oleh Ken dalam setiap pesan yang dia kirimkan kepada Kiran. Semua hal itu tiba-tiba membuatnya merindukan Kiran.
“ Maafkan aku “ Gumamnya lirih.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara itu Kiran yang sekarang sendirian di dalam rumah sedang mencoba tidur di kamarnya dengan tubuh terbungkus selimut. Melawan halusinasinya yang liar dengan bermain permainan di ponselnya.
“ Aish benar-benar ! Kau sudah sebesar ini tapi masih saja takut hantu “ Ocehnya kesal kepada diri sendiri. Namun bukannya mendapatkan suntikan keberanian tetapi malah ketakutan yang dia rasakan. Ingatannya terbang ke masa dia dan ibunya harus ke rumah sakit untuk memeriksa jasad Ganung yang tak lagi utuh karena tertimpa reruntuhan rumah. Bagaimanapun mereka lah keluarga Ganung satu-satunya, jadi mereka tetap harus memberikan pemakaman yang layak tak peduli seberapa jahatnya dia.
Saat dirinya semakin merinding karena ketakutan, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk. Kiran berjengit kaget.
“ Aish membuatku kaget saja “ Gerutunya kesal, sebuah nomor asing menghubunginya.
“ Hallo ? “ Suaranya lirih dan semakin merapatkan selimut yang membungkusnya. Hening membentang, tidak ada jawaban di ujung sana, hanya ada suara alunan musik yang sangat Kiran kenal. Lingsir wengi.
Serrr !!! Seketika bulu kuduknya meremang, siapa yang malam-malam meneleponnya hanya untuk memamerkan lagu berbahasa daerah tersebut.
“ Hallo !! “ Sentaknya keras. Namun dentingan jam klasik di ruangan depan kembali membuatnya terlonjak. 12 kali jam tersebut berdentang, yang artinya sudah tengah malam.
Kiran kembali berkonsentrasi pada panggilan di ponselnya, entah karena takut atau memang signal yang kurang jelas, terdengar suara seperti sebuah erangan di ujung sana.
“ Hei siapa ini !! “ Makinya semakin kesal. Merasa di kerjai dia memutuskan akan menutup teleponnya, namun tiba-tiba saja terdengar jawaban dari ujung sana.
“ Ga... Kresek kresek kresek... Nu...kresek kesek kresek ng... Kresek kresek kresek.... “ Sebuah suara serak berat, menjadi jawaban yang hilang timbul di antara suara yang bergemerisik, saling bersaut-sautan dengan lagu yang menjadi latar belakangnya.
Jantung Kiran berdesir hebat, memompa alirah darahnya sangat cepat. Seperti ikan yang tulang-tulangnya di masak secara presto, Kiran pun semakin melembek diatas ranjangnya. Dia menjauhkan ponselnya dan menutup panggilan tersebut.
Dia menggosok-gosok lubang telinganya, memastikan apakah bekerja sesuai fungsinya atau sedang bermasalah. Tidak gatal dan tidak sakit, artinya yang dia dengar nyata. Suara di ujung telepon tadi seakan mematahkan keyakinannya bahwa hantu itu tidak ada.
“ Ibuuu.... “ Jeritnya keras namun tidak ada suara yang keluar, dia kemudian memejamkan matanya erat-erat dan menjauhkan ponselnya.
Hantu itu tidak ada, hantu itu tidak ada, hantu itu tidak ada...
Dia terus saja menggumamkannya lambat-lambat seakan mencari teman untuk melawan rasa takutnya hingga nanti dia akan tertidur dengan sendirinya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi yang melelahkan bagi sebagian orang jika harus bermimpi di kejar-kejar potongan tubuh manusia yang berceceran.
Dengan malas Kiran membuka selimutnya, dan bernapas lega saat dia melihat seberkas sinar matahari yang mengintip dari balik jendela.
Dia mengambil ponselnya dan memeriksa pesan yang dia kirimkan kepada ibunya semalam, yang menyuruhnya segera pulang. Lebih lama lagi ibunya menginap maka tamatlah sudah dia.
Dia segera bergegas mandi dan bersiap-siap berangkat bekerja, tidak ingin lebih lama lagi berada di rumah kuno itu sendirian.
“ Aish marimar ada-ada saja, kenapa dia merindukan rumah kuno seperti ini, bukankah ini sudah abad 21, harusnya dia merenovasi rumah ini menjadi lebih modern, lihat saja hiasan dindingnya, mana ada jaman sekarang yang memakai jam dinding seperti itu, membuatku bangun setiap jamnya karena harus mendengarnya berdentang “ Omelnya takut-takut seraya bergegas keluar rumah, secepat kilat dia mengunci pintunya dan berlari keluar halaman.
Bahkan halaman yang semula di pujinya asri dan indah itu kini terasa sangat menyeramkan baginya. Dengan sebuah pohon mahoni besar berdaun lebat di sudut halaman membuat suasananya terlihat sedikit menyeramkan. Pikiran liarnya kembali bekerja, bagaimana jika sesosok hantu berdiri dibawah sana untuk mengamatinya, bukankah jendela kamar yang dia tempati saat ini berhadapan tepat dengan pohon tersebut.
Dengan bergidik ngeri Kiran segera pergi menjauh, menuju jalan raya yang ramai oleh lalu lalang kendaraan yang akan pergi bekerja atau sekolah.
Dan disinilah dia, berada di halte bus menunggu bus datang. Lingkaran hitam di bawah matanya seperti menjadi saksi bisu bahwasanya dia kekurangan tidur beberapa hari ini. Dia melihat jam tangannya, bus yang akan di naikinya masih datang setengah jam lagi.
Dia menghela napas malas, tapi setidaknya menunggu disini lebih baik daripada harus berlama-lama dirumah itu. Dia menyandarkan kepalanya pada tiang penyangga atap halte, mencoba memejamkan matanya yang terasa berat barang sebentar saja.
“ Sungguh ?! “ Pekik seorang siswa yang baru saja datang dan duduk di sebelahnya. Mengganggu konsentrasi Kiran, namun dia tetap memejamkan matanya.
“ Aish pelankan suara mu, aku tidak bohong “ Saut siswa lainnya kesal.
“ Tidak mungkin, hantu itu tidak ada “ Jawab yang lainnya dengan meremehkan.
Deg ! Pembicaraan kedua siswa itu berhasil mengusik perhatian Kiran, dia sedikit mengubah posisi duduknya untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
“ Coba saja katakan itu dan kau mengalami yang aku alami, lihat apa kau masih bisa sesombong itu “ Cibirnya sinis.
“ Aku awalnya juga sama seperti mu, yakin bahwa hantu itu tidak ada, tapi setelah aku melihatnya sendiri baru aku percaya “ lanjutnya bercerita.
“ Kata nenekku mereka yang meninggal secara tidak wajar akan menjadi hantu dan akan selalu mengikuti orang yang paling penting di hidupnya dulu. Waktu nenekku bercerita begitu, aku sempat mengejeknya dan meremehkannya, lalu tiba-tiba semalam aku mendapat panggilan telepon dari nomor yang tidak di kenal, tepat jam 12 malam “ Ceritanya berapi-api dengan berlebihan, dia merendahkan suaranya agar terdengar semakin meyakinkan dan menimbulkan kesan seram.
“ Hei yang benar saja, jangan membuatku takut “ jawab temannya ketakutan.
“ Untuk apa aku berbohong “ Lanjut temannya kembali bercerita.
“ Aku mungkin memang tidak ada hubungan apa-apa dengannya Sari, tapi kau tau kan dia sempat meminjam uang padaku, 2 hari sebelum dia meninggal aku menagihnya, dan kau tau dia bilang apa ? Maafkan aku tidak bisa membayarnya sekarang, tapi aku pasti akan membayarnya nanti walau di akhirat sekalipun, lalu aku tidak bertemu dengannya lagi sampai dia temukan meninggal dikamar kost nya karena di bunuh kekasihnya “ Nada suaranya semakin merendah.
“ Aku juga tidak menyangka nasibnya akan setragis itu, tapi kenapa dia meminjam uang darimu ? “ tanya temannya penasaran.
“ Dia bilang dia harus membayar uang sekolahnya yang di pinjam kekasihnya untuk main game online, aku sudah memperingatkannya bahwa laki-laki itu tidak baik, tapi dia di butakan oleh cinta “ Dia mengambil jeda sejenak dan menarik napas panjang.
“ Dengan ku saja dia menakuti, apalagi dengan kekasih yang sangat di cintainya, pasti dia tidak akan melepaskannya dengan mudah. Konon cinta tragis yang dibawa sampai mati bisa menjadi dendam kesumat untuk para arwah “ Lanjutnya lemas.
Lawan bicaranya hanya mampu terus menggosok-gosok tangannya untuk meredakan sensasi merinding disekujur tubuhnya.
Tak terasa bus yang di tunggunya telah datang, Kiran segera merapikan dirinya dan naik ke atas bus yang kemudian melaju pelan meninggalkan halte.
__ADS_1
Apa genre hidupku sudah berpindah ? Kenapa harus menjadi keluarga tak kasat mata, tidak !!!
Isaknya lemas dalam hati masih sulit percaya dengan yang di alaminya.