
" Cih, sepertinya kau sedang bahagia " Sinis Dylan dari arah belakang, dia duduk bersandar di kursinya. Melihat Ken yang sedari tadi bersiul-siul dan meliuk-liuk bergoyang mengikuti irama musik dari audio mobilnya.
" 100 untuk mu, ah ya bagaimana nilai matematika mu, seburuk apa ? " Tanya Ken penasaran tentang kejadian kemarin.
" Tidak buruk, aku dapat nilai sempurna tanpa cela " Jawab Dylan canggung karena tiba-tiba sikap Ken jadi perhatian, selama ini tidak pernah ada yang bertanya tentang keadaannya atau pun sekolahnya, tidak pernah kecuali ibunya.
" Sempurna tanpa cela itu maksud mu cukup bagus untuk ukuranmu atau untuk ukuran guru ? " Ken bertanya lebih detail lagi.
" Sempurna untuk kedua nya, aku dapat nilai 10 atau bisa dibilang 100 mungkin, entahlah " Dylan semakin canggung, dia tidak terbiasa menerima perhatian lagi dari seseorang setelah ibunya meninggal.
" Wow itu artinya jawaban mu tidak ada yang salah sama sekali ? " Tanya Ken takjub kali ini, binar di matanya yang menatap Dylan dari kaca spion menunjukkan bahwa dia tidak sedang bersandiwara untuk mengejek ataupun menyindir Dylan.
" Ya begitulah, setidaknya menurut para guru jawabanku benar semua " Dylan menjawab acuh namun salah tingkah mulai merayapinya, dia bergeser sedikit agar mata mereka tidak perlu bertatapan saat Ken melihat Dylan dari kaca spion, atau saat Dylan berusaha mencuri pandang ke arah spion.
Sementara Kiran terlihat bingung di tempat duduknya, antara harus senang atau harus sedih. Dulu, sebelum dia tau kalau Dylan akan balas dendam kepada klan Loyard, dia pasti akan sangat senang melihat Ken dan Dylan akur seperti ini, tidak ada perdebatan, tidak ada saling ejek atau saling sindir. Tapi sekarang saat dia sudah tau rencana Dylan, dia jadi semakin merasa bersalah kepada Ken, karena sepertinya Ken benar-benar tulus memuji Dylan.
Aku harus bagaimana ini ? Mulai besok aku akan menolak di jemput, jadi dengan begitu mereka tidak akan terlalu dekat. Ini yang terbaik untuk Ken.
Kiran gugup dan merem*s tangannya sendiri, diam tak bersuara di tempat duduknya.
" Kiran kau baik-baik saja ? " Tanya Ken khawatir melihat Kiran yang sepertinya tidak nyaman, atau mungkin terlihat canggung menurut Ken.
Dia pasti bingung untuk memulai dari mana hubungan kita yang baru ini, apa semua seperti ini saat baru pertama kali jadian ?
Ken bertanya-tanya dalam hati, tapi pikirannya tertuju pada rhoma dan marimar, bagaimana mereka memulai awal hubungan mereka, sedangkan mereka menikah secara kilat, tanpa basa basi, tanpa perkenalan, dan tanpa cinta.
" Ya aku baik-baik saja " Jawab Kiran lirih dan senyum yang dipaksakan. Dia sedang berpikir keras bagaimana menjauhkan Dylan dan Ken saat ini, hal terbalik dari yang ingin dia lakukan beberapa hari yang lalu sebelum dia tau tentang Dylan.
" Kalian berdua ingin makan sesuatu ? Aku akan mentraktir kalian makan " Ken memecah keheningan, dia mencoba menyebarkan virus cinta yang sedang menjangkitinya saat ini.
" Tidak !! " Jawab kedua penumpang lainnya dengan berbarengan dan penolakan yang jelas.
__ADS_1
Dylan menolak karena semakin merasa canggung dan tidak nyaman dengan perhatian dari Ken. Mereka tidak sedekat itu untuk saling makan bersama layaknya seorang teman, karena Dylan menganggap Ken berbahaya dan ingin balas dendam. Jadi tentu saja sedikit perhatian dari Ken akan menggoyahkan tekadnya.
Tapi lain dengan Kiran, dia menolak karena ingin Ken dan Dylan menjauh, kalau mereka bertiga makan bersama bukan tidak mungkin hubungan keduanya bisa semakin akrab dan malah membuat Ken lengah yang akan menguntungkan Dylan untuk balas dendam.
Mulai besok aku akan merazia tas Dylan, kalau dia ingin dekat-dekat dengan Ken, tidak boleh ada barang mencurigakan di dekatnya, itu bisa berbahaya untuk Ken.
Kiran mengangguk-angguk memikirkan idenya. Naluri untuk melindungi Ken muncul karena perasaan bersalah yang saat ini menyelimutinya.
" Aku sedang diet " Kiran berusaha mengelak untuk menolak ajakan Ken.
" Aku juga " Dylan yang bingung harus beralasan apa terpaksa menjiplak alasan Kiran, dia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Dia terlalu sibuk menguatkan tekadnya, meyakinkan dalam hati kalau Ken itu berbahaya.
Dia licik, dia ular, dia licik, dia ular...
Dylan terus merapalkan mantra itu di pikirannya, namun semakin dilihat-lihat, wajah Ken yang polos sepertinya tidak terlalu berbahaya. Sejenak hatinya meragu. Ken terlihat sangat polos saat terkejut melihat penolakan mereka berdua.
Baiklah mungkin dia bukan ular, tapi dia tetap licik, jadi dia ulat saja, terdengar lebih sopan. Ya ulat bulu hijau yang gemuk dan menggemaskan seperti makanan owl di serial kartun owl, ya pikirkan saja seperti itu. Licik dan ulat yang menggemaskan.
" Ok kalau kalian tidak mau, padahal aku lihat kau sudah cukup kurus Kiran, kalau kau diet lagi maka tubuhmu bisa jadi seperti tulang dan kulit saja loh. Dan kau Dylan, memangnya kau diet apa ? Kau itu masih anak-anak, masih masa pertumbuhan, jadi makanlah makanan yang bergizi dan banyak agar kau bisa tumbuh lebih tinggi lagi dan juga semakin cerdas " Ken mengomel sendiri karena kedua lawan bicaranya sepertinya kehabisan topik untuk di bahas.
Semakin Ken mengoceh semakin Dylan dan Kiran merasa tidak nyaman, Ken jauh jauh jauh lebih baik dari pada yang mereka kira. Ternyata Ken orang yang perhatian dan terlihat tulus, dibalik sikapnya yang kadang konyol dan seperti anak kecil.
Tapi baik Kiran maupun Dylan tidak bisa menjawab, mereka berdua sedang sibuk berenang keluar dari kubangan rasa bersalah yang hampir menenggelamkan mereka berdua, tapi dalam pikiran mereka masing-masing.
Tak terasa mobil yang di kemudikan Ken sudah sampai di depan gedung kost mereka. Dylan cepat-cepat membuka pintu dan bergegas turun, dia tidak ingin lagi berada di dekat Ken dan menerima begitu banyak perhatian darinya. Dia merasa sesak napas. Dylan mengucapkan terima kasih dengan canggung dan segera pergi meninggalkan Kiran dan Ken yang lagi-lagi di buat bengong dengan sikap Dylan.
" Apa menurutmu dia berbohong dengan nilai matematika nya ? " Tanya Ken penasaran karena sikap Dylan sangat sangat aneh. Seorang remaja yang kemarin-kemarin bersikap kurang ajar padanya karena ledakan darah muda di dalam dirinya, sekarang berubah sikap 180 derajat.
" Aku tidak tau, mungkin saja " Kilah Kiran mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Aku akan memeriksanya kalau begitu, katamu dia yatim piatu dan mendapatkan beasiswa penuh selama sekolah, aku takut nilainya turun dan dia tidak bisa mempertahankan beasiswanya, akan sangat kasihan nanti kalau dia tidak bisa membayar sekolah yang mahal itu " Ken mengiba memandang ke arah Dylan menghilang tadi.
__ADS_1
Andai kau tau dia ingin balas dendam pada Klan mu, apa kau akan tetap sebaik ini padanya. Kalian benar-benar membuatku pusing.
Kiran semakin merasa bersalah, dia menundukkan wajahnya, menatap ujung sepatu flatnya yang berwarna coral.
Ken yang melihat itu mengangkat dagu Kiran dengan lembut. Membuat Kiran terkejut, matanya membelalak lebar. Bingung kenapa Ken berbuat seperti ini.
" A-ada a-apa ? " Kiran tergagap karena sedang dipandang Ken dengan begitu lembutnya, jantung di dadanya sudah memukul-mukul dengan keras, membuat aliran darahnya terlalu cepat sehingga menimbulkan sensasi mual di perutnya.
" Kau cantik " Ken memuji Kiran dengan lembut dan lirih, kini wajah mereka hanya berjarak 20 senti, napas Ken yang teratur sangat berbanding terbalik dengan napas Kiran yang pendek-pendek dan cepat, atau bisa di bilang Kiran sedang megap-megap saat ini.
" Ken aku... " Kiran mencoba bersuara namun tenggorokannya terasa sangat kering, sehingga suaranya tidak mampu keluar. Mual di perutnya semakin tak terkendali, sensasi di aduk-aduk itu membuat pencernaan Kiran tidak stabil.
" Aku tau, aku tau " Ken tersenyum memandang Kiran, seakan mampu membaca kata-kata apa yang akan Kiran ucapkan. Dengan percaya dirinya yang berlebihan dia kembali mengungkapkan perasaannya.
" Aku juga merasakan hal yang sama dengan mu " Jawab Ken dengan senyum lebar dan rona wajah bahagia tak terperi.
" Jadi kau merasa mulas dan ingin buang angin juga ? " Tanya Kiran polos, karena memang itulah yang dia rasakan saat ini, pencernaannya terasa tidak beres dan sekarang seolah-olah seluruh angin di tubuhnya berkumpul di satu titik, meronta-ronta ingin dilepaskan.
" Iya aku juga ingin kentut " Tanpa sadar Ken menjawab pertanyaan Kiran namun masih dengan suasana percaya diri yang tinggi dan rasa mabuk akibat menatap wajah Kiran yang sangat cantik, membuatnya tidak sadar apa yang dibicarakan Kiran dan apa jawabannya.
Wajah Kiran yang tadinya serius kini berubah menjadi ledakan tawa yang keras, Ken seperti tersadar dari jerat hipnotis Kiran, dia melepaskan tangannya dari dagu Kiran dan mengerjap tidak percaya, berusaha mengingat-ingat kembali pikiran alam bawah sadarnya, berharap itu tadi hanya suara dalam pikirannya, namun melihat reaksi Kiran saat ini yang tertawa terbahak-bahak, sepertinya ini memang bukan khayalannya semata, semuanya nyata, tentang hal memalukan yang baru saja terjadi.
" Kiran aku... " Ken mencoba menjelaskan, tapi wajahnya sudah pasti sekarang merona merah lalu ke kuning, kuning lalu ke hijau, dan hijau siap meletus seperti balon dalam lirik lagu anak-anak TK.
" Hahaha... " Tawa Kiran masih menggema, dia terus saja tertawa seakan tidak melihat perubahan warna di wajah Ken.
" Kalau kau ingin kentut, lakukanlah, ini bukan pertama kalinya aku melihat, mendengar dan mencium aromanya " Kiran menepuk pundak Ken pelan sambil tetap tertawa.
Golok mana golok !!!!
Ken memaki dirinya sendiri dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
__ADS_1