
Cinta tanpa ujian sama saja seperti cuaca cerah sepanjang tahun yang artinya mustahil. Begitu juga hubungan Ken dan Kiran, meskipun badai terbesar dalam hidup mereka seperti telah berlalu, bukan berarti gerimis tidak akan melanda.
Seminggu telah berlalu, Ken dan Kiran hidup bahagia, untuk sementara waktu. Mereka berdua sepakat untuk saling profesional dalam lingkungan kerja. Kiran memutuskan akan naik taksi setiap hari, jadi Ken tidak perlu lagi menjemputnya, meskipun berat namun Ken menyetujui ide Kiran. Bagaimana pun dia ingin membuktikan pada ayahnya bahwa dia mampu bekerja dengan baik tanpa melibatkan perasaan.
Hingga akhir pekan pun tiba, Ken menjemput Kiran untuk mengantarkannya pergi kuliah. Setelah semua yang terjadi, jadwal Kiran perlahan-lahan mulai kembali normal. Pergi kuliah dihari minggu.
Jalanan lumayan ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang. Namun keadaan cukup lancar dan tidak sampai menimbulkan macet yang berkepanjangan.
" Jangan dekat-dekat dengan si Bambang itu ya " Ultimatum Ken untuk yang kesekian kalinya sejak mereka berangkat.
" Iya iya...kau sudah mengatakan itu lebih dari 10 kali " Jawab Kiran malas, karena hanya itu saja yang keluar dari mulut Ken dari tadi.
" Dia itu tipe laki-laki perayu, sekali lihat saja aku sudah tau kalau dia itu playboy kelas kakap " Omelnya lagi.
" Lalu bagaimana dengan mu ? " Jawab Kiran asal. Dia kembali mengingat bagaimana Tina menjenguknya dan Ken malah merayunya.
" Aku kenapa ? " Tanya Ken bingung.
" Tidak kenapa-kenapa, hanya saja melihatmu sangat menikmati di kelilingi orang-orang yang menyukaimu sepertinya membuat mu bahagia " Cibirnya sinis.
" Ah tiba-tiba aku ingin melihat film spongebob " Sindirnya kemudian.
Ken yang paham dengan sindiran Kiran langsung salah tingkah. Bagaimana mungkin Ken melupakan kejadian itu, kejadian yang membuatnya hampir saja jantungan karena salah lihat.
Setelah Ken pingsan sehabis menelan tali pusar Raline, dia menangis sangat kencang, menangisi nasib sialnya yang selalu saja datang menghampiri. Sempat terlintas di benaknya untuk mengadakan ritual pembuang sial, namun dia merasa hal itu sia-sia saja. Bagaimana jika dukun yang dipanggilnya malah tertawa terbahak-bahak karena alasannya mengusir sial adalah karena menelan tali pusar. Sungguh alasan yang tidak keren, begitu pikir Ken.
Setelah puas menangis berjam-jam lamanya dia tertidur pulas dengan mata bengkak setelah di beri obat penenang oleh dokter. Tina yang kembali menjenguk Ruby di hari minggu pagi itu juga berniat menjenguk Ken.
Tina yang kemudian di temani Ruby pergi keruangan Ken, terkejut melihat Ken tidur dalam kondisi mengenaskan begitu. Tissu berhamburan di lantai, hidung merah dan mata bengkak dengan lingkaran hitam di bawahnya.
" Nyonya kau bilang dia baik-baik saja, tapi kenapa dia jadi seperti ini ? " Tangis Tina keras sekali.
" Aish sudahlah, bukan masalah besar, dia baik-baik saja " Jawab Ruby asal dan duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Ken.
" Sayang sekali wajah tampannya jadi begitu " Isak Tina berlebihan.
Ken yang mendengar suara berisik Tina perlahan-lahan membuka matanya, namun karena efek dari obat penenang yang membuat matanya berat mengakibatkan pandangannya sedikit kabur.
" Sayang ? " Ucap Ken lemas.
" Hah ?! " Ruby dan Tina yang mendengar itu terkejut.
" Ken sadarkan dirimu ! " Ruby memukul pelan lengan Ken karena melihat Tina yang sudah tersenyum-senyum malu.
" Kau cantik sekali " Ucap Ken masih dalam separuh kesadarannya. Tangannya bergerak naik menyusuri pipi Tina yang berdiri disamping ranjangnya.
Ruby yang mendengar itu mendengus putus asa, dia memutar bola matanya malas. Dia mengerti apa yang di ucapkan Ken adalah efek dari obat penenang, tapi tidak dengan Tina. Dia sangat menikmati setiap racauan dari Ken yang memujinya dan membelai pipinya lembut.
" Tina sadarkan dirimu, dia sudah punya kekasih " Ucap Ruby akhirnya. Namun Tina tidak bergeming dan mengabaikan Ruby.
" Ayolah nyonya, kapan lagi aku bisa di sentuh tuan Ken kalau tidak seperti ini. Aku ingin menikmatinya selagi dia masih tidak sadar " Jawab Tina terkekeh. Ruby hanya semakin menghela napas jengah. Dasar Tina, begitulah yang di pikirkannya dalam hati.
Tepat saat adegan itu berlangsung, Kiran membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan, dia sangat terkejut mendapati Ken sedang asyik merayu wanita lain. Kiran mendengus kesal. Dia langsung berdiri disisi yang lain dari Tina, saling berhadapan dan saling melemparkan pandangan sengit penuh sinar laser.
" Halo selamat pagi, saya Kiran " Ujar Kiran mengulurkan tangannya pada Tina.
" Saya Tina " Jawab Tina acuh dan menjabat tangan Kiran sesaat, dia kemudian kembali pada Ken yang masih saja memandanginya sambil tersenyum-senyum.
Ruby yang melihat gelagat tak baik dari situasi ini segera menengahi.
" Kiran dia sedang tidak sepenuhnya sadar, jadi jangan di anggap serius ucapannya " Bisik Ruby lirih di telinga Kiran.
" Ho ! Upin ! " Kiran dan Ruby yang sedang sibuk berbisik terkejut melihat Ken yang sekarang mengacungkan jarinya ke arah Kiran.
Tina tersenyum mengejek mendengar Ken memanggil Kiran dengan sebutan tokoh kartun tersebut.
" Aish dasar ! Dengannya saja kau bisa memujinya cantik dan membelai pipinya, denganku malah kau hanya mengingat upin dan ipin " Omel Kiran kesal dan memukul keras tangan Ken yang masih teracung padanya.
" Orang bilang sesuatu yang di ucapkan dengan tidak sadar itu adalah yang sejujurnya, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam " Celetuk Tina asal dan tersenyum sinis memandang Kiran, merasa menang.
Benar, selama janur kuning belum melengkung masih bisa di rebut.
Batinnya mantap dalam hati dan kembali membusungkan dadanya sombong.
Melihat sikap Tina yang menyebalkan begitu membuat Ruby menghela napas jengah. Dia sudah berjanji akan bersikap netral dan tidak memihak siapapun dalam persaingan memperebutkan Ken, meskipun dia tau Ken memilih Kiran, tapi masalah ini tidak akan lepas begitu saja.
" Tina sudah hentikan, ayo keluar " Ajak Ruby cepat.
" Tidak mau " Jawabnya cepat dan malah menggenggam erat tangan Ken.
" Sayang, aku merindukanmu " Racau Ken lagi kepada Tina.
" Aish, dasar sialan " Rutuk Kiran kesal. Dia kemudian menarik tangan Ken dari genggaman Tina, namun Tina menahannya.
" Nona muda lepaskan tanganmu darinya " Geram Kiran dengan senyum terpaksa.
" Tidak akan, kenapa tidak kau saja yang melepaskannya ? " Ucap Tina dengan acuh.
" Aku tidak tahan lagi " Kiran menyentakkan tangan Ken dengan keras. Dia lebih memilih mengalah karena Ken yang sedang tidak sadar.
__ADS_1
" Cium aku " Oceh Ken semakin tidak masuk akal, dia memonyongkan bibirnya ke arah Tina yang semakin berbunga-bunga mendengar ucapan Ken.
Ruby dan Kiran yang mendengar itu segera menoleh ke arah Ken, dan mendapati dirinya berusaha bangun untuk mencium Tina.
" Hentikan !!! " Teriak Kiran marah, dia kemudian membuka paksa mata Ken lebar-lebar, dan seketika pandangannya menjadi jelas.
Dihadapannya sedang berdiri Tina dengan mata terpejam dan bibir yang juga monyong menantikan ciuman dari Ken.
" HUUAAA !!! " Teriak Ken begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya. Dia langsung beringsut mundur dengan cepat menghindari Tina.
" Hei Marimar, bawa dia pergi, cepat " Teriak Kiran kepada Ruby yang masih syok melihat Ken akan mencium Tina. Dengan cepat dia berjalan menghampiri Tina dan menyeretnya keluar dari sana.
" Tidak, tuan Ken !!! " Teriakan Tina hilang di balik pintu.
Sementara itu Ken yang masih terkejut berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
" Apa itu tadi ? " Tanyanya panik menunjuk pintu keluar.
" Itu tadi cinta mu ! " Sentak Kiran kesal dan pergi ke sofa yang ada di sudut ruangan.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Awas saja kalau aku tau kau dekat-dekat dengannya " Pesan Ken sesaat setelah Kiran turun dari mobilnya.
" Iya iya, cerewet sekali " Jawab Kiran dan kemudian pergi meninggalkan Ken.
Ken mungkin memang seseorang yang pencemburu namun sikapnya tidak seposesif Rai yang bahkan mengurung Ruby di mansionnya. Sikap Ken lebih luwes, dia membebaskan Kiran melakukan apapun yang dia inginkan. Dia percaya Kiran akan menjaga hati untuknya, namun dia tidak percaya pada laki-laki yang mendekati Kiran.
Dia kemudian melajukan mobilnya meninggalkan area universitas dan akan kembali menjemput Kiran nanti sore.
" Kiraan... " Panggil ketiga temannya berbarengan. Mendengar seseorang memanggil namanya Kiran menoleh.
Ketiga gadis heboh itu sedang berjalan ke arah mereka di tambah lagi bonus Bambang yang tersenyum padanya.
" Kau dari mana saja, 4 minggu kau tidak masuk " Tanya Dewi, temannya yang paling muda di antara mereka berempat.
" Aku sedang ada urusan pribadi " Jawabnya kikuk, penyakit lamanya seperti kambuh lagi. Semula Kiran mengira dia sudah bisa menjadi lebih "normal" saat melihat laki-laki lain, tapi nyatanya saat Bambang ikut mendekat tubuh Kiran bereaksi sendiri, seperti bersikap defensif kembali.
Mereka berlima berjalan menuju kelas mereka, seperti biasa mereka mengambil tempat duduk paling belakang untuk menghindari tatapan dosen dikala mereka sibuk bergosip.
Bambang yang duduk di sebelah Kiran juga tak absen dari mengabaikan penjelasan dosen. Dia terus saja menatap Kiran.
" Suasana kampus sepi tanpa mu " Bisiknya lirih kepada Kiran.
" Ah iya " Jawab Kiran lirih dan kembali memusatkan pandangannya pada penjelasan dosen.
" Kiran nanti malam ada festival kembang api, kau mau melihatnya ? " Tanya Bambang berbisik.
" Baiklah " Jawab Kiran lirih, tanpa berpikir dia mengiyakan ajakan Bambang hanya demi menyudahi percakapan mereka.
Pelajaran demi pelajaran telah selesai dan waktunya pulang kuliah. Para mahasiswa berjalan menuju gerbang universitas, termasuk Kiran dan kelima temannya.
" Kau tidak lupa bukan ? " Tanya Bambang melihat Kiran yang terus berjalan lurus hendak keluar gerbang.
" Ya ? " Kiran mengernyitkan alisnya bingung, membuat Bambang menghela napas maklum dan tersenyum.
" Kau janji mau datang ke festival kembang api dengan ku kan ? " Ulangnya mengingatkan.
" Ah itu... " Kiran tergagap, bingung mencari alasan untuk menolaknya.
" Kau sudah janji tadi " Saut Bambang cepat dan memegang tangan Kiran.
Kiran yang terkejut dengan perlakuan Bambang yang tiba-tiba memegang tangannya hanya bisa diam membeku, bingung harus bagaimana.
" Ya ? " Ucap Bambang dengan pandangan penuh harap.
" Umm... " Kiran semakin bingung.
" Hei lepaskan tanganmu darinya !! " Sebuah teriakan mengejutkan semua orang yang ada disekitar area kampus, termasuk Kiran dan Bambang, mereka menoleh ke arah asal suara, dan Ken sedang berdiri dengan berkacak pinggang marah.
Aish dia pasti melihat ini semua.
Kiran segera menepis tangan Bambang dan menyembunyikan tangannya di balik badannya.
" Kau jangan pernah menyentuhnya lagi " Ancam Ken dengan tegas, membuat Bambang juga ikut terpancing emosi.
" Memangnya kenapa ? Apa dia kekasihmu ? " Tanyanya sengit.
" Ya dia kekasihku, dan kami akan segera menikah, mau apa kau ? " Jawab Ken galak membusungkan dadanya.
Kiran dan teman-temannya yang melihat Ken dan Bambang beradu argumen diam saja saat Ken membuka identitas hubungan mereka. Namun Bambang tidak serta merta percaya begitu saja ucapan Ken. Bagaimana tidak, dia mengenal Kiran lebih lama dari Ken yang menurutnya baru beberapa kali bertemu, namun sikap Kiran padanya saja menjaga jarak, apalagi dengan Ken.
" Sudah hampir malam, ayo pulang " Tanpa basa basi Ken menarik tangan Kiran pergi.
Dengan emosi yang masih membuncah Ken mengemudikan mobilnya memecah jalanan yang lumayan padat. Mereka membiarkan hening menguasai keadaan. Baik Ken maupun Kiran sama-sama memilih diam tak menjelaskan apapun.
" Ken " Panggil Kiran lirih saat mobil yang dikemudikan Ken memasuki pelataran rumah.
" Turunlah dan cepat masuk, kau pasti lelah " Jawabnya acuh, masih kesal karena Kiran mengabaikan peringatannya.
__ADS_1
" Itu tidak seperti yang terlihat " Jawab Kiran melembut, dia mencoba menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi tadi.
" Aku butuh waktu untuk berpikir " Jawabnya sengau tanpa menoleh sedikitpun ke arah Kiran yang sudah memasang wajah memelasnya.
" Baiklah kalau begitu " Pasrah dan segera turun dari mobil, dia melambaikan tangannya kepada Ken sebelum Ken memutar mobilnya, namun Ken tidak membalas lambaian tangannya seperti biasa.
" Kenapa tak mau mendengarkan dulu sih " Gerutu Kiran kesal.
Dia segera masuk kedalam rumah namun rumah dalam keadaan gelap.
" Bu... " Panggil Kiran setengah berteriak, sepi tak ada jawaban.
Dia menyalakan lampu ruang tengah, dan mencari ibunya ke dalam kamar, namun tetap saja nihil, ibunya tidak ada dimanapun.
Kiran mengambil ponselnya dan akan menghubungi ibunya, tapi ternyata ponselnya mati.
" Ah ya tadi lowbat " Gumamnya seraya berjalan ke kamarnya dan segera mencharger ponselnya.
" Ting tung " Suara pesan masuk begitu Kiran menyalakan ponselnya. Dari ibunya.
Kiran ibu pergi ke rumah bibi di desa, mau membicarakan tentang pernikahanmu. Tuan Regis berniat mengundang seluruh anggota keluarga, jadi mereka juga harus hadir.
Kiran menghela napas, sendirian di rumah sebesar itu agak terasa menakutkan baginya.
" Tidak mungkin aku menghubunginya, melihat wajahku saja dia tidak mau " Gerutunya lagi.
" Aish biar saja, marah ya marah, sendirinya bilang tidak akan mengekangku seperti Ruby, tapi belum mendengar penjelasanku sudah marah-marah " Dia meletakkan ponselnya dan segera berganti baju lalu pergi tidur.
Sementara itu mobil Ken memasuki halaman mansion dengan kencan dan berhenti dengan dengan cepat di depan pintu utama, suara remnya bahkan berdecit sangat keras hingga seluruh anggota keluarga yang sedang berkumpul di ruang keluarga bisa mendengarnya.
" Kenapa lagi dia ? " Tanya Rai begitu melihat Ken yang menghempaskan tubuhnya di sofa.
" Kenapa ? Apa kau tidak sengaja menelan tali lagi ? " Tanya Regis usil.
" Aish ayah ini, kan sudah ku bilang jangan ucapkan kata tali di depanku, aku masih merinding jika mengingat hal itu " Omelnya kesal.
" Katanya kau akan menjemput Kiran, tumben sudah pulang ? " Tanya Ruby sambil menggoyang-goyang kereta dorong Raline agar dia tertidur.
" Entahlah " Jawab Ken asal, malas mengingat masalah tadi.
" Apa dia sudah tidur ? " Tanya Ken menujuk Raline dengan dagunya.
" Belum, seharian ini dia rewel sekali, mungkin karena masih menyesuaikan antara suasana rumah sakit dan rumah " Jawab Ruby memelas, seharian ini dia terus saja menimang Raline tapi tidak membuatnya tidur lebih lama.
" Ah ya benar, coba suruh Ken saja yang menggendongnya " Perintah Rai kemudian.
" Kenapa ? " Tanya Ken bingung.
" Kau tau Tina, dia dari desa dan punya banyak sekali mitos tentang bayi yang baru lahir, dia bilang saat bayi rewel setelah tali pusarnya lepas dia harus di dekatkan dengan tali pusarnya itu, tapi kau tau sendiri tali pusarnya sekarang ada di situ " Tunjuk Rai kearah perut Ken.
" Aish kalian ini ! Sudah ku bilang jangan bilang tali lagi ! " Teriaknya kesal, hal itu langsung membangunkan Raline yang baru saja terlelap.
" Sudahlah Ken, berkorban saja, gendong dia cepat, dia sudah menangis sejak tadi, kau tidak kasihan padanya ? " Perintah Regis tegas.
" Kalian selalu saja membully ku " Omelnya kesal, namun tak urung dia menghampiri Raline dan langsung menggendongnya, dan seketika itu juga Raline berhenti menangis.
" Wuah sepertinya mitos itu benar, lihatlah Raline langsung diam begitu Ken yang menggendongnya, ini pasti karena dia dekat dengan tali pusarnya " Ucap Ruby takjub.
" Terus saja, terus " Geramnya kesal sambil bergoyang goyang lembut menidurkan Raline.
Semua orang tertawa melihat Ken yang terus saja mengomel karena menjadi bahan godaan.
" Dimana Dylan ? " Tanyanya kemudian karena melihat Dylan tidak ada disana.
" Dia sedang belajar di perpustakaan " Jawab Regis santai.
" Yah setidaknya dia tidak pernah ikut menggoda ku seperti kalian, baguslah " Ocehnya menyindir dan melirik sinis ke arah semua orang.
Dan pucuk di cinta ulam pun tiba, Dylan datang sambil menenteng buku bacaan yang dibawanya dari perpustakaan mansion.
" Kenapa kau berisik sekali, suaramu terdengar sampai ujung lorong " Tanya Dylan penasaran.
" Itu semua karena mereka terus membully ku " Ucapnya kesal dan menunjuk semua orang dengan pandangannya.
" Sudahlah kak jangan hiraukan mereka " Dylan memberikan semangat kepada Ken dan menepuk pundaknya pelan.
" Augh.. aku sangat tersentuh denganmu adikku, hanya kau yang memberikan dukungan untukku " Jawabnya dengan nada manja gemas yang di buat-buat.
" Tentu saja aku harus mendukungmu, karena kalau kau marah-marah terus begitu bisa memutus tali persaudaraan " Ucapnya dengan tersenyum jahil.
" Ups " Dylan berpura-pura menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
" Sorry " Lanjutnya tersenyum jenaka kemudian segera duduk di samping Rai.
" Terkutuklah kau !!! " Geramnya kesal dengan wajah memerah dan otot yang menegang.
Sementara itu yang lain hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat Ken yang kesal setengah mati. Sedangkan Dylan dan Rai malah berhigh five seperti sudah merencanakan ini sebelumnya.
" Kau memang Loyard sejati " Ucap Regis di sela tawanya yang membahana.
__ADS_1