
Ken cemberut di dalam mobilnya saat menjemput Kiran, dia melajukan mobilnya dengan cepat dan sibuk mengutuki seseorang yang saat ini ada di kursi penumpang belakang bersama tumpukan cake yang dibelinya semalam.
" Biasanya kau pergi kesekolah naik apa ? " Tanya Ken ketus sambil meliriknya tajam melalui kaca spion. Dia bersumpah di dalam hati, besok saat menjemput Kiran lagi dia akan mengajak hinata, agar tidak ada lagi yang menumpang mobilnya seperti taksi saja.
" Naik bus " Jawab Dylan singkat membuang muka menghindari tatapan sinis Ken.
" Kalau begitu besok kau harus kembali naik bus lagi " Perintahnya dingin kepada Dylan.
" Tak masalah " Dylan lagi-lagi menjawab singkat dan mengedikkan bahunya.
Kiran yang menyaksikan suasana didalam mobil sangat tegang mencoba mencairkan suasana.
" Kita bisa berangkat bersama naik bus besok " Ucapnya lembut kepada Dylan yang langsung di sambut dengan rem mendadak dari Ken, membuat mereka semua terdorong kedepan.
" Besok aku akan menjemputmu lagi " Ken menyela cepat, dia terbakar cemburu lagi. Dylan memang hanya pelajar dan tentu saja usianya masih di bawah umur, tapi di mata Ken dia tetap sama, seorang laki-laki atau setidaknya berjenis kelamin laki-laki.
" Kalau begitu besok aku akan menumpang lagi " Jawab Dylan santai setelah membenahi posisi duduknya kembali.
" Tidak bisa aku besok akan membawa mobil hanya dengan 2 tempat duduk " Ken menjawab ketus.
" Aku tak masalah harus berdesak-desakan " Dylan seperti acuh dengan jawaban Ken.
Aku rasa bu Kiran memang wanita baik-baik, tidak akan ku biarkan dia bersama pemimpin geng sialan ini hanya berdua saja, bisa-bisa dia dalam bahaya.
" Kau !!! " Erang Ken menahan amarah, kalau saja dia bukan anak di bawah umur dan juga salah satu muridnya, sudah pasti Ken sekarang akan mengacungkan pistol ke kepalanya agar dia paham sedang berhadapan dengan siapa.
" Tidak apa-apa Ken, besok aku akan naik bus saja dan kau dengan Dylan bisa naik mobil mu " Kiran memilih mengalah dan menengahi, dia sebenarnya heran ada permasalahan apa antara Ken dengan Dylan sehingga mereka terlihat bermusuhan.
" Tidak boleh !! " Ucap Ken dan Dylan berbarengan, lalu setelah sadar masing-masing dari mereka membuang muka.
Ken melajukan kembali mobilnya, dan setelah beberapa lama mereka pun sampai dan memasuki area sekolah yang mulai ramai dengan murid-murid.
" Terima kasih cakenya yang semalam, aku sangat menikmatinya " Ucap Dylan kepada Kiran sesaat sebelum mereka keluar dari mobil.
Ken yang mendengar itu semakin merasa uring-uringan tidak terima, terbakar cemburu yang sudah mencapai ubun-ubunnya.
Aku harus bertanya padanya apa maksud Dylan tadi.
Ken terus memandangi Kiran dan mencoba mencuri kesempatan untuk mengobrol dengannya saat dia sibuk membantu Kiran membagikan kuenya, dan tentu saja puluhan ucapan terima kasih menghujani Kiran, membuat dia di kelilingi oleh guru-guru yang lain.
Namun seharian ini Ken malah disibukkan dengan berkas-berkas peralihan pusat perbelanjaan yang akan segera di buka, juga urusan sekolah dan ruangan baru Kiran yang tinggal 20 persen lagi hampir selesai.
Belum lagi deretan murid laki-laki yang mengantri di depan ruangannya demi melakukan sesi konseling bersama Kiran, dan yang membuat lebih aneh serta menjengkelkan, Dylan termasuk dalam salah satu murid yang mengantri tersebut. Membuatnya tidak bisa dengan tenang menanyakan maksud Dylan dengan " menikmati cakenya ", apakah mereka makan bersama atau Kiran hanya membaginya tapi tidak makan bersama. Semua pikiran-pikiran itu sangat mengganggu Ken yang memang sudah terganggu pikirannya sejak jatuh cinta pada Kiran.
Baik Kiran maupun Ken sama-sama sibuk dan belum sempat mengobrol sama sekali sampai bel makan siang berbunyi. Ken baru saja akan mengajak Kiran untuk makan siang bersama namun telepon dari ayahnya membuatnya mengurungkan niat.
" Angkat, tidak, angkat, tidak, angkat, tidak... " Ken bergumam sendiri, menimbang ponsel yang ada di tangannya.
__ADS_1
Tapi bukan kebiasaannya mengabaikan panggilan telepon dari Regis, jadi dengan terpaksa dia mengangkat panggilan tersebut.
" Halo Ken, ayah tau saatnya makan siang, tapi ayah ingin bicara soal peralihan, ayah harap kau luangkan waktumu sebentar " Perintah ayahnya yang mau tidak mau harus segera dituruti, ini masalah bisnis keluarga, tidak mungkin dia bersikap acuh.
Benar saja, pembicaraan peralihan melalui saluran telepon terjalin sangat lama, Ken sampai harus mengenakan handset karena tangannya terasa sangat pegal.
Pembicaraan itu bahkan berlanjut sampai waktu makan siang telah berakhir dan seperti belum menemukan titik terang, banyak sekali pertanyaan yang di ajukan ayahnya, ini karena ayahnya akan segera pensiun jadi sebelum dia pensiun semua hal yang perlu di periksanya harus sudah beres, nanti saat Junior lahir dia tidak ingin terbebani masalah apapun yang berkaitan dengan perusahaan lagi, semua akan diserahkan secara penuh kepada Ken dan Rai.
Bel yang menandakan berakhirnya waktu makan siang berbunyi, Kiran juga sudah kembali ke ruangannya, namun Ken masih belum menemukan alasan untuk menyudahi pembicaraan dengan ayahnya. Sedangkan Kiran sedang sibuk menulis sesuatu di buku jurnalnya.
" Mmm... ayah bisakah kita lanjutkan nanti di rumah, saat ini akan ada rapat guru, aku harus memimpinnya " Ken mencari alasan, jika pekerjaan di balas pekerjaan maka sudah pasti ayahnya akan mengerti.
Dengan penuh maklum Regis pun mengakhiri pembicaraan dengan Ken. Melihat layar ponselnya yang berkelip menandakan panggilannya telah berakhir, Ken pun menghembuskan nafas lega yang panjang sekali. Dia akan memfokuskan diri untuk bertanya pada Kiran.
Ken melirik Kiran di mejanya, dia sedang sibuk menulis sesuatu, Ken menimbang-nimbang dan mencari alasan yang tepat untuk memulai pembicaraan dengan Kiran. Tidak mungkin kan dia langsung bertanya perihal cake yang dia belikan semalam, terlalu kentara dan terlalu mengintimidasi.
" Ehem ehem " Ken berdehem untuk mendapatkan perhatian Kiran, namun Kiran sepertinya tidak terpengaruh sama sekali, dia tetap saja sibuk menulis.
" Ehem ehem " Ken berdehem lebih keras lagi. Tapi kali ini dia malah tersedak oleh air liurnya sendiri dan membuatnya terbatuk-batuk.
Kiran yang melihat itu segera menoleh ke arah Ken, dia melihat Ken duduk terbungkuk-bungkuk karena batuk. Wajah dan matanya merah karena batuk yang cukup keras. Kiran yang melihat ada yang tidak beres dengan Ken segera menghampirinya, mengambilkan sebotol minuman yang ada di atas mejanya.
" Kau baik-baik saja ? " Tanya Kiran khawatir karena wajah Ken sangat merah.
" Ya aku baik-baik saja " Ken berusaha meredakan batuknya dengan terus berdehem.
Aku tidak pernah bisa tampil keren di depan Kiran, selalu saja hal yang memalukan untuk di perlihatkan.
" Apa kau sakit ? " Tanya Kiran sambil menepuk-nepuk punggung Ken pelan.
" Tidak aku sehat, sangat sehat " Ken menjawab sombong, dia menjelaskannya terlalu bersemangat dan berlebihan karena tidak ingin terlihat lemah di depan Kiran.
" Ok " Kiran hanya menjawab singkat, terkejut lebih tepatnya karena reaksi Ken yang berlebihan.
" Mmm... Anjeli ah Kiran maksud ku, apa kau menikmati cake mu ? " Tanya Ken ragu-ragu, dia tidak bisa menemukan topik yang tepat untuk memulai pembicaraan jadi dia memutuskan langsung saja tanpa basa basi.
" Ya aku sangat menikmatinya, oh ya aku belum berterima kasih dengan baik pada mu, terima kasih " Kiran membungkukkan badannya dengan penuh sopan.
" Ah tidak masalah, kalau kau ingin makan cake seperti itu lagi bilang saja padaku, di rumahku ada banyak koki, pasti akan lebih enak daripada di toko milik Bambang itu " Cibir Ken ketus mengingat tentang Bambang, dia masih memikirkan cara terbaik agar membuat Bambang menjauh dari Kiran.
" Aku tidak ingin merepotkan mu, aku bisa beli sendiri lain kali " Kiran menolak dengan sopan, tidak ingin lagi membuat Ken semakin merepotkan Ruby jika harus terus mentransfer melalui rekeningnya.
" Tentu saja tidak, itu tidak merepotkan sama sekali, jujur saja itu pasti akan sangat menyenangkan untuk para koki, kau tau biar mereka punya kerjaan " Ken menjelaskan dengan yakin.
" Mmm... apa kau... " Ken akan memulai pertanyaan pokoknya, namun terhenti karena masih belum menemukan kata-kata yang tepat, dia tidak ingin terlihat seperti psikopat yang terobsesi kepada Kiran yang justru akan menakutinya.
" Ya ada apa ? " Kiran bertanya heran karena melihat keraguan dalam kata-kata Ken.
__ADS_1
" Mm... itu, apa kau... cake... " Lidah Ken seakan kaku tidak bisa diajak kompromi.
" Hmm ? " Kiran mengernyitkan keningnya semakin penasaran ada apa dengan Ken.
Tok, tok, tok !!! Tiba-tiba suara ketukan di pintu mengejutkan mereka berdua, Ken menoleh kesal kepada siapapun itu yang mengetuk pintunya, dan ternyata Dylan sedang berdiri bersandar di pintu, dengan gaya yang sok keren menurut Ken.
" Sudah waktunya pulang " Dylan mengingatkan dengan raut wajah menyebalkan.
" Oh baiklah " Kiran segera kembali ke tempat duduknya untuk merapikan mejanya.
Dasar bocah menyebalkan sialan, dia mengganggu saja.
Ken menghela napas kasar kearah Dylan yang malah disambut seringai mengejek darinya.
Jangan harap kau bisa berduaan saja dengannya, akan ku selamatkan dia bagaimanapun caranya.
Dylan menatap sinis Ken yang sedang kesal tanpa di tutup-tutupi.
" Kiran aku akan mampir dulu ke suatu tempat, jadi aku rasa kita akan pulang terlambat " Ken mencoba beralasan agar Dylan pulang sendiri saja, dan membiarkan Kiran juga Ken melanjutkan kencan mereka kemarin yang terlihat buruk.
" Oh tidak masalah, aku dan Dylan bisa pulang naik bus saja " Kiran menjawab polos dan gelak tawa terdengar dari mulut Dylan.
Ken dan Kiran kompak menoleh ke arah Dylan yang sedang memegangi perutnya sambil terus tertawa. Ken semakin kesal menatapnya tapi Kiran malah heran dengan tingkah laku Dylan.
" Ayo bu kita cepat pulang, atau kita akan tertinggal busnya " Dylan mengajak Kiran dan melayangkan pandangan penuh kemenangan kearah Ken.
" Kiran maksud ku, kita akan mampir dulu ke suatu tempat, jadi bocah itu biarkan saja pulang sendiri naik bus " Ken menjelaskan dengan cepat karena merasa Kiran salah paham.
" Oh tidak bisa begitu, kita berangkat bersama jadi pulang juga harus bersama " Dylan menolak tegas, tidak menyangka Ken akan memilih melawannya.
" Tentu saja aku bisa, kau kan menumpang di mobil ku, jadi terserah aku memilih siapa yang boleh naik dan tidak kedalam mobilku " Sanggah Ken ketus.
" Apa kau tidak pernah belajar sopan santun, kalau kau mengajak pergi seseorang berarti kau harus bertanggung jawab penuh padanya sampai saat dia di pulangkan " Dylan menyangkal sengit.
" Memangnya siapa yang mengajakmu pergi, kau sendiri yang melompat masuk ke mobil ku " Nada Ken sudah melonjak naik satu oktaf.
" Bukan aku yang melompat naik, tapi aku berangkat bersama bu Kiran, jadi kalau dia naik bis aku juga akan naik bis, kalau dia bersama mu aku juga akan terus menempel padanya seperti lem " Dylan tanpa sadar sudah semakin mendekat ke arah Ken saat sibuk berdebat dengannya.
" Memangnya kau siapanya Kiran ? Kau babysitternya ? Kenapa mengatur-ngaturnya ? Ken yang tidak terima membusungkan dadanya ke arah Dylan yang sudah di depannya.
Dylan yang juga merasa tertantang ikut membusungkan dadanya, dan saat ini jarak mereka hanya terbatas sejauh 20 senti.
" Tanya saja bu Kiran, dia lebih memilih kau atau aku " Tantang Dylan penuh percaya diri.
" Ok siapa takut " Ken menerima tantangan Dylan juga dengan penuh percaya diri.
" Kiran apa... " Mereka berdua menoleh kearah Kiran untuk meminta keputusannya, namun ruangan kosong, tidak di temukan keberadaan Kiran disana.
__ADS_1
Rupanya saat mereka sibuk berdebat tadi Kiran sudah lebih dulu pergi karena kesal melihat sikap kedua laki-laki itu yang seperti popeye dan brutus.
Tunggu dulu, kalau mereka popeye dan brutus lantas aku olive nya dong ? Kiran.