
Hari baru, sebagian orang menyambutnya dengan antusias dan semangat pagi, seperti Ken contohnya. Dia sangat bahagia karena semalam Nyai Marimar Durjana, panggilan Ken untuk Ruby, mengabarkan bahwa dia telah berhasil meyakinkan Siluman Raja Kerbau untuk mengembalikan mobilnya.
" Kakak ipar ternyata benar-benar luar biasa, ayah sampai tidak berkutik di buatnya " Gumam Ken kepada dirinya sendiri di depan cermin saat bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Meskipun kartu kreditnya belum di aktifkan tapi setidaknya dia sudah di izinkan untuk membawa mobil.
Ken berjalan dengan bersiul-siul ceria menuju rumah utama, dia akan sarapan bersama dengan anggota keluarga yang lain.
" Good morning " Sapanya ceria kepada semua anggota keluarga yang sudah berkumpul di meja makan.
" Selamat pagi " Balas Ruby tersenyum hangat juga.
" Ayah, kunci mobilnya " Ken mengulurkan tangan meminta barang berharga miliknya.
" Ingat tepati janji mu " Jawab Regis dengan tegas.
" Janji ? " Tanya Ken bingung mendengar jawaban ayahnya. Dia menoleh ke arah Ruby meminta penjelasan dengan pandangan matanya. Namun yang dia dapat hanya sikap salah tingkah dari kakak iparnya tersebut.
" Kenapa sekarang kau semakin tidak konsisten ? " Regis melirik tajam ke arah Ken.
" Janji apa ? " Tanya Ken bingung. Dia tidak merasa menjanjikan apapun kepada siapapun.
" Semalam Ruby bilang kalau kau butuh mobil untuk mengantar jemput kekasih mu, calon menantu ayah. Kalau bukan karena itu, ayah tidak mungkin mengembalikan mobil mu. Kenapa sekarang kau pura-pura lupa ? " Sekarang Regis menatap dingin Ken. Ekspresinya tidak sedang dalam mode bercanda.
Ken melirik Ruby panik.
Apa yang sebenarnya dia katakan pada ayah, kenapa jadi sampai serumit ini.
Ken menahan geram sekaligus panik. Salah bicara maka mobilnya akan kembali melayang.
" Tentu saja " Ken menjawab terbata-bata.
" Baiklah, segera bawa dia kerumah dan tentukan tanggal pernikahan. Kau tau kakak mu saja tidak basa basi dalam hal pernikahan, lebih cepat lebih baik " Regis memberikan perintah tegas kepada Ken, yang di sambut Ken dengan senyum terpaksa nya.
Setelah itu mereka sarapan dalam diam. Ken tidak berselera untuk memakan sarapannya. Dia berharap ayahnya segera pergi dan dia akan menuntut penjelasan kepada Ruby.
Waktu terasa sangat lambat bagi Ken, ini adalah sarapan terlama dalam hidupnya. Dan pada akhirnya yang di tunggu-tunggu pun tiba. Regis mengakhiri sarapan dan akan pergi bekerja.
" Semoga pekerjaan ayah lancar " Ken mengucapkan salam perpisahan sesaat sebelum ayahnya menaiki mobil. Dan mobil yang di kemudikan sopir itu menghilang tertutup gerbang.
" Hei durjana ! " Ken berseru buru-buru kepada Ruby.
" Ah maksud ku kakak ipar " Ken meralat panggilannya karena melihat Rai yang melotot ke arahnya.
" Kau bicara apa pada ayah ? " Tanya nya panik.
" Maaf semalam aku berusaha merayu nya, kau tau ayah tidak bergeming. Lalu saat ku bilang itu karena kau membutuhkan mobil untuk mengantar jemput calon istri mu, ayah langsung setuju tanpa berpikir dua kali " Ruby menjelaskan dengan perasaan tidak enak.
" Kau tau aku belum punya kekasih, jadi mana mungkin aku punya calon istri " Ken menjawab kesal sekaligus putus asa. Dia berbahagia dengan status single nya saat ini.
" Sudah kau dengan Tina saja " Ruby memberikan saran asal.
" Tidak !!! " Jawab Ken dan Rai berbarengan.
" Aku tidak akan membiarkan Junior punya bibi bermulut ember seperti Tina, apa jadi nya nanti saat Junior sudah besar " Rai menolak tegas.
" Aku juga menolak usulmu " Ken ikut menimpali.
__ADS_1
" Aku tidak ingin menjadi squidward yang terjebak bersama spongebob. Bayangkan setiap hari aku harus mendengar suara tawa nya, ahahaha...ahahaha...ahahaha " Ken menirukan suara tawa tokoh kartun yang dia maksud.
" Tidak, tidak, tidak " Ken menyilangkan kedua tangannya di dada.
" Lalu bagaimana ? Kalau kau tertangkap sedang berbohong, ayah akan menarik mobil mu untuk selamanya, dan kau harus rela naik ojek online seumur hidup mu " Ruby ikut bingung juga, merasa terjebak oleh permasalahan Ken.
" Kenapa tidak Kiran saja ? Dia anak yang pendiam, aku rasa itu akan cocok dengan sikap mu yang konyol, setidaknya kalian akan saling melengkapi. Seperti air dan api " Rai menyarankan dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Tidak !!! " Kali ini Ken dan Ruby yang sepakat untuk menolak.
Rai memandang mereka berdua dengan heran.
" Aku tidak ingin menyerahkan sahabatku pada nya, laki-laki konyol sepertinya dengan Kiran ku ? Tidak, tidak, tidak " Ruby mengusir bayangan di kepala nya dengan gerakan tangan.
" Aku juga tidak mau punya kekasih orang yang kelihatannya tidak waras itu " Ken menolak dengan sinis.
" Ah sudahlah, urus urusan mu sendiri, kenapa aku harus pusing memikirkan mu. Sayang aku harus berangkat kerja dulu " Pamit Rai kepada Ruby, dia kemudian mencium kening Ruby dan Junior yang ada di perut Ruby.
" Hati-hati di jalan Roma ku " Balas Ruby setengah berteriak karena Rai sudah pergi agak menjauh.
" Kau benar-benar sesuatu marimar " Ken menyindir Ruby dan meliriknya tajam.
" Apa perlu kita buka audisi mencari calon istri untuk mu ? " Ruby menyarankan. Bagaimana pun dia ikut andil dalam masalah ini, dan dia harus bertanggung jawab.
" Tidak, kau pikir aku tidak laku sampai harus mengadakan audisi, aku akan mencari nya sendiri " Ken menjawab ketus dan pergi meninggalkan Ruby seorang diri di depan pintu utama.
Ken membuka pintu mobil sport warna merahnya. Sangat khas anak muda, mobil dengan hanya 2 pintu juga 2 kursi, satu untuk penumpang dan satu untuk pengemudi.
" Halo hinata, akhirnya kita bersama lagi, aku sangat merindukanmu, apa para pelayan memperlakukan mu dengan baik ? " Ocehnya kepada mobilnya yang dia namai dengan nama salah satu tokoh kartun favorite nya.
Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, bersiul dan bergoyang mengikuti alunan musik dari audio mobilnya. Terkadang juga ikut menyanyikan lagu yang sedang dia putar.
"... Kirana jamalah aku, jamahlah rinduku... " Ken bernyanyi dengan kepala yang mengangguk-angguk mendengar lagu favorite nya.
Dan saat itu tanpa sengaja dia melihat seseorang yang dia kenal sedang berjalan menuju ke arah yang dia tuju juga. Ken dengan jelas mengenali punggung wanita tersebut karena kemarin dia mengamati punggung tersebut dengan lama.
Dia menghentikan mobilnya setelah melewati wanita itu. Melirik dari kaca spionnya. Tebakannya tepat. Itu adalah Kiran.
Kenapa aku berhenti ? Aish aku merasa tidak enak sudah merepotkannya kemarin dengan pingsan, ya mungkin ini saatnya aku membalas budi.
Ken kemudian keluar dan menuju arah belakang mobilnya, bersandar dengan gaya sok keren.
Dia mengamati Kiran dari jauh. Gadis itu berjalan dengan menundukkan kepalanya terlalu dalam, dan selalu mundur menghindar bila berpapasan dengan seorang laki-laki, seakan-akan para lelaki itu adalah virus berbahaya. Sikap anehnya sangat mengusik Ken. Belum pernah dia bertemu dengan gadis seaneh itu.
Bayangan tentang Kiran yang dulu bertemu dengannya walau hanya sekali terputar kembali di ingatannya.
Aneh dulu saat bertemu dengan ku Kiran biasa saja, dia bahkan menatap wajahku dengan mata berbinar.
Ken menghela nafas dan mengedikkan bahu nya, dia sadar seseorang bisa berubah sangat cepat, dan contohnya di depan mata, melihat Ignes dan Lucas yang awalnya normal lalu menjadi aneh membuat Ken mengabaikan rasa penasarannya kepada sikap Kiran yang jadi seperti ini.
" Good Morning " Sapa Ken riang begitu Kiran berjalan dekat dengan mobilnya.
Kiran yang mendengar sapaan itu segera mengangkat wajahnya dan menoleh asal suara. Dia terkejut dan lagi-lagi sikap defensif nya membuatnya mundur menghindari Ken.
" Selamat pagi tuan ah pak " Kiran terbata-bata menjawab sapaan Ken.
" Cih " Ken mencibir Kiran yang masih memanggilnya dengan sebutan tuan atau pak.
__ADS_1
" Ayo masuk, bukankah kita searah " Ken mengajak Kiran dengan gerakan kepala nya.
" Tidak terima kasih, saya jalan kaki saja " Kiran menolak gugup.
" Jangan salah paham dulu, ini untuk membalas pertolongan mu kemarin karena sudah membawa ku ke ruang kesehatan " Ken memberikan penjelasan karena mendengar penolakan Kiran.
" Tidak apa-apa terima kasih " Kiran menolaknya lagi, dan buru-buru berjalan akan mendahului Ken.
Tapi tiba-tiba Ken melompat ke depan Kiran.
" Hap " Ucap Ken berbarengan dengan tubuhnya yang mendarat di depan Kiran.
Membuat Kiran terkejut dan refleks jatuh terduduk, dengan panik dia segera menyeret tubuhnya mundur menghindari Ken.
Krakk !! Terdengar bunyi kain sobek dari arah Kiran. Ken terkejut dan memandang rok selutut Kiran yang sobek di bagian belahan pahanya. Kiran panik dan buru-buru menutupinya dengan tas yang dia bawa. Sebenarnya robekan itu tidak terlalu tinggi, tapi reaksi Kiran yang defensif membuatnya terlihat seperti itu sebuah bencana yang besar.
" Kiran tenang, tenang " Ken berusaha menenangkan Kiran yang panik.
Saat ini semua mata orang yang lewat sedang mengawasi mereka. Menatap tajam ke arah Ken dengan pandangan curiga. Apalagi melihat Kiran yang panik dan sibuk menutupi paha nya semakin menambah kecurigaan orang-orang. Mereka bahkan berhenti berjalan untuk mengawasi mereka berdua.
" Tidak ada apa-apa, tidak ada apa-apa. Kami sepasang kekasih, dia terpeleset dan jatuh " Ken menjelaskan dengan kikuk ke arah orang-orang yang menatap nya.
Dia kemudian mengulurkan tangan untuk membantu Kiran berdiri.
" Terima tangan ku atau mereka akan mengira aku berbuat aneh-aneh padamu, kau mau aku di hakimi masa ? " Ucap Ken dengan lirih.
Kiran mau tak mau harus menerima uluran tangan Ken karena mata semua orang sedang mengawasi mereka saat ini. Ken membantu nya berdiri dan tersenyum kepada semua orang, seakan membuktikan bahwa mereka memang sepasang kekasih. Kiran langsung menarik tangannya begitu dia sudah berdiri. Dia kembali sibuk menutupi pahanya yang sekarang terlihat akibat sobeknya rok yang dia pakai.
Melihat hal itu Ken dengan cepat membuka jas nya dan melingkarkan nya kearah pinggang Kiran. Mengikat kedua bagian tangan dari jasnya. Kiran yang terkejut dengan aksi tiba-tiba Ken hanya bisa diam membatu.
" Lihat kan ? " Ucapnya kepada semua orang setelah selesai menutupi bagian rok Kiran yang sobek dengan jasnya.
Orang-orang pun segera mempercayai Ken dan melanjutkan perjalanan mereka.
" Fiuh.. hampir saja aku di kira laki-laki mesum " Gumam Ken sendiri.
" Ayo jalan dengan ku " Ajak Ken lagi.
" Tidak terima kasih " Kiran menjawab menunduk.
" Aku tidak akan berbuat macam-macam dengan mu, aku orang baik-baik, lagi pula bagaimana kau akan berjalan dengan keadaan seperti itu ? " Ken menunjuk rok Kiran dengan wajahnya.
Kiran kembali menunduk melihat keadaanya yang kacau saat ini. Dia memang tidak mungkin berjalan kaki dengan keadaannya. Dan akhirnya dia hanya mengangguk pelan menyetujui ide Ken untuk menumpang di mobilnya.
Kiran membuka pintu mobil dan Ken berjalan memutar dari belakang menuju kursi pengemudi.
" Baiklah Hinata ayo jalan " Seru Ken setelah dia duduk di belakang kemudi.
Dia memasukkan perseneling dan kemudian melajukan mobilnya. Namun baru berjalan beberapa meter mobil yang mereka tumpangi mendadak mati.
" Tidak, kenapa ini ? Hinata apa kau cemburu ? " Ken berbicara sendiri. Kiran yang duduk di kursi penumpang di sampingnya hanya mendengarkan dengan menahan senyumnya melihat tingkah konyol Ken.
" Ah tidak bahan bakar nya habis " Seru Ken putus asa bercampur malu setelah melihat layar dashboard nya, jarum di penanda bahan bakarnya menunjuk ke arah E.
Kenapa harus saat bersama wanita ? Aku memang sial kalau harus berurusan dengan wanita.
Ken menggaruk belakang kepalanya dengan kesal dan malu.
__ADS_1