Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Satu Atap


__ADS_3

Malam hari pun tiba, masa menegangkan Ruby sudah berakhir, keponakan kecil Ken telah lahir. Saat ini semua keluarga sedang berkumpul bersama, ayahnya bahkan tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Raline.


Ken yang ikut terharu dengan perjuangan Ruby membayangkan bagaimana bila itu terjadi pada Kiran. Malam semakin larut, dan pikiran Ken terus saja melayang pada Kiran. Dia memutuskan untuk menemui Kiran.


Mobil Ken masuk ke halaman rumah yang di jaga dengan ketat tersebut, setelah berbincang-bincang sebentar dengan para penjaga dia memutuskan untuk menemui Kiran di kamarnya. Dia mengetuk pintu Kiran, namun tidak ada jawaban. Sepertinya Kiran sudah tertidur.


Ken memutuskan istirahat sebentar di ruang tengah, meluruskan punggungnya yang terasa sakit setelah menunggui Ruby melahirkan. Dia duduk bersandar dan memejamkan matanya.


" Kenapa malam-malam kesini ? Seperti tidak punya rumah saja " Celetuk Dylan saat keluar kamar hendak mengambil air minum.


Ken yang terlalu lelah memilih mengabaikan ocehan Dylan yang selalu saja bernada permusuhan.


" Sampai kapan kami harus bersembunyi ? Kau bilang menangkap penjahat itu mudah, buktinya sudah beberapa hari dan kau masih terlihat santai saja ? Apa ini alasanmu untuk mengulur waktu ? Karena sebenarnya memang benar Klan kalian melakukan semua kejahatan itu ? " Sinis Dylan saat kembali dari dapur menenteng gelas berisi air putih.


Ken yang memang sudah sangat kepayahan langsung emosi mendengar ucapan Dylan. Hubungannya dengan Kiran tidak berjalan baik, dan sekarang di tambah lagi dengan Dylan. Ken bangkit dengan malas.


" Sini kau, jangan hanya berdiri disana, sini mendekatlah, biar ku robek sekalian mulutmu yang tidak tau sopan santun itu " Saut Ken kasar.


Melihat hal itu, sedikit rasa ngeri menjalari tubuh Dylan, dia tidak menyangka Ken akan mengeluarkan sifat aslinya.


" Kau mengira aku orang yang santai bukan ? Makanya kau mengoceh seenaknya seperti itu ? Hei luruskan pikiranmu. Aku putra mahkota dari Klan, yang bisa mematahkan lehermu dalam 30 detik tepat setelah aku meletakkan tanganku di tubuhmu. Jangan lupakan hal itu " Tatap Ken tajam ke arah Dylan.


Gelas di tangan Dylan sedikit bergetar, memang benar selama ini dia melihat Ken sebagai sesosok orang yang konyol dan tidak berbahaya, namun kali ini saat mereka hanya berdua saja, Ken seperti singa yang menyembunyikan taringnya selama ini, dan sekarang dia menyeringai lebar untuk menunjukkan bahwa taringnya masih pada tempatnya.


Dylan salah tingkah, dia tidak bisa menjawab apapun.


" Jaga ucapanmu nak, kalau tidak bukan hanya penjahat itu yang akan ku habisi tapi kau juga " Ken mengancam Dylan tidak main-main, dia berlalu pergi menuju kamar lainnya. Ken memutuskan untuk menginap semalam disana.


🍁🍁🍁🍁🍁


Pagi menjelang, Kiran bangun lebih awal untuk membantu para pelayan menyiapkan sarapan. Dia tidak ingin hanya bermalas-malasan dan bersikap sok ratu di tempat persembunyiannya.


" Selamat pagi " Sapanya pada para pelayan yang sedang membantu para koki menyiapkan bahan makanan.

__ADS_1


" Selamat pagi nona muda " Mereka menjawab kompak dan menundukkan kepala.


" Sudah ku bilang jangan panggil nona muda, panggil saja Kiran atau Kiki " Sautnya dengan senyum ramah.


" Anda baik sekali, sama seperti nyonya Ruby, oh ya kami dengar anda teman nyonya Ruby, kemarin nyonya Ruby sudah melahirkan bayinya " Oceh seorang pelayan wanita dengan antusias, namun kemudian kepala koki menengurnya karena bersikap keterlaluan terhadap majikannya.


" Tidak apa-apa, bicara sesantainya saja " Kiran tersenyum ramah.


" Bagaimana kondisi Ruby dan bayinya ? Pasti sangat lucu sekali, melihat Ruby yang cantik dan Tuan Rai yang tampan pasti bayinya akan sangat menggemaskan " Lanjut Kiran antusias dan membantu menata piring di atas meja.


" Kami belum mendapat foto apapun tentang bayinya, mana mungkin kami berani meminta foto tuan putri " Saut salah satu pelayan dengan raut wajah sedih. Melihat itu Kiran segera kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya, dia ingin melakukan panggilan video dengan Ruby.


" Kenapa ? " Saut Ruby serak, raut wajahnya masih mengantuk dan rambutnya yang sedikit berantakan.


" Aku dengar kau sudah melahirkan ? Aku ingin lihat tuan putri ku ? " Jawab Kiran antusias.


" Kau memang sahabat sejati, bukannya menanyakan bagaimana kabarku setelah melahirkan kau malah langsung bertanya dimana anak ku " Saut Ruby sinis dan di jawab dengan gelak tawa dari Kiran.


" Aku tidak peduli padamu, sekarang yang aku pedulikan hanya anak mu, sudah waktunya kau pensiun dari pusat perhatian " Kiran terkekeh menjawab ucapan Ruby.


" Dia masih tidur sekarang, aku akan mengirimkan fotonya saja, dan aku akan kembali tidur, jadi jangan ganggu aku " Oceh Ruby dengan wajah lesu.


" Kenapa wajahmu begitu ? " Tanya Kiran penasaran.


" Hei coba saja melahirkan dulu baru kau tau rasanya, aku seperti habis berlari marathon sejauh 10 kilo, dan sekarang aku harus memulihkan tenaga ku " Ruby menjelaskan dengan lemas.


" Baiklah baiklah aku mengerti " Jawab Kiran masih terkekeh dan kemudian memutuskan sambungan teleponnya. Tak berapa lama Ruby sudah mengirimkan lebih dari 10 foto baby Raline hasil jepretan Rai. Tuan Regis bahkan sudah memanggil fotographer profesional untuk memotret Raline dari berbagai sisi.


Kiran yang melihat deretan foto itu tersenyum gemas, bagaimana tidak bayi mungil berpipi tembam seperti bakpao dan merona merah itu sangat mirip dengan Rai, dari alis sampai mulut, tidak terlihat sama sekali jejak Ruby disana.


Ini sih tuan Rai versi perempuan, bahkan tuan Rai saja bisa secantik ini kalau berwujud perempuan. Lalu bagaimana perempuan asli seperti ku.


Kiran terkekeh sendiri dengan lamunannya. Dia terus larut dalam gambaran-gambaran baby Raline di ponselnya.

__ADS_1


" Kalau aku menikah dengan Ken, aku harap anakku akan sepertinya juga, pasti sangat menggemaskan " Kiran tanpa sadar mengoceh sendiri.


" Omo ! Aku mengoceh apa, menikah dengan Ken hahaha " Kiran tertawa canggung sendiri, dia kemudian menghalau pikiran-pikiran itu dari kepalanya dan bergegas ke dapur untuk menunjukkan foto-foto Raline pada para pelayan.


Semua masakan telah siap, Kiran juga telah bersiap-siap dengan rapi. Hari ini dia ingin mengunjungi Ruby. Dia sedang duduk di meja makan menunggu Dylan untuk sarapan bersama. Namun Kiran sangat terkejut saat melihat Ken yang berjalan pelan ke meja makan.


" Semalam aku menginap disini " Ucap Ken malu-malu, berhenti dengan jarak sekitar 1 meter dari meja makan, meskipun mereka tidur terpisah, tapi Ken merasa sudah seperti pengantin baru yang tinggal satu atap.


Apa begini nantinya saat aku sudah menikah dengan Kiran, dia akan menunggu ku di meja makan setelah selesai memasak dan...


Wajah Ken merona malu membayangkannya.


Aah apalagi di tambah dengan anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Andai saja itu anak kembar, pasti akan ramai, anak yang seperti..


Ken kembali dengan lamunan tentang masa depan.


" Selamat pagi " Dylan tiba-tiba berjalan mendahuluinya ke arah meja makan, membuat khayalan indah Ken seketika berubah saat melihat Dylan, dan wajah anak-anak yang menggemaskan tadi seketika berubah menjadi wajah Dylan yang menyebalkan namun dalam tubuh anak kecil.


Mama...mama...


Begitulah anak kecil itu meronta-ronta meminta gendong Kiran.


" Tidak !!!! " Jerit Ken ketakutan. Membuat Kiran dan Dylan juga beberapa pelayan yang berlalu lalang di sekitar meja makan terkejut dan kompak menoleh ke arah Ken.


Wajah Ken pucat pasi dengan mulut mengangga dan mata mendelik, ekspresi ketakutan seperti melihat hantu.


" Ada apa ? " Tanya Kiran khawatir, berdiri mendekat ke arah Ken.


Ken yang masih ketakutan, menunjuk Dylan dengan tangannya yang gemetaran. Kiran menoleh cepat ke arah Dylan, memeriksa apa yang salah dengan Dylan. Sang objek sendiri juga melihat Ken dengan tatapan heran juga takut.


" Kenapa tuyul itu ada disitu ? " Tanya Ken terbata-bata.


" Tuyul ? " Semua orang yang ada disitu kompak menoleh ke arah Dylan dengan terkejut.

__ADS_1


Apa-apaan dia ? Aku lebih suka rembo daripada tuyul.


Dylan tersenyum kikuk menghadapi tatapan mata semua orang.


__ADS_2