
Sabtu yang cerah, matahari bersinar terang dan hangat, angin berhembus semilir menambah indahnya akhir pekan.
Hari ini tepat 20 hari kelahiran Raline, semua media berlomba-lomba mencari informasi tentang Baby R, namun sejauh ini hanya nama dan jenis kelaminnya saja yang berhasil mereka dapatkan sebagai biodata Raline, selebihnya nihil.
Pihak rumah sakit sangat menjaga ketat kerahasiaan informasi tentang Raline, bahkan tidak sembarang perawat yang dapat melihatnya.
Perawat yang telah lulus seleksi pun dapat merawat Raline setelah melalui pemeriksaan yang ketat, tidak ada ponsel, tidak ada kamera.
Dan pagi ini Raline yang mengunjungi kakeknya dari pihak Ruby di ruangannya mendapat panggilan dari perawat bahwa dia akan menjalani pemeriksaan rutin.
Para perawat yang selalu mendampingi Raline dan juga Ruby pun kembali ke ruangannya. Tak berselang lama dokter anak dan beberapa perawat yang lain datang.
" Apakah dia baik-baik saja ? " Tanya Ruby kepada dokter begitu dia selesai melakukan pemeriksaannya.
" Tentu saja nyonya, Baby Raline baik-baik saja dan sehat, beratnya bahkan sudah bertambah 2 kilogram, tak heran pipinya mengembang begitu cepatnya " Ucap Dokter anak tersebut dengan lembut.
" Syukurlah " Ruby menghela napas lega, meskipun dia tau Raline selalu sehat-sehat saja tapi tetap saja setiap sesi pemeriksaan dia dan Rai merasa sangat tegang.
" Tapi dokter tali pusarnya belum lepas " Perawat yang memakaikan baju Raline pun memberitahu dokter dengan berbisik lirih.
Namun telinga tajam dan insting Ruby sebagai ibu baru menangkap ucapan perawat tersebut. Seketika wajahnya berubah pias dan panik.
" Apanya yang belum lepas nona ? " Tanya Ruby cemas.
" Ah itu bukan apa-apa nyonya, hanya tali pusarnya " Jawab Dokter keibuan tersebut masih dengan lembut dan tersenyum.
" Tali pusar ? " Tanya Rai bingung, begitu juga dengan Ruby. Selama ini mereka belum pernah memandikan Raline atau mengganti popoknya atau bajunya dengan tangan mereka sendiri, tak heran mereka tidak tau ada benda bernama tali pusar di tubuh Raline.
" Siapa yang berani-beraninya mengikatkan tali di pusar Raline ? Hah ! " Bentak Rai marah. Pikirannya langsung menuju pusarnya, di pusarnya tidak ada tali atau apapun itu, jadi kenapa di pusar putrinya ada tali.
Dokter dan para perawat yang mendengar bentakan Rai semuanya terlonjak kaget, bahkan Ruby juga.
" Sepanjang aku hidup aku belum pernah melihat pusar seseorang terikat dengan tali, lihat ini, lihat !! " Omel Rai masih dengan berapi-api, dan dia segera membuka kaosnya untuk menunjukkan pusarnya.
Ruby yang bingung dengan kemarahan Rai menjadi lebih bingung lagi melihat Rai yang sekarang bertelanjang dada. Tubuhnya yang putih atletis di hiasi otot perut berbentuk roti sobek itu pun sukses menghipnotis semua wanita yang ada di dalam ruangan itu.
Pagi-pagi aku sudah sarapan roti sobek hmmmm...
Batin perawat itu menelan ludahnya dengan kaku.
Ya Tuhan, belasan tahun aku menikah dengan suamiku tapi baru kali ini aku melihat sendiri apa itu perut sixpack, perut suamiku hanya berisi lemak hingga menjadi onepack. Dia harus diet, segera...
Batin dokter anak itu menatap perut Rai tanpa berkedip sekalipun.
" Ti-tidak tuan bukan begitu, bukan ada seseorang yang mengikatkan tali pada pusarnya. Hanya saja itu sangat seksi " Oceh dokter tersebut melantur, matanya masih saja fokus pada perut sixpack milik Rai.
" Dokter benar tuan, tak masalah tali pusarnya tidak lepas asalkan perutnya terus terlihat seperti itu " Perawat itupun ikut menimpali tanpa sadar.
Ruby yang sadar segera menarik kaos Rai dan menyuruhnya memakainya kembali.
" Jangan di tutup " Teriak Dokter dan perawat itu bersamaan, masih dalam pengaruh hipnotis.
" Ehem... ehem... " Rai berdehem keras dan mengalihkan pandangannya.
" Ah maaf, maafkan saya tuan, saya bukannya lancang, saya hanya... " Dokter itu menjawab tergagap begitu menyadari bahwa kelakuannya tadi sangat memalukan. Dia berulang kali membungkukkan badannya dan meminta maaf, begitu juga perawat yang ada disampingnya. Mereka berdua hanya bisa terus menggumamkan kata maaf.
" Ah tidak apa-apa, tidak apa-apa " Jawab Ruby sungkan.
" Kalian boleh pergi sekarang, masalah tali pusar atau simpul tali atau apalah itu kita bicarakan nanti saja, selama itu bukan hal buruk tidak masalah kalau itu belum lepas " Ruby menjelaskan dengan tergagap juga.
Dokter dan perawat yang sudah merasa sangat malu tersebut langsung berpamitan dan pergi keluar dari ruangan tersebut masih dengan wajah menunduk dalam.
Ruby menghela napas setelah suasana sepi dan hanya tertinggal mereka berdua, bertiga jika Raline masuk hitungan.
" Kau !! " Ruby langsung mengarahkan tatapan tajam penuh sinar laser mematikan kepada Rai.
" Kenapa harus membuka baju dan menunjukkan tubuhmu ? Kau ini tidak punya malu ya ? " Omel Ruby marah berkacak pinggang.
" Aku hanya ingin menunjukkan pada mereka kalau pusar ku tidak ada talinya, jadi kenapa Raline memiliki tali pusar " Jawab Rai bergumam.
" Haisshh... kau ini !!! " Erang Ruby kesal dan berjalan meninggalkan Rai sendirian, dia menuju sofa yang ada disudut ruangan dan akan menelepon Kiran.
Dengan kesal dia menghempaskan tubuhnya dan mengambil ponselnya, dengan masih bersungut-sungut dia menghubungi Kiran. Hari masih belum terlalu siang, pasti Kiran masih ada di rumah.
" Kenapa ? " Jawab Kiran begitu mengangkat panggilan teleponnya.
" Ibumu ada ? " Tanya Ruby ketus, dia masih kesal karena kelakuan Rai yang seenaknya saja memamerkan perutnya pada wanita lain, jika itu dirinya pasti dia sudah habis dibantai Rai di ring "gulat".
" Ada, memangnya kenapa ? " Tanya Kiran bingung mendengar nada suara Ruby yang sepertinya sangat marah.
__ADS_1
" Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padanya " Jawab Ruby malas.
" Ok. Buuuu.... " Teriak Kiran memanggil ibunya.
" Hei aku ingin tanya padamu, kau tau apa piket yang di lakukan Klan Loyard ? " Tanya Kiran seraya menunggu ibunya keluar dari kamarnya. Dia yakin pasti Ruby akan memberitahunya karena mereka selalu berbagi rahasia bersama.
" Ah itu... itu... " Kemarahan Ruby teralihkan, sekarang dia bingung harus memberitahukan apa pada Kiran, jika dia menjelaskannya maka mungkin saja dia akan menjadi penyebab gagalnya Ken menjadi tumbal nanti malam.
" Ya ada apa ? " Suara Adelia terdengar dari ujung telepon, Ruby menghela napas lega merasa terselamatkan dari beban.
" Hei mana ibu mu, cepat, ini menyangkut Raline " Ruby segera mengalihkan pembicaraannya, dan benar saja mendengar semua ini menyangkut Raline, Kiran pun panik dan segera menyerahkan ponselnya pada ibunya.
Ruby kemudian menjelaskan semua hal yang dia dengar tadi, Adelia hanya tersenyum mendengar cerita Ruby.
" Tidak apa-apa sayang, itu bukan masalah besar. Tali pusar akan mengering dengan sendirinya dan kemudian lepas, jika belum lepas itu tandanya belum mengering. Setiap anak memang berbeda-beda dalam hal ini, ada yang satu minggu sudah lepas, ada yang 2 minggu baru lepas, jangan panik, itu hanya masalah sepele " Jelas Adelia dengan lembut dan tenang.
Mendengar jawaban Adelia rasanya seperti air es yang disiramkan kedalam bara api, cesss !!! Terasa dingin dan mematikan.
Wajah Ruby yang semula kusut sekarang sudah kembali sumringah, dia tidak memiliki ibu dan ibu mertua, jadi dia tidak punya seseorang yang bisa di tanyai apapun tentang dunia perbayian. Beruntungnya Kiran masih memilikinya dan ibunya adalah bidan senior, jadi Ruby merasa sangat bersyukur.
" Terima kasih ibu Adelia, saya memang awam dengan masalah bayi " Jawab Ruby malu-malu.
" Jangan panggil begitu, panggil saja aku ibu, bukankah kau juga anak ku ? Jadi jangan sungkan bertanya apapun tentang Raline " Jawab Adelia lembut.
" Terima kasih bu, terima kasih banyak " Jawab Ruby girang.
Rai yang sedari tadi hanya menyimak dengan harap-harap cemas juga ikut bernapas lega melihat ekspresi Ruby yang sepertinya mendapat kabar baik.
" Jadi bagaimana ? " Cecar Rai begitu Ruby mengakhiri sambungan teleponnya.
" Tidak apa-apa, katanya itu nanti akan lepas sendiri, itu hanya sisa placenta, jadi bukan masalah apapun " Jawab Ruby girang.
" Syukurlah " Rai menyandarkan tubuhnya dan tersenyum lebar.
" Ku kira ada yang mengikat talinya, aku sampai akan mencari tahu pelakunya dan memberikan hukuman terkejam padanya " Lanjutnya.
" Kau ini " Ruby memukul pelan lengan Rai.
🍁🍁🍁🍁🍁
Bel penanda makan siang berdentang, semua murid yang sedari tadi suntuk mendengarkan pelajaran yang di berikan oleh guru mendadak bersemangat saat mendengar suara bel tersebut. Seperti oase di tengah padang pasir, para murid langsung menghambur keluar.
Sekolah Loyard benar-benar sekolah eksklusif, bahkan makanan di kantinnya di masak oleh koki profesional, tak heran jika tidak ada satupun murid dan guru yang mau melewatkan makan siang ala restoran bintang 5 tersebut.
Dylan berjalan memasuki area kantin, dia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh penjuru ruangan. Kantin mulai penuh sesak oleh orang-orang. Dia sedikit terlambat karena harus mengembalikan buku ke perpustakaan lebih dulu. Dengan malas dia mulai memasuki antrean untuk para murid yang terpisah dari antrean para guru.
" Hei aku akan memberitahukan mu satu rahasia, ini rahasia yang sangat hebat " Ucap salah seorang murid laki-laki yang juga baru saja masuk ke dalam antrean di belakang Dylan.
" Apa ? " Jawab lawan bicaranya.
" Kau tau kan kalau ayahku seorang pengacara yang bekerja sama dengan klan Loyard ? " Ceritanya antusias dengan berbisik.
Dylan mengenali suara murid itu, dia adalah Andromeda, salah satu murid yang menjadi populer karena tampan dan juga anak seorang pengacara terkenal, dan kedua temannya, Nico dan William yang selalu saja bersama-sama dengannya seperti anak itik yang mengikuti induknya. Mereka bertiga terkenal sebagai bintangnya sekolah SMA klan Loyard.
" Lalu ? " Tanya William masih tidak paham dengan arah pembicaraan Andromeda.
" Beberapa hari yang lalu ayahku di telepon mendadak oleh sekertaris ketua Klan Loyard, dia bilang ketua Klan akan mengangkat satu anak lagi, jadi ayahku yang akan mengurus peralihan namanya dan seluruh berkas-berkasnya " Ceritanya dengan berapi-api.
" Sungguh ? " Pekik Nico dan William berbarengan.
" Ssttt... pelankan suara kalian, ini rahasia, kalau sampai terbongkar ayahku bisa... " Andromeda membuat gerakan menyayat lehernya sendiri.
Dylan yang tadinya acuh kini mulai terusik, dia menajamkan pendengarannya untuk menguping pembicaraan tersebut.
" Wuah ini benar-benar berita heboh, siapa dia ? " Saut Nico antusias.
" Entahlah ayahku tidak memberitahuku namanya, bahkan ayahku juga tidak di berikan fotonya, yang ayahku tau hanya dia sekarang seumuran dengan kita, maka dari itu berita ini disebut rahasia " Andromeda menjelaskan dengan kecewa, Nico dan William pun juga sepertinya kecewa karena tidak bisa mendapatkan berita yang menghebohkan itu.
" Sayang sekali, kalau saja kita bisa tau siapa dia, kita bisa mendekatinya dan menjadikannya teman, bukankah enak menjadi teman dari putra ketua Klan Loyard, mau apapun kita tinggal tunjuk, apa menurutmu dia bersekolah disini ? Bukankah sekolah ini milik Klan Loyard " William menyauti dengan bersemangat.
" Entahlah, mungkin dia sekolah di luar negeri, karena melihat mereka merahasiakan hal ini.
Tapi aku heran dengan ketua Klan Loyard, kenapa dia senang sekali mengangkat anak ya ? " Gumam Andromeda heran, dia kemudian berkacak pinggang dengan angkuhnya.
" Benar, benar... kau tau sendiri kan kalau kepala sekolah kita itu anak angkat. Tapi lihat saja gayanya, dia selalu memakai mobil yang berganti-ganti setiap harinya, aku rasa dia memanfaatkan kebaikan ketua Klan untuk kepentingannya sendiri " Saut Nico mencibir.
" Ya seperti orang yang tidak tau malu, bukan rahasia lagi jika dia seorang yatim piatu, darimana asalnya saja tidak jelas, dan sekarang dia bisa menjadi putra dari ketua Klan, bukankah itu seperti memenangkan lotre ? " Andromeda pun ikut mencibir sinis.
Mendengar mereka bertiga bergosip tentang Ken seperti itu membuat darah Dylan mendidih. Dia mengepalkan tangannya menahan emosi.
__ADS_1
" Tapi bagaimana bisa dia meyakinkan ketua Klan agar dia mau mengangkatnya anak ya ? " Timpal Nico penasaran.
" Mungkin dia memasang wajah memelas agar ketua Klan mau mengangkatnya menjadi anak. Seperti ini. "Tuan, angkat aku jadi anak mu, aku mohon tuan, aku mohon " Hahaha... " Andromeda memeragakan wajah merengek dengan nada mengejek dan tangan yang terkatup rapat membuat gerakan memohon. Nico dan William ikut tergelak mendengar lelucon yang dilontarkan Andromeda, dan mereka terbahak-bahak bersama.
Habis sudah kesabaran Dylan, dia tidak tahan lagi mendengar orang lain menjelek-jelekkan Ken. Dia berbalik menghadap ketiga murid yang masih saja tertawa itu. Di tatapnya mereka yang tanpa perasaan bersalah sudah menggosipkan seseorang di belakang tanpa tau kenyataan yang sebenarnya.
Buukkk !!! Sebuah bogem mentah dilayangkan Dylan tepat kearah wajah Andromeda dan membuatnya jatuh tersungkur karena tidak siap mendapat serangan mendadak seperti itu.
Semua orang yang ada dikantin terkejut melihat kejadian itu, begitu juga Nico dan William yang terbengong-bengong melihat Andromeda jatuh di hadapannya.
" Hei apa masalah mu ? Hah ! " Maki Nico mendorong bahu Dylan dengan kasar.
" Itu karena mulut kalian bau busuk, aku tidak tahan baunya " Cibir Dylan sinis.
" Kau !! " Andromeda yang sudah bangkit lagi menegakkan punggungnya dan menyeka mulutnya yang berdarah di sudutnya.
" Kau pikir kau siapa, dasar anak ******* sialan ! " Teriak William sinis.
" ******* ? " Tanya Andromeda dan Nico bersamaan menatap William yang menatap Dylan dengan marah, dan mereka kembali menoleh ke arah Dylan, meniliknya dari atas sampai bawah.
" Ya, aku dan dia satu SMP, dia ini anak seorang ******* dan pembunuh " Jawab William sinis dengan tatapan menghina.
" Hei anak brengsek, pantas saja kelakuannya buruk, ternyata karena dia anak seorang *******. Kau akan ku tuntut, ayah ku seorang pengacara kau tau, aku akan membuatmu mendekam di penjara bersama ayahmu yang seorang pembunuh " Ancam Andromeda dengan senyum sombong penuh kemenangan.
" Ya benar, tuntut saja dia agar membusuk bersama ayahnya di penjara " Ejek Nico percaya diri.
" Tarik kembali ucapan mu itu " Geram Dylan di sela gemeratakan giginya yang marah menahan hinaan dari ketiga murid sombong itu.
" Uuhhh... aku takut, anak ******* ini mengancamku " Ejek Andromeda dengan nada yang di buat-buat dan disambut dengan tawa menghina dari Nico dan William.
Dylan yang sudah kehabisan kesabaran langsung menerjang Andromeda, menyerangnya membabi buta dengan pukulan dan tendangan. Namun perkelahian tersebut tidak imbang karena 3 lawan 1. Para guru yang sedang makan siang itu pun segera berlari menghampiri mereka dan melerai mereka berempat.
" Ada apa ini ? " Teriak wakil kepala sekolah yang juga ikut melerai perkelahian tersebut.
Semua orang menghentikan aktifitasnya, diam mematung. Hanya ke empat orang yang menjadi pelaku kericuhan itu saja yang masih bergerak-gerak berusaha melepaskan diri dari cengkraman orang-orang yang melerainya.
" Dia duluan yang memulai, dia meninjuku tanpa alasan " Teriak Andromeda menunjuk Dylan dengan wajahnya.
Kepala sekolah segera menoleh ke arah Dylan yang juga berantakan. Wakil kepala sekolah mengenal Dylan, anak yang pendiam dan berprestasi namun menarik diri dari pergaulan. Selama hampir 3 tahun dia tidak pernah melihat Dylan terlibat sedikitpun dengan keributan atau kericuhan, ini adalah kasus pertamanya.
" Benar itu Dylan ? " Tanya Wakil Kepala Sekolah sangsi.
" Ya" Jawab Dylan mantap.
" Baiklah kalau begitu, kalian berempat silahkan ke ruangan ku, sekarang ! " Perintah tegas wakil kepala sekolah, dan kemudian pergi meninggalkan kantin di ikuti dengan keempat murid tersebut.
Semua orang bergumam-gumam mengomentari kejadian tadi, sebagian bertanya siapa Dylan, mereka tidak pernah melihat atau mengenalnya, sebagaian lagi sibuk mengomentari status Dylan yang ternyata adalah anak dari seorang ******* dan pembunuh.
" Jelaskan padaku duduk permasalahannya " Tanya Wakil Kepala Sekolah begitu mereka telah sampai di ruangannya dan duduk di sofa yang ada disana.
" Entahlah, dia memulainya lebih dulu " Jawab Andromeda dengan kesal.
" Dylan kenapa kau memukulnya ? " Tanya Wakil Kepala Sekolah.
" Aku tidak suka bau mulut mereka, seperti comberan kotor yang jorok " Jawab Dylan asal.
" Apa kau bilang ? Comberan ? Hei anak *******.... " Maki Andromeda kesal.
Braakk !!! Wakil Kepala Sekolah menggebrak meja untuk menghentikan perdebatan.
" Sudah cukup ! Kalian semua panggil orang tua kalian kemari hari senin besok " Perintah Wakil Kepala Sekolah tegas.
Andromeda dan kedua kurcacinya hanya tersenyum puas, mereka tau Dylan tidak memiliki orang tua lagi, jadi tentu saja kemenangan akan ada di pihak mereka. Dan Andromeda bersumpah akan melaporkan ini kepada pihak berwajib dan membuat Dylan di penjara karena kasus penyerangan juga penganiayaan.
" Sekarang kalian semua keluar, kalau aku melihat kalian berkelahi lagi di luar sana, kalian akan mendapat sangsi yang berat bahkan di keluarkan dari sekolah. Kalian semua mengerti ? " Ucap Wakil Kepala Sekolah dengan tegas.
" Mengerti pak " Jawab mereka berempat dengan serempak.
Mereka pun pergi bergantian meninggalkan ruangan, di mulai dengan Andromeda dan dua kurcacinya, lalu di susul oleh Dylan.
" Hei anak ******* " Panggil Andromeda sombong saat mereka ada di lorong yang sepi yang agak jauh dari ruang Wakil Kepala Sekolah.
Dylan yang mendengar itu menghentikan langkahnya, kemarahannya kembali merayapinya namun dia berusaha sekuat tenaga untuk melawannya.
" Bersiap-siaplah menyusul ayahmu di penjara karena aku tidak akan melepaskan masalah ini dengan mudah " Ancam Andromeda dengan pongah, dia berjalan melewati Dylan dan dengan sengaja menabrak bahu Dylan dengan keras sebelum pergi meninggalkan Dylan, di ikuti dengan tawa mengejek dari Nico dan William.
Dylan menghela napas jengah. Suasana hatinya sangat buruk sekarang. Dia marah, kesal dan kecewa. Sebenarnya Dylan marah kepada dirinya sendiri.
Dulu saat dirinya masih menjadi pembenci Klan Loyard, mungkin dia akan tersenyum bahagia saat mendengar orang lain menjelek-jelekkan Klan Loyard. Tapi setelah terlibat secara langsung dengan Klan Loyard dan menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya betapa baiknya Ken dan juga yang lainnya, dia merasa dirinya yang dulu sangat jahat.
__ADS_1
" Maafkan aku kak " Gumam Dylan lirih dan tanpa sadar meneteskan air mata.