Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Mengantar Kiran


__ADS_3

Dylan memasuki kamar kost nya, segera berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil sebotol air dari dalamnya. Dengan kasar dia meminumnya langsung.


Pikirannya masih terbayang-bayang Ken dan Kiran.


Tapi kenapa sepertinya dia perempuan yang baik, tidak terlihat seperti...Aish bukan urusan ku, terserah dia mau apa. Tapi kalau ternyata dia di jebak oleh pak tua itu, artinya dia juga korban ?


Dylan menggeleng-gelengkan kepalanya yang penuh pikiran.


" Terserah saja " Dylan menutup pintu lemari pendinginnya dengan keras dan membuang botol minuman yang telah kosong kedalam tempat sampah.


Dia berjalan menuju kamar mandi dan ingin membersihkan diri. Mandi air dingin sesudah berolah raga bisa membuat emosi dan tubuhnya sejuk kembali.


Selesai mandi dia menonton televisi, menghabiskan satu lagi hari liburnya sendirian di dalam kamar.


Dia tidak memiliki teman satupun, karena akibat dari didikan ayahnya yang terlalu keras. Bagi ayahnya dunia ini seperti hutan, dan hukum rimba berlaku, siapa yang kuat dia yang menang. Dan teman hanya akan mengkhianatinya suatu saat nanti.


Layar televisi menampilkan acara film komedi, tapi itu tidak membuat Dylan tertawa sedikit pun. Pikirannya melayang kepada Kiran.


Dia bukan tidak mendengar gosip di sekolahnya hanya karena dia tidak punya teman. Dia sangat tau setiap jam istirahat akan selalu saja ada murid laki-laki yang mengantri berjejer di depan ruang kepala sekolah untuk melakukan bimbingan konseling dengan guru barunya. Dan dari gosip yang beredar, Kiran ternyata sangat perhatian dan sabar menghadapi murid laki-laki yang curhat kepadanya.


" Sebenarnya apa hubungan mereka ? Kalau memang benar dia sebaik itu, apa itu artinya dia di jebak ? Atau memang sifat baiknya itu hanya topeng ? " Dylan bergumam sendiri tidak memperhatikan acara di depannya.


" Kalau kebaikannya itu hanya topeng, cih dia benar-benar murahan,sama saja seperti gadis lainnya " Dylan mencibir sinis, tapi kemudian raut wajahnya berubah lagi.


" Tapi kalau dia ternyata korban ? Melihat wajahnya yang sepertinya polos itu, besar kemungkinan dia di jebak, dia tidak tau apa yang sedang dia hadapi " Dylan lagi-lagi berasumsi sendiri.


" Aish kenapa aku harus repot-repot mengurusi orang lain ? Dasar Klan sialan. Apanya yang patuh hukum ? Klan kalian hanya berisi sekumpulan preman busuk. Tidak mungkin mereka tidak tau bisnis apa yang mereka jalankan " Dylan mengepalkan tangannya, pandangan matanya menerawang jauh mengingat masa lalu.


Dia membanting remote televisi yang ada di depannya. Dengan kesal bangkit dan masuk ke kamar, merebahkan dirinya di atas kasur tanpa ranjang yang ada di ruangan sempit itu. Dengan hembusan nafas kasar menutup wajahnya dengan bantal.


Sementara itu mobil Ken bergerak memasuki area universitas swasta di perbatasan kota itu, jarak yang lumayan jauh memakan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan. Ken heran kenapa Kiran harus jauh-jauh mengambil kuliah di tempat ini.


" Tempatnya jauh " Ken memulai pembicaraan saat memarkirkan mobilnya.


" Ya memang, tapi bisa sedikit lebih cepat kalau kita naik kereta saja, tidak perlu berhenti karena lampu merah atau karena macet " Kiran menjelaskan santai.


" Kenapa kau harus kuliah disini ? Di pusat kota juga ada universitas dengan kelas malam " Ken bertanya penuh selidik kepada Kiran.


" Tidak apa-apa, kelas malam melelahkan, aku lebih suka kelas yang hanya di buka akhir pekan " Kiran mencoba mengelak dari tatapan selidik Ken, membuang wajahnya menengok keluar jendela.

__ADS_1


" Baiklah aku akan menunggu mu " Ken menjawab penuh semangat, tidak ingin membuat hubungan mereka canggung kembali.


" Kau tidak perlu repot-repot, kelas ku akan berakhir sampai sore, pasti sangat membosankan kalau harus menunggu seharian " Kiran menjawab sungkan.


" Begitu ya ? " Ken menjawab lesu.


" Kalau begitu aku akan menjemputmu saja " Ken menemukan alasan agar bisa lebih dekat dengan Kiran.


" Mm.. baiklah kalau itu tidak merepotkan mu " Kiran menyetujui akhirnya.


" Tidak merepotkan sama sekali, telepon lah satu jam sebelum kelas mu selesai, aku akan segera meluncur kesini " Ken menjelaskan antusias.


" Ok, terima kasih " Kiran menjawab tersenyum dan menundukkan kepala, segera membuka pintu dan berjalan keluar.


" Anjeli... " Teriak Ken begitu Kiran agak jauh berjalan.


Kiran yang mendengar suara Ken berteriak segera menoleh, begitu juga beberapa orang yang melintasi Ken menuju arah gedung universitas. Mereka memandang Ken dan Kiran bergantian, lalu tertawa cekikikan dengan mulut tertutup tangan.


" Aish " Kiran yang sadar Ken membalas mengerjai panggilan Rahul untuknya segera berbalik dan menutup wajahnya dengan tas yang dia bawa.


" Hahaha... Belum tau dia siapa aku sebenarnya, jangan harap kau bisa menggoda ku tanpa adanya pembalasan " Ken tertawa sendiri melihat Kiran yang malu dan berlari menghindari pandangan orang-orang yang tertawa ke arahnya.


Mereka sudah memutuskan akan bertemu di restoran favorite Regis. Suara lagu dari audio mengiri laju mobil Ken yang berjalan dengan kecepatan sedang.


Setelah menempuh beberapa lama perjalanan, Ken telah memasuki pelataran sebuah restoran makanan jepang berbintang 5. Dia turun dan menyerahkan kunci mobilnya pada petugas parkir.


Pelayan restoran yang melihat Ken langsung menyambutnya dan membimbingnya ke ruangan VIP tempat Regis berada. Namun pelayan tersebut memberitahukan bahwa saat ini Regis sedang menemui tamu dan meminta Ken untuk menunggu di ruangan lain di sebelahnya. Baru saja mereka sampai di depan pintu, Regis dan tamunya ternyata sudah keluar dan berdiri di depan ruangan.


Mereka tertawa-tawa dan berpelukan sebelum berpisah, Regis terlihat sangat bahagia dan menepuk-nepuk punggung temannya tersebut.


" Aku akan sering-sering menemui mu " Ucap laki-laki berpostur tubuh sedang tersebut dengan keras. Setelah mengucapkan salam perpisahan dia pun berbalik dan akan meninggalkan Regis namun berpapasan dengan Ken.


" Ah perkenalkan ini anak bungsu ku, Ken " Regis memperkenalkan Ken yang sekarang berdiri di hadapannya.


" Dia teman masa sekolah ku dulu Nak, paman Ganung " Regis memberitahukan kepada Ken.


Ken bersikap sopan, menundukkan kepalanya dan menyapa teman Regis.


" Kau tampan sekali, dulu terakhir aku melihatmu kau masih sekecil ini " Dia menunjuk pinggangnya memberitahu Ken. Mereka kemudian tertawa bersama mengingat masa lalu. Tapi Ken merasakan ada sesuatu yang tidak asing, sepertinya mereka pernah bertemu dia suatu tempat.

__ADS_1


Ken mengerutkan keningnya dan menatap laki-laki itu dengan lekat, dia punya ingatan yang cukup bisa di bilang tajam, meskipun kemampuan berhitungnya nol.


" Sepertinya kita pernah bertemu " Ken bertanya ragu-ragu.


" Tidak mungkin Ken, dia baru saja kembali beberapa minggu yang lalu dari luar negeri " Regis memberitahukan, menyangkal anggapan Ken, namun ekspresi dari temannya itu berbeda, sekilas terlihat wajahnya sedikit berjengit karena terkejut, namun dengan cepat dia mengubah ekspresinya menjadi lebih santai.


" Mungkin hanya perasaan mu saja Nak " Ucapnya seraya menepuk lengan Ken.


Ken yakin sekali, tapi bisa juga dia salah. Dia mengusir pikiran tidak penting itu dari kepalanya.


" Baiklah kalau begitu aku pergi dulu " Pamit Ganung lagi kepada Regis dan juga Ken. Dan berjalan pergi meninggalkan ayah dan anak tersebut dengan di bimbing pelayan yang tadi mengantarkan Ken.


Regis masuk kembali kedalam ruangan dengan di ikuti Ken.


" Darimana saja kau, kenapa pagi-pagi sekali sudah pergi " Tanya Regis setelah duduk di atas bantal yang ada dilantai, khas kebiasaan orang jepang.


" Aku sedang olahraga pagi " Jawab Ken asal, dia berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya saat bayangan cantik Kiran melintas di pikirannya.


" Dengan pakaian seperti itu ? " Tanya Regis curiga.


" Jangan berbohong, aku memang tidak mengerti mode jaman sekarang, tapi aku tidak buta sampai tidak bisa membedakan mana pakaian yang cocok di gunakan untuk olahraga dan juga peragaan busana " Sindir Regis sambil mengambil sepotong daging dengan sumpit dan meletakkan di mangkok kosong yang ada di depannya untuk di sodorkan pada Ken.


" Aku sudah sarapan ayah " Jawab Ken ragu-ragu, dia harus berhati-hati untuk tidak membahas tentang rencana kencannya dengan Kiran, salah bicara sedikit saja maka ayahnya akan menikahkannya besok atau lusa.


" Tapi Rai bilang kau tidak sarapan di rumah " Regis mulai curiga dan menatap Ken dengan tajam.


" Aku... " Ken mencoba menjawab dan mencari alasan yang masuk akal.


" Jangan pernah sembunyikan apapun dari ku, kau tau siluman raja kerbau ini bisa tau segala hal, jika kau bijak kau pasti tidak akan mencoba untuk berbohong, benar begitu biksu tong sam chong ? " Seringai kejam Regis mengintimidasi Ken yang langsung terlihat pucat, bagaimana tidak, panggilan siluman raja kerbau adalah julukan yang diberikan Rai dan Ken semasa mereka kecil, dan hanya mereka berdua yang tau, tapi lihat bahkan hal seremeh itupun tidak luput dari pengintaian ayahnya.


Ken dan Rai sampai harus menyisir seluruh rumah karena curiga ayahnya memasang kamera tersembunyi atau alat penyadap.


Ken terkejut dengan julukan yang diberikan ayahnya, tapi dia berusaha menenangkan dirinya dengan berpura-pura menjadi biksu dalam serial fantasi televisi lawas semasa dia kecil dulu, berharap ketenangan biksu itu menular padanya.


" Amitaba... " Ucapnya seraya mengangkat satu tangannya di dada persis seperti adegan dalam serial tersebut.


Darimana dia dapatkan tingkah konyolnya itu? Mungkin dari Lorie


Regis menggelengkan kepala melihat tingkah Ken dan menghela nafas.

__ADS_1


__ADS_2