Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Hari Tenang dan Misi Rahasia


__ADS_3

Akhir pekan terasa datang lebih cepat setelah semua kejadian yang menghantui mereka berlalu. Kedamaian datang seperti angin yang berhembus sepoi-sepoi di tengah pantai, terasa sejuk dan segar.


Ken yang masih di rawat di rumah sakit sangat bahagia karena dia bisa setiap saat bertemu dengan Raline. Dan Kiran masih mendapatkan cuti karena dia harus bertanggung jawab merawat Ken hingga sembuh.


Sementara Adelia tinggal di rumah persembunyian Kiran yang dulu sambil menunggu rumah mereka di bangun kembali. Semula Regis akan mengganti rumah Kiran yang hancur dengan rumah yang baru, tapi Adelia menolak dengan gigih, dia tidak ingin lebih jauh merepotkan keluarga Ken, baginya mereka mau menyelamatkan nyawanya dan Kiran saja sudah merupakan hutang budi seumur hidup, jadi dia tidak ingin menambah banyak lagi hutang budinya. Apalagi itu adalah rumah kenangannya bersama suaminya yang adalah ayah Kiran, jadi Adelia bersikeras akan membangun ulang rumah mereka dan tinggal disana. Regis yang mengerti hal itu memutuskan membangun kembali rumah itu seperti semula tanpa ada yang di rubah sedikitpun.


Dylan sudah kembali masuk sekolah, meskipun tidak ada seorangpun yang khawatir dan bertanya padanya kemana saja dia selama ini, tapi itu sama sekali tidak mengurangi rasa bahagia yang dirasakannya saat ini. Musuh terbesar dalam hidupnya telah hilang, dan sekarang dia memiliki keluarga yang utuh, mungkin memang benar minus seorang ibu, tapi dia akan mendapatkan seorang ayah dan 2 orang kakak yang keren, bukan kakaknya tapi hanya ayahnya saja yang keren, ralat Ken. Jadi tak masalah untuknya jika seluruh dunia mengabaikannya, yang terpenting keluarganya memperlakukannya dengan hangat dan penuh perhatian, meskipun dengan cara yang berbeda.


Pikirannya kembali teringat saat adegan heboh di rumah sakit tempo hari, setelah Regis memberitahunya akan menjadikannya anggota keluarga Loyard dan memerintahkan sekertaris Yuri mengurus semua berkas-berkas peralihan namanya, Ken menyambutnya dengan senyuman licik dan pandangan mata jail.


" Wuaah rembo sekarang sudah resmi menjadi keluarga klan Loyard, tapi apa kau kira kau bisa lolos dari ku ? Tidak akan " Ucap Ken lambat-lambat. Dikamar itu hanya tinggal Kiran, Dylan dan Ken.


" Cih " Cibir Dylan malas, dia berbalik badan dan akan pergi keluar.


" Hei kau berhenti, aku kakak mu sekarang jadi pelajaran pertama mu, kau harus selalu patuh kepada kakak mu " Teriak Ken kesal karena Dylan mengabaikannya.


Dylan menghela napas jengah dan berhenti tepat di depan pintu. Dia membalikkan badannya dengan malas.


" Apa lagi sekarang ? " Tanya Dylan acuh, dia menyilangkan kedua tangannya di dada, menghadap Ken yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit.


" Kenapa kau mengirim pesan seperti itu ? Memangnya kau tidak bisa ya mengirim pesan yang lebih baik lagi ? " Omel Ken kesal.


" Cuma masalah sepele saja kau membesar-besarkannya, dasar anak-anak " Dylan memutar bola matanya dan kembali membalikkan badan, dia membuka pintu dan keluar kamar mengabaikan Ken yang berteriak kesal memanggilnya.


" Memangnya apa yang dia tulis ? " Tanya Kiran juga penasaran.


" Kau tidak perlu tau " Saut Ken ketus dan berbaring di ranjangnya.


Dasar kau adik sialan, lihat saja aku akan merencanakan pembalasan dendam terhebat sepanjang sejarah. Kau tidak akan berkutik lagi. Kau tidak tau berhadapan dengan siapa.


Sungut Ken kesal dan mengelus elus dadanya untuk menenangkan dirinya sendiri. Pikirannya terus saja terngiang-ngiang kalimat yang di tulis Dylan di pesan yang dia kirimkan.


Kau bisa baca peta kan ? Datang ke lokasi ini, kekasihmu dalam bahaya. Semoga kau tidak jadi orang yang oon kali ini.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hari ini hari jumat dan waktu telah menunjukkan pukul 8 malam. Ken juga Kiran serta Marimar dan Rhoma sedang bercengkrama di dalam ruangan Ruby. Ken asyik menimang Raline yang sedang tertidur di gendongannya dengan tenang.


" Aauuhh... tuan putri ku yang cantik, dia sangat tenang sekali " Ucap Ken dengan nada gemas yang tidak di tutup-tutupi, tentu saja dia akan melupakan apa itu rasa malu jika sudah berhadapan dengan tuan putri super menggemaskan primadona Klan Loyard tersebut, bahkan semua orang pun sepertinya merasakan hal yang sama.


Semua yang ada disana hanya tertawa melihat sikap Ken yang lucu. Kebahagiaan keluarga terasa semakin lengkap saja dari hari kehari, hal itu membuat Ruby sangat bersyukur dan berdoa semoga saja insiden kemarin adalah yang terakhir dari nasib buruk yang keluarganya alami.


" Jadi kapan kalian akan menikah ? " Tanya Ruby kepada Kiran yang masih fokus menatap Ken.


" Entahlah, mungkin 2 bulan lagi " Jawab Kiran seraya mengedikkan bahunya.


" Kenapa tidak besok saja " Saut Rai asal. Ruby yang mendengar hal itu mendelik ke arah Rai.


" Apa ? Memangnya ada yang salah dengan ucapan ku ? Ken tidak belajar seperti ku bahwa menikahi seseorang tidak perlu menunda-nunda lagi " Jawab Rai asal.


" Oh ya Rai bagaimana dulu kau bisa menyiapkan pernikahanmu hanya dalam waktu semalam saja ? " Tanya Ruby penasaran, karena seingatnya dulu Rai membawanya pulang pada malam hari dan memutuskan menikahinya keesokan paginya, sangat mendadak dan tidak masuk akal.


" Itu karena aku bos nya " Jawab Rai berkilah, dia tidak memberitahu Ruby bahwa sebenarnya pernikahan yang telah dia siapkan dulu adalah pernikahannya dengan Vivianne, tapi karena Rai bertemu Ruby maka dia berubah pikiran. Pesta pernikahannya tetap berjalan hanya saja mempelai wanitanya yang berganti.


" Cih " Cibir Ruby sinis.


" Inilah yang tidak ku sukai dari mu, kesombonganmu " Jawab Ruby malas.


" Kau hebat tuan, mempersiapkan pernikahan mu hanya dalam waktu semalam saja, dan para undangan masih bisa hadir meskipun di undang secara mendadak seperti itu " Saut Kiran penuh rasa takjub memandang Rai yang duduk dengan membusungkan dadanya karena mendapat pujian dari Kiran.


" Kalian semua ini bodoh ya ? Sebenarnya pernikahan itu sudah... " Ken yang sedari tadi menyimak ikut menimpali, namun kata-katanya terhenti saat melihat Rai yang melotot padanya.


" Apa ? " Tanya Kiran dan Ruby bersamaan, mereka berdua menatap Ken dengan rasa penasaran, menunggu Ken melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


" Ah pernikahan itu sudah ada yang mengurusnya sendiri " Kilah Ken berbohong. Kiran dan Ruby kompak ber-ooohh ria dan mengangguk-angguk paham. Tentu saja hal itu mudah bagi Klan Loyard menyiapkan pesta dalam semalam, begitu pikir Kiran dan Ruby.


Jadi rupanya kakak belum memberitahu marimar kalau pernikahan itu awalnya untuk dirinya dan Vivianne. Untung saja mulutku masih bisa menahannya, kalau tidak...


Ken bergidik ngeri membayangkan kemarahan Rai.


" Sudah malam, aku akan pulang " Pamit Kiran bangkit dari duduknya.


" Kau sudah mau pulang ? " Tanya Ruby.


" Ya ibuku pasti menungguku, lagi pula ini sudah jam 9 malam " Jawab Kiran.


" Biar aku antar kau pulang " Saut Ken cepat. Dia kemudian menghampiri Ruby berniat akan menyerahkan Raline dari gendongannya.


" Siapa hari ini yang akan piket ? " Tanya Rai kepada Ruby.


" Entahlah, ayah tidak memberitahu ku " Jawab Ruby.


" Piket apa ? " Tanya Ken bingung, dia yang semula mengulurkan tangannya akan menyerahkan Raline jadi urung melakukannya.


" Piket menunggu Raline " Jawab Rai acuh, dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi ayahnya. Namun belum sempat sambungan teleponnya di jawab terdengar suara ketukan di depan pintu.


Semua orang menoleh ke arah pintu, Sekertaris Yuri datang dengan berpakaian casual dan terlihat sangat tampan.


" Baru kali ini saya melihat anda berpakaian seperti itu " Ucap Kiran malu-malu, Ken yang juga melihatnya merasa heran.


Sepanjang perjalanan karir sekertaris Yuri, setau Ken, dia selalu berpakaian formal, setelan jas parlente dengan sepatu hitam ataupun coklat, tidak peduli pukul berapapun dia menghadap dalam kondisi cuaca panas atau bahkan hujan badai sekalipun, penampilan rapi dan klimisnya tidak pernah berubah, tapi kali ini yang terlihat adalah sekertaris Yuri yang berpakaian seperti akan berlibur di pantai. Mengenakan blus hitam longgar bercorak bunga sepatu merah dan putih serta di padukan dengan celana short selutut serta sandal biasa, membuatnya sedikit aneh, tampan tapi aneh, begitulah yang di pikir Ken.


" Kau mau pergi berlibur sekertaris Yuri ? " Tanya Ken masih heran, dia terus saja mengamati penampilan Sekertaris Yuri yang di luar kebiasaannya.


" Tidak tuan, saya tidak akan pergi berlibur karena hari ini adalah jadwal piket saya " Jawab Sekertaris Yuri sopan dan menundukkan kepalanya.


" Piket apa sih ? Kalian dari tadi mengocehkan piket-piket " Omel Ken kesal karena merasa ketinggalan berita dari klan Loyard.


" Kan sudah ku bilang piket menunggu Raline " Jawab Rai kesal.


" Aish anak ini cerewet sekali " Ucap Rai semakin kesal.


" Kau saja yang jelaskan padanya " Jawab Rai berkilah, dia memalingkan wajahnya yang merona merah. Dia bahkan menunjuk sekertaris Yuri tanpa melihat.


" Ehem... ehem... " Sekertaris Yuri berdehem dan wajahnya juga ikut merona merah. Ruby yang melihat itu menjadi ikut salah tingkah.


" Kalian menyembunyikan sesuatu dari ku bukan ? Benar bukan ? Ayo mengaku saja " Omel Ken kesal karena melihat semua orang yang sepertinya menghindarinya.


" Mari ah kakak ipar, ini Raline, peganglah " Ken kembali mengulurkan Raline kepada Ruby.


" Kenapa kalian semua melakukan ini ? Hah ? Kalian menganggap ku apa ? Hanya karena aku sakit beberapa hari saja kalian sudah menyingkirkan aku dari kegiatan klan begitu ? Baiklah, piket atau apapun itu aku akan ikut andil di dalamnya " Omel Ken seraya berkacak pinggang dengan sombongnya.


" Kalian pikir aku tidak akan mampu melakukan apapun itu bukan ? Hah ! Kalian terlalu memandang rendah aku " Lanjutnya menggerutu.


" Aish sudah, sudah, pelankan suaramu, nanti Raline bangun " Ruby melerai perdebatan, dia meletakkan jari telunjuknya di mulut dan di arahkan kepada Ken.


" Bukankah kau akan mengantar Kiran ? Sudah sekarang antar sana " Usir Ruby pelan.


" Ah ya kau benar, baiklah aku pulang dulu. Daah Ruby dan Raline " Ucap Kiran, dia kemudian mencium Raline sebagai salam perpisahan. Ken yang masih kesal karena belum mendapat jawaban hanya bisa menatap Sekertaris Yuri dan Rai dengan tatapan kesal. Dengan terpaksa dia mengikuti Kiran dan berjalan di belakangnya. Namun saat akan melewati sekertaris Yuri, langkahnya terhenti.


" Tuan, saya berharap anda sangat serius dengan ucapan anda barusan bahwa anda akan ikut terlibat dalam misi penting ini " Seketaris Yuri menatap Ken dalam-dalam.


" Tentu saja, dasar pengkhianat " Gerutu Ken kesal, namun jawaban Ken sama sekali tidak membuat sekertaris Yuri marah, dia malah tersenyum lebar dan menepuk pelan pundak Ken.


" Anda memang pemberani dan seorang Klan sejati " Ucapnya penuh rasa hormat.


Ken yang semakin bertambah bingung mendengar jawaban sekertaris Yuri memiringkan kepalanya, dia mengernyitkan alisnya. Baru saja dia membuka mulut akan bertanya lebih lanjut, Kiran sudah menarik tangannya dan mengajaknya segera pergi keluar.

__ADS_1


" Tuan, kita akan mendapatkan tumbal baru untuk tuan putri Raline " Sekertaris Yuri melaporkan hal tersebut di saluran teleponnya kepada Regis setelah Ken pergi.


" Kau yakin dia belum tau jika akan di jadikan tumbal ? " Tanya Regis meyakinkan.


" Saya yakin seratus persen, dia orang yang masih suci dan dengan sukarela menyerahkan dirinya sendiri " Jawab Sekertaris Yuri mantap.


" Hoooh.. baguslah jika begitu " Terdengar nada kelegaan di ujung telepon sekertaris Yuri.


" Baiklah, jadwalkan untuknya segera " Lanjut Regis bersemangat.


" Siap laksanakan tuan " Sekertaris Yuri menunduk hormat dan menutup sambungan teleponnya.


" Bagaimana ? " Tanya Rai juga ikut penasaran.


" Dia akan di tumbalkan besok tuan " Jawab Sekertaris Yuri tersenyum penuh kemenangan.


" Yess !! " Pekik Rai bahagia, karena sebenarnya besok adalah jadwalnya menjaga Raline, tapi karena Ken mengajukan diri maka hal itu bisa menundanya barang sehari saja.


Sementara itu Regis yang menutup sambungan teleponnya tergelak bahagia juga. Pak Handoko yang ada di sampingnya pun ikut tertawa.


" Akhirnya kita menemukan tumbal baru Handoko hahaha... " Ucap Regis bahagia.


" Benarkah tuan ? " Tanya Pak Handoko antusias.


" Ya dia orang yang masih suci, kita akan bisa memperpanjang harga diri kita barang sehari saja hahaha... " Jawab Regis.


" Anda benar tuan " Pak Handoko ikut larut dalam suasana bahagia yang tercipta.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Mobil Ken melambat saat memasuki pelataran rumah yang di tempati Kiran. Sepanjang perjalanan mengantar Kiran pulang Ken hanya mengomel saja, menggerutu dan sibuk memaki Sekertaris Yuri serta Rai yang sudah menyingkirkannya.


" Mereka pikir aku tidak mampu melakukan tugas itu ? Aku seperti merasa tersisih " Ken yang masih kesal terus saja menggerutu.


" Kau yakin akan ikut piket ? " Tanya Kiran ragu-ragu. Dia terlihat sedih dan tidak rela.


" Apa kau meragukan ku juga ? " Saut Ken kesal.


" Bukan begitu, kau kan masih dalam masa pemulihan, dan dari yang terlihat sepertinya tugas yang dijalankan sekertaris Yuri sangat berbahaya, melihatnya menyamar seperti itu, aku merasa takut kau akan terluka lagi " Ucap Kiran sedih. Dia berpikir jika piket yang di maksud adalah menangkap penjahat atau berkelahi atau menyamar masuk ke dalam geng-geng lainnya.


" Kalau aku tidak ikut dalam hal ini, mereka akan semakin meremehkanku " Jawab Ken kesal.


" Tapi aku takut kau ada dalam bahaya lagi " Protes Kiran.


" Aku berjanji padamu aku tidak akan terluka, aku akan baik-baik saja kali ini " Ken mencoba menenangkan Kiran yang sedang cemas.


" Sudahlah turun sana dan istirahatlah, aku harus kembali ke rumah sakit, besok sopir akan menjemputmu " Jawab Ken lembut, dia mengusap pipi Kiran dan kemudian mengelus-elus kepalanya.


" Janji kau tidak akan terluka lagi ? " Tanya Kiran memastikan.


" Aku berjanji padamu " Ken menggenggam tangan Kiran dan mengecupnya dengan lembut.


" Terima kasih " Jawab Kiran malu-malu. Dia kemudian mendekat kepada Ken dan memeluknya sebelum turun dan pergi masuk kedalam rumah.


" Haaah... sebatas pelukan, aissh kenapa pak tua itu harus meninggalkan trauma model begitu padanya, membuatku susah saja " Gerutu Ken yang masih saja mengawasi Kiran yang sudah masuk ke dalam rumah.


Pikiran Ken melayang pada pembicaraannya dengan seorang psikiater saat memeriksakan Kiran. Pernah memiliki riwayat dirawat di rumah sakit jiwa, dan harus berhadapan dengan kematian tentu bukan kenangan indah untuk di pertahankan. Jadi Ken memutuskan akan memeriksakan mental Kiran, apakah ada trauma tertinggal atau tidak.


Dan hasilnya sungguh di luar dugaan. Dari pemeriksaan yang dilakukan dokter di ketahui bahwa Kiran menderita trauma dengan segala bentuk hubungan fisik, dalam kasus ini hubungan fisik yang terjadi di antara sepasang kekasih. Melihat masa lalunya yang hampir menjadi korban pemerkosaan oleh Ganung, membuatnya merasa jijik dengan kontak fisik antara laki-laki dan perempuan.


Jadi itulah alasan kenapa Kiran menolak menikah dengannya, dan bilang bahwa Ken akan pergi meninggalkannya saat tau kondisinya yang sebenarnya. Namun karena Ken sangat mencintai Kiran, dia setuju untuk membatasi kontak fisik antara dirinya dengan Kiran sampai Kiran sendiri siap. Dan saat ini kontak fisik yang masih di tolerir Kiran adalah sebatas pegangan tangan dan pelukan.


Jadi ini jugalah yang menjadi alasan untuk keduanya menunda pernikahan mereka beberapa bulan lagi, Kiran ingin menikah nanti saat dirinya sudah siap menjadi seorang istri, baik lahir maupun batin. Dia tidak ingin Ken ikut tersiksa bersamanya nanti saat mereka sudah menikah.

__ADS_1


" Haah... banyak sekali tugas ku " Ken menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir penat.


Dia harus segera kembali ke rumah sakit untuk menerima suntikan antibiotiknya sebelum jam 10 malam. Dia melajukan mobilnya pergi dari kediaman Kiran.


__ADS_2