
Hari terasa lambat berjalan tanpa adanya Kiran di sekolah, atau itu hanya berlaku untuk Ken saja, yang jelas dia merasa lesu menghadapi tumpukan berkas-berkas yang seperti tidak ada habisnya itu. Jam dinding masih menunjukkan pukul 10 pagi, tapi Ken sudah lebih dari 30 kali menelepon pelayan di rumah persembunyian Kiran, menanyakan kabarnya, apakah dia sudah makan atau sekedar bertanya berapa jarak terdekat antara Dylan dan Kiran saat berada di rumah itu. Membuat pelayan kelimpungan bingung harus menjawab apa, karena mereka tidak mungkin mengukur jarak antara Kiran dan Dylan saat mereka berbincang-bincang di ruang keluarga.
Sementara itu Rai sudah lebih dulu bergerak mengumpulkan informasi, dari yang di dapatkan dari Ken, dia harus sangat berhati-hati karena terdapat musuh dalam selimut di dalam Klan mereka, para pengkhianat yang memakai nama Klan untuk kepentingan pribadinya.
Dia menanyai Huan, kepala algojo di Klan Loyard, dan mereka sedang duduk di ruangan Rai untuk membahas masalah ini.
" Maafkan kami tuan, sebenarnya beberapa tahun lalu masalah ini telah muncul ke permukaan, kami bahkan menangkap para anggota yang terbukti melakukan pelanggaran tersebut, dan juga para wanita yang kabarnya menjadi korban. Namun keterangan mereka semua sangat berbeda-beda, para wanita tersebut mengaku datang ke club dengan sukarela untuk bersenang-senang lalu berkenalan dengan para lelaki hidung belang yang ingin membayar mereka, dan itu murni hak mereka karena melakukan transaksi itu di luar club. Mereka sangat rapi dalam menjalankan aksinya, meskipun begitu Ketua memberikan perintah langsung kalau sampai di club ada transaksi semacam itu, Ketua tidak akan memberikan ampun. Lalu kejadian itu mereda, tidak pernah lagi terdengar ada kejadian semacam itu " Huan memberikan penjelasan yang dia ketahui.
" Aku ingin kau mencari sampai ke akarnya siapa saja yang berkhianat " Perintah Rai.
" Saya rasa hal itu agak sulit tuan, karena para pengkhianat itu lain di mulut lain di hati, mereka mungkin saja berkata tidak berkhianat di mulut, tapi dalam hati mereka mengingkarinya, dan kita tidak bisa terus mengawasi mereka satu persatu " Huan menjelaskan kepada Rai.
" Siapa bilang kau harus memeriksa mereka satu persatu, cukup periksa saja yang menjadi kepala pengkhianat itu, berpura-puralah kau juga seorang pengkhianat " Perintah Rai.
" Maafkan saya tuan, saya tidak berani. Ketua bisa saja mengawasi setiap orang, terlalu tinggi resiko untuk saya karena Ketua tidak pernah mengampuni para pengkhianat " Huan mengkeret ketakutan mendapat perintah Rai.
" Itu yang ingin aku tau, ayah melindungi dia, mempercayainya, aku jadi ingin menyelidiki ini tanpa sepengetahuan ayah " Rai berdecak kesal karena Huan terus saja membantah.
" Maafkan saya tuan, saya sangat setia pada Klan hingga berpura-pura jadi pengkhianat saja saya tidak akan sanggup " Ucap Huan dengan tegas.
" Cih kau ini, bilang saja kau takut pada ayahku " Teriak Rai kesal.
" Memangnya tuan tidak takut dengan Ketua ? " Tanya Huan penasaran.
" Aku ? Hah ! Kau ini begitu saja pakai di tanyakan. Memangnya siapa yang berani melawan ayah, kau tau sendiri dia tidak pernah pandang bulu, aku anaknya saja hampir di buat mati saat bertarung samurai dengannya. Beruntung saja Ruby sedang hamil, jadi ayah masih menyayangi junior, dia tidak akan membuat Junior lahir tanpa ayah, kalau saja aku belum menikah, aku yakin itu pasti samurai sungguhan bukan pedang kayu " Rai berdecak kesal tapi membenarkan ucapan Huan.
" Bagaimana kalau kita minta bantuan sekertaris Yuri tuan ? " Huan menyumbangkan idenya.
" Ish kau ini, kan sudah ku bilang ayah percaya padanya, kalau kita bersikeras menyelidikinya apa menurutmu itu tidak akan membuat ayah marah ? Kau mau membuat ayah marah ? " Rai semakin kesal karena merasa menemui jalan buntu, dan ini semua karena campur tangan ayahnya. Coba saja ayahnya tidak ada hubungannya dengan masalah ini, pasti Rai bisa meringkus penjahat itu hanya dalam hitungan jam.
Sementara itu sekertaris Yuri dan Tuan Regis sedang mengawasi pusat perbelanjaan baru yang baru mulai di buka, dan tentu saja mereka akan merekrut pegawai besar-besaran, dan inilah yang di harapkan tuan Regis. Umpan untuk ular berbisa.
" Semuanya sudah di atur tuan, semoga saja rencana kita berhasil " Sekertaris Yuri menyerahkan map berisi laporan perkembangan kasusnya.
__ADS_1
" Harus berhasil, karena Ken juga sudah mulai menyembunyikan Kiran dan Dylan, kalau mereka salah melangkah, bisa-bisa mereka bertiga ada dalam bahaya. Kalau sampai itu terjadi aku bersumpah akan mengulitinya hidup-hidup " Jawab Regis lirih namun terdengar sangat menyeramkan.
" Lalu apa kita biarkan saja tuan Ken terus salah paham kepada anda ? " Tanya sekertaris Yuri.
" Kalau rencana ini berjalan sesuai, maka biarkan saja ini jadi rahasia, kalau rencana ini tidak berhasil, kita akan memberitahu Rai dan Ken, bagaimanapun mereka harus siaga dengan adanya bahaya yang mengintai mereka setiap waktu, tapi cukup hanya Rai dan Ken, jangan libatkan para menantuku " Jawab Regis seraya memijit pangkal hidungnya. Dia berharap umpan yang dipasang untuk buruannya akan menghasilkan.
Dan benar saja, seseorang anak buah melaporkan kepada pimpinannya bahwa dia telah membuka lowongan secara online dan masuk kedalam akun pribadinya, di belakang lowongan di situs resmi milik Klan Loyard dan mereka bisa memilih siapa saja yang akan lolos untuk menjadi pegawainya.
" Kau sudah memastikan ini aman ? Tidak akan mencurigakan ? " Tanya laki-laki itu memastikan.
" Saya sudah memastikan tuan, bahkan saya sudah menyuruh seseorang untuk menyamar menjadi pelamar agar pelamar lain terkecoh dan sebagian dari mereka melamar melalui akun kita " Jawab laki-laki itu memastikan.
" Baiklah kalau begitu, lakukan dengan rapi, kalau tidak Regis akan curiga dan kita akan hancur dalam sekejap, hindari orang-orang di sekitar anak-anaknya juga, mereka adalah orang-orang yang setia, jangan terkecoh sedikitpun " Perintahnya kemudian.
" Baik tuan, saya sudah tidak sabar menggulingkan Klan Loyard lalu Klan kita yang akan berkuasa " Sautnya antusias.
" Tenang saja, kalau kita melakukannya dengan hati-hati, kita pasti bisa menggulingkan Klan ini " Laki-laki itu tertawa membayangkan mereka akan berkuasa sebentar lagi.
Waktu makan siang pun tiba, Ken menghubungi Kiran secara resmi melalui ponselnya.
" Kau sudah makan ? " Tanyanya mesra, belum ada sehari mereka berpisah tapi Ken sudah sangat merindukannya.
" Ya kami baru akan mulai makan " Jawab Kiran lembut.
" Kau tidak ingin bilang kalau kau merindukanku ? Bukankah sepasang kekasih harus saling merindukan " Tanya Ken malu-malu.
" Disini banyak orang " Bisik Kiran lirih di telepon, tapi di telinga Ken suara Kiran terdengar seperti desisan ular cobra. Membuatnya kembali teringat pada mimpi buruknya semalam. Dia bergidik menghilangkan rasa merinding di tengkuknya.
" Mulai sekarang jangan berbisik lagi, mengerti " Jawab Ken dengan canggung, dia tidak ingin Kiran tau dia sebenarnya takut.
" Kenapa ? " Tanya Kiran bingung, kenapa mendadak memberikan perintah aneh seperti itu.
" Aku hanya tidak suka suara orang berbisik, seperti desisan ular. Itu tidak nyaman di dengar " Jawab Ken mencari alasan.
__ADS_1
" Baiklah kalau itu membuatmu tidak nyaman, aku tidak akan berbisik lagi " Kiran mengangguk-angguk paham.
" Ya sudah, kau makan saja dulu, aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan " Ucap Ken kemudian.
" Oh baiklah, jangan lupa makan siangmu, jangan terlalu lelah " Kiran memberikan perhatiannya kepada Ken, dan itu membuat Ken semakin bersemangat dalam bekerja.
" Terima kasih, kau juga jangan berpikir macam-macam, aku pasti akan menjaga mu " Ken membalas perhatian Kiran, membuatnya tersipu malu.
" Terima kasih, kau baik sekali padaku " Kiran menjawab lembut.
" Umm.. Kiran aku ingin bertanya satu hal padamu, apa kau bisa menyetir mobil ? " Tanya Ken tiba-tiba.
Apa ini ? Apa dia ingin merayuku seperti kemarin ? Kemarin dia juga tiba-tiba menanyakan rumah Harry Potter. Rayuan yang berujung kesombongan dirinya.
Kiran berpikir sesaat sebelum menjawab.
" Tidak bisa, memangnya ada apa ? " Jawab Kiran bingung.
" Ah tidak apa-apa, baiklah kalau begitu aku tutup teleponnya " Pamit Ken cepat dan menutup teleponnya.
" Syukurlah, itu artinya dia tidak akan bisa menabrak ku dengan mobil. Setidaknya mimpiku tidak akan menjadi kenyataan " Gumam Ken seraya mengelus-elus dadanya merasa lega.
" Hallo pak Handoko ? Jual sarada ku dengan cepat, aku tidak ingin melihatnya lagi. Dan juga simpan Hinata untuk sementara waktu, aku tidak ingin dia cemburu pada Hinata " Perintah Ken tiba-tiba saat menghubungi pak Handoko, membuatnya bingung namun tetap saja mengiyakan permintaan aneh tuan mudanya yang satu itu.
" Maafkan aku Hinata, aku tidak mungkin membiarkan dia lepas dariku, tapi aku juga tidak ingin meninggalkanmu, maafkan aku karena mencintai kalian berdua dengan satu hati " Ucap Ken lirih dengan nada kepedihan yang mendalam, rasa galaunya membuatnya lupa menutup sambungan teleponnya, dan pak Handoko masih bisa mendengarkan curahan hati Ken yang berselimutkan awan mendung.
Apa dia sedang kumat ?
Pak Handoko bertanya-tanya dalam hati.
Bye sarada...
Batin Ken pilu.
__ADS_1