
Ken dan Rai sedang mendiskusikan rencana mereka untuk menangkap pengkhianat dalam Klan. Tapi rencana mereka sedikit sulit karena menurut Huan para pengkhianat itu bekerja sangat rapi.
" Kita tidak bisa bergerak karena ayah, aku rasa kita memang harus memberitahukannya " Rai memberikan sarannya.
Kalau harus memberitahukan ayah, maka ayah akan bertanya darimana kami tau masalah ini sampai sedetail itu, kalau ku bilang dari gossip, itu tidak akan mungkin, kalau ku bilang dari Kiran, ayah pasti akan marah. ' Bukankah ayah sudah memperingatkanmu agar jangan berhubungan dengan Kiran, kenapa kau tidak menurut. Sekarang juga pergi kau ke antartika, kau harus melatih beruang kutub disana ' pasti begitu yang akan di katakannya.
Ken menghela napas putus asa dan gelisah. Semakin lama dia menyelesaikan kasus ini, maka akan semakin lama Kiran bersembunyi.
" Kak tidak bisa saja kah kita menangkapnya dan langsung melenyapkannya ? " Tanya Ken lirih, wajahnya terlihat lesu.
" Kau gila ? Kenapa tiba-tiba punya pikiran seperti itu ? Sejujurnya ya kau memang benar pengkhianat seperti itu sebaiknya kita lenyapkan saja, tapi bagaimana dengan ayah ? Ayah tidak suka kita berbuat seperti itu " Rai berdecak kesal.
" Hei bagaimana kalau kita melaporkannya ke polisi dengan tuduhan pembunuhan ? Naik banding maksudku " Tanya Ken antusias.
" Sempat ku pikirkan, dan aku sudah mencari tau siapa pengacara yang menanganinya dulu, tapi dia sudah meninggal 1 bulan tepat setelah putusan hakim yang menyatakan dia tidak bersalah, dan aku sudah menyelidikinya, dia hanya berkonsultasi dengan pengacara itu, dengan kata lain hanya pengacara itu yang benar-benar tau dia bersalah atau tidak, dan sekarang rahasia itu di bawa sampai mati " Jawab Rai kesal.
" Apa tidak ada cara lain ? " Tanya Ken lemas.
" Kasusnya sudah bertahun-tahun berlalu, jadi semua bukti di tempat kejadian perkara juga sudah pasti di hilangkan, tidak ada yang bisa di lakukan untuk mengajukan tuntutan " Rai menjawab serius.
" Kau ini bagaimana ? Masa tidak ada cara lain ? " Ken berteriak frustasi.
" Aish anak ini ! Memangnya ada hal mendesak apa sampai kau buru-buru seperti ini ? " Teriak Rai juga kesal karena terus di desak.
" Sudahlah, besok saja kita bicarakan lagi, hari ini Ruby ingin makan ayam goreng dan aku harus menggorengnya sendiri " Rai menjawab malas.
" Hei jangan begitu, ayo kita selesaikan masalah ini secepatnya, tidak baik kalau di tunda lama-lama " Desak Ken tidak sabar.
" Kau ini memangnya masalah sebesar ini cukup hanya selesai dengan menangkap orang itu lalu melenyapkannya ? Di bawahnya masih ada pengkhianat-pengkhianat yang berkumpul jadi satu, meskipun dia mati, aku yakin anak buahnya akan tetap melanjutkan perbuatan mereka. Kita harus memberikan kejutan sekaligus peringatan kepada anak buahnya, jadi mereka akan ciut nyali dan berpikir ulang kalau ingin berkhianat lagi " Rai mendorong kepala adiknya dengan kesal.
" Cih lihat siapa yang bicara, si rhoma polos sedang sok pintar " Ejek Ken kesal karena permintaannya tidak di turuti.
" Apa ? Hei sini kau, sini " Rai melambaikan tanganya dan mendekat ke tempat duduk Ken, kemudian dengan cepat meraih leher Ken untuk di jepit.
" Aku memang polos jika berhadapan dengan Ruby, tapi kalau masalah Klan itu sudah seperti rumus matematika tersulit di luar kepala ku, dasar anak nakal. Lalu kau sendiri bagaimana hah ? Memangnya kau sendiri sepintar itu ? " Ucap Rai kesal dan menggosok keras kepada Ken.
__ADS_1
" Sakit, sakit " Ken berusaha melepaskan diri dari kuncian Rai, dan Rai melepaskannya setelah puas mengacak-acak rambut Ken.
" Kau sendiri saja tidak bisa mendapatkan kekasih, masih berani mengataiku " Ejek Rai kesal.
" Aku sudah punya kekasih " Ken menjawab spontan. Sadar telah kelepasan bicara, dia pun menutup mulutnya secepat kilat.
" Kau pikir aku akan percaya ? Sudah jangan macam-macam, ayo pulang dan bantu aku menggoreng ayam, aku sudah sering melakukannya tapi tidak pernah terbiasa dengan cipratan minyak. Terakhir kali aku menggorengnya, aku bahkan menggunakan helm dan jaket kulit. Tapi lagi-lagi Ruby malah memarahi ku, semakin hari dia semakin aneh saja " Celoteh Rai kesal.
" Tidak aku ada janji penting hari ini, aku akan pulang larut, tolong bilang pada ayah aku tidak makan malam di rumah. Ok ? " Ken menjawab santai dan langsung pergi meninggalkan ruangan Rai sebelum Rai menyeretnya untuk ikut pulang dan memasak ayam goreng.
🍁🍁🍁🍁🍁
Mobil baru Ken memasuki pelataran rumah persembunyian Kiran. Terlihat Kiran sedang menyirami tanaman di halaman. Dia mendengar suara mobil namun tidak bisa melihat siapa yang datang.
" Hai " Sapa Ken melambaikan tangan begitu turun dari mobil, Kiran yang terkejut segera berlari menghampirinya.
" Ku kira siapa yang datang " Saut Kiran dengan senyum lebar.
" Ya... aku ganti mobil " Ucap Ken kikuk, dia telah menyingkirkan sarada dan menggantinya dengan mobil jenis SUV keluaran terbaru.
" Tidak, itu... aku hanya tidak ingin kau cemburu jadi aku menyimpan hinata untuk sementara waktu dan mengganti sarada dengan ini " Ken menjawab malu-malu seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Mereka pun berjalan bersama menuju ayunan kayu yang ada di halaman tersebut. Duduk berdua menikmati suasana siang menjelang sore hari, dimana matahari tidak lagi bersinar terlalu terik.
" Maafkan aku belum bisa menyelesaikan ini dengan cepat, aku dan kakak ku sedang berusaha, tapi sepertinya ini tidak semudah yang terlihat " Ucap Ken tiba-tiba mendadak serius. Kiran yang terkejut hanya bisa memandang wajah Ken, terlihat dengan jelas ekspresi Ken yang merasa lemah.
" Kenapa ? " Tanya Kiran lirih.
" Entahlah, kakak bilang ini sedikit rumit " Ken beralasan, dia tidak ingin memberitahu Kiran bahwa alasan dia tidak bisa menangkap penjahat itu adalah karena ayahnya melindunginya, dia tidak ingin Kiran salah paham dan memandang buruk ayahnya, tidak sampai kebenaran terungkap, alasan kenapa ayahnya melindungi penjahat semacam itu di Klannya.
" Kiran... " Ken menghela napas dan menatap Kiran lekat-lekat, suasana hatinya sedang tidak baik, dia merasa kecewa tapi lebih kepada dirinya sendiri.
" Ya ? " Kiran masih tetap heran melihat perubahan sikap Ken.
" Kau tau aku bukan anak kandung ayahku, aku di adopsi karena aku tidak punya keluarga lain. Mungkin itu hanya bentuk rasa kasihan dan perikemanusiaan dari ibu dan ayahku, tapi aku ingin kau tau, ayah dan ibu ku juga kakakku orang yang baik. Ayahku memang hanya preman dalam pandangan beberapa orang, tapi kau tau ayahku berusaha mati-matian agar para preman itu bisa mendapat kehormatan dan pekerjaan yang layak, aku tau pekerjaan kita tidak bisa lepas dari yang namanya perkelahian, dan juga mungkin sedikit menghabisi hidup seseorang. Tapi Klan kami tidak pernah sekalipun melakukannya tanpa alasan yang jelas, tanpa pemicu. Jadi tolong jangan melihatku sebagai seseorang yang kotor, jangan melihat keluarga ku sebagai penjahat hanya karena seorang penjahat berkedok Klan kami " Ken menjelaskan dengan tercekat, dia tidak bisa memilih antara cinta dan keluarga, baginya kedua hal tersebut sangat berharga.
__ADS_1
" Ken aku... " Kiran tergagap, dia tidak tau harus menjawab apa, memang dia sangat membenci Klan, tapi dia sisi lain dia juga menyayangi Ken dan Ruby yang jadi bagian dari Klan.
" Aku serius padamu, aku benar-benar menyukaimu, dan aku akan memperjuangkan mu " Ucap Ken kemudian, perlahan tangan Ken mendekat ke tangan Kiran yang sedang gelisah, dia menggenggam tangannya.
" Bertahanlah sebentar lagi dan akan ku buktikan bahwa penjahat itu bukan bagian dari kami " Ken berjanji, dia semakin mengeratkan genggaman tangannya kepada Kiran.
" Aku tidak tau " Jawab Kiran lirih, sampai sekarang dia masih saja merasakan serangan panik jika mendengar nama Klan Loyard, meskipun tidak sehebat dulu setelah mengenal Ken, tapi tetap saja hatinya berdenyut nyeri memikirkan apa yang telah anggota Klan Loyard lakukan padanya, menjualnya kepada lelaki hidung belang yang hampir membuat kesuciannya terenggut, dan setelahnya dia harus mendekam selama 6 bulan di rumah sakit jiwa karena traumanya.
" Lalu bagaimana kau memandang hubungan kita sekarang ? " Tanya Ken dengan serius.
" Kita ? Kita sepasang kekasih " Kiran terbata-bata, dia sendiri tidak yakin, dia berpikir hubungannya dengan Ken hanya sebatas kekasih saat ini, tidak lebih, yang mungkin bisa saja berakhir sewaktu-waktu.
" Lalu ? " Kejar Ken.
" Lalu apa maksudmu ? " Tanya Kiran bingung.
" Apa kita hanya sebatas kekasih ? Kau tidak berpikir untuk maju kedepan ? " Tanya Ken menyelidik.
" Aku tidak berpikir ke arah sana, aku hanya menyukai mu saja " Kiran semakin gugup dengan arah pembicaraan Ken.
" Kau tidak ingin menjadi istri ku ? " Tanya Ken kemudian.
" Aku... aku " Kiran tidak mampu menjawab, dia belum siap dengan segala resiko menjadi istri seorang pemimpin Klan, dan juga kebenciannya terhadap Klan seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja, dimana saja.
" Kiran jawab dengan jujur, apa kau tidak ingin menjadi istri ku ? " Tanya Ken serius.
" Aku hanya melihat hubungan kita sebatas sepasang kekasih, tidak lebih " Jawab Kiran dengan cepat dan pergi meninggalkan Ken sendirian.
Maafkan aku Ken, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku tidak bisa menjadi istrimu, tidak siap dengan segala resikonya. Dan aku juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa Klan mu yang membuatku terluka sangat dalam. Maafkan aku.
Kiran kembali ke kamarnya dengan deraian air mata. Dia butuh teman untuk curhat, dan satu-satunya yang dia miliki hanya Ruby.
Ken yang melihat itu hanya bisa menghela napas putus asa, dia belum pernah memiliki kekasih seumur hidupnya, jadi dia tidak tau bagaimana bisa seseorang putus dan terus manjalani hidup. Karena yang di lihat Ken sekarang hanya Kiran dan tetap Kiran.
Apa mungkin dia hanya menganggap ku kekasih sesaat seperti hubungan-hubungannya yang dulu ?
__ADS_1
Batin Ken galau.