
Ken terbaring di ranjang rumah sakit didampingi oleh Rai dan Kiran serta Adelia dan Dylan. Kesadaran Ken hilang akibat luka tusukan dan jiwanya yang terguncang. Kiran dan ibunya serta Dylan hanya mampu terdiam menunggu kesadaran Ken kembali. Kiran yang paling parah menangis, dia merasa sangat bersalah atas kejadian ini, jika bukan karena keluarganya maka keluarga Ken tidak akan mengalami kejadian seperti ini.
Rai tidak berani menghadap Ruby, bagaimana pun Ruby masih dalam masa pemulihan setelah melahirkan, dan dia sedang dalam fase menyusui, menurut dokter ketenangan jiwa ibu menyusui harus terjaga agar kualitas ASI yang di hasilkan dapat maksimal. Jadi Rai memutuskan akan merahasiakan ini sampai saatnya nanti.
" Tuan Rai aku minta maaf " Isak Kiran menghadap Rai yang duduk di sofa sudut ruangan. Rai hanya diam tertunduk lemas tidak menjawab, pikirannya melayang pada sosok ayahnya.
" Hanya dalam hitungan jam " Gumam Rai lirih, dia tidak bisa menerima keadaan bahwasanya beberapa jam yang lalu ayahnya masih mengobrol dengannya di saluran telepon menanyakan kabar Ruby dan Raline, tapi sekarang dunia Rai seakan kiamat.
" Ayah " Ken terbangun histeris dan langsung duduk, mereka semua terkejut melihat Ken yang bangun mendadak seperti itu.
Rai segera berlari menghampiri adiknya, keluarganya satu-satunya yang tersisa. Dia memeluk Ken yang masih tidak percaya dengan semua kejadian ini.
" Ken kuatkan dirimu, kau tidak boleh lemah " Rai mencoba menghibur Ken, padahal hatinya sendiri sudah remuk tak berbentuk, bahkan jika dibandingkan dengan debu terhalus sekalipun.
" Kak ayah dimana ? Aku bermimpi ayah... ayah... " Ucap Ken linglung, dia seperti kehilangan kewarasannya.
Rai yang semakin hancur melihat tingkah Ken hanya bisa menahan sekuat tenaga air matanya, jika dirinya ikut larut dalam kesedihan maka mereka berdua akan hancur bersama.
" Ayah hanya pergi sebentar, dia akan kembali, dia tidak kemana-mana " Hibur Rai dengan suara tercekat, di eratkannya cengkraman tangannya di pundak Ken, baginya menenangkan hati yang hancur jauh lebih susah daripada bertarung dengan sepuluh orang sekaligus.
" Aku ingin bertemu dengannya, mana ayah, aku ingin melihatnya, dia baik-baik saja kan ? " Cecar Ken, dia berusaha melepaskan pelukan Rai dan mencari sendiri ayahnya.
" Ken !! " Teriak Rai marah, pertahanannya runtuh sudah. Dia sendiri kesulitan menangani hatinya, dan sikap Ken yang seperti itu semakin membuatnya jauh merasa lebih buruk lagi.
" Sadarkan dirimu, inikah yang di ajarkan ayah padamu ? Ini kah hasil didikan ayah selama ini ? Kalau kau bersikap begini terus, lalu bagaimana dengan ku ? Apa kau kira saat ini aku baik-baik saja karena masih berdiri di depanmu ? Jika bukan karena dirimu, aku sudah lebih dulu menyusul ayah, jika bukan karena mu, pasti sekarang kau akan menyiapkan dua pemakaman bukannya satu " Teriak Rai di iringi isak tangisnya. Semua yang ada disana hanya bisa tertunduk dan ikut meneteskan air mata kesedihan, semua ucapan penghiburan atau pelukan tidak akan berguna untuk dua orang bersaudara yang saat ini sedang sangat terluka itu.
Mendengar jawaban Rai, Ken hanya bisa menangis tanpa suara, tangis kepedihan yang teramat dalam, rasa nyeri didadanya bahkan tak terlukiskan, seperti ada sebuah tangan raksasa yang meremas jantungnya saat ini, sesak namun tak dibiarkan hancur dan berhenti, barangkali akan lebih mudah jika jantungnya di remas sampai hancur dan berhenti, itu lebih baik daripada harus tersiksa seperti ini, begitulah yang Ken rasakan.
Rai sendiri yang sudah tidak punya kekuatan duduk bersimpuh di lantai, semua kegagahan yang terpancar di setiap lekuk tubuhnya seakan tersedot habis. Kini dia tak ubahnya seperti anak kecil yang kehilangan arah dan tersesat, ketakutan dan hanya bisa meringkuk. Berharap muncul keajaiban ayah dan ibunya akan datang berlari menghampirinya dan memeluknya erat dan menunjukkan jalan pulang baginya.
Setiap jengkal tubuhnya mengumpat, memaki dan mengutuki dirinya sendiri, merasa lalai dalam menjaga ayahnya, membuat ayahnya harus mengalami ini semua.
" Kak... " Panggil Ken lemas, dia turun dari ranjangnya dan menghampiri Rai yang masih terisak-isak di kedua lututnya.
" Hanya tinggal kita berdua, hanya tinggal kita, jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa hidup tanpa mu " Ken memeluk Rai.
Hening membentang, tak ada jawaban dari Rai, hanya suara isak tangis dan bahu yang naik turun yang menjadi jawaban atas kata-kata Ken.
" Aku berjanji aku akan menurut padamu, aku akan jadi anak baik, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, aku akan jadi anak baik... " Ken saat ini layaknya anak kecil yang merengek memohon ampun kepada kakaknya karena telah membuat kakaknya marah.
Sekertaris Yuri yang melihat semua kejadian itu dari balik pintu hanya bisa menghela napas dan ikut menangis, sekejam apapun mereka di mata orang lain, tetap bagi sekertaris Yuri mereka berdua hanya 2 orang anak kecil yang saling menyayangi.
" Tuan, lihatlah mereka " Sekertaris Yuri menyeka air matanya.
" Aku tau aku membesarkan anak-anak yang baik " Jawab Regis ikut terharu menyaksikan kedua anaknya saling menguatkan satu sama lain.
" Tapi bisa-bisanya mereka langsung pergi begitu saja meninggalkan ku di sana tanpa mengecek ulang apakah aku sudah mati atau belum " Suara Regis berubah ketus, kekesalan tampak di wajahnya yang penuh luka dengan tangan terpasang gips dan kain penyangga.
" Mungkin itu karena tuan Ken tadi pingsan, jadi Tuan Rai tidak berpikir panjang dan langsung membawanya pergi kerumah sakit " Jawab Sekertaris Yuri sopan. Dia berbalik badan dan membungkuk hormat kepada Regis, kemudian di tatapnya wajah tuannya yang selama ini dilayaninya.
Ingatannya kembali ke masa beberapa jam yang lalu, saat Ken kelelahan dan kesakitan dan tiba-tiba pingsan, Rai menjadi sangat panik dan tanpa pikir panjang segera membopong Ken masuk kedalam mobil dan melajukannya ke rumah sakit.
Sekertaris Yuri yang masih tidak percaya Regis meninggal berlari ke arah rumah Kiran setelah di rasa cukup aman. Dia berniat akan membongkarnya dan mencari jasad Regis jika memang dia sudah meninggal.
Benar saja, dari arah reruntuhan Regis berteriak meminta tolong. Sekertaris Yuri yang mendengarnya segera memerintahkan anak buah Regis yang lain untuk memberikan bantuan. Dengan tergopoh-gopoh mereka segera menyingkirkan reruntuhan-reruntuhan kecil dan menelepon yang lainnya agar mengirimkan alat berat. Penyelamatan yang berlangsung selama lebih dari 2 jam itu berlangsung lancar. Segenap anak buah Regis saling bekerja sama dengan apik dan kompak, mereka bersemangat sekali saat mendengar ketua mereka selamat dan masih hidup. Tenaga medis ahli dari rumah sakit pun di datangkan guna memberikan pertolongan pertama kepada Regis setelah dia keluar nanti.
Regis hanya menderita patah tulang tangan kirinya dan beberapa lecet serta memar, semua itu karena Regis sempat bersembunyi di bawah meja makan keluarga Kiran yang cukup besar. Ganung yang semula mengunci Regis dengan kuncian gulat, berhasil di lumpuhkan oleh Regis sesaat sebelum rumah mereka runtuh. Regis berguling masuk ke bawah meja, namun Ganung lebih memilih tertimpa reruntuhan dan mati di tempat.
Dan Regis harus mendapat perawatan serta pemeriksaan menyeluruh lebih dahulu setibanya di rumah sakit, yang membuatnya tidak bisa segera menengok Ken yang tidak sadarkan diri.
Sekertaris Yuri membuka pintu kamar perawatan Ken dengan hati-hati, namun karena mereka semua terlalu sibuk dengan adegan mengharukan antara Ken dan Rai, mereka tidak menyadari bahwa sekertaris Yuri dan Regis telah memasuki ruangan dan berdiri di belakang semua orang. Sekertaris Yuri semula akan memberitahu Ken dan Rai, tapi ternyata drama di antara keduanya masih berlanjut.
" Berjanjilah kita akan selalu bersama-sama " Ucap Ken masih tetap memeluk Rai, kini ganti Ken yang menenangkan Rai.
" Aku percaya ayah tidak pergi kemana-mana, dia akan tetap mengawasi kita dari atas sana " Hibur Ken.
Rai berusaha sekuat tenaga menghentikan tangisannya. Dia mendongak menatap Ken.
" Bagaimana mungkin siluman raja kerbau bisa kalah dengan laki-laki seperti itu ? " Ucap Rai di sela sisa isak tangisnya.
" Kau benar, dia selalu membual tentang bagaimana hebatnya siluman raja kerbau, tapi lihat bagaimana dia pergi, dia orang yang paling jahat karena sudah meninggalkan kita seperti ini " Jawab Ken kembali berurai air mata mengingat ayahnya.
" Semua ini seperti mimpi, aku bahkan masih merasakan kehadirannya disini " Lanjut Ken.
__ADS_1
" Ya wangi ini, ini adalah parfum favorit siluman raja kerbau " Jawab Rai seraya menghirup napas dalam-dalam dan merasakan aroma khas ayahnya menusuk hidungnya.
" Anak-anak ku, kalian... " Panggil Regis kesal. Namun belum selesai kata-katanya, tangisan Ken dan Rai semakin mengeras.
" Aku bahkan berhalusinasi mendengar suaranya kak, huuweeee.... " Teriak Ken kembali memeluk Rai.
" Aku juga mendengar suaranya yang ketus, bagaimana mungkin dia masih terdengar begitu kejam meskipun sudah meninggal, huuweee.... " Balas Rai tak kalah hebohnya.
" Dia akan menjadi ketuanya para arwah di alam sana, dia akan menjadi hantu yang paling mengerikan yang pernah ada, huweee.... " Ken kembali menangis.
Namun Adelia, Kiran dan Dylan yang mendengar suara Regis menoleh ke arah belakang dan terkejut melihat sekertaris Yuri serta Regis sedang berdiri disana dengan sehat.
Kiran segera menepuk pundak Ken, bermaksud memberitahukan agar Ken menghentikan tangisannya dan ucapannya yang melantur karena melihat ekspresi Regis yang sepertinya sudah mulai marah.
" Nanti sayang, kau tidak lihat aku sedang berduka ? " Jawab Ken ketus menepis tangan Kiran dari pundaknya tanpa menoleh sedikitpun.
" Tapi Ken, tuan Regis... " Ucap Kiran terbata-bata.
" Aku tau, aku tau, dia sudah meninggal, dan aku merasa dia masih mengawasi kami, bisa kau biarkan kami sebentar saja " Saut Ken memotong ucapan Kiran, masih tidak menoleh ke arah Kiran.
" Ken " Panggil Regis dingin.
" Lihatlah kak, aku bahkan mendengar ayah memanggil ku dengan nada marahnya yang biasanya, huuweee... " Ken kembali terisak.
" Ya aku juga mendengarnya, huweee... " Rai ikut menimpali.
" Rai " Regis mulai kehilangan kesabaran.
" Kali ini ganti namaku yang di sebut oleh ayah Ken, huwee.... " Ucap Rai.
" Ya kak aku juga mendengarnya, mungkin ayah belum pergi ke alam sana, dan dia ingin berpamitan kepada kita " Jawab Ken masih terisak.
" Cukup kalian berdua, berbaliklah sekarang " Teriak Regis kesal.
Rai dan Ken berhenti menangis seketika, mereka saling berpandangan. Dan bergidik ngeri.
" Apa kau dengar itu ? Kenapa suaranya bisa sangat jelas sekali ? " Tanya Ken bingung.
" Kau benar, terlalu seperti nyata. Jangan-jangan ayah benar-benar jadi hantu, bukankah orang dulu bilang kalau mati dengan tidak wajar maka akan menjadi hantu " Jawab Rai juga bingung.
" Aku juga " Rai memeluk dirinya sendiri.
" Dasar anak-anak durhaka !! " Teriak Regis dengan garang, Ken dan Rai terkejut dan menoleh ke arah asal suara.
" Haah !! " Teriak mereka bersamaan dan jatuh terduduk dan beringsut mundur.
" A-ayah " Panggil Ken dan Rai berbarengan, antara percaya dan tidak.
" Bisa-bisanya kalian bergosip tentang ayah kalian sendiri, dasar kalian berdua " Ucap Regis tegas.
" Dia hantu atau masih manusia ? " Tanya Ken berbisik dengan terbata-bata.
" Lihat kakinya, jika masih menapak tanah artinya dia bukan hantu " Jawab Rai juga dengan berbisik, namun karena terlalu syok ucapan mereka berdua terlalu keras dan jelas jika di sebut sebuah bisikan.
" Ayah masih hidup " Regis menjelaskan kesal sekaligus malas melihat tingkah kedua anaknya yang terkadang aneh bin ajaib itu.
" Ayah " Ucap Ken dan Rai berbarengan dan langsung menghambur berdiri dan memeluk ayahnya. Menangis tersedu-sedu lagi.
" Syukurlah ayah masih hidup, aku seperti akan mati saja saat mengira ayah telah meninggal " Ucap Rai.
" Aku juga ayah, dunia ku seperti runtuh saat melihat rumah itu meledak dengan kau masih di dalamnya " Ken ikut menimpali.
" Ayah tau, ayah tau, ayah melihat kalian berdua, dari awal sampai akhir, kalian anak-anak yang baik, terima kasih " Ucap Regis seraya mengelus punggung kedua anaknya yang memeluknya erat.
" Tapi kalian berdua akan tetap mendapat hukuman karena mulut kalian " Lanjut Regis tegas.
Mendengar hal itu Rai dan Ken kompak melepaskan pelukan mereka, dan mundur selangkah menghindari ayahnya.
" Ehem... ehem... " Rai berdehem dan menegakkan punggungnya.
" Ayah bukankah hal ini harusnya di rayakan karena ayah selamat, aku rasa hukuman agak sedikit... " Rai mencari alasan untuk mengelak, perlahan-lahan dia bergerak semakin menjauh dari ayahnya dan Ken.
Melihat kakaknya yang sedikit kesulitan menghindari hukuman, membuat Ken bernapas lega. Dia melirik Rai sekilas.
__ADS_1
Hah rasakan kau, hahaha... lihatlah kak, tubuhmu sehat, mentalmu sehat, kau pasti tidak akan bisa menghindar dari hukuman ayah. Kalau aku... hahaha...
Batin Ken girang karena menemukan alasan yang sangat sangat tepat untuk terhindar dari masalah.
Ok mari kita mulai, role and action...
" Aarrgghh.... " Ken tiba-tiba berteriak dan ambruk jatuh ke lantai, hal itu mengejutkan semua orang termasuk Regis, dengan sigap dia segara menghampiri Ken.
Kiran yang juga panik segera berlutut di sampingnya.
" Kau kenapa ? Ada apa ? " Tanya Kiran panik, namun Ken hanya mengerang kesakitan seraya memegang tangannya yang terluka.
" Kenapa-luka-ini-sakit-aaarggghh...aku-kira-aku-ti-tidak-a-akan-ber-bertahan " Ucap Ken lambat-lambat dengan napas tersengal-sengal layaknya sepotong adegan film india, dimana sang aktor sedang mengalami masa terakhirnya.
" Tu-tunggu akan ku panggilkan dokter " Kiran yang melihat Ken kesakitan kembali menangis dan panik, dia berdiri dan akan pergi memanggil dokter.
" Tunggu " Cegah Regis dingin.
Kiran yang sudah membuka pintu berhenti mendengar suara Regis.
" Tidak perlu memanggil dokter " Lanjut Regis dingin. Dia kemudian bangkit berdiri.
" Yuri " Panggilnya kemudian.
" Ya tuan " Jawab Sekertaris Yuri sopan.
" Bakar hinata sarada atau siapapun itu, dan juga action figure yang ada dikamarnya, musnahkan mereka semua " Perintah Regis tegas.
" Baik tuan " Jawab Sekertaris Yuri dengan senyum yang tertahan.
Mendengar perintah ayahnya Ken yang semula berakting sekarat langsung bangkit berdiri.
" Jangan ! " Pekiknya tanpa sadar dengan suara lantang.
Kiran dan yang lainnya yang melihat hal itu sangat terkejut, bukan terkejut karena betapa cepatnya Ken sembuh, tapi terkejut karena melihat sikapnya yang berpura-pura sekarat demi menghindari hukuman. Dylan tersenyum mencibir.
" Cih dasar kekanak-kanakan " Gumamnya lirih, tapi tersirat kelegaan di dalamnya, hatinya merasa senang karena ternyata Ken tidak dalam bahaya.
Kiran hanya mampu menepuk jidatnya dan menghela napas malas, dia memang tau Ken orang yang sesuatu, tapi dia tidak menyangka dia akan bertindak sejauh itu.
Adelia yang masih tidak mengerti satu persatu orang di hadapannya hanya bisa menoleh kesana kemari dengan bingung. Keluarga macam apa ini ? Begitu pikirnya. Karena sesaat yang lalu suasana haru kematian membuat semua orang berduka dengan teramat sangat dan ikut menangis sesegukan, tapi suasana saat ini entah bagaimana dia menggambarkannya, bahagia, bingung, aneh dan gila.
Sementara semua orang terlalu fokus dengan akting Ken, tanpa mereka sadari Rai sudah kabur dengan cepat, menyelinap keluar dari pintu yang di bukakan Kiran tadi.
Dia berjalan pelan tanpa suara di lorong rumah sakit dengan senyum penuh kemenangan, layaknya adegan slow motion pahlawan yang berhasil memenangkan pertarungan akhirnya.
" Kau kira kau bisa menang semudah itu nak ? Tidak akan semudah itu Armando " Ucap Rai
dengan pongah dan sunggingan senyum miring di bibirnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Nyonya Adelia saya mohon maaf " Ucap Regis kepada Adelia di restoran rumah sakit. Setelah urusan anak-anaknya usai, kini Regis merasa harus bertanggung jawab kepada ibu Kiran.
" Tolong jangan katakan apapun tuan " Jawab Adelia sopan.
" Saya mengerti apa yang ingin anda sampaikan. Saya yang seharusnya memohon maaf. Mungkin memang inilah satu-satunya cara untuk menghentikannya " Suara Adelia bergetar saat mengingat kembali Ganung.
" Harusnya saya bisa menyelamatkannya " Ucap Regis datar.
" Tidak tuan, kalaupun anda bisa menyelamatkannya, anda mungkin tidak akan bisa menghentikannya melakukan hal gila lainnya di kemudian hari. Mungkin inilah yang terbaik, dengan begini Kiran tidak akan menderita lagi " Tangis Adelia tumpah sudah. Dihadapkan pada pilihan antara anak dan saudara sudah pasti akan menjadi pilihan yang sulit.
" Dia anak yang baik, hanya saja dia salah langkah " Regis mencoba menghibur Adelia yang menangis sesegukan.
Di kejauhan Kiran dan Dylan yang melihat hal itu hanya bisa menghela napas, ikut merasa prihatin.
" Aku sangat merasa bersalah kepada ibu ku, kalau jadi dia aku pun akan kesulitan memilih. Dia ibu yang sangat baik, dia lebih memilih aku yang bukan darah dagingnya di bandingkan adiknya sendiri " Ucap Kiran sedih.
" Justru karena dia ibu yang baik makanya dia lebih memilihmu, dia membuat keputusan yang tepat layaknya seorang ibu " Hibur Dylan dan menepuk pelan punggung Kiran. Pikirannya menerawang kembali kepada ibunya, jika dulu ibunya memiliki pemikiran seperti Adelia, mungkin saat ini mereka masih bisa bersama.
" Tapi sekarang kau juga sudah memiliki keluarga yang lengkap bukan ? Bahkan lebih lengkap dari yang terlihat " Goda Kiran menyenggol lengan Dylan, mendengar hal itu wajah Dylan memerah dan salah tingkah, merasa malu dan juga bahagia.
" Cih apa bagusnya, aku bisa apa lagi, mereka mengancam ku " Kilah Dylan ketus tapi sikapnya bertolak belakang dengan ucapannya.
__ADS_1
" Oooohhhh... Jadi kau menerimanya karena takut di ancam ? " Goda Kiran lebih lagi.
" Aish aku tidak tau " Jawab Dylan ketus dan pergi meninggalkan Kiran karena sudah tidak sanggup lagi mengendalikan perasaannya.