Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Pemanasan


__ADS_3

Ken yang masih sangat kesal dengan kejadian semalam hanya melirik tajam ke arah Rai, tapi Rai seolah acuh dan terus saja melanjutkan sarapannya dengan wajah tanpa dosa.


Aku tidak akan menyapa mu lagi, tidak akan, aku akan memusuhi mu selama berabad-abad.


Teriak batin Ken kesal.


Drrrtt, drrttt !! Ponsel Ken bergetar di dalam sakunya, dia merogohnya.


" Ada apa ? " Tanyanya langsung begitu mengangkat teleponnya, disaat bersamaan Dylan datang dari lantai atas dan langsung bergabung duduk di sebelah Kiran.


" Ok sebentar " Saut Ken menjawab lawan bicaranya, kemudian dengan satu tangannya dia menutup speaker ponselnya.


" Ini tukang foto " Ucapnya lirih kepada seluruh anggota keluarganya, dan mereka semua segera menoleh ke arah Ken, menghentikan kegiatan makan mereka sementara.


" Dia bertanya kau ingin jadi apa " Lanjutnya lagi bertanya dan mengedarkan pandangannya ke semua orang.


" Aku merah " Saut Rai cepat dan kemudian melanjutkan makannya kembali.


" Aku biru " Jawab Ruby datar acuh.


" Aku kuning " Kiran pun ikut menjawab asal dan kemudian melanjutkan sarapannya.


" Baiklah kalau begitu aku hitam " Ucap Ken kepada dirinya sendiri.


Dylan yang tidak pernah paham apa yang di ucapkan oleh the amburadul family nya ini pun hanya menengok kesana kemari saat Ken mengangkat dagu ke arahnya.


" Apa ? " tanya nya bingung.


" Sudah biarkan dia sisa nya saja " Saut Rai cepat.


" Kau setuju ? " Tanya Ken meminta izin.


" Y-ya terserah kalian saja " Jawabnya masih bingung.


" Ok kalau begitu " Ken kemudian menempelkan lagi ponselnya dan menjelaskannya satu persatu kepada fotographer yang meneleponnya.


" Memangnya itu tadi apa sih ? " Tanya Dylan kepada Ruby yang ada di hadapannya.


" Kau mau jadi rangers apa " Jawab Ruby santai.


" Dan kau kebagian jadi yang pink " Jawab Kiran menambahkan.


" Apa ?!? " Pekiknya yang terlambat. Roti yang dipegangnya pun jatuh ke atas piring yang ada di meja.


Power rangers pink ? Aku ?


Dan bayangan Dylan langsung bisa menangkap bagaimana hasil fotonya nanti.


🍁🍁🍁🍁🍁


Dylan yang berangkat sekolah menggunakan bus telah sampai di halte dekat sekolahnya, bersama sebagian siswa lainnya yang tidak menggunakan kendaraan pribadi atau antar jemput, mereka semua berjalan menuju sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh.


Tin, tin !!! Suara klakson lagi-lagi memengkakkan telinga. Tanpa menoleh pun Dylan tau siapa yang dengan sengaja membunyikan klaksonnya sampai seperti itu.


Dengan acuh Dylan terus saja berjalan tanpa menoleh ke belakang.


" Hei kau tuli ?!? " Teriak Andromeda dari balik jendela mobilnya.


Tanpa bicara apapun Dylan menyingkir ke samping untuk memberinya jalan, namun Andromeda seperti memancing habis kesabaran Dylan, dia terus saja meneriaki nya.


Triiing, triiiing !!! Ponsel disaku Dylan berbunyi, dia mengambilnya dan mengangkat telepon yang masuk.


" Tidak enak bukan ? " Saut suara di seberang sana begitu sambungan teleponnya tersambung. Dylan mendongakkan wajahnya mencari asal suara penelepon tersebut.


Dari jauh terlihat sekertaris Yuri berdiri di balkon lantai 2 sedang mengamatinya. Begitu Dylan melihatnya Sekertaris Yuri melambaikan tangan ke arahnya yang dijawabnya dengan anggukan kepala.


" Bukan bermaksud mempengaruhimu, tapi apakah tidak sebaiknya kau membuka identitasmu yang baru ? " Tanya Sekertaris Yuri. Untuk sementara waktu selama Ken mengambil cuti bulan madunya, sekertaris Yuri yang akan menggantikan Ken sebagai kepala sekolah.


" Aku tidak ingin melakukannya, Kakak Ken bilang aku tidak boleh menggunakan kekuasaan yang ku miliki " Jawabnya seraya kembali berjalan menuju kelasnya.


" Cih padahal mereka sendiri selalu memakai nama Klan Loyard " Ucapnya terkekeh.

__ADS_1


" Baiklah kalau begitu mau mu, ah ya bisa kau ke ruangan kepala sekolah, aku ada urusan sebentar dengan mu " Perintahnya.


" Baiklah " Jawab Dylan sopan lalu memutus sambungan teleponnya dan kemudian berbelok arah menuju ruangan kepala sekolah.


Sekertaris Yuri telah menunggunya di sofa panjang yang ada disana, dan begitu Dylan mengetuk pintunya dia langsung menyuruhnya masuk.


" Apa ini ? " Tanya Dylan bingung saat Sekertaris Yuri menyerahkan sebuah kertas padanya.


" Aku hanya minta tolong berikan ini pada Dasya " Jawabnya santai.


" Dasya ? " Dylan mengernyitkan keningnya bingung, dia tidak mengenal Dasya, jadi apa hubungannya dengan dirinya.


" Kalian kan satu kelas " Jawab Sekertaris Yuri.


" Tidak ada yang namanya Dasya di kelasku " Jawabnya dengan pasti, meskipun mereka semua mengucilkan Dylan, tapi Dylan hapal nama semua teman sekelasnya.


" Ah maaf maksud ku Blair " Jawab Sekertaris Yuri.


" Blair ? " Dylan kembali mengernyitkan keningnya. Sekertaris Yuri yang melihat itu menepuk jidatnya dan menghela napas kesal. Benar-benar tidak percaya Dylan tidak mengenali Blair.


" Dia artis yang baru saja pindah ke sekolah kita dan menurut tuan muda Ken dia sekelas dengan mu " Jelas Sekertaris Yuri setengah kesal.


" Ah si anak baru, baiklah " Dylan mengangguk-angguk paham dan meraih kertas yang di sodorkan sekertaris Yuri tadi.


" Jangan bilang kau bahkan tidak ingat sudah menabraknya sewaktu di restoran Italia ? " Tanya Sekertaris Yuri memastikan.


" Tentu saja aku ingat kalau aku menabrak seseorang di depan restoran itu, tapi aku tidak ingat siapa yang aku tabrak " Jawab Dylan santai.


" Haaah... sepertinya kau akan jadi sangat berbeda dengan kakak-kakakmu " Sekertaris Yuri menatap Dylan lekat-lekat, menilainya.


" Yaah tapi siapa tau, bukankah kekonyolan itu menular " Ocehnya seraya mengedikkan bahunya.


Dylan yang tidak paham apapun yang di ucapkan oleh semua anggota Klan Loyard hanya bisa menghela napas, dengan jengah dia memutar kepalanya.


" Kalian ini selalu bicara hal yang tidak bisa aku mengerti " Keluhnya malas.


" Bersabarlah, sebentar lagi kau juga akan mulai terbiasa " Jawab Sekertaris Yuri terkekeh. Dylan yang merasa urusan mereka telah selesai pamit undur diri untuk kembali ke kelasnya.


Dengan malas Dylan berjalan menuju tempat duduknya yang ada di belakang. Dan disanalah Blair, sedang di kerumuni oleh para siswa yang menjadi fansnya dan mengantri untuk meminta tanda tangan juga foto bersama.


" Permisi " Ucap Dylan memecah kerumunan itu.


" Apa sih " Sungut seorang siswa yang melihat Dylan menyerobot masuk kedalam kerumunan. Namun Dylan tetap acuh, dia terus saja masuk dan memisah-misah orang lain, mencari celah untuk sampai ke bangkunya.


" Hei kalau ingin tanda tangan antri dong, jangan menyela " Teriak seseorang yang kesal dengan sikap Dylan.


Dylan menghela napas jengah, dia bukan tipe orang yang bersabar dengan tingkah orang lain, merasa sikap baiknya akan sia-sia saja dan buang-buang waktu, dia menerobos masuk dan memisah murid-murid dengan kasar.


" Augh... "


" Aduh... "


" Aahh... " Teriakan demi teriakan terdengar saat Dylan mendorong mereka ke samping dengan keras. Dan semua wajah menoleh serempak kepadanya dengan pandangan marah.


" Kalau kalian tidak bubar dalam 5 detik, percayalah aku akan membuat kalian semua di hukum karena mengganggu kegiatan belajar mengajar " Ancamnya dingin.


" Sok sekali "


" Itu kan si anak pe.... "


" Dia memang benar-benar menyebalkan " Maki murid-murid yang perlahan-lahan membuyarkan diri dan meninggalkan meja Blair serta meja Dylan yang bersebelahan.


" Dasar " Gumam Blair lirih tanpa menoleh ke arah Dylan setelah Dylan duduk di bangkunya.


" Ini " Dylan melemparkan kertas yang di bawanya ke arah Blair tanpa menoleh ke arahnya.


" Apa ini ? " Tanya Blair berpura-pura sopan.


" Apa kau ingin tanda tangan ku juga ? " Tanyanya lagi dengan lembut.


" Itu untuk Dasya dari kepala sekolah " Jawab Dylan acuh dan langsung membuka tasnya mengeluarkan buku matematika dan membaca kumpulan rumus yang mampu membuat mata juling seketika.

__ADS_1


" Apa ?!? " Pekik Blair begitu mendengar namanya disebut oleh Dylan. Semua siswa yang ada dikelas langsung menoleh ke arah Blair dan menatap curiga ke arah Dylan.


" Maaf maaf " Ucap Blair dengan senyum sungkan berusaha meredakan pandangan semua orang. Setelah mereka semua tidak menatapnya lagi baru Blair menoleh ke arah Dylan, menatapnya tajam dan mengambil napas dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan, dan kembali memasang senyumnya.


" Maaf... itu... kurasa kau salah memberikan kertas ini, namaku bukan Dasya tapi Blair " Ucapnya sopan dan tersenyum manis.


" Kalau begitu kau berikan sendiri padanya, aku hanya meneruskan apa yang di sampaikan kepala sekolah padaku " Jawab Dylan acuh tanpa melepaskan pandangan matanya dari kumpulan rumus yang tercetak di buku.


Setan !!!!


Maki Blair di dalam hatinya keras-keras, dengan tangan gemetaran dia meremas kertas yang ada dihadapannya saat ini.


" Baiklah terima kasih " Jawabnya lagi dengan senyum palsunya dan segera memasukkan kertas yang telah lusuh tersebut kedalam tasnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Matahari telah merangkak naik, Kiran dan Ken telah selesai bersiap-siap untuk berangkat bulan madu, mereka hanya membawa masing-masing 1 koper.


" Hati-hati di jalan ya " Ucap Ruby seraya memeluk Kiran sebelum mereka berpisah di depan pintu utama. Adelia dan Nenek Mis juga datang untuk berpamitan kembali ke desa.


" Terima kasih " Jawab Kiran tersenyum.


" Hati-hati ya nak, jangan lupa kabari ibu jika kau sudah sampai disana " Pesan Adelia juga ikut memeluk Kiran.


" Pasti akan ku kabari " Jawab Kiran memastikan, lalu mereka melepaskan pelukan mereka. Dia menoleh ke arah Nenek Mis yang masih terlihat kesal saat menatap Ken. Membuat Ken sangat canggung saat berpamitan kepada Adelia maupun dengan Nenek Mis.


" Jangan lama-lama perginya " Pesan Rai saat Ken menatapnya.


" Tidak perlu repot-repot menunggu, karena aku pasti akan mematikan ponselku agar kau tidak bisa menghubungiku " Cibir Ken sinis.


" Hei !! " Kesal Rai.


" Kau kan tau kalau tal... " Teriak Rai kepada Ken. Namun belum lagi Rai menyelesaikan kalimatnya, Ken sudah memotongnya.


" Aku tau, aku tau " Omel Ken kesal karena mereka terus saja mengingatkan perihal tali pusar Raline.


" Mas Ken memang jahat, jangan khawatir Mas Rai aku akan selalu membela mu " Ucap Nenek Mis mendelik ke arah Ken, hal itu membuat Ken terdiam membisu begitu namanya dan nama kakaknya di sebut oleh Nenek Mis. Rai yang tidak mengerti apapun hanya melihat Nenek Mis dengan heran.


Sementara Kiran yang sedang cekikikan membisikkan arti ucapan Nenek Mis kepada Ken, lalu disambut gelak tawa Ken yang semakin membuat Rai bingung.


" Jaga dia baik-baik ya " Pesan Ken kepada Rai yang kemudian kembali tergelak.


Kiran dan Ken rencananya akan bulan madu di desanya para hobbit yang ada di selandia baru menggunakan pesawat pribadi selama beberapa minggu.


Semula Regis juga meminta Rai dan Ruby untuk ikut berbulan madu, namun karena Raline yang masih terlalu kecil untuk di ajak berpergian maka mereka memutuskan akan menundanya saja.


Setelah berpamitan Ken dan Kiran pun pergi menuju bandara dengan di antarkan oleh sopir. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di bandara, dan mereka langsung di jemput oleh pilot dan pramugari yang akan melayani mereka selama penerbangan.


Segala sesuatunya telah disiapkan oleh para pilot dan pramugari jadi Ken dan Kiran hanya perlu masuk kedalam pesawat dan kemudian pergi berbulan madu dengan manis tanpa gangguan.


Perjalanan lintas negara tersebut memakan waktu hampir 11 jam, bukan perjalanan yang sebentar, tapi karena mereka menggunakan pesawat pribadi maka tentu saja perjalan tersebut akan terasa sangat nyaman.


Setelah pesawat lepas landas dan mengudara, Ken melepaskan sabuk pengamannya dan juga sabuk pengaman Kiran, dia lalu mengajaknya pergi ke sisi lain dari pesawat pribadi milik keluarganya tersebut.


Pesawat pribadi milik Klan Loyard di lengkapi dengan kabin pribadi di lantai atasnya yang di kelilingi oleh selambu berwarna emas dan lantai bawah khusus untuk para kru serta dapur dan juga toilet.


Pesawat tersebut telah di modifikasi sedemikian rupa hingga hanya ada deretan sofa panjang dengan sabuk pengaman yang hanya di gunakan untuk saat lepas landas dan juga mendarat. Dilengkapi dengan bar mini dan juga dapur yang sangat modern membuatnya terlihat lebih mirip kamar hotel daripada sebuah pesawat, hotel terbang lebih tepatnya.


" Apa memang begini bentuknya pesawat ? " Tanya Kiran bingung saat melihat desain pesawat tersebut.


" Tentu saja karena ini adalah pesawat pribadi " Saut Ken santai.


" Tapi memang boleh ada tempat tidur disini ? " Tanya Kiran ragu-ragu.


" Kenapa tidak, itu kan buat bulan madu kita " Jawabnya sombong seraya berjalan ke arah tempat tidur yang ada di pesawat tersebut.


" Sini " Lanjutnya seraya menepuk tempat kosong yang ada di sebelahnya.


Walaupun masih bingung Kiran tetap menuruti perintah Ken dan berjalan mendekatinya, namun belum sampai Kiran duduk di samping Ken, dia sudah menarik tubuh Kiran dan membuatnya jatuh kedalam pangkuannya.


" Kita mulai pemanasan dulu ya " Goda Ken mengerlirkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2