
Ken membantu Kiran berdiri, dia merasa sangat bahagia bisa melihat Kiran lagi. Terlebih saat ini Kiran terlihat begitu cantik dalam balutan pakaian kasual.
" Aku kira kau tidak ikut ? " Ken bertanya acuh, berpura-pura tidak terlalu bersemangat saat bertemu Kiran.
" Ah ya, aku mabuk laut saat naik kapal tadi, jadi begitu sampai aku langsung mencari toilet, sekarang perutku sangat tidak nyaman sekali " Kiran menjawab lemas dan menggosok-gosok perutnya yang masih mual, wajahnya terlihat sangat pucat.
" Kau ini kenapa ceroboh sekali, harusnya kau bilang padaku, kita bisa naik helikopter bersama-sama " Ken berdecak kesal melihat Kiran yang mengabaikan kesehatannya sendiri.
" Ayo kita obati " Ken menarik tangan Kiran, mengajaknya pergi menuju kamarnya untuk mengobati Kiran.
Namun baru beberapa langkah, Kiran mendadak berhenti, dia melepaskan tangan yang di genggam Ken untuk menahan mulutnya yang ingin muntah lagi.
" Huek " Kiran merasa mual tapi masih bisa menahannya, wajahnya terlihat semakin pucat. Satu tangannya mengelus-elus perutnya yang terasa mual.
Ken yang melihat itu segera melingkarkan tangannya ke pundak Kiran untuk menuntunnya pergi ke toilet.
" Huek " Kiran masih merasa sangat mual dan ingin muntah.
" Kau baik-baik saja ? " Ken bertanya prihatin kepada Kiran, dia menepuk punggung Kiran lembut.
" Aku pusing dan mual " Kiran menjawab lirih.
" Aku tau, memang seperti itu rasanya " Ken mencoba menghibur Kiran.
Dan ikut menggosok perut Kiran yang terasa mual. Dan terus menuntunnya menuju toilet.
Semua adegan demi adegan tadi ternyata di saksikan oleh pak Tomy, seorang guru matematika baru, yang tadinya akan menuju kamarnya, namun karena melihat Ken dan Kiran, dia tidak jadi lewat dan hanya mengintip dari balik tembok, menguping lebih tepatnya.
Astaga !! Apa itu tadi ? Bu Kiran mual dan pak Ken sedang... jangan-jangan...
Pak Tomy yang menyaksikannya hanya mampu melongo, menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak, melihat kejadian yang tak terduga itu dengan mata kepalanya sendiri.
Batinnya bergejolak antara percaya dan tidak, antara takut dan ingin bergosip. Perdebatan antara setan dan malaikatnya di mulai, kalau dia bergosip tentunya itu akan jadi berita heboh, tapi dia juga harus bersiap dengan konsekuensinya kalau ketahuan, dia harus berhadapan dengan Klan yang tidak kenal ampun tersebut. Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk menyelidiki lebih dulu berita itu sebelum memutuskan akan menjadi gosip atau tidak. Dia segera kembali ke kumpulan guru yang ada di halaman resort.
Sementara Kiran yang sudah selesai dengan muntahannya keluar toilet wanita, Ken yang menunggunya dengan bersandar di dinding segera menegakkan punggungnya begitu melihat Kiran.
" Sudah enakan ? " Tanyanya khawatir.
__ADS_1
" Ya tapi aku masih sedikit pusing, aku ingin istirahat tapi aku belum tau dimana kamar ku " Kiran menjawab lemas.
" Kalau begitu ke kamar ku saja dulu, nanti akan ku tanyakan pada panitia kau ada di kamar mana " Tawar Ken kepada Kiran.
" Tidak aku akan bertanya pada pak Joni saja dimana kamar ku " Tolak Kiran halus tapi tetap memegangi perutnya yang masih sangat mual.
" Kenapa keras kepala sekali, aku tidak akan macam-macam, kalau kau tidak percaya aku hanya akan mengantarmu sampai depan pintu lalu aku akan pergi " Ken menjawab kesal, nadanya mulai meninggi tapi Kiran hanya terdiam dan menatap Ken dengan wajahnya yang pucat.
Aku bukannya tidak percaya padamu, aku hanya tidak ingin perasaanku semakin berkembang tak terkendali.
Kiran menggelengkan kepalanya melawan perasaannya yang berdebar tak karuan saat ini karena berada di dekat Ken.
Tapi Ken bergerak lebih cepat, dia tidak menunggu jawaban Kiran dan langsung menarik tangan Kiran agar mengikutinya. Mereka berjalan melewati lorong menuju kamar khusus untuk Ken.
Ruangan yang hampir sama dengan yang di tempati Ruby dulu, hanya saja dengan sudut pemandangan yang berbeda.
Ken menarik Kiran menuju sofa besar yang ada di ruangan tersebut.
" Tunggu sebentar, aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makanan dan obat untuk mu " Ken dengan cepat meraih pesawat telepon yang ada di ruangan itu dan menelepon manager resort, memerintahkannya untuk membawakan makanan serta obat-obatan khusus untuk mabuk laut.
Tak berapa lama 2 pelayan wanita datang dengan mendorong troli berisi berbagai aneka makanan, mulai dari steak sampai buah-buahan yang menyegarkan, tak lupa juga beberapa minuman penghangat tradisional untuk meredakan mual akibat mabuk perjalanan.
" Sudah makan saja, anggap ini salah satu bentuk tanggung jawab ku selaku kepala sekolah terhadap bawahannya, kalau kau sakit aku juga yang akan repot nantinya " Ken menjawab acuh sekaligus kesal karena Kiran sangat keras kepala.
Mereka berdua makan dalam diam, saling canggung, membuat Ken semakin salah tingkah, dia ingin hubungannya dengan Kiran kembali seperti dulu.
" Kenapa kau menghindari ku ? " Tanya Ken tiba-tiba, dia sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Baginya sekarang sudah terlambat untuk saling merasa gengsi.
" Aku tidak menghindar " Kiran menjawab santai, dan tetap menyantap salad buah yang terhidang di depannya.
" Kalau kau tidak menghindar kenapa kau tidak mengirimi ku pesan sama sekali ? " Kejar Ken tidak terima, dia merasa harus menuntaskan semuanya hari ini.
" Memangnya aku harus mengirimu pesan apa ? " Tanya Kiran polos.
" Kau tidak berusaha menjelaskan kesalahpahaman kita ? " Tanya Ken kesal.
" Kesalahpahaman ? Kesalahpahaman apa ? " Tanya Kiran semakin bingung.
__ADS_1
Ken yang merasa kekesalannya memuncak di ubun-ubunnya sudah tidak tahan lagi.
" Kau... Jadi selama ini kau merasa tidak perlu meluruskan sesuatu ? Tidak perlu mengkonfirmasi sesuatu ? " Tanya Ken dengan setengah berteriak.
" Tidak " Kiran menggeleng santai.
" Jadi benar kau tidak ada perasaan apapun untukku ? " Cecar Ken tidak percaya, dia yakin sebenarnya Kiran juga menyukainya, tapi dia tidak tau apa alasannya menolak Ken.
Benar saja dugaan Ken, Kiran terdiam tidak menjawab dan menundukkan wajahnya, menghindari tatapan tajam Ken yang saat ini berusaha menyelidikinya.
Melihat reaksi Kiran dirinya semakin percaya diri untuk mendapatkan Kiran.
" Aku tidak mengerti alasanmu menolak ku, tapi yang aku tau kau juga menyukai ku " Lanjut Ken menginterogasi Kiran, dan Kiran masih terdiam membisu.
" Kalau kau masih terus diam saja, aku tidak peduli lagi, aku akan berbuat nekat. Saat acara api unggun penutupan nanti malam aku akan menyatakan perasaan ku di depan semua orang " Ancam Ken, karena dia yakin Kiran benar-benar menyukainya juga.
" Jangan !! " Kiran menjawab cepat.
" Kenapa ? Kenapa aku tidak boleh melakukannya di depan semua orang ? " Tanya Ken semakin percaya diri.
" Ken sudahlah, apa kau akan berusaha sekeras ini ? Berhentilah, aku...aku... " Kiran mengelak dengan terbata-bata, dia tidak menyiapkan dirinya untuk perdebatan seperti ini sebelumnya.
" Tidak, aku tidak akan berhenti, aku akan terus mengejarmu sampai kau juga menyukai ku " Ken bersikeras dan tetap teguh pada pendiriannya.
" Aku bukannya tidak menyukai mu, hanya saja... " Kiran menjawab dengan terburu-buru, tapi dirinya malah tanpa sadar mengungkapkan perasaannya.
" Hanya apa ? " Potong Ken cepat, dia merasa keadaannya sudah di atas awan, Kiran yang terpojok semakin merasa gelisah.
" Aku sudah lebih baik, aku akan permisi keluar dulu " Kiran memutuskan menyudahi perdebatan ini dengan kabur, dia sudah tidak sanggup lagi menangani Ken.
Belum sempat Ken mencegahnya, Kiran sudah sampai di depan pintu dan membukanya dengan cepat lalu berlari keluar. Dengan napas terengah-engah dia bersembunyi di balik pot besar yang ada di lorong resort itu.
Ya kau benar Kiran, kau sudah benar, jangan terima perasaannya, kau tidak akan sanggup bertahan.
Kiran mengatur napasnya dengan menepuk-nepuk pelan dadanya.
Semua curhatan Ruby tentang menjadi istri Rai kembali terputar di otaknya, bagaimana kejamnya para wanita di luaran sana yang dengan tega membuat akun anti-fans club hanya untuk memberikan komentar-komentar buruk tentang Ruby, mereka seperti detektif yang mencari tau tentang Ruby sampai ke akar-akarnya dan membuatnya menjadi bahan untuk semakin menjelek-jelakkan Ruby.
__ADS_1
" Bukannya aku tidak pernah berpikir untuk membalas mereka, saat aku mencoba menemui mereka, ternyata mereka masih seorang pelajar atau ibu muda yang baru memiliki bayi, dan kalau aku membalasnya sama saja aku menghancurkan masa depan pelajar atau bahkan menghancurkan masa depan bayi yang tidak berdosa itu, karena kau tau sendiri Rai tidak mentoleransi pembalasan jika sudah menyangkut diriku. Berulang kali ku katakan pada diriku sendiri kalau aku akan baik-baik saja, aku akan bahagia, tapi nyatanya itu tidak bisa dengan mudah di lakukan, siapa yang coba aku bohongi ? Diriku sendiri tidak baik-baik saja, kemana pun aku pergi, setiap mata selalu mengawasi ku, menunggu ku untuk melakukan kesalahan walau sekecil apapun, lalu menjadikannya bahan hinaan di sosial media, atau menggunjingkanku di belakangku. Kau tau, itu menyakitkan " Kata-kata Ruby sewaktu bercerita padanya di bangku taman mansion masih teringat jelas di kepala Kiran, dan Kiran memang seorang pengecut yang tidak siap dengan konsekuensi sebesar itu untuk mencintai Ken.
" Maafkan aku Ken, aku tidak sekuat Ruby yang mampu menahan buruknya komentar orang-orang di luaran sana. Aku lebih rapuh dan aku orang yang buruk, kau pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dari ku, aku tidak ingin kau jadi ikut-ikutan terlihat buruk hanya karena menyukai orang yang salah " Kiran bergumam lirih dengan air mata yang mengalir di pipinya, dia menyeka air matanya dan pergi meninggalkan lorong untuk menemui panitia outbond.