
Pertarungan antara rembo dan ipin berjalan dengan tidak seimbang dan hanya membuat kelelahan saja. Tidak ada yang terluka sama sekali, hanya harga diri Dylan saja yang terkoyak berkali-kali saat Ken dengan mudahnya memukul pelan punggung, kepala, bahkan pantat Dylan untuk membalas serangannya.
Setelah pertarungan sengit yang terasa seperti selama tujuh purnama, akhirnya terdengar bunyi peluit panjang yang menandakan berakhirnya pertandingan mereka sekaligus permainan outbond ini. Suasana tepi hutan yang masih rimbun oleh pepohonan memang menghalangi sinar matahari menusuk tajam, karenanya mereka tidak sadar bahwa matahari telah berada tepat di atas kepala.
" Sudah nanti saja dilanjutkan kalau kau sudah lebih mahir dari ini " Ken memutuskan mengakhiri pertarungannya. Kiran yang semula khawatir sekarang malah duduk bosan di atas batu, dengan tangan menopang dagu di atas lutut, menyaksikan pertarungan yang menurutnya tidak jelas alurnya, apakah mereka berdua berkelahi atau sedang bermain gobak sodor.
" Sudah selesai ? Aku lapar sekali " Kiran ikut membuka suara setelah melihat Ken yang seperti menjauh dari Dylan.
Dylan yang kalah telak tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia sadar diri tidak cukup ahli untuk melawan Ken, tapi bagaimanapun dia akan berusaha mengalahkannya suatu hari nanti.
" Ayo Dylan kita kembali " Ajak Kiran kepada Dylan yang masih diam membeku menatap Ken dengan kesal dan napas yang tersengal-sengal.
Mau tidak mau Dylan menuruti ajakan Kiran, toh dia tidak punya alasan untuk menolak karena mereka satu tujuan.
Namun saat Kiran dan Ken lengah, Dylan menggunakan kesempatan itu untuk menawan Kiran, dia menarik Kiran dari arah belakang dan langsung melingkarkan lengannya ke arah leher Kiran.
" Kalau kau ingin dia selamat, cepat katakan di mana pembunuh itu " Dylan mengancam seraya menodongkan senapan paintball nya ke arah pelipis Kiran.
Ken yang terkejut diam membeku di tempat, dia bingung sekaligus kesal melihat tingkah Dylan.
" Tidak ipin ah bukan Rahul, aku baik-baik saja kau tidak perlu khawatir, jangan hiraukan keselamatanku, pergilah " Ucap Kiran dengan lantang dan suara tercekat. Ken yang melihat itu menghela napas panjang.
" Hah akhirnya ku temukan juga kelemahanmu ipin, kau pikir aku rembo ayam pencuri sendal ? Kau salah besar !! Aku rambo, yang akan menuntut balas padamu hahaha " Dylan tertawa jahat, dia merasa di atas awan kali ini. Dia membuat nada suaranya terdengar mendramatisir kemenangannya.
Ken yang sudah kelelahan dan tidak ingin meladeni Dylan lagi membuka mulutnya akan menjawab, namun Kiran sudah lebih dulu memotongnya.
" Tidak !! Aku akan berkorban untukmu, biarkan saja aku, pergilah, apapun akan ku lakukan untuk mu asal kau selamat " Ucap Kiran yakin dan ikhlas, dia akan berkorban asalkan Ken baik-baik saja.
" Cepat katakan atau dia akan ku kirim ke neraka !! " Bentak Dylan dengan mata mendelik kejam. Ken kembali menghela napas panjang, lelah dan kesal.
" Sudah puas bermain drama nya ? Kalau belum aku akan mengusulkan untuk di adakan pentas teater dalam upacara pelepasan murid tahun ke tiga " Jawab Ken acuh, dia sama sekali tidak terlihat khawatir.
__ADS_1
" Apa ? " Dylan dan Kiran kompak heran, Dylan tidak menyangka upayanya menahan Kiran tidak membuahkan hasil, dan Kiran juga tidak menyangka bahwa Ken akan tidak sepeduli itu terhadap keselamatannya.
" Jadi kau tidak peduli dia terluka atau tidak ? " Tanya Dylan masih bingung.
" Hei kau itu sama sekali tidak berbahaya, dan lagipula siapa yang akan kau kirim ke neraka dengan senapan paintball itu ? Kau hanya akan mengirimnya ke kamar mandi karena harus membersihkan diri dari tinta nya " Jawab Ken malas dan berkacak pinggang.
" Sudahlah jangan bermain-main terus, ayo cepat kembali " Ajak Ken kemudian, dia berjalan lebih dulu meninggalkan Dylan dan Kiran yang masih terbengong-bengong melihat Ken yang begitu santainya.
" Wah bu Kiran ternyata kau tidak seberharga itu untuknya, apa kau yakin dia menyukaimu ? " Dylan memanas-manasi suasana hati Kiran yang memang sudah buruk karena melihat Ken yang acuh.
" Tidak tau !!! " Bentak Kiran ke arah Dylan, dengan kasar menyentakkan tangan Dylan dari lehernya dan berjalan cepat menghentak-hentakkan kakinya menyusul Ken yang sudah agak jauh berada di depan. Kiran sengaja menabrak punggung Ken dengan kasar membuat Ken terdorong ke depan, namun Kiran masih terus saja melanjutkan langkahnya tanpa berhenti untuk menoleh ke arah Ken.
Kiran sampai lebih dulu ke area resort, tentunya dengan wajah cemberut. Ken dan Dylan berjalan pelan di belakangnya. Para guru yang melihat ekspresi Kiran kompak menoleh ke arah Ken yang terlihat santai dan acuh, mereka semua heran apa yang terjadi diantara mereka sampai membuat Kiran yang biasanya terlihat lembut dan kalem seperti malaikat sekarang berubah menjadi kesal hingga berjalan menghentak-hentakkan kaki dengan keras.
" Kau baik-baik saja bu Kiran ? " Tanya Bu Lia penasaran.
" Ya " Kiran menjawab singkat masih dengan nada suara ketus.
Bu Lia yang paham dengan kemarahan Kiran memilih untuk tidak ikut campur lebih jauh, dia mengajak Kiran kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri karena banyak sekali tinta terciprat di wajahnya.
" Selamat apanya, aku di todong senapan dan akan di kirim ke neraka tapi dia hanya diam saja, cih begini dia bilang menyukaiku ! " Kiran mengomel tanpa sadar.
" Apa ? " Bu Lia bertanya heran, tidak mengerti kemana arah pembicaraan Kiran.
" Siapa yang akan di kirim ke neraka ? " Tanyanya kemudian.
Kiran yang tersadar telah kelepasan bicara tersenyum lebar dipaksakan.
" Ah itu tadi...itu... " Kiran berusaha mencari jawaban yang masuk akal, hampir saja dia membongkar rahasianya dengan mulutnya sendiri. Dia menatap Bu Lia, berharap Bu Lia tidak peduli, tapi ternyata Bu Lia malah dengan sabar menunggu jawaban Kiran.
" Ah itu tadi bukankah kita para guru adalah team, tapi sewaktu mempertahankan bendera itu Pak Ken tidak ingin bekerja sama, dia membiarkan Dylan menembaki ku, dia berteriak akan mengirimku ke neraka, begitu " Kiran menjelaskan dengan gugup dan senyum yang di paksakan, berharap jawabannya akan terdengar masuk akal dan Bu Lia tidak akan curiga.
__ADS_1
" Ooh begitu, jadi Pak Ken diam saja tidak ikut bekerja sama " Bu Lia mengangguk-angguk mendengar penjelasan Kiran.
" Mungkin itu karena dia kesal kau memanggilnya ipin dan rahul tadi, jadi dia tidak ingin menolongmu, eh tapi kalau kau di tembaki Dylan kenapa rompi mu sangat bersih, tidak ada tinta sedikitpun ? " Bu Lia kembali bertanya karena melihat kejanggalan dari cerita Kiran.
Kiran yang gugup segera mengamati rompi yang melekat di tubuhnya, memang benar bersih tanpa noda. Dia menjadi semakin gugup tidak bisa lagi menemukan alasan yang masuk akal untuk di berikan.
" Oh be-benar ya... tidak ada bekas noda, apa karena tintanya hitam ya makanya tidak kelihatan " Kiran menjawab terbata-bata dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
" Kau ini ada-ada saja bu Kiran, semua tinta paintball nya berwarna kuning, terkadang kau bersikap sangat polos sekali. Kau tidak pandai berbohong " Ucap Bu Lia sabar dengan tersenyum lebar, dan Kiran semakin malu karena telah ketahuan berbohong.
Aish gara-gara ipin aku harus jadi pembohong, sekarang bagaimana orang-orang akan memandangku.
Kiran berjalan lambat dan membiarkan Bu Lia berada di depan, dia terlalu sibuk memukuli mulutnya yang menyebabkan masalah.
Kiran memasuki kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Bu Lia, resort Lord sangat luas, sehingga mampu menampung semua murid dan guru tanpa perlu berbagi kamar.
Kiran melepas rompinya, melemparkannya asal ke arah sofa dan mendudukkan dirinya dengan keras di sebelahnya. Dia menghela napas kesal.
" Cinta apanya ? Baru senjata mainan saja dia tidak peduli, apalagi senjata sungguhan. Aku menyesal telah menyukainya " Gerutu Kiran memaki Ken.
Drrrttt, drrrttt !! Ponsel Kiran di sakunya bergetar, dengan malas dia merogohnya. Sebuah pesan masuk.
Sayang kau sudah di kamar ? Istirahatlah, kita bertemu nanti saat makan siang ❤️❤️
" Cih masih berani juga dia memanggilku sayang " Kiran mencibir sinis melihat ponselnya. Dia mengetik balasan pesannya dengan cepat dan kemudian melemparkan ponselnya asal.
Sementara itu Ken yang sedang menunggu balasan pesan singkatnya sedang duduk selonjoran di sofa, matanya terus terpaku pada layar ponselnya hingga sebuah pesan masuk.
Y
" Apa ini ? Kenapa dia hanya membalas sesingkat ini ? Apa dia marah ? Tapi dia marah kenapa ? " Ken bergumam sendiri, dia mencoba mengingat-ingat kejadian mereka tadi saat di hutan.
__ADS_1
" Hah ? " Ken seperti tersadar sesuatu, dia terkejut dengan ingatannya, dia menemukan alasan kenapa Kiran marah padanya.
" Dia pasti marah karena aku tadi tidak memberikannya tepuk tangan dalam drama permainannya bersama Dylan, ya dia pasti marah karena itu, bodoh, kenapa aku tadi malah cuek, harusnya aku bertepuk tangan. Bukankah kami tadi formasi lengkap, Upin Ipin dan Rembo. Aish !! " Ken sibuk memaki dirinya sendiri.