Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Si Baung Rekso


__ADS_3

Ken berjalan menuju garasi mansionnya, telah lama dia menunggu saat-saat seperti ini untuk menggunakan Terumi, mobil jeep offroadnya yang di modifikasi secara khusus untuk medan tanjakan pegunungan.


" Ayo Terumi kita menyusul Kiran " Ucapnya penuh semangat, dengan gagah ala pemain fast furius dia menaiki mobilnya dan memakai kacamata hitamnya, menambah lengkap penampilannya yang bertema maskulin.


Perlahan tapi pasti dia menekan tombol start untuk menyalakan mesin mobilnya, suara deru garang dari mobilnya segera memenuhi garasi yang luas dengan banyak sekali koleksi mobil milik ayahnya.


Dia melajukan mobilnya meninggalkan mansionnya, menuju ke tempat dimana gadisnya berada. Namun baru beberapa meter jauhnya dia teringat sesuatu. Dia menepikan mobilnya dan bergegas mengambil ponselnya.


" Umm... begini marimar... apa kebetulan kau tau dimana kampung halaman Kiran ? " Tanyanya malu-malu kepada Ruby disaluran ponselnya.


" Haaah... ku kira kau sudah tau, melihat rasa percaya dirimu yang luar biasa begitu " Jawab Ruby malas.


" Sorry " Kekeh Ken.


" Baiklah, aku akan beritahukan alamatnya, cari saja di map, ok " Jawab Ruby dan kemudian menutup sambungan teleponnya, dan kemudian dia mengirimkan pesan.


Setelah mendapatkan alamat kampung halaman Kiran dia kemudian menggunakan aplikasi map untuk pergi kesana.


Hari belum terlalu petang saat Ken berangkat kesana, tapi mengingat kampung halaman Kiran membutuhkan waktu 3 jam perjalanan, maka pasti Ken akan tiba disana setelah matahari terbenam.


Ken melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati, bukan karena apa, tapi karena itu adalah mobil kesayangan ayahnya, jika dia mengendarainya dengan sembrono maka Regis pasti akan menghukumnya.


Namun baru saja Ken memikirkan tentang ayahnya, ponselnya telah berbunyi dan seperti memiliki telepati, Regis menghubunginya. Ken yang terkejut segera menepikan mobilnya.


" Ya ? " Jawabnya takut.


" Ruby bilang kau akan menyusul Kiran ke kampung halamannya ? " Tanya Regis tanpa basa basi.


Aish sepertinya aku memang tidak bisa menyimpan sebuah rahasia di hidupku.


" Ya, aku sedang dalam perjalanan " Jawab Ken.


" Kau tidak pergi dengan tangan kosong bukan ? " Tebak Regis tepat sasaran.


" Tangan kosong ? " Tanya Ken bingung.


" Dasar anak nakal, jika itu kampung halaman Kiran, maka setidaknya kau harus membawa sesuatu untuk keluarganya yang ada disana, buah tangan kau tau " Jelas Regis panjang lebar.


Pantas saja Ken tidak tahu hal itu, dia tidak pernah berkunjung ke rumah seseorang dengan membawa buah tangan, jika pun harus maka sekertaris Yuri sudah pasti akan menyiapkannya.


" Baiklah aku akan membawa buah tangan, kira-kira apa yang harus aku bawa ? " Tanya Ken meminta pendapat.


" Karena kau membawa mobil jeep double cabin, maka penuhi saja bak belakang mobil dengan barang apapun " Jawab Regis asal, karena dia sendiri juga tidak pandai menebak oleh-oleh apa yang pantas di berikan untuk seseorang. Mereka sama saja, sekertaris Yuri selalu sudah mempersiapkan semuanya sebelum di minta.


" Ok baiklah, terima kasih " Jawab Ken dan kemudian dia menutup sambungan teleponnya.


Tanpa banyak berpikir Ken segera melajukan mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan milik Klan Loyard. Dengan pelayanan khusus dia memborong semua barang yang ada di sana, mulai dari baju, makanan, elektronik sampai mainan juga alat-alat kesehatan. Setelah semuanya tertata rapi di bak belakang mobilnya, dan memeriksa ulang apakah sudah cukup aman untuk berkendara di area pegunungan, maka Ken pun kembali melanjutkan perjalanannya.


Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, dan setelah beberapa lama jalanan yang tadinya ramai kini mulai sepi dengan perlahan-lahan, pemandangan disisi kanan dan kirinya pun mulai berganti dengan pepohonan-pepohonan, udara juga sudah mulai berubah menjadi sedikit lebih dingin.


Masih beberapa kilometer lagi jauhnya, tapi matahari sudah tenggelam. Waktu perjalanannya terpotong oleh kegiatan belanja oleh-olehnya tadi.


Suasana mulai terlihat mencekam, di kelilingi pohon di kanan dan kiri serta jalanan yang terjal berbatu, tanpa lampu penerangan di sepanjang jalan tentu membuat Ken sedikit bergidik ngeri.


Menyesal dia tadi tidak ingin di ikuti orang lain, jika tau akan seperti ini ujungnya, dia pasti akan meminta di antar kan sopir saja.


Ken kembali mengawasi layar gps di mobilnya, masih sesuai jalur yang artinya dia tidak akan tersesat. Dia menghela napas gelisah, karena ingin memberikan kejutan pada Kiran dia sampai rela pergi ke tempat yang sama sekali tidak dia kenal medan dan kondisinya.


Malam semakin larut, kabutpun mulai turun yang tandanya dia mulai memasuki area dataran yang lebih tinggi lagi.


50 meter di depan belok kanan


Perintah dari aplikasi map itu membuyarkan konsentrasi Ken. Dia menajamkan penglihatannya, mencari belokan di depannya. Dan sesuai intruksi dia membelokkan mobilnya ke kanan.


Jalanan kembali lurus, dengan batuan berukuran kecil dan sedang yang tertanam di sepanjang jalan, membuat mobil yang di tumpangi Ken berguncang-guncang.


Semoga saja ini bukan bagian dari cerita kkn di desa si tari, sangat tidak lucu jika kisah cintaku berbelok haluan.

__ADS_1


Ken hanya berani menggumamkan suaranya di dalam hati. Bibirnya seperti kelu walau hanya sekedar untuk menguap. Terlalu sepi, sedikit helaan napas lirih saja terdengar sepertinya sangat keras layaknya di film-film horor yang mencekam.


Waktu terasa seperti sangat lama saat dia melajukan mobilnya di jalanan yang lurus dan sepi ini, sesekali matanya melirik ke arah map digitalnya.


50 meter di depan belok kanan.


Lagi terdengar perintah dari aplikasi tersebut, seperti hanya itu satu-satunya yang menjadi temannya selama perjalanan.


Ken melihat belokan, dia memutar setir mobilnya, mulus dan lancar.


Seratus meter lagi lokasi yang anda tuju, ada di sebelah kanan.


Perintah aplikasi map digital itu lagi. Ken semakin menajamkan penglihatannya, suasana di depannya gelap gulita, hanya penerangan dari lampu mobilnya yang menyoroti jalanan.


Dengan jantung yang berdetak cepat Ken memperlambat laju mobilnya, merasa ada yang tidak beres dengan lokasinya saat ini.


Dia kembali melihat layar datar di mobilnya, sesuai jalur. Dan beralih menatap jalanan di depannya, sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan.


Anda telah sampai di tujuan.


Suara dari speaker layar datar di mobilnya membuatnya merinding. Dia menghentikan mobilnya. Menengok ke kanan dan ke kiri. Hanya sepi dan gelap yang terasa sejauh mata memandang.


" Kenapa ini harus terjadi padaku ? " Gumamnya takut. Dia mencoba mengotak atik gps di mobilnya, namun sia-sia, hasilnya tetap sama.


Dengan tangan gemetaran dia merogoh sakunya mencari ponselnya. Secepat kilat dia segera mencari nomor kontak Kiran dan meneleponnya. Lama sekali tidak tersambung. Dia terus mencobanya lagi. Mulutnya tak berhenti berdoa agar Kiran segera mengangkat teleponnya.


" Hallo ? " Jawab Kiran santai.


" Kiran, aku tersesat " Ucap Ken lirih.


" Tersesat ? Memangnya kau dimana ? " tanya Kiran bingung.


" Aku ada di negara amarta " Jawab Ken panik.


" Negara amarta ? " Tanya Kiran semakin bingung.


" Ah bukan maksudku, aku ada di tidak tau, aku berusaha menyusulmu ke kampung halamanmu tapi sepertinya aku tersesat " Jawab Ken gemetaran.


" Nanti saja kagetnya, sekarang bagaimana aku ? " Tanya Ken lirih.


" Disini menyeramkan " Sautnya takut.


" Baiklah, aku akan mengirimkan lokasi ku, kau ikuti saja petanya " Jawab Kiran cepat dan kemudian menutup teleponnya.


Tak berapa lama sebuah pesan masuk di ponsel Ken dan dia membukanya. Tanpa basa basi dia segera mencari lokasi Kiran di peta yang ada di ponselnya, dia tidak percaya lagi pada gps yang dipasang di mobilnya.


Benar saja, Ken tersesat lumayan jauh. Menurut petunjuk di ponselnya dia harus berputar dan berbalik arah.


Dengan sigap dia memutar mobilnya, namun saat lampu mobilnya menyorot lokasi dimana dia berhenti tadi, Ken semakin terkejut.


" HUA !! " Pekiknya keras begitu melihat papan yang terpasang di depan pagar yang terbuat dari kayu bambu tersebut, itu adalah sebuah pemakaman.


Semakin merinding, dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu. Tak peduli seberapa keras guncangan di mobilnya akibat medan terjal yang di lalui, yang penting dia segera pergi dari sana.


Dan benar saja, dirinya tersesat di awal belokan, jika gps mobilnya menunjukkan arah belok kanan, maka sebenarnya dia harus belok kiri.


Setelah berjalan beberapa lama mulai terlihat cahaya redup berpendar di ujung jalan, suasana gelap yang hanya tersoroti lampu mobilnya kini mulai berganti dengan cahaya lampu jalan yang berasal dari bola lampu yang dipasang di kayu bambu dan di tanam di tanah sebagai pengganti tiang lampu jalanan layaknya di kota-kota besar.


Ken sedikit mempercepat laju mobilnya, tak sabar ingin segera sampai dan bertemu dengan gadisnya.


Ken menajamkan pandangannya, di hadapannya beberapa meter jauhnya, dia melihat sebuah gapura besar dari batu bata yang sepertinya hanya disusun saja menyerupai tugu prasasti candi-candi kerajaan masa lampau.


Namun yang lebih membuatnya heran adalah di balik gapura itu berdiri segerombolan orang-orang yang memakai sarung di kepala mereka dan hanya menyisakan bagian matanya yang terlihat, seperti ninja tapi ini lebih ke ninja tradisional, mereka membawa senter maupun obor, menyorot ke arahnya.


Glek !! Ken menelan ludahnya kaku, dengan takut dia menghentikan mobilnya, dan gerombolan orang-orang tersebut langsung menghampirinya.


" Apa lagi ini ? " Rengeknya takut.

__ADS_1


Mereka semua memutari mobil Ken, mengamatinya dengan seksama, seperti belum pernah melihat sesuatu seperti itu sebelumnya.


Ken yang takut hanya bisa menengok kesana kemari waspada, berusaha menilai peluang kemenangannya jika harus melawan mereka semua


Tok, tok, tok !! Sebuah ketukan di kaca mobilnya sukses membuatnya berjengit kaget. Dia menolehkan kepalanya.


Kiran sedang tersenyum lebar dan melambaikan tangannya. Seketika perasaan lega dan aman merasukinya. Dengan tersenyum senang dia menghela napasnya.


Ken menurunkan kaca mobilnya.


" Lebih masuk ke dalam lagi, baru kau sampai, ibu sudah menunggumu di depan rumah " Tunjuk Kiran kearah gapura itu berada.


Lalu dengan aba-aba Kiran semua orang yang menggelilingi mobilnya segera menyingkir dan memberinya jalan untuk lewat.


Ken segera melajukan mobilnya kembali ke arah yang di tunjuk Kiran, dan benar saja mulai terlihat deretan rumah-rumah yang terbuat dari kayu dengan model rumah panggung. Setelah melewati beberapa rumah, Ken menangkap sesosok yang di kenalnya.


" Ah itu dia ibu Adelia, pasti disana rumahnya " Ken segera memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang tidak terlalu lebar tersebut. Dengan ragu-ragu dia turun dari mobil dan berjalan menuju Adelia juga warga lainnya yang berbaris rapi disamping kiri dan kanan Adelia. Jika tadi yang menghadang Ken di gapura depan adalah para bapak-bapak, kali ini yang menyambutnya bersama Adelia adalah para ibu-ibu.


" Hallo nak Ken " Sapa Adelia lembut dan tersenyum lebar.


" Hallo bu Adelia " Ken membungkukkan badannya memberi hormat kepada calon mertuanya tersebut.


Dia mengedarkan pandangannya menatap para ibu-ibu yang sedang berbisik-bisik dan tersenyum-senyum menatap Ken.


Tak berselang lama Kiran dan para bapak-bapak yang menyambutnya di gerbang depan telah sampai dan langsung bergabung dengan yang lainnya.


" Ayo masuk " Ajak bu Adelia sopan, dan mempersilahkan Ken memasuki sebuah rumah yang terlihat paling besar di antara rumah-rumah yang lainnya. Namun tetap terbuat dari kayu.


Ken menaiki anak tangganya satu persatu. Di dalam rumah tersebut, mereka masuk ke dalam ruangan yang cukup luas, tanpa ada perabotan apapun di dalamnya. Hanya beralaskan tikar.


" Silahkan duduk " Ucap bu Adelia sopan, dan kemudian dia masuk kedalam rumah bersama ibu-ibu yang lainnya, sementara para bapak-bapak langsung memenuhi ruangan tersebut mengikuti Ken.


Ken dengan sungkan menuruti perintah bu Adelia, dia menuju sudut ruangan. Ken menoleh kesana kemari dengan bingung, Kiran yang melihat itu segera menghampirinya.


" Kenapa ? " Tanya Kiran.


" Aku disuruh duduk, tapi tidak ada kursinya, apa maksudnya aku harus duduk dengan berpura-pura ada kursi di belakangku ? " Bisiknya lirih.


Kiran terkekeh mendengar jawab Ken.


" Dasar anak kota, begini caranya duduk tanpa kursi " Kiran segera menarik tangan Ken kebawah dan mereka jatuh terduduk.


" Lihat sudah duduk bukan ? " Jawab Kiran asal.


" Ini aku jatuh terduduk, bukannya duduk " Sautnya cepat.


" Sama saja, sudah duduk santai saja, silangkan kaki mu seperti ini dan seperti ini " Kiran membenarkan posisi kaki Ken agar terasa nyaman.


Bu Adelia dan para ibu-ibu keluar dari dalam ruangan membawa banyak sekali makanan dan minuman. Mereka kemudian menatanya di depan Ken. Membuat Ken semakin canggung dan bingung.


" Waktu Kiran bilang kau akan menyusul kemari, aku sedikit terkejut, dan kami tidak sempat menyiapkan penyambutan yang baik, jadi kami hanya bisa menghidangkan seadanya saja " Ucap bu Adelia lembut dan menyodorkan sepiring makanan yang terasa sangat aneh di mata Ken.


" Makanlah " Saut Kiran cepat dan mengambil sepotong besar singkong rebus utuh yang ada di atas piring.


Tanpa basa-basi Kiran segera menyuapkannya ke dalam mulut Ken.


" Bagaimana enak ? " Tanya Kiran antusias.


Aku makan kayu yang dimasak, bagaimana rasanya bisa jadi enak ?


Dia melirik Kiran yang Kiran yang terlihat sangat bahagia.


" Enak sekali " Bohongnya.


Acara ramah tamah para warga pun berlangsung, Ken mendapat sambutan yang luar biasa hangat layaknya tamu agung kerajaan. Meskipun mereka semua berasal dari desa, tapi mereka semua sangat menyenangkan dan memperlakukan Ken dengan sangat baik.


Ken menceritakan pengalamannya tersesat hingga menuju pemakan yang ada di tengah hutan. Namun saat Ken menceritakannya, wajah para warga seketika berubah pucat dan ketakutan.

__ADS_1


" Kau pasti di sesatkan oleh si baung rekso " Saut sebuah suara dari arah dalam rumah. Semua orang terkejut dengan jawaban tersebut dan menoleh ke arah asal suara.


" HIIIAAA !!! " Teriak Ken keras begitu melihat sesosok yang kini berjalan pelan mendekatinya.


__ADS_2