Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Upaya Penyelamatan


__ADS_3

Seperti sebuah tamparan keras yang di arahkan pada pipinya, Regis memalingkan wajah saat menyaksikan Ganung menggila dan memutuskan untuk menembak Kiran dan juga Dylan.


Walaupun Regis tau senjata yang di pegang Ganung adalah senjata angin rakitan dengan peluru karet yang tidak berbahaya, tapi tetap saja, peluru itu melukai Kiran dan Dylan. Cukup mampu untuk membuat keduanya pingsan, namun luka yang di timbulkan hanya akan sebesar biji kacang hijau dan tidak akan menimbulkan pendarahan hebat untuk korbannya. Pendarahan akibat tembakan itu akan berhenti dengan sendirinya setelah beberapa saat, apalagi tembakan Ganung tidak mengenai organ vital Kiran maupun Dylan.


Namun kejadian itu sudah membuat Regis yang mengawasi dari layar ponselnya sambungan kamera cctv yang jauh-jauh hari telah di pasang anak buahnya di seluruh penjuru rumah itu menjadi geram. Dia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, wajahnya yang biasanya selalu tenang dalam segala situasi kini berubah merah dan menegang, memunculkan guratan-guratan otot keunguan di wajahnya yang putih, bersaing dengan jumlah keriput yang mulai muncul disana disini.


" Tuan... " Sekertaris Yuri yang paham situasi yang terjadi mencoba berbicara kepada Regis.


" Inilah yang ku benci, anak-anak yang tidak bersalah itu akan terluka. Kau tau tidak mudah memiliki pasangan seorang preman seperti kami, baik Lorie, Ruby maupun Kiran, mereka mengalami nasib yang sama, apakah ini semacam kutukan untuk Klan ku ? " Ucap Regis dengan nada bergetar. Suaranya tercekat kala mengingat memori tentang Ruby yang juga sempat mengalami penculikan di waktu lalu.


" Anda tau ini tidak berhubungan dengan Klan tuan, bahkan tanpa campur tangan anda, Ganung akan terus mengincar nona Kiran " Sekertaris Yuri berusaha menenangkan Regis yang terlihat sangat terpukul melihat kejadian barusan.


" Aku selalu berusaha menempuh jalan yang lurus, tanpa pernah sedikit pun membelot, semua karena aku ingin membuktikan pada dunia kami bukan orang buangan yang hanya menjadi sampah masyarakat, tapi lihat, aku mempertaruhkan banyak hal untuk itu, menantu-menantu ku selalu berada dalam bahaya " Sesal Regis memandang keluar jendela mobil yang melaju menuju rumah Kiran di sekap.


Sekertaris Yuri hanya terdiam saja mendengar pengakuan Regis, dia tidak bisa menyangkal karena yang di katakan Regis memang benar adanya. Musuh Klan Loyard selalu ada di mana-mana, baik yang secara terang-terangan maupun terselubung. Regis mampu mempertahankan keluarganya selama ini karena Rai dan Ken mampu menjaga diri mereka sendiri, tapi kali ini berbeda, mereka harus melindungi orang-orang yang mereka sayangi, yang notabene adalah orang lemah.


Inilah bukti bahwa Tuhan berlaku adil, sebaik apapun kau memperkecil kemungkinan terburuk, selalu saja ada setitik bagian yang masih bisa menjadi celah untuk melakukan kesalahan.


Paham dengan situasi yang tengah bergejolak tersebut, Sekertaris Yuri meminta sopir untuk mempercepat laju mobilnya agar mereka bisa segera menyelamatkan Kiran dan Dylan.


Sementara itu Dylan dan Kiran mulai tersadar dari pingsannya, mereka berdua berada di atas kursi dengan tubuh terikat tali tambang yang kuat. Kiran yang lebih dulu sadar segera mengarahkan pandangannya menyapu seluruh ruangan, mereka berada di ruang makan, duduk di kursi menghadap meja makan berbentuk oval panjang. Dylan duduk di samping Kiran, sementara Adelia yang juga sudah sadar hanya bisa menangis terisak-isak di kursinya menyaksikan putri semata wayangnya terluka bersimbah darah.


" Bu... " Pekik Kiran histeris melihat ibunya yang duduk berhadapan dengannya juga mengalami nasib yang sama.


" Sayang maafkan ibu, ibu bersalah padamu, maafkan ibu " Isak Adelia dengan suara lirih, hilang timbul di antara tangisannya.


" Kau baik-baik saja kan ? Dia tidak melukaimu kan ? " Kiran pun ikut menangis saat bertanya pada ibunya. Wajah cantik ibunya yang dulu selalu penuh senyum keibuan, sekarang terlihat seperti 10 tahun lebih tua dari usianya, termakan beban pikiran dan rasa bersalah yang selama ini menggayutinya.


" Kalau ibu tidak membawanya kembali waktu itu, semua ini tidak akan menimpamu, maafkan ibu, ibu hanya dibutakan oleh kasih sayang terhadap saudara ibu, maafkan ibu " Adelia kembali terisak-isak dan menunduk dalam, meminta pengampunan dari putrinya.


" Tidak, ini bukan salah ibu, ini salahnya, dia yang bersalah, berhentilah menyalahkan diri sendiri, ya ? Kita akan keluar dari sini dengan selamat, aku akan berbicara baik-baik dengannya, tenanglah bu, jangan menangis lagi " Kiran masih berusaha menenangkan ibunya yang sudah lemas karena terlalu lama menangis.


Dylan yang sedari tadi hanya menyaksikan percakapan keduanya berusaha meraih ponsel yang ada disaku belakangnya, namun tangannya yang terikat di kursi sedikit memberinya kesulitan.


" Hei kenapa kau berbuat seperti itu ? " Maki Kiran menoleh ke arah Dylan, dia menatapnya dengan tajam penuh kebencian.


" Argh... sial, ku pikir menjadikanmu tameng bisa membuat kita pergi dengan selamat, aku tidak menyangka dia segila itu untuk menembak orang yang katanya sangat dicintainya " Bisik Dylan seraya meringis menahan rasa sakit di bahunya.

__ADS_1


Kiran yang semula marah kepadanya berubah heran mendengar jawaban aneh Dylan, dia menyelidik Dylan dari atas sampai bawah, menilai remaja yang duduk di sampingnya itu dengan seksama, dia sama anehnya dengan Ken, pikir Kiran.


" Apa maksud mu ? " Tanya Kiran bingung.


" Aku mendengarmu beberapa kali mengigau tentang Ganung yang mencintai mu, ku pikir itu tidak masuk akal, lalu saat kita berbelok masuk ke perumahan ini, aku sadar ucapanmu benar adanya, karena ibu ku dulu bilang kalau seseorang yang menggoda Ganung tinggal disini, jadi aku memutuskan menggunakanmu sebagai tameng agar kita semua bisa pergi dari sini " Dylan menjelaskan secara detail rencana dadakan yang di buatnya namun harus berakhir dengan kegagalan yang sukses membuat mereka kesakitan.


" Kenapa tidak berunding dulu dengan ku " Ketus Kiran kesal.


" Kalau berunding dulu denganmu memangnya kau mau memanggilnya sayang " Cibir Dylan tak kalah ketus.


" Darimana kau dapat ide bodohmu itu ? " Protes Kiran mengabaikan jawaban Dylan.


" Aku sedikit mengamati gaya klan Loyard, mencoba berpikir seperti mereka, ya meskipun akhirnya seperti ini " Jawab Dylan santai dan sedikit tersenyum karena berhasil meraih ponsel di saku belakangnya.


" Hei arahkan jari ku, aku akan menghubungi Ken, tadi aku sudah sempat menulis pesan untuknya tapi belum ku kirim, dan sekarang tersimpan sebagai draft " Perintah Dylan antusias karena merasa ada harapan untuk mereka kabur dari tempat ini.


" Jangan Ken, dia akan dalam bahaya " Tolak Kiran tegas.


" Memangnya kau mau siapa yang datang kesini ? Polisi ? Kau harus menelepon kalau ingin polisi kesini, tapi lihat kita sekarang, siapa yang bisa menelepon saat ini ? " Omel Dylan kesal, dia menunjuk ibu Kiran dengan wajahnya juga.


Kiran kembali melihat situasi, benar yang dikatakan Dylan, mereka semua terikat, tidak ada yang bisa menelepon siapapun, jadi satu-satunya cara adalah mengirim pesan singkat.


" Sedikit kebawah lagi, ke kanan, kurang sedikit lagi.... " Bisik Kiran lirih, Dylan menggerakkan jarinya sesuai perintah Kiran, karena dia tidak bisa melihat.


" Oke sudah pas, kau hanya perlu menekannya " Ucap Kiran saat melihat jari Dylan telah berada tepat di tempat tanda kirim. Secepat kilat Dylan mengirimnya dan kembali memasukkan ponselnya kedalam saku agar Ganung tidak mengetahui rencana mereka.


" Sekarang kita berdoa saja semoga kekasihmu yang oon itu paham dan segera kesini " Ejek Dylan sinis, namun dari ekspresi wajahnya Kiran tau dia benar-benar berharap kepada Ken.


" Bu tenanglah, kami sudah meminta bantuan, kita akan selamat " Kiran menenangkan ibunya yang di jawab dengan anggukan paham.


" Baiklah semuanya " Seru Ganung dari arah dapur seraya membawa nampan berisi piring-piring penuh makanan. Wajahnya yang bengis sangat kontras dengan celemek bermotif kotak-kotak dengan gambar 2 ekor panda imut yang sedang tersenyum. Dia berjalan pelan dan sangat berhati-hati dalam membawa nampannya. Para tahanan yang melihat hal itu terkejut namun segera merubah ekspresi mereka agar Ganung tidak curiga.


Setelah sampai dimeja makan, dia meletakkan piring-piring itu berderet rapi dihadapan semua orang, kemudian memberikan garpu dan sendok untuk masing-masing yang duduk di kursi tahanan.


" Saatnya makan malam, bukankah kita terlihat seperti keluarga cemara yang hidup bahagia dan rukun ? " Ucapnya santai seraya melipat kedua tangannya di atas meja dan tersenyum penuh kebahagiaan.


" Dasar psikopat gila, aku bukan keluarga mu, cuih " Cibir Dylan sinis, dia meludahi piring berisi nasi goreng yang disiapkan Ganung untuknya.

__ADS_1


" Terserah kau saja, kau tau, kau mewarisi sikap burukmu itu dari Linda, dia sangat tempramen " Ganung dengan santainya menyendokkan nasi goreng kemulutnya dan kembali tersenyum lebar.


" Pas sekali " Celetuknya ringan saat merasakan rasa nasi goreng buatannya.


" Jangan pernah sebut nama ibuku dengan mulut kotormu itu, aku akan membalaskan dendam ibu ku padamu " Teriak Dylan penuh emosi.


" Shhh... sshhh... kecilkan suaramu, tidak ada yang tuli disini " Ganung menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya, tentu saja gerakannya hanya sebuah simbolis saja, dia tidak benar-benar terusik dengan teriakan penuh kemarahan dari Dylan.


" Hei nak... aku tidak membunuh ibumu, dia benar-benar bunuh diri sendiri " Ganung menjelaskan dengan santai.


" Kau pikir aku akan percaya kata-katamu itu ? Lakukan itu di mimpi mu " Jawab Dylan sarkas.


" Terserah kau saja, tapi yang jelas aku sudah berbaik hati akan membawamu ke ibumu, kau tau rumah ini ? " Ganung mengedarkan pandangannya menyapu berkeliling.


" Aku telah memasang berbagai macam bom dan juga ranjau darat di sekitarnya, jadi kalau kau berpikir bisa meminta bantuan dari Klan Loyard, kau salah besar, begitu mereka masuk rumah ini, boommm, kita semua meledak hahahaha... " Gelak Ganung saat menjelaskan rencananya untuk mereka semua.


Kata-kata Ganung membuat mereka semua terkejut, kecemasan juga ketakutan menghiasi wajah mereka dan mereka saling berpandangan. Berpikir di pikiran masing-masing apakah Ganung sehebat itu hingga bisa tau rencana mereka.


" Paman jangan lakukan ini, ku mohon " Jawab Kiran terbata-bata, dia masih saja takut saat menatap wajah pamannya tersebut.


" Tenanglah sayang, kita semua akan pergi ketempat yang indah, dimana tidak ada yang akan memisahkan kita, aku tidak keberatan mati asalkan itu bersama mu, kau juga begitu bukan ? " Tanya Ganung lirih dan mendekatkan wajahnya ke arah Kiran, hal itu semakin membuat Kiran bergidik ngeri.


" Jadi sebelum kita semua pergi bersama-sama ke alam baka, aku ingin menceritakan sebuah kisah pada kalian semua, alasan kenapa kita berada disini untuk reuni keluarga " Ganung berdiri dan berjalan ke arah Adelia, dia menepuk pundak Adelia lirih yang semakin membuatnya menangis sesegukan, adik kecil yang dulu sangat disayanginya dan di belanya mati-matian di hadapan orang tuanya kini berubah menjadi monster kejam tak berhati.


Andai saja dulu dia membiarkan adiknya hidup dijalanan mungkin dia dan Kiran dapat hidup bahagia saat ini, namun nasi telah menjadi bubur, bagaimanapun darah selalu lebih kental daripada air, adik tetaplah adik, tidak ada yang bisa merubah kenyataan itu. Kini Adelia hanya bisa pasrah melihat adiknya menggila karena cintanya kepada Kiran hingga berujung nekat.


Ganung mulai bercerita tentang awal mula kisah hidupnya, hingga dia jatuh cinta pada Kiran, lalu bertemu Linda, dan setiap detail rahasia yang di simpannya selama ini, dia menceritakan agar semuanya menjadi jelas dan tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka sebelum mereka meledak bersama. Dia berpikir nantinya di alam sana Kiran akan dengan senang hati menerimanya.


Sementara itu Ken yang sedang asik menonton saluran youtube tentang adegan-adegan dalam drama untuk melamar seseorang dengan cara yang paling romantis itu pun terhenyak oleh bunyi ponselnya, dia melihat sekilas. Sebuah pesan dari " Dylan si bocah kurang ajar ". Begitu yang tertera di ponselnya, dia mengabaikannya. Hubungannya dengan Dylan tidak cukup baik untuk saling mengirim pesan. Namun hal itu mengusiknya juga, membuatnya sedikit merasa curiga.


" Aneh, seharian ini Kiran tidak mengirimi ku pesan tapi malah bocah itu, apa Kiran kehabisan kuota ya ? Apa dia meminjam ponsel Dylan ? " Ken bergumam sendiri dan kemudian membuka ponselnya, memutuskan membaca pesan dari Dylan.


Deg !! Begitulah jantung Ken seakan melompat dari tempatnya saat membaca pesan singkat di ponselnya, sebuah pesan singkat yang membuat kepalanya seketika berputar dan pandangannya terasa gelap untuk sesaat. Sekuat tenaga Ken melawan rasa paniknya dan menguasinya.


Secepat kilat dia menghubungi Rai untuk meminta bantuan mencari Kiran, firasatnya mengatakan Kiran dalam bahaya. Rai yang semula sibuk menggendong Raline segera pergi setelah sebelumnya beralasan kepada Ruby ada rapat mendadak. Mereka membuat janji akan bertemu langsung di tempat yang di beritahukan Ken.


Kiran tunggu aku sayang, aku akan menyelamatkan mu.

__ADS_1


Ken mengemudikan mobil sportnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Kiran.


__ADS_2