
Kiran yang berada di kamar sedang merapikan barangnya mendengar suara deru mobil memasuki halaman dengan kencang langsung berdiri, terkesiap dan bersikap waspada. Dylan yang juga mendengarnya segera berlari menuju kamar Kiran, membuka pintunya dengan keras dan mendekatinya.
" Apa mungkin itu anak buahnya yang akan menangkap kita ? " Tanya Dylan cemas.
" Tidak mungkin " Saut Kiran antara percaya dan tidak. Tapi dia sendiri tidak yakin.
Mereka berdua berjalan mendekati pintu dan mengintip dari balik tirai jendela. Ken turun dari mobil dan berjalan tergesa-gesa menuju rumah. Kiran dan Dylan yang bingung hanya mampu saling berpandangan.
Kiran membukakan pintu untuk Ken dan menyambutnya dengan takut.
" Ada apa ? " Tanya Kiran khawatir karena melihat Ken yang bersikap gelisah.
" Aku...aku..." Ken lupa memikirkan alasan apa yang akan dia utarakan saat memutuskan kembali.
" Cih, apa lagi kalau bukan cemburu. Sudah pasti dia tidak akan membiarkan kita hanya berdua saja di rumah ini " Saut Dylan sinis, seperti bisa membaca pikiran Ken. Kiran yang terkejut, menoleh cepat kearah Ken dengan pandangan menyelidik.
" Benar begitu ? " Tanya Kiran.
" Ah tidak, bukan begitu. Cemburu apaan. Aku bukan anak kecil yang punya rasa cemburu berlebihan. Rasa cemburu itu hanya membuat kita tidak produktif dan membuang-buang waktu saja " Elak Ken penuh gengsi. Dia tidak ingin terlihat menjadi kekasih yang terlalu over seperti Rai, nanti saja pikirnya, saat Kiran sudah resmi menjadi istrinya.
" Oh begitu " Jawab Kiran manggut-manggut.
" Lihat lihat, kepala sekolah malah mengajari muridnya berbohong " Ejek Dylan sinis.
" Aku tidak bohong, aku laki-laki yang berpikiran dewasa kau tau " Sanggah Ken ketus, tapi sikapnya menunjukkan hal yang sebaliknya, dia gelisah tidak tenang.
" Lalu kenapa kau kembali lagi ? " Tanya Dylan acuh.
" Aku kembali lagi karena mendadak teringat sesuatu. Aku lupa memberitahu kalian kalau aku akan mengirim beberapa pelayan ke rumah ini " Jawab Ken kikuk, memang benar selama perjalanan kembali tadi Ken menelepon Pak Handoko agar mengirimkan beberapa pelayan dan koki.
" Kau tidak perlu repot-repot Ken, aku bisa memasak dan membersihkan rumah ini sendiri " Jawab Kiran sungkan.
" Ah tidak apa-apa, di rumahku banyak sekali pelayan yang tidak ada kerjaan, jadi aku memindahkannya kesini, bukannya aku merencanakannya, tapi itu hanya kebetulan saja " Ken memberikan alasannya.
" Apa kau lupa kita sedang bersembunyi, kenapa malah mengirimkan pelayan kesini, kenapa tidak sekalian saja bawa laki-laki itu dan biarkan kami menyambutnya dengan sopan dan membungkukkan badan " Ucap Dylan ketus.
" Aish bocah ini, dasar tidak tau terima kasih. Para pelayan itu tidak akan membocorkan tempat ini, aku yang menjaminnya " Sanggah Ken juga tak kalah ketus.
" Terserah kau saja, awas kalau sampai kau ingkar janji, aku akan menuntut balas " Jawab Dylan malas dan kemudian beranjak pergi kembali ke kamarnya, meninggalkan Ken dan Kiran berdua saja di ruang tamu.
Mereka duduk di kursi besar yang ada di ruang tamu. Suasana hening membentang di antara mereka. Dulu saat mereka belum jadi sepasang kekasih, bukan hal aneh jika tidak saling bicara, tapi setelah menjadi sepasang kekasih, tidak saling bicara justru membuat mereka merasa canggung.
" Kau sudah makan ? " Tanya Kiran membuka suara.
" Oh aku sudah makan " Jawab Ken basa-basi, padahal dia sedang kelaparan saat ini.
__ADS_1
Suasana hening kembali.
" Umm... kau mau bicara apa ? Tanyakan saja " Kiran mencoba memulai pembicaraan, apa saja asal bisa membuat suasana mencair.
" Itu...apa kau tau dimana rumah harry potter setelah menikah dengan ginny weasly ? " Tanya Ken antusias.
Kiran mengernyitkan alis, kenapa tiba-tiba harus membahas harry potter.
" Tidak tau " Kiran menjawab dengan sungguh-sungguh karena memang dia tidak mengikuti ataupun membaca novel karangan J.K Rowling tersebut.
" Tidak masalah kalau kau tidak tau, yang perlu kau tau hanya, aku akan menerimamu apa adanya, apapun masa lalu mu, dan bagaimana dirimu, baik dan buruk, manis dan pahit, aku terima apa adanya " Ken merayu Kiran dengan serius, namun Kiran yang tidak paham bahwa itu rayuan hanya mengedipkan mata bingung, berusaha mencerna kalimat-kalimat yang di ucapkan Ken.
" Te-terima kasih " Jawab Kiran terbata-bata.
" Kau tidak ingin tersipu atau merona malu ? " Tanya Ken heran.
" Memangnya aku harus begitu ? " Kiran masih saja bingung kemana arah pembicaraan Ken, setelah harry potter menuju ke dirinya, dan lalu tersipu malu. Memangnya ada hubungan apa antara ketiga permasalahan tersebut.
" Aku tadi sedang merayu mu, masa begitu saja kau tidak tau " Saut Ken kesal merasa Kiran tidak peka.
Kiran yang mendengar itu terkejut namun dia berusaha menahannya.
" Whoa aku sangat tersanjung, ah aku jadi malu " Kiran langsung merubah ekspresinya menjadi tersenyum dan takjub, berusaha menunjukkan bahwa dia terkesan dengan rayuan Ken, namun sikapnya yang kikuk membuat ekspresi Kiran menjadi aneh.
" Ya benar, aku sangat sangat tersanjung, kau pandai sekali merayu, kau keren " Puji Kiran seraya bertepuk tangan pelan dan kemudian mengacungkan kedua jempolnya untuk Ken.
" Sudah kuduga itu akan berhasil, aku berusaha belajar hal itu semalaman dari go*gle, lihat ini " Ken mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan riyawat pencariannya kepada Kiran. Tertulis disana "cara merayu kekasih".
" Wuah kau memang luar biasa, aku benar-benar beruntung memiliki kekasih yang romantis sepertimu " Kiran memuji Ken dengan antusias, dia tidak ingin melukai harga diri Ken yang sudah berusaha dengan keras.
" Maafkan aku karena tidak memberikanmu tepuk tangan untuk drama yang kau persembahkan bersama Dylan tempo hari di hutan, aku tidak tau kalau itu akan melukai harga dirimu, kedepannya aku akan berusaha lebih keras lagi untuk memperhatikanmu, bahkan setiap detailnya, aku mungkin memang terkenal di kalangan para gadis, banyak yang ingin menjadi kekasihku, ada Megan, Victoria, Jennifer, bahkan Prita model dari India pun juga ingin menawarkan diri untuk mengisi hatiku, tapi mereka semua aku tolak karena aku mencari gadis yang biasa saja sepertimu, yang tidak terlalu mencolok seperti mereka " Ken menjelaskan dengan jujur tentang dirinya, namun hal itu membuat Kiran semakin bingung.
Dia ini ingin merayuku atau malah menyombongkan dirinya atau malah memberitahukan kalau sainganku adalah bukan wanita biasa.
Kiran menghela napas panjang, dia terus menatap Ken yang masih merasa senang karena telah berhasil merayu Kiran.
" Ya aku cuma wanita biasa " Kiran menjawab dengan senyum terpaksa, dia tidak ingin memantik pertengkaran dengan Ken setelah semua perlakuan baik yang Ken berikan untuknya.
" Aku benar kan? Bukannya aku bilang kau tidak cantik, kau cantik, tapi para model itu apa ya, bisa dikatakan seperti bidadari, jika di sandingkan denganmu mereka akan seperti hinata dan sarada. Kau tau hinata sangat menggoda, tapi memiliki sarada juga tidak buruk " Oceh Ken asal.
" Hinata ? Sarada ? " Tanya Kiran semakin bingung dengan pembicaraan Ken, setelah Harry potter, dan sekarang malah hinata dan sarada yang di bawa-bawa.
" Mobilku kau tau, yang warna merah, yang pernah aku pakai ke sekolah " Jelas Ken dengan santai.
" Oh yang kehabisan bahan bakar itu ? " Kiran mengangguk-angguk paham.
__ADS_1
" Ya kau benar " Saut Ken antusias.
" Lalu apa hubungannya mobil itu dengan ku ? " Tanya Kiran masih bingung.
" Ya para model itu seperti hinata, mereka terlihat mewah dan berkelas, tapi lihat, sekarang aku lebih memilih sarada untuk ku gunakan setiap hari " Jelas Ken masih antusias.
Kiran yang mendadak paham dengan pembicaraan Ken, menjadi kesal.
" Jadi kau ingin bilang para wanita yang mengejarmu, para model itu seperti hinata mobil sportmu ? Mewah dan berkelas. Tapi aku yang jadi kekasihmu sekarang seperti sarada, mobil yang kelasnya masih di bawah mobil sport tapi kau lebih memilihnya saat ini ? Begitu kah ? " Tanya Kiran lirih, menahan emosinya.
" Yep betul sekali " Ken menjentikkan jarinya kearah Kiran sebagai pembenaran atas ucapannya. Kiran yang mendengar itu menghela napas, menariknya dalam lewat hidung, lalu menghembuskannya pelan-pelan lewat mulut, seperti sedang melatih ilmu kanuragannya yang akan dia gunakan untuk membantai habis Ken.
" Dengarkan aku baik-baik pendekar buta dari gua hantu, aku akan bertanya padamu sekali saja, hanya sekali saja " Kiran mulai menunjukkan taringnya.
" Ya ? " Tanya Ken bingung dengan reaksi Kiran saat ini.
" Jadi wanita-wanita yang mengejarmu itu cantik-cantik ? " Tanya Kiran lirih namun tegas.
" Yep betul " Jawab Ken tersenyum lebar, dia belum tau bahwa Kiran sedang mengumpulkan tenaga dalamnya untuk di jadikan jurus pamungkas.
" Tapi kau lebih memilih wanita biasa saja seperti ku untuk di jadikan kekasih ? " Tanya Kiran semakin tajam.
" 100 untukmu " Jawab Ken masih tersenyum bahagia. Kiran menghela napas lagi, kemarahannya sudah di ambang batas zona aman.
" Dan para wanita -wanita itu seperti hinata, mobil sportmu yang mewah dan berkelas ? " Tanya Kiran mulai kesal karena Ken yang masih bisa tersenyum bahagia.
" Tepat sekali " Ken menjentikkan jarinya lagi tanda setuju dengan pernyataan Kiran.
" Hei Ipin !! Memangnya siapa yang membantumu saat hinata kesayanganmu itu kehabisan bahan bakar ? Hah ? " Ledak Kiran tiba-tiba, membuat Ken terlonjak kaget.
" K-kau " Jawab Ken terbata-bata, tidak menyangka Kiran akan berteriak dan marah kepadanya.
" Lalu siapa yang menyelamatkanmu dari kesombonganmu membeli semua kue padahal kau tidak memegang ATM ataupun kartu kredit ? " Omel Kiran lagi, nada suaranya bahkan tidak menurun 1/2 oktaf pun.
" Kau " Ken semakin mengkerut di pojok kursi yang dia duduki.
" Lalu kenapa kau harus membandingkan aku dengan para wanita yang berderet mengantri untuk jadi kekasihmu itu ? " Omel Kiran semakin kesal.
" I-itu... " Ken terbata-bata menjawab, dia sebenarnya hanya ingin menunjukkan pada Kiran kalau Kiran berharga, tapi dia salah memakai perbandingan.
" Hah ! " Kiran membuang wajahnya kesal dan berdiri, berlalu pergi meninggalkan Ken sendirian yang sedang salah tingkah. Kiran menuju kamarnya, dia bahkan menutup pintu dengan keras, membuat Ken yang masih syok terlonjak kaget.
" Woah, dia sungguh mengerikan kalau sedang marah, ekspresi wajahnya seperti nagini siluman ular " Ken bergidik ngeri seraya menggosok-gosok lengannya dengan kedua tangannya.
" Nagini ah bukan upin ah bukan maksudku Kiran sayang, jangan marah aku hanya bercanda " Ken berdiri menyusul Kiran ke arah kamarnya.
__ADS_1