
Suara kokok ayam membangunkan Ken dari tidurnya yang tidak nyenyak, dia tidak terbiasa tidur di tempat asing, jadi semalam saat bu Adelia menata tempat tidur untuknya dan dia membaringkan diri di atas kasur kapuk tipis tersebut, Ken kesulitan menyesuaikan diri. Dia bergerak kesana kemari dan terus saja coba memejamkan matanya, namun dia baru bisa tertidur setelah lewat pukul 2 malam.
Tok, tok, tok !! terdengar ketukan di pintu kamar yang di tempatinya.
" Masuk " Jawabnya dengan erangan malas.
" Selamat pagi " Sapa Kiran begitu kepalanya melongok ke dalam kamar dari balik pintu.
Mendengar suara Kiran, Ken langsung terlonjak bangun dan duduk. Dengan cepat dia merapikan rambutnya dan mengusap wajahnya.
" Ayo keluar " Ajak Kiran kemudian dan pergi meninggalkan Ken sendirian lagi.
Ken kembali jatuh tertidur. Mengerang tanpa suara karena matanya masih sangat berat untuk di buka.
Aku masih mengantuk !!
Jeritnya dalam hati, namun demi menjaga harga dirinya di depan keluarga Kiran, mau tidak mau dia harus menyesuaikan diri. Dengan malas dia bangun dan keluar dari kamarnya.
Kiran telah menunggunya di ruangan depan tempat pertemuan semalam berlangsung. Ruangan itu telah bersih dari sisa-sisa makanan dan minuman, hanya ada tikar yang masih di gelar sebagai alasnya. Ken tersenyum miris mengingat kejadian semalam.
Seorang wanita yang telah uzur datang dari ruangan dalam rumah dengan pakaian adat dan juga wajah yang putih, putih bukan dalam artian glowing seperti bohlam layaknya wanita kekinian yang berkiblat pada negeri gingseng, tapi putih akibat dari tebalnya bedak yang dipakai.
" Kau pasti di sesatkan oleh si baung rekso " Sautnya tiba-tiba, tubuhnya yang kecil mungil tersembunyi cantik di antara punggung ibu-ibu yang badannya bertumbuh kesamping. Dan saat mereka semua mendengarnya berbicara, dengan sopan para ibu-ibu menepi agar memberi jalan kepada wanita uzur tersebut.
" HIIIAAA !!! " Teriak Ken ketakutan dan beringsut mundur.
" Ssttt !!! " Kiran membekap mulut Ken dengan cepat.
" Hehehahu " Pekik Ken dari balik bekapan tangan Kiran.
" Apa ? " Tanya Kiran bingung.
Ken lalu menunjuk tangan Kiran yang membekap mulutnya, mengerti dengan maksud Ken, Kiran segera melepaskan tangannya.
" Nenek gayung " Bisik Ken lirih di telinga Kiran dan sedikit bersembunyi di punggung Kiran karena ketakutan.
" Hihihi " Kiran terkekeh mendengar kata-kata Ken, membuat Ken bingung sekaligus kesal.
Adelia yang paham dengan keterkejutan Ken juga ikut tersenyum lucu.
" Nak Ken perkenalkan, ini adalah bibi ku " Ucap Bu Adelia lembut.
Ken yang mendengarnya segera memperbaiki posisi duduknya, dengan sungkan dia mengucapkan salam dan menundukkan kepalanya.
" Maafkan saya yang tidak sopan, perkenalkan nama saya Ken " Ken memperkenalkan dirinya dengan canggung, belum pernah dirinya memperkenalkan diri kepada seseorang yang lebih tua, seluruh kolega Klan Loyard mungkin memang banyak yang lebih tua darinya, tapi mereka selalu lebih dulu terbungkuk-bungkuk memperkenalkan diri, dan baik Ken maupun Rai, tidak perlu repot-repot memperkenalkan diri karena tentu saja mereka sudah tau siapa lawan bicaranya.
Begini kan caranya bersikap sopan ?
Batinnya canggung, di tatapnya seluruh warga yang sedang berkumpul mengelilinginya, pandangan mereka aneh saat melihatnya memperkenalkan diri.
Ken melirik Kiran lagi, gadis itu sepertinya sangat menikmati kesusahannya, terbukti dari tawa cekikikan yang terus saja meluncur dari bibir mungilnya.
" Disini kita memperkenalkan diri dengan cara menjabat dan mencium tangan orang yang lebih tua " Saut Bu Adelia tersenyum melihat kepolosan dari Ken.
" Oh ? Maafkan saya, maafkan saya " Dengan wajah yang semakin sungkan, lalu dengan cepat Ken segera meraih tangan wanita uzur yang kini duduk di hadapannya.
Tanpa basa-basi Ken langsung mencium tangan wanita tersebut, namun yang semakin membuat Kiran tertawa terbahak-bahak adalah sikap Ken yang mencium tangan wanita itu. Bukannya menempatkan di hidung seperti layaknya salaman hormat kepada orang yang lebih tua, Ken malah mencium tangannya layaknya seorang pangeran yang memuji kecantikan seorang putri, seperti di cerita-cerita dongeng kerajaan.
Ken melirik Kiran yang masih tertawa dengan terbahak-bahak bahkan sampai memegangi perutnya, dengan kesal dan juga bingung.
" Mis " Jawab wanita uzur tersebut dengan tersipu malu.
" Nona... ? " Ulang Ken bingung.
" Mis " Jawabnya masih malu-malu.
" Iya, nona... ? " Ken masih juga bingung kenapa wanita di hadapannya ini tidak lekas menyebutkan namanya, membuatnya semakin lama saja saat berjabat tangan.
" Namanya Mis, nenek Mis, hanya dengan satu S " Bisik Kiran kembali tergelak.
__ADS_1
" Oh maafkan saya nona Mis, ah bukan maksud saya nenek Mis " Saut Ken meralat ucapannya dengan cepat.
" Tidak perlu sungkan, aku memang masih nona-nona " Jawab wanita uzur tersebut dengan bahasa daerah yang tidak di mengerti Ken artinya.
Ken melepaskan pegangan jabatan tangannya dan melirik Kiran yang sedari tadi hanya tergelak, terkekeh, lalu terbahak-bahak.
Ken menyenggol lengan Kiran dengan lengannya, dan mendelik ke arah Kiran.
" Ah maaf, maaf " Saut Kiran sadar dan kemudian menutup mulutnya rapat-rapat.
" Apa yang dia katakan tadi ? " Tanya Ken dengan berbisik, sementara warga yang lainnya sudah tidak terlalu memperhatikan Ken dan sibuk bertanya pada Adelia selaku pemilik tamu tersebut.
" Dia bilang dia memang masih nona " Jawab Kiran terkekeh geli. Secara reflek Ken menoleh ke arah nenek Mis dan melihatnya dengan pandangan antara takut dan tidak percaya.
Namun yang membuatnya lebih takut lagi adalah pandangan Nenek Mis saat melihatnya sekarang, entah apa yang merasukinya, dia tersenyum malu-malu dan kemudian tersipu saat matanya beradu pandang dengan mata Ken.
Aish pengalaman yang mengerikan.
Ken bergidik ngeri saat mengingat kejadian semalam dan mengelus-elus lengannya sendiri dengan kedua tangannya.
" Mas Ken " Sebuah suara memanggilnya dengan lembut dari arah belakang, membuatnya berjengit kaget. Ken membalikkan badannya untuk menjawab panggilan tersebut.
" HIIIAAA !!! " Jeritnya dan langsung mundur kebelakang begitu melihat Nenek Mis sedang berdiri di belakangnya, dengan membawa nampan berisikan secangkir teh panas dan wajah yang masih seputih semalam bahkan kali ini bertambah dengan bibir yang merona merah, sedang tersenyum malu-malu menatap Ken.
" Maaf, maaf, maaf " Saut Ken cepat dan menundukkan kepalanya berulang kali, dia selalu tidak pernah terbiasa dengan wajah yang berselimutkan bedak tebal tersebut.
" Ini saya bawakan teh manis untuk mas Ken " Ucapnya malu-malu.
Ken yang tidak mengerti apapun yang dibicarakan, hanya bisa menjawabnya dengan tersenyum. Dari sekian banyak kata yang di lontarkan oleh Nenek Mis, hanya satu 2 kata yang masuk ke dalam otaknya, teh dan Ken, jadi Ken berasumsi bahwa teh tersebut adalah untuknya.
" Terima kasih " Jawab Ken dengan senyum canggung dan mengambil teh tersebut dari atas nampan. Nenek Mis segera masuk ke dalam ruangan yang lain dengan tersipu malu begitu Ken mengambil tehnya.
Lebih lama lagi aku berada disini tidak baik untuk kesehatan jantungku.
Jerit batin Ken memelas.
" Ken " Panggil Kiran dari arah depan.
" Hei jangan muncul tiba-tiba begitu " Saut Ken ketus.
" Kenapa kau lama sekali, kan aku menunggu mu di depan " Jawab Kiran kesal.
" Hm ? " Kiran memiringkan kepalanya melihat Ken membawa secangkir teh panas.
" Ah ini ? " Ken mengangkat cangkir yang di bawanya.
" Nenek Mis memberikannya padaku " Jawabnya kikuk.
Mendengar hal itu Kiran lagi-lagi tertawa terbahak-bahak dan Ken malah memberengut kesal. Dia lalu meletakkan tehnya di lantai dan kemudian menghampiri Kiran.
" Kenapa senang sekali mentertawakan ku ? Memangnya lucu ? " Sungut Ken kesal.
" Sudah, sudah, ayo kita jalan-jalan pagi, udara disini sangat sejuk dan sangat bersih " Ajak Kiran seraya berjalan keluar rumah di ikuti dengan Ken yang juga ikut tersenyum bahagia melihat Kiran yang bersemangat.
Mereka berjalan-jalan menyusuri jalan pedesaan yang masih berupa tanah dengan sedikit bebatuan, benar yang Kiran katakan, cuaca pagi hari di pedesaan sangat sejuk dengan udaranya yang masih bersih dan masih di penuhi kabut yang lumayan tebal. Namun yang menarik adalah para warga disini sudah memulai aktifitas mereka padahal matahari masih belum terbit.
Para bapak-bapak berjalan berbondong-bondong dengan memanggul cangkul di pundak mereka, dengan topi berbentuk kerucut yang terbuat dari bambu. Saat berpapasan dengan mereka Kiran menyapa mereka dengan ramah.
" Mereka mau kemana ? " Tanya Ken penasaran.
" Ke sawah " Jawab Kiran santai.
" Sawah ? " Ulang Ken heran.
" Ya sawah tempat menanam padi " Lanjut Kiran, dia menoleh ke arah Ken yang masih terlihat bingung dengan jawaban Kiran.
" Jangan bilang kau tidak tau sawah itu apa ? " Tanya Kiran menggoda.
" Cih " Cibir Ken.
__ADS_1
" Tentu saja aku tau, aku sering melihatnya di lukisan yang di pamerkan di galeri, petani yang menanam padi disawah " Jawab Ken sombong menyebutkan salah satu judul lukisan yang pernah dia lihat.
" Hei itu sama saja kau tidak tau " Protes Kiran gemas dan tersenyum lagi.
Ken yang melihat Kiran terlihat sangat bahagia dan bebas, ikut tersenyum dan kemudian bernapas lega. Keputusan yang tepat mengizinkannya pergi ke desa, karena Kiran terlihat lebih baik, dan ide yang baik juga menyusulnya jauh-jauh kemari, karena sepertinya hubungan mereka akan semakin membaik.
" Kiran... " Panggil Ken ragu-ragu.
" Hm ? " Jawab Kiran dengan terus saja berjalan.
" Aku ingin tau kenapa nenek Mis selalu saja tersenyum-senyum saat melihatku, apakah aku seaneh itu bagi warga desa sini ? " Tanya Ken penasaran. Mendengar pertanyaan Ken kembali membuat Kiran tertawa terbahak-bahak sampai terbungkuk-bungkuk.
" Hei aku serius bertanya " Saut Ken ketus melihat Kiran yang sepertinya selalu mengejeknya.
" Itu karena..." Kiran kembali tergelak, membuat Ken semakin kesal.
" Karena dia menyukai mu hahaha... " Tawa Kiran lepas dan membahana keras.
" Apa ? " Tanya Ken bingung.
" Hei apa kau tidak sadar, nenek Mis itu masih nona yang artinya dia belum menikah, dan kau malah mencium tangannya seperti itu " Gelak Kiran setelah menyelesaikan kalimatnya.
" Hei Ibu mu bilang aku harus mencium tangannya, ku lakukan salah, tidak ku lakukan salah " Marahnya.
" Aku tau, tapi bukan mencium seperti itu, harusnya begini " Secara reflek Kiran menyambar tangan Ken dan mencontohkannya.
Deg !! Wajah Ken bersemu merah.
" Ehem...ehem... " Ken berdehem dan menarik tangannya dari genggaman Kiran, berpura-pura ketus.
Kiran yang tersadar segera menyadari sesuatu. Kemudian dia mengangguk-angguk paham.
Ah jadi yang dimaksud Lucas secara spontan itu begini ya ?
Batin Kiran paham.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka, dan saat berpapasan dengan orang-orang yang lewat, Kiran menyapa mereka dengan bahasa daerah yang tidak di pahami Ken.
" Kita mau kemana ? " Tanya Ken malas, cukup jauh mereka berjalan, dan Ken sudah mulai lelah.
" Mandi " Jawab Kiran santai.
" Mandi ? " Gumam Ken lirih, terkejut oleh kata-kata vulgar yang di ucapkan Kiran, dia menghentikan langkahnya. Mendengar kata mandi wajah Ken kembali bersemu merah, bahkan lebih merah daripada saat Kiran mencium tangannya. Panas tiba-tiba merayapi seluruh tubuhnya dan membuatnya pikirannya berlari-lari liar.
Wuah mandi...
Bisik Setan yang ada di bahu sebelah kiri Ken dengan tersenyum licik.
Huss...jangan berpikiran mesum, jangan gegabah, ingat trauma Kiran.
Sanggah malaikat yang ada di pundak kanan Ken dengan menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
Memangnya ada arti kata lain dari kata mandi.
Saut Setan dengan kesal.
Mungkin saja itu artinya berjalan bersama-sama, bukankah ini di desa yang tidak kau kenal bahasanya.
Nasehat malaikat dengan bijak.
" Ayo cepat " Ajak Kiran yang sudah beberapa langkah jauh di depannya.
Mereka bertiga, Ken, malaikat dan setan yang ada di dalam pikiran Ken serempak menoleh ke arah Kiran dengan cepat begitu mendengar Kiran mengajaknya.
Oke baiklah lupakan arti kata bahasa aneh di desa ini, kesempatan baik tidak akan datang dua kali.
Ucap Malaikat dan Setan secara bersamaan.
Ken mengedikkan bahunya mengusir pikiran nakal yang menari-nari di kepalanya dan mengangguk setuju dengan kedua makhluk tak kasat mata yang sedari tadi membisikinya.
__ADS_1
" Oke ! Tunggu aku... " Jawab Ken bersemangat dan segera berlari mengejar Kiran.