
Suasana malam di sebuah restoran bintang lima yang memiliki meja khusus untuk area balkon terasa sangat indah, di iringi hembusan angin yang bertiup lembut dan juga alunan musik akustik yang langsung di mainkan oleh band ternama menjadi daya tarik tersendiri bagi salah satu restoran bintang lima milik Klan Loyard. Belum lagi pemandangan ibukota dengan gemerlap lampu-lampu jalanan serta papan reklame menambah indahnya suasana malam ini.
Tempat itu selalu ramai di kunjungi pelanggan setiap harinya, bahkan untuk bisa dinner dengan pemandangan yang bagus seperti itu, para pelanggan harus melakukan reservasi jauh-jauh hari sebelumnya.
Tampak seluruh meja yang ada dibalkon tersebut telah terisi penuh oleh pasangan muda-mudi yang sedang makan malam bertemakan romantis.
" Jadi... " Kiran memotong steak dagingnya dengan pisau yang ada ditangannya dengan keras. Ken yang melihat itu hanya bisa menelan ludahnya.
" Kau mengiyakan begitu saja idenya untuk mengirim bunga kamboja itu padaku ? " Kiran menusuk daging steaknya dengan garpu dan kemudian memakannya. Lalu dengan tatapan tajam mendelik ke arah Ken.
" Bonsai, kau harus menggaris bawahi itu, bonsai kamboja " Jawab Ken takut-takut dan tersenyum kikuk.
" Hah ?! " Sentak Kiran kesal, tak peduli dengan apapun yang Ken katakan.
" Apa kau tidak memikirkan apa akibatnya untukku ? Aku sampai tidak nafsu makan dan tidak bisa tidur memikirkan siapa yang mengirimi ku bunga itu " Omel Kiran kesal, dia masih tidak percaya dengan apa yang telah Ken lakukan padanya.
" Aku kan sudah bilang, aku mabuk berat saat itu, jadi aku tidak sadar apa yang ku katakan padanya, kalau aku tau akan begini jadinya, tentu saja aku akan menolak idenya untuk mengirimkan bunga itu padamu " Jelas Ken panjang lebar, dengan wajah memelas seakan menunjukkan bahwasanya dia tidak berbohong saat ini.
" Hei lalu kenapa kau tidak jujur saja padaku waktu di kantin ? Kau kan bisa bilang padaku kalau kau yang mengirimkannya, jadi aku bisa berhenti memikirkan yang tidak-tidak " Balasnya ketus, sekali lagi dia mengiris steaknya dengan kasar dan memakannya dengan tatapan tajam mengancam.
" Kita kan sedang bertengkar saat itu, jika ku katakan waktu itu, apa kau berani menjamin tidak akan lebih marah lagi padaku ? Wajahmu saja sudah seperti zombie yang berjalan-jalan disiang hari, jika aku mengatakannya maka kerutan zombie mu akan semakin bertambah disini dan disini " Tunjuk Ken di keningnya dan di pipinya sendiri.
" Aish kau ini tidak mau kalah " Omel Kiran kesal dan kembali melanjutkan makan malamnya.
" Aku minta maaf, aku akui itu kesalahan ku, jadi kita jangan bertengkar lagi ya ? " Ucap Ken memelas, berharap maaf dari Kiran.
" Iya iya " Jawab Kiran ketus, sebenarnya dia masih kesal tapi karena tidak ingin memperpanjang masalah maka Kiran mau tidak mau harus memaafkannya, toh bagaimana pun hal itu tidak akan merubah status mereka yang sebentar lagi akan menikah, jadi tidak ada gunanya terus-terusan marah.
" Ok karena aku bersalah, sebagai gantinya aku akan mengajakmu berkencan besok, kau mau apa ? Katakan saja ? Mau kemana ? " Ucap Ken menaik-naikkan alisnya untuk menggoda Kiran, berusaha mengalihkan pembicaraan dan memperbaiki suasana hatinya.
" Apa ya ? Nonton mungkin ? Aku selalu ingin nonton dengan kekasihku, selama ini aku hanya menonton film sendirian dari rumah, Ruby tidak pernah bisa kalau ku ajak " Jawab Kiran antusias dengan mata berbinar.
" Ok besok kita akan nonton, kau pilih saja filmnya " Jawab Ken bersemangat. Dan mereka pun akhirnya berbaikan kembali.
Triing, triiing, triiing !! Ponsel Ken yang ada disaku baju berdering, dia merogohnya dan melihat panggilan masuknya.
" Kiran aku terima telepon sebentar, ini ayahku " Ucap Ken dan di jawab dengan anggukan oleh Kiran.
Ken kemudian bangkit berdiri dan pergi meninggalkan meja mereka untuk ke tempat yang lebih sepi agar percakapan mereka tidak terganggu oleh suara bising kendaraan di bawah sana dan juga alunan musik dari band yang tampil.
" Ya ada apa ? " Tanya Ken begitu mengangkat teleponnya di tempat yang lebih tenang.
" Ayah sedang ada urusan bisnis di restoran italia, dan ayah lupa membawa berkas yang ada di meja ayah, Sekertaris Yuri sedang sibuk mengurus kontrak-kontraknya, akan lama jika dia harus pulang dan mengambilnya, bisa kau bawakan berkas itu kemari " Ucap Regis meminta tolong.
" Tapi aku sedang dinner bersama Kiran saat ini " Jawab Ken dengan rasa bersalah.
" Ah begitu ya ? "
" Bagaimana kalau suruh sopir saja yang mengantarnya ? " Usul Ken.
" Itu berkas yang sangat penting, jadi... " Jawab Regis ragu-ragu.
" Bukankah Dylan ada dirumah, ayah hubungi saja dia " Usul Ken lagi.
" Ah ya kau benar, ayah akan meminta tolong padanya kalau begitu " Setuju Regis dan kemudian dia menutup sambungan teleponnya.
Sementara itu Kiran yang terpesona oleh penampilan band musik itu terlihat sangat menikmati alunan lagu yang dimainkannya. Dengan mata yang berbinar kagum pandangannya terus saja terpaku pada panggung yang ada di hadapannya. Hingga ketika tangannya akan meraih gelas yang ada disampingnya di malah menyenggolnya dan menjatuhkannya.
" Aaahh... " Teriak seorang wanita yang kebetulan lewat dan terkena tumpahan jus dari gelas yang Kiran jatuhkan tersebut.
Teriakannya yang begitu nyaring tentu saja membuat semua pelanggan dan para pelayan serta pemain band itu menghentikan aktifitas mereka dan menoleh ke asal teriakan tersebut.
Dengan cepat Kiran segera bangkit dari duduknya untuk meminta maaf, dengan ketakutan dia mengambil serbet yang ada dimeja kemudian mengelap baju orang tersebut.
" Hei jauhkan serbet kotor itu dari gaun ku " Teriaknya marah dan menepis tangan Kiran hingga serbet yang di genggamnya terjatuh.
" Maafkan saya, maafkan saya " Ucap Kiran berulang-ulang dengan menundukkan kepalanya, merasa bersalah.
" Memangnya mata mu melihat kemana sih ? " Teriaknya masih marah-marah.
" Maafkan saya nona " Ucap Kiran gemetaran, dilihatnya baju yang di kenakan wanita itu sekarang memiliki cetakan warna merah yang cukup besar akibat dari jus stroberi yang ditumpahkannya.
" Siapa nama mu ? Dari keluarga mana kau ? " Teriaknya masih marah, dan dengan kasar menarik tangan Kiran.
" Maafkan saya nona " Hanya itu yang bisa Kiran katakan.
" Megan ? " Panggil sebuah suara dari arah belakangnya, dan wanita tersebut segera membalikkan badannya.
" Ken ! " Pekiknya manja, dengan kasar dia menepis tangan Kiran dan berlari ke arah Ken. Tanpa sungkan dia lalu melingkarkan lengannya ke lengan Ken dan bergayut manja di pundaknya.
" Marahi dia untuk ku " Tunjuknya kemudian kepada Kiran yang sedang menunduk malu karena semua orang sedang berbisik-bisik tentangnya.
" Kiran ? " Gumam Ken terkejut melihat Kiran yang menunduk dalam dan menutupi wajahnynya dengan kedua telapak tangannya, sepertinya sedang menangis, namun Kiran panik hingga tak mendengarkan suara Ken.
" Oh ? Kau mengenalnya ? " Tanya Megan dengan manja.
" Ya aku mengenalnya " Jawab Ken dingin.
__ADS_1
" Baguslah, kalau begitu hancurkan dia untuk ku ya " Ucap Megan dengan manja dan semakin menempelkan tubuhnya lebih mendekat ke arah Ken.
Ken menolehkan kepalanya ke arah Megan, dengan tatapan tajam penuh kemarahan dia melihat Megan. Dan Megan pun tersenyum sombong penuh kemenangan.
" Kau ingin aku menghancurkannya bagaimana ? " Tanyanya dengan suara rendah dan geraman yang tertahan.
" Buat dia dan keluarganya bangkrut hingga tak punya apa-apa lagi dan dia tidur di jalanan " Ucap Megan penuh kesombongan.
" Baiklah, kalau begitu besok pagi kau akan mendapatkannya, tunggu saja di rumahmu, kalau kau masih menemukan jalanan untuk tidur, itu artinya aku gagal, dan aku akan melakukannya lagi dari awal hingga tidak ada jalanan yang mau menerima mu, jangankan untuk tidur bahkan untuk sekedar menginjakkan kaki pun jalanan itu tidak akan mau " Jawab Ken dengan dingin dan kemudian menyentakkan tangan Megan hingga membuatnya terhuyung mundur.
Megan yang bingung dengan maksud ucapan Ken hanya bisa melonggo bingung.
Dengan cepat dia bergegas menghampiri Kiran, memeluknya erat. Kiran yang merasa malu sekaligus takut hanya bisa membenamkan wajahnya di dada Ken. Pecah sudah air matanya, dia terisak-isak di pelukan Ken.
" Sudah sayang...sudah, ada aku " Ucap Ken lembut seraya menepuk-nepuk pundak Kiran pelan.
" Aku...takut...Ken... " Jawab Kiran di sela isak tangisnya.
" Baiklah kita pergi dari sini " Dengan masih merangkul Kiran dan menyembunyikan wajah Kiran di dadanya dia menuntun Kiran pergi dari restoran tersebut.
Namun beberapa langkah Ken berjalan, dia berhenti. Dengan masih menahan marah dia menghela napas.
" Semua pelayan yang bekerja hari ini, carilah tau siapa gadis ini dan minta maaf padanya, jika tidak, maka kalian tidak perlu lagi repot-repot datang bekerja besok " Ancamnya tegas dan melanjutkan lagi langkahnya.
Semua pelayan terhenyak kaget mendengar ucapan Ken, pias sudah wajah mereka. Dalam hati mereka semua menyesal kenapa hanya diam saja saat melihat kejadian itu, harusnya mereka membantu Kiran, tapi Megan adalah artis papan atas, sudah barang mesti mereka lebih mendukungnya tadi.
Megan yang melihat itu langsung jatuh terduduk, tidak pernah menyangka bahwa gadis itu datang bersama Ken. Dengan wajah pucat pasi dia mengambil ponselnya dan segera menghubungi managernya.
" Aku melakukan kesalahan, aku harus bagaimana ? " Ucapnya terbata-bata dengan suara tercekat.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Apa ini tempatnya ? " Tanya Dylan pada sopir yang mengantarnya pergi mengirimkan berkas Regis.
Mereka berhenti di depan lobby sebuah restoran italia yang terlihat mewah dan ramai oleh pengunjung.
" Ya tuan, ini tempatnya, apa anda ingin saya antar masuk tuan ? " tanya sopir tersebut sopan.
" Tidak perlu, ayah bilang aku hanya perlu mengantarkan ini, aku rasa itu cuma sebentar " Jawab Dylan sopan dan kemudian membuka pintu mobilnya dan turun.
Dengan ragu-ragu dia berjalan menuju pintu masuk restoran tersebut. Namun belum sampai dia di depan pintu, dua penjaga berpakaian serba hitam dengan earphone di telinga mereka menghadangnya.
" Apa anda sudah membuat reservasi tuan ? " Tanya penjaga tersebut dengan tegas.
" Ah ya saya datang untuk mengantarkan ini " Dylan menunjukkan amplop coklat yang di bawanya.
" Tapi ini katanya rahasia, sebentar aku akan menghubungi ayahku " Ucap Dylan kemudian, dia merogoh saku celananya, depan, belakang namun ponselnya tidak ada. Dia kemudian menepuk jidatnya teringat sesuatu. Rupanya dia meninggalkan ponselnya setelah menerima telepon dari ayahnya dan bergegas mencari berkas di ruang kerja Regis, lalu tanpa kembali mengambil ponselnya dia segera meminta tolong sopir untuk mengantarnya ke restoran yang di maksud ayahnya.
Dylan menoleh ke arah belakangnya, mencari sopir yang mengantarnya tadi, namun mobilnya telah menghilang, mungkin pergi ke tempat parkir, pikirnya.
" Ponsel saya tertinggal, tapi bisa tolong kalian menghubungi tuan Regis, saya anaknya " Ucap Dylan sopan.
Para penjaga itu mengamati Dylan dari atas sampai bawah, lalu tersenyum mengejek.
" Hei nak, kau pikir kami bodoh ? Restoran ini milik tuan Regis, dan kami kenal seluruh anggota keluarga Loyard, anak tuan Regis hanya ada tuan Rai dan tuan Ken, kau jangan berbohong " Sentaknya sinis.
" Aku tidak bohong, aku kemari di minta untuk mengantarkan ini " Dylan mencoba menjelaskan dengan sungguh-sungguh, namun sia-sia saja, para penjaga tersebut tidak mempercayainya dan malah mendorongnya mundur.
Dylan yang tidak siap dengan dorongan mendadak itu pun terhuyung mundur. Naas baginya, dia menabrak seseorang yang akan memasuki restoran tersebut.
" Hei !! " Teriaknya seorang gadis yang jatuh terduduk akibat bertabrakan dengan punggung Dylan.
Seorang laki-laki yang datang bersama dengan gadis tersebut tiba-tiba segera memelintir tangan Dylan.
" Aargghh... " Teriak Dylan kesakitan, dan laki-laki itu menahan tangannya dengan kuat, meskipun Dylan meronta-ronta namun kunciannya terlalu kuat.
Gadis yang jatuh itu segera berdiri dan menatap Dylan dengan marah.
" Minta maaf " Perintah laki-laki yang memelintir tangan Dylan.
" Kenapa aku harus minta maaf ? Bukan aku yang salah, tapi mereka " Dylan mengangkat dahunya menunjuk dua penjaga yang diam saja dengan wajah tidak merasa bersalah.
" Apa ?!? " Ucap gadis itu dengan wajah marah.
" Kau yang menabrak ku kenapa harus mereka yang minta maaf ? " Tanyanya kesal.
" Karena mereka yang mendorongku " Jawab Dylan asal.
" Hei !! Kau tidak tau siapa aku ? " Tanya gadis itu semakin kesal.
" Tidak " Jawab Dylan santai dan terlihat tidak tertarik sama sekali.
Sekertaris Yuri yang keluar untuk menunggu Dylan pun terkejut melihat keributan di pintu depan restoran tersebut.
" Lepaskan dia " Perintah Sekertaris Yuri tegas.
Mendengar perintah sekertaris Yuri, laki-laki tersebut segera melepaskan tangan Dylan. Kedua penjaga yang tadinya hanya diam saja tidak peduli, segera membantunya.
__ADS_1
" Ada apa ini ribut-ribut ? " Tanya Sekertaris Yuri tegas.
" Ini tuan, anak muda ini ingin masuk dan menemui... " Jawab salah satu penjaga itu dengan tergagap.
" Aku tau " Potong Sekertaris Yuri dingin, dia kemudian menatap gadis itu dan membungkukkan badannya sopan.
" Maaf nona Blair atas ketidaknyamanan ini, silahkan masuk " Ucapnya sopan dan kemudian menoleh ke arah Dylan, dengan anggukan kepala dia mengajak Dylan pergi bersama, meninggalkan dua penjaga serta gadis yang dipanggil Blair dan laki-laki yang mengawalnya itu dengan wajah bingung penuh tanda tanya.
" Manager Yo Siapa dia ? " Tanya Blair kepada laki-laki yang ada disampingnya tersebut.
" Tidak tau nona, mungkin salah satu kenalan tuan Yuri " Jawabnya asal.
" Aish meskipun dia kenalan dari tuan Yuri bagaimana dia bisa bersikap tidak sopan begitu padaku " Makinya kesal dan menghentak-hentakkan kakinya.
" Nona Blair, jaga sikap anda, mungkin saja banyak paparazi yang bersembunyi " Ucapnya mengingatkan.
" Aish !! " Sentaknya ke Manager Yo sebelum akhirnya dia memasuki restoran tersebut.
🍁🍁🍁🍁🍁
Mobil yang di kemudikan Ken memasuki halaman rumah Kiran. Dan berhenti di depan pintu masuknya.
Ken membalikkan badannya, menghadap Kiran yang sepanjang perjalanan hanya diam saja, meskipun sudah berhenti menangis tapi dia tidak menanggapi apapun yang dikatakan oleh Ken.
" Jadi kau sudah tenang ? " Tanya Ken lembut.
" Ya " Jawab Kiran singkat dengan wajah tertunduk.
" Harusnya kau bisa seperti Marimar yang langsung menghajar mereka saat ada orang yang merendahkannya begitu " Ucap Ken lembut dan mengelus-elus rambut Kiran.
" Tapi aku tidak bisa bela diri, aku bukan Ruby " Jawab Kiran lirih.
" Ah ya aku hampir lupa itu. Baiklah kalau begitu, aku sendiri yang akan mengajarimu bela diri " Ucap Ken dengan tertawa berusaha menghibur Kiran.
Kiran hanya mengangguk-angguk setuju namun Ken tau dia masih sangat takut dan sedih.
" Baiklah, ayo turun, aku akan menemanimu sampai kau tertidur, lalu aku akan pulang " Ken kemudian membuka pintu mobilnya dan berjalan memutar membukakan pintu untuk Kiran.
Ken mengulurkan tangannya untuk membantu Kiran turun dari mobil. Dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Kiran kemudian masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian sedangkan Ken berjalan menuju dapur untuk membuatkan Kiran segelas susu hangat.
Tok, tok, tok !! Ken mengetuk pintu kamar Kiran, dan Kiran membukakan pintu untuknya.
" Dari yang pernah ku baca, segelas susu hangat sebelum tidur bisa membuat tidurmu lebih nyenyak " Ucapnya seraya mengangkat gelas susu yang dibawanya.
Kiran tersenyum dan menerima segelas susu yang dibawakan Ken. Dengan cepat dia meminumnya sampai habis, dan kemudian menaruh gelasnya di meja nakas.
Ken menuntunnya menuju ranjangnya, menyuruhnya berbaring dan menutupi tubuh Kiran dengan selimut.
" Kenapa kau tidak memakinya tadi ? " Tanya Ken lembut dan duduk di tepi ranjang.
" Aku terlalu takut dan terlalu malu " Jawab Kiran lirih.
" Harusnya kau mengangkat dagumu dan dengan lantang mengatakan padanya bahwa kau akan mengganti bajunya yang rusak, dan jika dia meremehkan mu, maka kau bilang saja kalau kau adalah menantu di keluarga Loyard, dengan begitu mereka tidak akan berani merendahkan mu " Jawab Ken.
" Aku kan belum resmi menjadi menantu di keluarga mu, lagipula aku juga tidak ingin berbuat semena-mena seperti itu " Jelas Kiran.
" Yaah kau memang seperti itu, kau dan marimar sama saja, tidak ingin memperpanjang masalah, sepertinya kalian memang menantu idaman ayah ku " Oceh Ken malas.
" Tidurlah, aku akan menunggu mu disini, aku akan pulang setelah kau tertidur " Perintah Ken lembut.
" Kenapa kau menyukai ku ? " Tanya Kiran lirih.
" Entahlah, aku tidak tau, aku hanya menyukai mu begitu saja, memangnya butuh alasan ya untuk menyukai seseorang ? " Tanya Ken malas.
" Tentu saja, kau harus punya alasan untuk menyukai seseorang, apakah karena dia cantik, baik atau dari keluarga terhormat, kaya " Kiran menjelaskan teorinya.
" Aku sudah kaya, aku sudah terhormat dan aku sudah baik, jadi aku tidak ingin mencari itu semua dari wanita yang aku sukai " Jawab Ken percaya diri.
" Cih " Cibir Kiran sinis dan kemudian tersenyum.
" Tidak penting alasan ku menyukai mu, yang penting adalah perasaan ku padamu, aku tidak akan berjanji selalu membuatmu bahagia, aku juga tidak akan berjanji akan selalu ada untuk mu, karena aku tau aku tidak akan bisa melakukannya dan itu hanya di lakukan oleh anak SMA yang sok keren, dan karena aku benar-benar keren bukan sok keren, maka aku tidak akan melakukannya, aku hanya bisa meminta mu berbesar hati menghadapi semua rasa sedih, bahagia, malu, marah atau apapun itu dengan ku. Aku ingin kau membagi semua perasaan yang kau rasakan denganku " Ucap Ken lembut dan menggenggam tangan Kiran.
Mendengar Ken mengucapkan kalimat semanis itu membuat Kiran sangat bahagia, dia menatap wajah Ken lekat-lekat. Wajah seseorang yang dia yakini akan menjadi tempat bersandarnya dan mampu membuatnya merasa aman.
Dengan spontan Kiran menarik tangan Ken yang sedang menggenggamnya, Ken yang sedang tidak siap jatuh di atas Kiran dan bibir mereka pun secara tidak sengaja bertemu.
Namun bukannya segera menghindar Ken malah semakin memperdalam ciumannya, dia ******* bibir Kiran dengan lembut, dan gayung pun bersambut, Kiran juga membalas ciuman intens dari Ken.
" Hentikan Kiran, aku tidak bisa menahan diri jika kau melakukannya lebih lama lagi " Bisik Ken dengan nafas memburu penuh nafsu.
" Kalau begitu jangan " Bisik Kiran lembut.
" Hm ? " Ken mengerutkan keningnya bingung.
" Menginap lah " Lanjut Kiran menggoda.
__ADS_1