
Regis dan sekertaris Yuri telah sampai di ujung jalan masuk rumah Kiran, mereka sengaja berhenti agak jauh agar Ganung tidak panik yang mungkin akan berakibat dia berpikiran pendek dan melukai para tawanan.
" Tuan, itu bom rakitan yang memiliki satu pemantik kendali, dan kendalinya ada dipintu masuk " Lapor seorang anak buah Regis yang telah lebih dulu sampai dan memeriksa kediaman tersebut.
" Jadi kau mau bilang kalau kita menerobos masuk ke sana maka kita semua akan meledak ? Dan jika Kiran atau yang lain bertindak bodoh menerobos keluar maka mereka semua juga akan meledak, begitu ? " Tanya Regis datar, di suasana seperti ini sangat penting menjaga kepala mereka tetap dingin agar tidak sampai salah langkah.
" Maafkan kami tuan, kami juga sudah berusaha menjinakkan bom tersebut, tapi sepertinya butuh waktu yang agak lama " Anak buahnya itu terlalu takut saat melapor hingga membungkukkan badannya berkali-kali.
" Tuan, selama kita tetap diam disini dan mengawasi, maka saya kira Ganung tidak akan menyadari kedatangan kita, jadi kita akan punya kesempatan untuk menjinakkan bom tersebut " Sekertaris Yuri memberikan sarannya.
" Kau benar, kita harus bergerak sesenyap mungkin agar Ganung tidak sadar, tapi yang jadi bahaya kalau mereka semua mencoba kabur dari dalam, bagaimana cara kita memberi tahu mereka agar tetap tenang ? " Regis bergumam sendiri, dia harus memberitahukan kepada Kiran agar menuruti Ganung dan jangan melawan, hanya itu satu-satunya jalan agar mereka bisa di selamatkan tanpa terluka.
Regis mengeluarkan ponselnya dan memeriksa keadaan di dalam ruangan dari pantuan cctv. Mereka semua sedang di meja makan dengan tangan terikat, tapi setidaknya kondisi mereka baik-baik saja.
" Baiklah kalian para penjinak bom, lakukan sebaik mungkin agar para sandera juga Ganung keluar dengan selamat " Perintah Regis tegas. Dan semua anak buahnya yang bertugas menjinakkan bom tersebut segera bergerak sepelan mungkin agar bisa menjinakkannya.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Dan selesai " Ganung mengakhiri ceritanya dengan sebuah tepuk tangan pelan, seolah baru saja menceritakan sebuah dongeng menarik untuk anak-anak yang akan pergi tidur.
Semua orang yang mendengarnya hanya terdiam, mencerna kata demi kata yang di ucapkan Ganung dalam ceritanya, menimbang apakah itu sebuah kebenaran atau hanya untaian kata tak bermakna penuh kebohongan.
Adelia yang mengenal Ganung luar dan dalam semakin terisak, dia percaya sepenuhnya kepada adiknya, bahwa adiknya tidak bersalah dan tidak berbohong, hanya cintanya saja yang tidak pada tempatnya yang membuat semua kejadian buruk ini terjadi. Sementara Kiran yang selama ini berpegang teguh pada keyakinannya bahwa Ganung adalah penjahat dalam kisah hidupnya, sekarang berubah dalam melihat Ganung, memori di otaknya memaksa untuk memutar kembali ingatan demi ingatan masa kecilnya, bagaimana dia selalu di jaga dan di bantu oleh Ganung, bahkan saat kenakalan remajanya menyebabkan pihak sekolah memanggil orangtuanya, Ganung bersedia hadir demi menjaga Kiran agar terhindar dari kemarahan ayahnya. Tanpa sadar air matanya mengalir membanjiri pipinya, dadanya merasa sesak. Baginya semua kenyataan ini sama saja seperti dia yang sedari kecil menerima fakta bahwa bumi itu bulat, dan sekarang tiba-tiba semua fakta itu harus di ganti dengan paksa menjadi bumi itu kotak. Pikirannya seperti benang kusut yang tidak mampu di urai saat ini. Hanya berisi gumpalan-gumpalan hitam yang menyesakkan. Seakan menuntutnya mengakui bahwa setan di hadapannya saat ini adalah bentuk lain dari malaikat yang baik.
Sedangkan Dylan yang mendengarkan cerita Ganung sedari tadi hanya bisa memberikan senyum sinis mengejeknya. Dia memutar wajahnya menghadap Kiran, namun betapa terkejutnya dia saat melihat Kiran dan ibunya menangis sesegukan dan tertunduk dalam, seperti percaya dengan semua kata-kata Ganung.
" Hei kalian semua percaya kata-katanya ? " Tanya Dylan angkuh meremehkan. Kiran mendongak dan menatap Dylan.
" Apa maksudmu ? " Tanya Kiran lirih.
" Kalian pikir setelah mendengar cerita yang sebenarnya manusia satu itu bisa berubah ? " Tanya Dylan sinis, dia menolehkan pandangannya kepada Ganung yang sudah kembali duduk di kursinya, menatapnya tajam.
" Tidak peduli siapa yang membunuh ibu ku, bagiku kau tetaplah pembunuhnya. Mungkin kau tidak melakukannya dengan tangan mu sendiri, tapi kau melakukannya dengan setiap tindakan juga ucapan yang kau tunjukkan pada ibuku " Dylan berbicara dengan santai menghadap Ganung, setelah mendengar kejadian yang sebenarnya dia semakin yakin untuk membenci Ganung bahkan sampai dia mati sekalipun.
" Perlu kalian tau, iblis juga dulunya penghuni surga, tapi karena sesuatu yang salah di kepalanya dia di buang dan kekal abadi di neraka. Jadi tidak peduli bagaimana semua ini berawal, yang terpenting adalah bagaimana semua ini berakhir. Kau menceritakan semua kisah ini agar kami semua berhenti salah paham padamu bukan ? Tidak, itu malah semakin menjelaskan betapa menyedihkan dan betapa buruknya dirimu " Cibir Dylan sinis.
" Hahaha.... " Ganung tergelak mendengar ucapan Dylan, dia memberikan tepuk tangan untuk semua penjelasan Dylan.
" Linda tidak salah saat membual tentang kau yang cerdas, kau memang benar " Ganung kembali tergelak, membuat Kiran dan Adelia bingung melihatnya.
" Kalau kau memang orang yang baik, kau tidak akan melakukan semua ini, mungkin memang benar tindakanmu yang selalu menjaga Kiran, tapi yang satu ini kau salah besar, harusnya kau menjelaskan semua ini baik-baik dan kemudian melepaskan kami, bukan malah berniat pergi bersama-sama untuk menikah di akhirat " Dylan kembali mencibir dengan sinis.
Kiran yang seperti mendapatkan celah kelemahan Ganung segera memutuskan akan berpura-pura bersikap baik dihadapan pamannya sembari menunggu pertolongan datang.
__ADS_1
" Paman, maaf aku telah keliru menilai mu, aku salah paham, aku mohon jangan lakukan ini, kau orang baik " Rengek Kiran memelas, dia berharap cara ini akan berhasil mengelabui pamannya.
" Kiran sayang kau tidak belajar satu hal dari cerita ku juga penjelasan dari sepupumu itu ya ? " Ganung berdiri dan mendekat ke arah Kiran, membungkukkan badannya agar wajahnya sejajar dengan wajah Kiran.
" Mungkin aku memang baik tapi aku tidak pernah menjadi lebih baik dari itu " Bisik Ganung dingin, kilatan dimatanya yang semula penuh cinta kini berubah penuh kebencian dan kemarahan.
Dia menyentuh dagu Kiran, memutar wajahnya ke kanan dan ke kiri, mengamatinya lekat-lekat dan kemudian menyentakkannya hingga membuat Kiran menoleh dengan keras.
" Aku tidak sebaik itu membiarkan mu lepas dan hidup bahagia di luar sana, bagiku lebih baik kau mati daripada harus menjadi milik orang lain " Ganung berjalan menjauh ke arah Adelia yang masih menangis terisak-isak.
" Dan untuk kakakku tersayang " Ganung membungkuk kembali dan menempelkan pipinya ke pipi Adelia.
" Kau tidak akan punya siapa-siapa lagi begitu Kiran meninggal, jadi aku juga akan mengirimmu untuk bersamanya, kau pikir aku akan membiarkan mu hidup sendirian di dunia ini ? Aku tidak akan setega itu, jadi akan lebih baik kalau kita pergi bersama-sama, bukan begitu kakak ku sayang ? " Ganung melingkarkan tangannya memeluk Adelia dari arah belakang, sebuah pelukan hangat dari adik kepada kakaknya jika dalam kondisi normal penuh kasih sayang.
Ganung menegakkan tubuhnya dan berjalan menjauh, menaiki tangga ke lantai atas menuju kamar Kiran. Hal itu di manfaatkan Kiran untuk menjelaskan rencananya.
" Kalian semua diam saja, aku akan merayunya dan saat dia lengah aku akan melepaskan kalian dan kita semua langsung lari menuju pintu depan, aku melihat dia tidak mengunci pintu depan, mungkin dia lupa, kalian mengerti bukan ? " Bisik Kiran lirih, Adelia menganggukkan kepalanya, sedangkan Dylan mengernyitkan keningnya, tidak yakin dengan rencana Kiran.
" Kau akan merayunya bagaimana ? " Tanya Dylan sangsi.
" Entahlah, apa saja, yang penting dia melepaskan ikatan ku ini " Jawab Kiran asal, pikirannya sedang tidak bekerja dengan baik saat ini, tapi yang jelas dia akan melakukan apa saja untuk melepaskan diri.
" Kau harus hati-hati, dia bukan orang biasa, kalau kau pikir dia mencintaimu hingga bisa kau rayu, sepertinya kau salah, buktinya dia saja tega menembak mu seperti itu, sepertinya kau terlalu memandang tinggi nilaimu untuknya " Dylan menggelengkan kepalanya menolak ide Kiran, dia tau Ganung tidak waras, jadi pikiran orang yang tidak waras tidak bisa di tebak.
" Aku hanya memberikan mu pencerahan, sepertinya sedikit banyak aku sudah bisa berpikir ala Klan Loyard, tidak buruk bukan ? " Kekeh Dylan melihat dirinya sendiri, dulu dia sangat membenci Klan Loyard, tapi sekarang sepertinya perasaanya telah berubah menjadi kekaguman.
" Ah tidak tau " Saut Kiran ketus, memilih mengabaikan Dylan yang pesimis dengan rencananya. Dia kembali memikirkan cara-cara apa saja yang bisa di gunakan untuk kabur dari sana.
Saat mereka semua sedang sibuk dengan pikiran masing-masing, Ganung turun dari lantai atas seraya membawa sebuah kotak berwarna pink muda dengan pita merah yang mengikatnya.
Dia terlihat sangat bahagia, tidak berhenti bersiul dan sesekali tertawa lebar. Langkah demi langkah, dia mendekat kearah Kiran, membuat para tahanan lainnya hanya meliriknya dengan bingung. Mereka sedang di sekap oleh penjahat, yang seharusnya jahat, namun perlakuan yang mereka dapatkan jauh di luar perkiraan. Apa memang seperti ini rasanya di culik ? Begitulah yang terlintas di pikiran Kiran, seketika pikirannya terhubung dengan ingatannya tentang cerita Ruby yang juga di culik orang sakit yang tergila-gila padanya.
" Aku membawakan mu hadiah " Ucap Ganung lembut saat meletakkan kotak indah tersebut di meja yang ada di hadapan Kiran.
" Apa itu ? " Tanya Kiran terbata-bata, menatap ke arah kotak tersebut dengan takut-takut.
" Kau pasti suka " Ucap Ganung seraya membelai lembut kepala Kiran. Kiran yang jijik berusaha mengelak, tapi dia tersadar kalau dia harus bersikap baik atau Ganung akan melukai mereka semua.
" Ta-da... " Girang Ganung saat membuka kotak itu, dia menunjukkan isinya pada Kiran yang diam melongo melihat sebuah gaun putih bersih berhiaskan butiran-butiran manik-manik berkilau.
" Sudah ku duga kau pasti suka, ini adalah gaun pengantin untuk mu " Ucap Ganung seraya terkekeh melihat ekspresi bingung Kiran.
" Itu gaun pengantin atau kain kafan ? " Cibir Dylan sinis.
__ADS_1
Ganung menolehkan kepalanya ke arah Dylan yang ada disebelah Kiran, menatapnya dengan kesal penuh rasa marah. Dia berjalan memutari Kiran dan kini tepat berada di samping Dylan.
" Sepertinya kau sudah lebih berani sejak bersembunyi dan bergaul dengan Klan Loyard, tapi kita lihat apa kau juga jadi lebih kuat ? " Geram Ganung dan seketika itu juga dia melayangkan pukulannya ke arah wajah Dylan, tepat di pipinya. Meninggalkan bekas luka merah lecet dengan sedikit darah disana.
" Uugh.. " Erang Dylan kesakitan, tapi hal itu bukannya membuat Ganung puas, dia meletakkan tangannya di atas bahu Dylan yang terluka, dengan keras mencengkramnya hingga membuat luka Dylan yang semula sudah tidak mengeluarkan darah kini kembali mengucurkan darah segar.
" Aarggghh.... " Teriakan kesakitan Dylan disambut dengan tawa membahana penuh rasa puas dari Ganung. Dia semakin mengeratkan cengkramannya, membuat Dylan membungkukkan badannya menahan sakit, namun terhalang oleh tali yang mengikat tubuhnya.
" Begini saja sudah sakit, kalau kau memutuskan bergaul dengan Klan Loyard, setidaknya kau harus sekarat lebih dulu baru kau tau apa itu rasanya sakit " Ejek Ganung dan melepaskan tangannya dari pundah Dylan, meninggalkan Dylan yang terbatuk-batuk menahan sakit.
" Baiklah akan ku pakai gaun itu, tapi jangan menyakiti siapapun yang ada disini " Teriak Kiran lantang, inilah kesempatannya untuk meloloskan diri, dia akan beralasan memakai gaun itu agar Ganung mau melepaskan ikatannya.
" Baiklah sayang, keputusanmu tepat sekali, aku tidak akan menyentuh mereka semua " Perhatian Ganung teralihkan sepenuhnya ke arah Kiran, dia kembali menghampiri Kiran dan berdiri di belakangnya.
" Tapi aku sendiri yang akan bersiap-siap, aku tidak mau kau mengintip. Bukankah ini sama saja seperti masa pingitan ? " Kiran terbata-bata mengajukan persyaratannya, dia tidak yakin apakah Ganung akan menyetujuinya atau tidak, jika dia menyetujuinya maka mereka memiliki kesempatan untuk kabur, tapi jika tidak, maka habislah sudah. Mereka tak akan berkutik.
" Oke baiklah, terserah kau saja. Tapi ingat jangan mencoba kabur, perlu kau tau aku sudah memasang banyak sekali bom dan juga ranjau darat di halaman rumah, jadi kalau kau memutuskan kabur dari rumah ini, maka boomm, kau akan habis tak bersisa " Ancam Ganung lirih dengan dingin, hal itu sukses membuat Kiran bergidik ngeri dan memikirkan ulang rencananya untuk kabur.
Ganung melepaskan ikatan Kiran, dan menyerahkan kotak itu padanya, Kiran menyambutnya dengan tangan gemetar, dan segera berlari ke lantai atas tempat kamarnya berada.
Betapa terkejutnya dia dengan apa yang di lihatnya, Ganung telah menghias kamarnya sedemikian rupa menyerupai kamar pengantin. Kiran tertegun, rasa jijik di hatinya semakin membuncah, mengaduk-aduk perutnya dan menimbulkan sensasi mual menyesakkan.
Dia berjalan pelan menuju ranjangnya yang di hiasi dengan taburan kelopak mawar merah dan putih yang membentuk tanda hati, jika saja Ken yang melakukannya mungkin akan lain rasanya. Kiran duduk bersimpuh di lantai, mengutuki kebodohannya sendiri yang pergi tanpa pamit kepada Ken, sekarang dia menyesal dan berharap Ken akan segera datang, yang perlu dia lakukan hanya mengulur waktu.
Kiran mengambil ponselnya akan menghubungi Ken, namun ponselnya mati, mungkin kehabisan baterai. Kiran membuangnya asal dan menangis sesegukan di antara kedua lututnya, ketakutan dan putus asa.
Regis yang mengawasi semua yang terjadi dari layar ponselnya, merasa inilah kesempatannya untuk memberitahu Kiran agar tetap tenang. Dia akan memerintahkan anak buahnya agar bisa menyusup naik ke kamar Kiran. Namun baru saja dia akan melakukannya, suara mobil yang berhenti dengan decitan rem memengkakkan telinga membuatnya menoleh.
" Darimana anak-anak itu bisa tau ? " Tanya Regis bingung melihat Ken dan Rai yang tiba-tiba saja datang. Mereka keluar dari dalam mobil dengan tergopoh-gopoh dan berlari menghampiri ayahnya.
" Dimana Kiran, kenapa malah berhenti disini, bukankah kita harus menerjang masuk untuk menyelamatkannya ? " Cecar Ken tidak sabaran. Inilah yang di takutkan Regis, Ken bertindak gegabah karena pikirannya kalut.
Sekertaris Yuri yang paham segera menenangkan Ken dan menceritakan semuanya detail kejadiannya.
" Baiklah kalau begitu aku yang akan menyusup masuk kedalam sana, berikan saja jalannya untuk ku " Ucap Ken mantap, namun Rai tidak setuju dengan ide Ken, dia tidak ingin adiknya berada dalam bahaya.
" Tenang saja, aku akan berpikiran dingin dan bertindak hati-hati, beritahu saja dimana letak pemantiknya, aku akan mematikannya, jadi kalian semua bisa menjinakkan bomnya tanpa khawatir " Ken kembali meyakinkan. Rai dan Regis tau, Ken bisa di andalkan dalam hal ini, dia jago dalam hal yang berkaitan dengan bom.
Dengan berat hati Regis mengizinkan Ken yang bergerak untuk masuk menyusup kesana.
" Hati-hatilah nak, jangan coba melawannya sendirian, dia bukan orang sembarangan. Beritahukan segera jika kau sudah bisa mematikan pemantiknya " Regis memberikan nasehatnya dan memeluk Ken, firasatnya sepertinya akan buruk, tapi demi menyelamatkan Kiran dia tidak punya pilihan lain.
" Baiklah " Jawab Ken yakin. Dia kemudian segera bersiap-siap, dia melepas jasnya dan memakai rompi anti peluru serta alat keselamatan lainnya, dan setelah semuanya siap, para penjinak bom yang lainnya segera membuatkan jalan untukknya agar bisa menyusup naik ke lantai 2.
__ADS_1
Kiran tunggu aku.