
Hari baru, semangat baru, perasaan baru, tapi bagi sebagian orang, bagi sebagian lainnya hanya sebuah hari lainnya yang harus di lalui dengan susah payah. Berusaha lepas dari kubangan masa lalu kelam yang membuatnya selalu bermimpi buruk setiap malamnya.
Dylan terbangun dengan napas terengah-engah, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Dia melihat jam dinding yang sudah usang di atas pintu kamarnya. Pukul 02.00 pagi.
Dia bangkit berdiri, beranjak keluar untuk mengambil minuman di luar kamarnya. Dengan beberapa tegukan dia menghabiskan separuh botol minuman yang ada di lemari pendinginnya, karena tenggorokannya benar-benar kering setelah bermimpi buruk barusan.
Dia duduk di dekat jendela yang mengarah langsung ke jalan raya, hari memang hampir menjelang dini hari, tapi di jalanan masih terlihat orang yang berlalu lalang dengan kendaraannya, seakan tidak butuh mengistirahatkan tubuhnya.
Dia membuka jendelanya agar angin sejuk menghapus keringat yang ada di tubuhnya. Matanya terpejam saat mengingat-ingat kembali kenangan masa lalunya.
Masa yang bisa di bilang cukup membahagiakan walaupun bukan yang terbahagia.
Masa dimana dia masih memiliki ibu sebelum akhirnya meninggal karena di hajar oleh suaminya. Untung saja jauh sebelum ibunya meninggal, dia sudah menyiapkan tabungan masa depan untuk dirinya, jadi dia bisa tetap bertahan hidup meskipun hanya sebatang kara.
Tanpa sadar air mata membahasi pipinya, dan dia lebih memilih tidur dengan di temani sepoi angin malam meskipun dinginnya menusuk hingga ke tulang
" Akan ku balaskan dendam mu bu, aku berjanji, akan ku buat mereka merasakan apa yang kau rasakan, setiap sakitmu, setiap tangismu, akan kupastikan tidak ada air matamu yang terbuang sia-sia " Dylan bergumam lirih sebelum akhirnya tertidur lelap di bawah jendela.
Pagi harinya Dylan hampir saja terlambat bangun, dia keluar kamar dengan terburu-buru. Namun yang membuatnya terkejut bukan karena dia kesiangan, tapi karena sesosok malaikat cantik sedang berdiri menunggunya di depan tangga. Dylan melambatkan langkahnya, perlahan mendekati Kiran.
" Selamat pagi, kau kesiangan " Sapa Kiran tersenyum lembut.
" Ya aku kelelahan kemarin, jadi... " Dylan menggaruk belakang kepalanya, merasa aneh ada yang menunggunya, biasanya dia yang menunggu.
Ku kira bu Kiran tidak peduli.
Dylan tersipu malu di dalam hati, tapi semburat merah di wajahnya diartikan lain oleh Kiran.
" Kau sakit ? Wajah mu merah sekali " Kiran bertanya khawatir, mengamati wajah Dylan lekat-lekat.
" Tidak ayo cepat, atau kita akan ketinggalan bus " Ajak Dylan menghidari tatapan Kiran, dia segera berjalan mendahului Kiran.
Semalam Kiran sudah bertekad akan membantu Dylan dengan kebenciannya terhadap Klan Loyard, dia akan memperbaiki hubungan Ken dan Dylan agar tidak ada salah paham lagi.
Saat mereka keluar gedung kost dengan terburu-buru, mereka di kejutkan dengan suara klakson mobil. Rupanya Ken tetap bersikeras menjemput Kiran dan Dylan, dia lebih memilih mengalah terhadap anak kecil itu daripada harus tersiksa tidak bertemu Kiran.
Kiran menghampiri mobil Ken, begitu juga Dylan yang otomatis mengikuti. Tanpa pikir panjang mereka berdua masuk kedalam mobil.
__ADS_1
" Cepat Pak atau kita akan terlambat " Dylan memerintah dari kursi penumpang di belakang.
" Memangnya kau kira aku taksi, seenaknya saja memerintah " Ken menjawab ketus.
" Aku ada ujian matematika di jam pertama kelas ku, aku tidak boleh terlambat " Suara Dylan setengah memohon kali ini.
Ken yang mendengar itu merasa sedikit tersentuh. Di balik sikapnya yang kurang ajar ternyata dia anak yang bertanggung jawab terhadap sekolahnya.
Siapa sebenarnya anak ini, kenapa anak sekecil ini bisa tau tentang Klan dan sangat membencinya. Aku harus memeriksanya.
Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, membuat semua penumpangnya tegang dan berpegangan erat pada handle mobil.
" Kau baik-baik saja Kiran ? " Lirik Ken sembari menyetir mobilnya dengan ngebut.
" Perhatikan saja jalanannya, pastikan kau tidak melanggar rambu lalu lintas " Ucap Kiran cepat dengan gugup, dia ketakutan sebenarnya.
" Dan pastikan kau tidak mengirim kita semua ke neraka " Dylan menambahkan dengan tegang juga dari arah belakang.
" Cih dasar bocah, kau bisa takut juga rupanya " Ken tersenyum sinis penuh kemenangan, melirik Dylan dari kaca spionnya.
" Aku tidak takut, aku hanya punya urusan yang belum selesai disini, jadi aku tidak berniat mati dalam waktu dekat " Balas Dylan tak kalah sinis.
" Dan juga berangkat bersama mu naik bus " Dan dia mengarahkan telunjuknya kearah Dylan juga.
Mereka berdua terdiam dengan cepat mendengar ancaman Kiran, dan Ken berkonsentrasi penuh pada jalanan saat ini.
Mobil memasuki gerbang tepat sebelum penjaga akan menutupnya, kalau mereka terlambat 5 menit saja, sudah bisa dipastikan mereka tidak akan boleh masuk ke dalam. Meski kepala sekolah sekalipun.
Dylan yang buru-buru mengejar ujian matematikanya di jam pertama sudah turun lebih dulu bahkan sebelum mobil berhenti sempurna, dengan berlari dia melewati lorong, menuju tangga naik ke lantai atas tempat kelasnya berada.
" Cih bocah itu kalau seperti ini terlihat benar-benar seperti bocah " Ken mencibir Dylan yang terlihat ketakutan akan terlambat ikut ujian.
" Apa maksud mu ? " Tanya Kiran penasaran.
" Bukankah memang seharusnya anak sekolah mengkhawatirkan ujiannya, bukan malah sibuk membenci klan yang jelas-jelas bukan urusannya " Ken menjelaskan seraya menutup pintu mobilnya dan berjalan menuju ruangannya.
" Itu lah yang ingin ku ketahui, aku sangat penasaran dengannya " Kiran juga mengungkapkan argumennya.
__ADS_1
Aku harus mencari waktu yang tepat untuk bisa berbicara tentang masalah ini dengan Dylan, tapi kapan ? Apa di rumah ? Tidak, tidak, aku tidak mungkin mengajaknya masuk ke kamar ku, itu tidak boleh dan tidak benar. Tapi aku juga tidak boleh masuk ke kamarnya. Apa di sekolah ya ?
Pikiran Kiran berkecamuk tentang rencana-rencananya mengorek informasi tentang Dylan. Dia tidak berkonsentrasi dengan jalannya, sampai menabrak punggung Ken yang berhenti mendadak di depan pintu.
" Aduh " Kiran tersentak kaget, hidungnya sakit karena menabrak keras punggung Ken.
" Ada apa ? Kenapa berhenti mendadak ? " Tanya Kiran heran.
" Aku tidak masuk satu minggu dan berkas yang harus ku periksa sebanyak itu ? " Ken gemetaran menunjuk tumpukan berkas yang menggunung di mejanya. Kepalanya langsung berdenyut nyeri membayangkan harus memeriksa dan menandatangani kertas-kertas tersebut.
" Aku akan membantu mu kalau memang kau butuh bantuan " Kiran menepuk pundak Ken dan berjalan melewatinya menuju tempat duduknya.
Dengan lemas Ken juga berjalan menuju mejanya. Kalau pekerjaannya sebanyak ini dia tidak akan punya waktu untuk mendekati Kiran. Dia duduk di kursinya, menopang kepalanya dengan tangannya. Berpikir keras, bagaimana dulu kakaknya bisa mengatasi semua masalah perusahaan dan mengatasi masalah rumah tangganya disaat yang bersamaan. Apa otak kakaknya seencer itu sampai tidak ada pekerjaan yang terbengkalai, atau Ken yang sebodoh itu.
Apa aku harus percaya Rhoma yang polos bisa secerdas itu ? Dia juga hanya bekerja sampai siang hari, tapi kenapa semua pekerjaan sepertinya tertangani dengan baik ?
Ken mulai membuka tumpukan berkas paling atas, tapi belum-belum matanya sudah mulai jereng membaca kata-kata di dalam kertas yang ada dihadapannya.
Proposal pengajuan acara outbond dua hari 1 malam yang akan di lakukan akhir bulan. Dia membaca detailnya, itu adalah acara rutin tahunan yang akan di adakan oleh pihak sekolah. Acara itu akan di bagi menjadi 3 gelombang, gelombang pertama untuk murid tahun pertama, gelombang ke dua untuk murid tahun ke dua, dan gelombang ke tiga untuk murid tahun ke tiga. Acara akan di adakan di pulau Lorie.
Ken berpikir sejenak, otaknya mulai memikirkan hal lain. Mungkin ini kesempatannya untuk lebih dekat dengan Kiran, begitu pikirnya. Kapan lagi dia akan mendapatkan kesempatan untuk liburan dengan Kiran di pulau romantis kalau bukan sekarang saatnya. Tanpa berpikir dua kali dia langsung menandatangani berkas tersebut, menyetujuinya. Tanpa membaca lebih lanjut halaman di baliknya.
Aku akan mengungkapkan perasaan ku pada Kiran di pulau itu, ah ya aku harus mengajak kakak dan kakak ipar juga, pergi liburan sebelum junior lahir mungkin sedikit menghibur marimar yang kesepian di rumah.
Ken tersenyum senyum sendiri membayangkan tentang liburan yang akan di jalaninya.
Ken melirik Kiran yang sedang duduk diam di mejanya, menulis sesuatu di buku jurnalnya dengan serius. Ken semakin jatuh hati pada Kiran, dia terlihat semakin cantik saat sedang serius dan bersungguh-sungguh seperti itu.
Bagaimana caranya mendapatkanmu Anjeli ?
Ken memandangi Kiran dengan menopang dagunya dan tersenyum manis. Tapi tiba-tiba lamunannya buyar karena ponselnya berdering. Spongebob.
" Tina ? " Pekik Ken terkejut.
Kiran yang mendengar pekikan Ken dengan cepat menoleh ke arahnya, dia mendengar dengan jelas Ken menyebut nama Tina.
Siapa dia ? Apa dia kekasih Ken?
__ADS_1
Kiran menatap Ken dengan sedih, hatinya terluka tapi dia tidak bisa apa-apa, karena menurutnya Ken berhak mendapatkan yang lebih baik. Dan dia tidak berhak melarang Ken berhubungan dengan siapapun.