Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Tau Apa Kau Tentang Diriku


__ADS_3

Kiran terbangun oleh suara ponselnya, dia membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Dan meraba-raba mencari ponsel di bawah bantalnya.


Rupanya alarm yang berbunyi, tepat pukul 6 pagi. Dia menguap dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena harus tidur dengan posisi meringkuk di dalam selimut.


Sejak insiden penculikan itu, dia semakin sering mengalami mimpi buruk bahkan lebih dari sebelumnya, bayangan Ganung dengan tubuh hancur akibat ledakan bom dan mengejarnya selalu saja menemani setiap malamnya. Hingga dia baru bisa tertidur setelah lewat tengah malam.


" Apa aku juga harus menyusul ibu ke desa ya ? " Gumamnya pelan dan kembali menguap mengusir kantuk yang menggayuti matanya. Dengan lemas dia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air minum dan menghilangkan gatal di tenggorokannya.


" Haah... si tua itu bahkan seperti meninggalkan kutukan sampai akhir hayatnya " Menghela napas setelah menghabiskan segelas minumannya.


Setelah merasa cukup segar dia segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah, selama dalam perjalanan pikirannya terus mendengungkan ketakutan-ketakutan yang harus di hadapinya nanti malam di rumah sebesar itu sendirian.


Hantu itu tidak ada, hantu itu tidak ada, hantu itu tidak ada.


Seperti mantra dia terus saja merapalkannya dalam hati. Semalam dia menelepon ibunya dan menanyakan berapa lama ibunya disana, dan ternyata akan lebih lama dari perkiraan. Semula ibunya hanya akan melakukan perjalanan sehari, namun karena sudah lama tidak bertemu dengan saudara sepupunya, Adelia akan menginap lebih lama untuk menebus rasa kangennya.


Dalam hati Kiran menyesal telah mendukung keputusan ibunya untuk tidak menerima pelayan di rumah itu, mereka mengembalikan semua pelayan yang sebelumnya melayaninya dan Dylan kepada Tuan Regis.


Malam-malam panjang dan sepi seolah sedang menari-nari di pikirannya yang buntu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Ken yang suasana hatinya sudah buruk semakin menjadi buruk karena semua orang terus saja menggodanya.


Tidak biasanya dia tidak bersemangat berangkat ke sekolah, itu semua tidak lain karena dia dan Kiran sedang marahan.


" Kau kenapa ? " Tanya Rai yang sudah lebih dulu ada di meja makan untuk sarapan. Sedangkan Regis dan Ruby sedang berjemur bersama Raline di halaman belakang.


" Entahlah " Jawabnya malas dan kemudian mengambil sepotong roti dan mengoleskannya dengan selai coklat.


" Kau sudah memutuskan kapan tanggal pernikahan mu ? " Tanya Rai asal, karena pernikahan Ken adalah prioritas kedua di keluarga ini setelah Raline.


" Jangan bicarakan itu, aku malas " Mengunyah rotinya dengan malas.


" Kenapa ? Kau sudah tidak menyukainya lagi ? " Tanya Rai penasaran dengan sikap Ken.


" Aku masih menyukainya, tapi sepertinya dia yang tidak menyukai ku " Jawabnya jengah dan menghela napas pasrah.


" Setelah yang kalian hadapi bersama kau masih meragukan perasaan masing-masing ? " Rai memang bukan tipe orang yang ikut campur jika itu menyangkut perasaan orang lain.


" Kau tidak tau dia sih, dia begitu sulit di tebak, aku sudah bersamanya beberapa bulan, bahkan kami setuju menikah, tapi kau tau hubungan kami hanya sebatas berpegangan tangan dan berpelukan, dia selalu menghindar setiap kali aku akan menciumnya, aku seperti orang mesum yang mencari-cari kesempatan " Jelas Ken kesal dan berapi-api.


" Mungkin dia tidak menyukai mu, sebaiknya kalian pikirkan lagi sebelum menikah, daripada tidak bahagia setelah menikah " Nasehat Rai asal.


" Lalu bagaimana denganmu ? Kau menikahi marimar tanpa berpikir, tapi kau sekarang bahagia " Selidik Ken.


" Itu beda kasus, aku memang tidak berniat jatuh cinta padanya, aku hanya ingin menjadikannya seperti ibu, tapi seiring berjalannya waktu kami saling jatuh cinta, dan seperti inilah kami sekarang " Rai mengedikkan bahunya sombong.


" Haaah... curhat padamu sama sekali tidak menghasilkan apa-apa, harusnya aku tidak meminta saran manusia purba sepertimu " Cibir Ken sinis.


" Hei jaga mulutmu, manusia purba apanya ! " Teriak Rai marah mendengar Ken mengejeknya.


" Manusia purba yang bisa bernyanyi, begadang jangan begadang... " Ucap Ken dengan menyanyikan lagu dari tokoh yang jadi julukan untuk Rai. Ken tergelak karena berhasil menggoda Rai dan membuatnya kesal.


Dylan yang baru saja datang segera mengambil tempat duduk di sebelah Ken dan ikut mengambil sepotong roti untuk sarapannya.


" Hei kak, kau tau dia hanya bisa membuat robek bibir lawannya saat berkelahi " Ken mengadukan perihal perkelahian Dylan dan Andromeda tempo hari, mengalihkan pembicaraan dan pikirannya yang kusut.


" Ya aku sudah dengar dari ayah, sepertinya kau harus belajar bela diri, mengingat kau sekarang juga keluarga Klan jadi setidaknya kau harus bisa melindungi diri sendiri " Rai menunjuk Dylan dan kemudian melanjutkan makannya.


" Ayah bilang dia akan memanggil guru bela diri kerumah, siapkan waktumu, kau akan belajar bela diri sepulang sekolah " Perintah Rai santai.


" Wuahh...ini akan sangat menyenangkan, kau akan jadi bulan-bulanan pelatih itu, dia bahkan pernah membuat tangan kakak patah karena melawannya " Goda Ken menakut-nakuti Dylan, sementara Dylan urung memakan rotinya yang telah teroles selai. Dia gugup sekaligus takut dengan apa yang dikatakan Ken.


" Tenanglah nak, pembalasan harus selalu lebih kejam " Ken menepuk pundak Dylan dan kemudian berdiri, meninggalkan Dylan dan Rai dengan tawa jahat membahana keseluruh ruangan.


" Jangan di anggap serius ucapannya " Rai menenangkan Dylan yang terlihat pucat dan gemetaran.


Mendengar hal itu Dylan bernapas lega dan tersenyum.


" Paling-paling kau hanya akan menerima sepuluh kali bantingan sebelum akhirnya ambruk " Kekeh Rai melanjutkan, dia kemudian juga ikut berdiri dan pergi menyusul Raline dan Ruby di taman.


Semua orang bilang keluarga Loyard adalah graceful family, tapi bagiku ini seperti amburadul family, tidak ada yang serius.


Batin Dylan lemas.


🍁🍁🍁🍁🍁


Ken dan Kiran yang datang ke sekolah hampir bersamaan bertemu di lorong sekolah. Melihat Kiran dengan cepat Ken menunjukkan ekspresi ngambek dan memalingkan wajahnya.


Ya ampun dia sudah uzur tapi marahnya masih seperti anak TK.


Kiran terkejut melihat kelakuan Ken yang seperti itu, membuat dia yang tadinya hendak menyapa menjadi urung.


Kiran berjalan menuju ruangannya dan meletakkan tasnya asal, merasa kesal juga oleh sikap Ken.

__ADS_1


Dia lalu mengambil ponselnya dan mengetik dengan cepat sebuah pesan untuk Ken. Kirim.


1 menit, 2 menit, 3 menit, tak juga ada balasan, Kiran memeriksa ponselnya lagi. Tanda centang dua terpampang disana yang artinya pesannya sudah terkirim namun belum di baca.


" Cih kekanak-kanakan sekali " Gumam Kiran kesal dan meletakkan ponselnya dengan keras.


Ken tau Kiran mengiriminya pesan berisi penjelasan tentang kejadian kemarin. Ken juga sebenarnya tidak cemburu dengan hal itu, dia hanya tak habis pikir kenapa Kiran masih saja bersikap defensif terhadapnya. Bukankah mereka sudah setuju menikah, lalu apa masalahnya, hanya ciuman saja masa tidak boleh, begitulah pikir Ken kesal.


Jadi dia memutuskan akan mengabaikan Kiran dan mogok bicara sampai Kiran mau menjelaskan sikap anehnya.


Tik, tok, tik, tok ! Waktu seakan berjalan lambat saat keduanya sedang marahan seperti ini, tidak ada pesan-pesan berisi perhatian yang biasanya selalu memenuhi layar ponsel masing-masing.


Hingga bel makan siang berbunyi masih saja tidak ada balasan pesan dari Ken, Kiran yang semakin kesal segera merapikan kertas dan buku-bukunya, dia berjalan gontai menuju ruang guru untuk makan siang bersama-sama yang lainnya ke kantin.


" Bu Kiran " Bu Lia menepuk pundak Kiran yang berjalan di depannya dengan melamun.


" Ya ? " Tanyanya bingung.


" Anda kenapa ? Saya sudah memanggil anda 3 kali " Jawab Bu Lia menelisik Kiran yang terlihat lesu.


" Ah mungkin karena lapar, jadi saya tidak berkonsentrasi " Jawabnya kikuk yang di iringi dengan anggukan maklum dari guru-guru yang lain.


" Saya tadi bertanya, apa anda mau ikut acara arisan para guru ? Bukan masalah uangnya, tapi lebih kepada berkumpulnya " Bu Lia menjelaskan maksudnya tadi menepuk pundak Kiran.


" Ya tentu, boleh saja " Jawab Kiran berpura-pura antusias.


" Baiklah kalau begitu, arisan setiap tanggal 10 yang artinya lusa... " Bu Lia menjelaskan bagaimana acara arisan para guru biasanya di gelar saat di perjalanan menuju kantin.


Seperti biasa kantin selalu ramai, para guru langsung berbaris di antrian khusus untuk guru-guru, dan kemudian mencari meja kosong.


Bu Lia dan Kiran yang paling terakhir bergabung dengan yang lainnya.


" Aish anak-anak jaman sekarang bahkan tumbuh dewasa terlalu cepat " Omel Pak Doni kesal kala melihat sepasang kekasih di meja disudut ruangan sedang saling menyuapi.


" Mau bagaimana lagi, saat kita melarang, mereka hanya akan menghindar sementara lalu kembali lagi seperti itu " Jawab Bu Lia pasrah dan menoleh ke arah Kiran seolah meminta pendapat.


Namun Kiran sedang tidak berkonsentrasi karena memikirkan Ken, disaat mereka sedang baikan, Ken selalu ikut makan siang bersama, tapi saat mereka marahan seperti ini Ken selalu meminta pak Dim membawakan makan siangnya ke ruangannya.


Dia benar-benar kekanak-kanakan.


Geramnya kesal dengan tatapan kosong.


" Benar kan bu Kiran ? " Tanya Bu Lia.


" Ya benar sekali, sangat kekanak-kanakan, lihat saja umurnya, sudah setua itu masih seperti anak kecil " Jawabnya kesal tanpa sadar dan menusuk bakso dengan garpunya dengan keras dan langsung melahapnya dalam sekali suapan.


" Siapa yang tua bu Kiran ? Bukankah mereka memang masih anak-anak ? " Tanya pak Doni bingung.


" Hah siapa lagi kalau bukan si ipin ! Dia saja bisa merayu orang lain, memujinya dengan manis tapi malah memanggil ku upin, dan aku tidak marah seperti tindakannya sekarang, bukankah itu namanya kekanak-kanakan ? " Omelnya lagi dan kembali menusuk bakso yang ada di piring makan siangnya.


Para Guru semakin bingung dengan tingkah Kiran, Bu Lia menepuk pundak Kiran untuk memastikan jawabannya lagi.


" Anda kenal dengan murid itu ? " Tanyanya pelan dan menunjuk murid yang sedang bermesraan dengan kekasihnya di sudut ruangan.


" Eh ? Maaf " Kiran seperti mendapatkan kesadarannya kembali setelah tepukan pelan yang di berikan oleh Bu Lia.


" Sudah kuduga anda sedang tidak berkonsentrasi " Jawabnya lembut dan tersenyum di ikuti dengan tawa yang lainnya.


" Maaf, maaf, maaf " Ucap Kiran malu-malu dan menundukkan kepalanya menyembunyikan rona merah diwajahnya.


" Sepertinya bu Kiran sedang ada masalah pribadi ya ? " Tanya Pak Doni menggoda.


" Oh tidak, tidak ada " Sanggah Kiran dengan cepat.


" Tidak ada apa ? " Sebuah suara dari arah belakang mengagetkan para guru. Kiran menoleh dengan cepat, Ken sedang berdiri di belakangnya sambil membawa nampan makan siangnya.


Pak Doni yang semula duduk di samping Kiran bergeser ke kursi sebelahnya, memberikan tempat duduknya untuk Ken.


" Tidak ada apa ? " Ulangnya lagi setelah duduk.


" Ini... bu Kiran tiba-tiba menjadi aneh setelah melihat sepasang murid yang sedang pacaran " Goda pak Doni lagi yang disambut gelak tawa dari para guru yang lain.


" Tidak, tidak begitu " Sanggah Kiran cepat dengan wajah merona malu.


" Tidak apa-apa bu Kiran, wajar saja jika anda iri, bukankah anda juga sendiri " Goda pak Doni lagi. Semua guru yang mendengarnya semakin tergelak.


" Tidak pak bukan begitu " Kiran semakin ngotot menyanggahnya namun usahanya sia-sia saja, semua guru kompak menggodanya habis-habisan.


Ken yang malah semakin kesal mengambil gelasnya dan meminum minumannya.


" Bagaimana kalau anda berkencan saja dengan pak Tomy, dia juga sendiri bukan ? " Pak Doni kembali menggoda.


Bruuuusshhh !!! Ken yang baru saja minum langsung menyemburkan minumannya mendengar ucapan pak Doni.


" Ah maaf, maaf,maaf saya tidak sengaja " Ucap Ken panik dan mengambil tissu untuk di berikan kepada Pak Tomy yang terkena imbas dari semburannya.

__ADS_1


" Pasti pak Ken terkejut bukan ? " Saut pak Doni cepat.


" Bukankah akan ramai jika sesama teman saling berkencan ? " Lanjutnya lagi.


Dan guru-guru yang lain seperti memberi lampu hijau untuk Kiran dan pak Tomy agar menjadi sepasang kekasih meskipun keduanya ngotot menolak. Kiran menoleh ke arah Ken dengan pandangan sungkan.


" Sepertinya kau menikmati ini ya ? Kemarin Bambang, sekarang Tomy, besok siapa lagi ? " Bisiknya ketus di telinga Kiran.


" Bukankah aku sudah menolaknya, kenapa membawa-bawa orang lain ? Kau sendiri bagaimana dengan Tina ? Wuah pasti menyenangkan sekali bukan akan menciumnya " Balas Kiran tak kalah ketus.


" Ah ya kalau di pikir-pikir bukankah pak Ken juga single ? " Tanya pak Dony membuyarkan obrolan rahasia antara Ken dan Kiran.


" Ei siapa bilang, bukankah pak Ken sedang berkencan dengan seorang model ? " Bu Lia menengahi.


" Uhuk uhuk !! " Kali ini Kiran yang sedang memakan baksonya tersedak mendengar penuturan bu Lia, dia langsung melayangkan lirikan tajam ke arah Ken yang salah tingkah.


" Tidak, tidak " Sanggahnya cepat.


" Benarkah ? Saya melihat beritanya pagi ini, kalau tidak salah modelnya bernama Megan dan foto-foto anda dengannya sedang makan siang juga di rilis " Jawab Bu Lia seraya menyerahkan ponselnya yang berisi artikel terkait.


" Wah anda cocok sekali pak Ken " Saut Pak Doni cepat saat melihat foto-foto Ken dan Megan.


" Benar, sangat serasi " Yang lainnya juga ikut menyahuti, semakin membuat Ken salah tingkah.


" Selamat pak Ken " Lanjut para guru kemudian.


" Selamat pak Ken " Ucap Kiran dengan geraman tertahan membuat Ken mati kutu dan hanya bisa menghela napas pasrah.


🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah makan siang yang dramatis tadi pertengkaran diantara mereka semakin melebar dan buruk.


Kali ini berganti Kiran yang mengabaikan pesan berisi penjelasan yang dikirimkan Ken. Dia sibuk membaca artikel yang merilis berita Ken dan seorang model. Mereka terlihat sedang makan siang berdua dia sebuah restoran mewah pada minggu kemarin, tepat saat Kiran sedang kuliah.


" Dia marah hanya karena Bambang memegang tanganku padahal dia sendiri sedang makan siang bersama dengan seorang model ? " Geram Kiran kesal. Dia mengibaskan tangannya berusaha mendinginkan suhu kepalanya yang sepertinya akan meledak karena marah.


Ponsel Kiran terus saja berbunyi karena mendapat panggilan dari Ken tapi Kiran memilih mengabaikannya.


" Cih memangnya hanya kau yang bisa marah, aku juga bisa " Omelnya ketus kepada ponselnya yang terus saja menyala berkelap kelip.


Sedangkan Ken yang gagal menghubungi Kiran untuk menjelaskannya terlihat sangat putus asa. Tapi tidak mungkin baginya untuk mengurus masalah ini di area sekolah, lagipula pekerjaanya sedang menumpuk dan menunggu untuk segera di selesaikan.


Bel pulang pun berbunyi, Ken segera merapikan semua kertas-kertasnya dan keluar ruangannya secepat kilat. Dia akan menemui Kiran di ruangannya untuk meluruskan setiap masalah.


Ruangan Kiran yang terletak jauh dari kelas akan sangat sepi disaat pulang sekolah. Suasana yang pas untuk berbicara dengan tenang dan santai serta kepala yang dingin.


Ken mempercepat langkahnya agar tidak sampai tertinggal Kiran, dan benar saja. Kiran baru saja keluar dari ruangannya sedang mengunci pintu. Ken berlari ke arahnya.


" Kita bicara dulu " Ucapnya setengah terengah-engah.


" Mau bicara apa lagi ? " Tanya Kiran ketus.


" Pokoknya bicara dulu " Saut Ken dan merebut kunci yang dipegang Kiran, dengan sekali gerakan dia memutar kembali kuncinya lalu membuka pintu. Setengah menarik Kiran untuk mengikutinya masuk kedalam ruangan.


" Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Megan " Jelas Ken langsung tanpa basa-basi.


" Aku tau " Saut Kiran malas.


" Kau tidak percaya ? " Tanya Ken meyakinkan.


" Aku percaya, hanya saja melihatmu yang berpikiran picik begitu membuatku kesal. Kau marah-marah saat melihat Bambang memegang tanganku, padahal kau sendiri makan siang dengan wanita lain. Bukankah itu tidak adil ? Apa karena aku tidak memergokimu secara langsung jadi kau merasa itu bukan sebuah kesalahan ? " Ketus Kiran.


" Hei aku kan sudah bilang jangan dekat-dekat dengan Bambang tapi kau mengabaikan laranganku ? Itu yang membuatku marah " Jawab Ken tak kalah ketus.


" Apa ? " Ulang Kiran tak percaya dengan alasan yang dilontarkan Ken.


" Jadi sekalipun aku memergoki mu sedang makan siang dengan wanita lain aku tidak berhak marah karena aku tidak melarangmu lebih dulu, begitu maksud mu ? " Nada suara Kiran melesat naik.


" Bukan begitu, aku dan Megan bukan apa-apa kami murni hanya membicarakan bisnis " Sanggah Ken kesal.


" Aku dan Bambang juga bukan apa-apa, kami murni hanya berteman " Kiran membalikkan kata-kata Ken.


" Tapi aku tidak percaya padanya, dia itu sangat menyukaimu, terlihat jelas di wajahnya " Jawab Ken.


" Lalu apa Megan itu tidak menyukai mu ? Aku masih ingat kau menyebutkan namanya dalam deretan nama wanita yang akan patah hati saat kau memilihku " Balas Kiran sengit.


" Tapi aku kan tidak menyukainya, berbeda denganmu " Jawab Ken tak kalah sengit.


" Apa ? Kenapa kau berpikir aku bisa menyukai Bambang ? Bukankah aku sekarang sedang menjalin hubungan denganmu ? Kau pikir aku wanita yang tidak setia, begitukah ? " Teriak Kiran kehabisan kesabaran.


" Mana aku tau kau benar-benar menyukai ku atau tidak, kau saja tidak pernah bilang mencintaiku, kau juga selalu menghindar saat aku ingin mencium mu " Teriak Ken mengeluarkan seluruh uneg-unegnya.


Bagai bom waktu yang sudah di prediksi Kiran, akhirnya kata-kata itu meluncur juga dari mulut Ken.


" Jadi menurutmu tanda cinta harus di buktikan dengan sebuah ciuman ? Hubungan fisik ? " Jawab Kiran dengan suara tercekat menahan tangis. Ken yang melihat Kiran sepertinya terluka dengan ucapannya langsung menggenggam tangannya berusaha meminta maaf.

__ADS_1


" Ku kira kau berbeda dari laki-laki lainnya, ternyata sama saja, tau apa kau tentang diriku, kalau kau benar-benar mencintaiku harusnya kau sudah sadar saat aku menceritakan semua kisah hidupku, tapi lihat ? Kau bahkan hanya memikirkan dirimu sendiri " Runtuh sudah pertahanan Kiran, air matanya tumpah menganak sungai dipipinya yang putih.


Dengan hati yang hancur dia berbalik dan pergi meninggalkan Ken sendirian di ruangan itu.


__ADS_2