Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Kematian


__ADS_3

Kiran yang masih menangis sesegukan, mendengar ketukan di jendela kamarnya, dia menolehkan kepalanya dan terkejut mendapati Ken bergelantungan disana. Dia mengerjapkan matanya, memastikan pengelihatannya.


" Kiran buka pintunya " Ucap Ken tanpa suara dengan mulut komat kamit.


Kiran yang sadar segera berlari menghampirinya dan membukakan jendela untuknya.


" Ken " Pekik Kiran bahagia, namun Ken segera membekap mulut Kiran agar tidak berteriak.


Ken kemudian menyusup masuk ke dalam kamar Kiran dan menceritakan semuanya. Dia melihat bahu Kiran yang terluka, kemarahan juga kesedihan terlihat jelas dimatanya.


" Aku baik-baik saja, ini memang sakit, tapi aku masih bisa menahannya, dulu saat di rumah sakit jiwa aku malah melukai diriku sendiri lebih dari ini " Ucap Kiran lembut mengerti pandangan mata Ken yang terus terpaku pada lukanya.


" Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik, aku gagal " Nada kesedihan serta penyesalan yang dalam terpancar keluar dari setiap kata-kata Ken.


" Tidak apa-apa, aku berterima kasih padamu kau segera datang untuk menyelamatkan ku " Kiran memeluk Ken dan menangis terisak-isak. Tapi Ken segera menguasai emosinya, dia harus bergerak cepat agar Ganung juga segera tertangkap.


Ken segera menceritakan rencananya, dan Kiran paham. Mereka mencari cara agar Ken bisa mencapai pintu depan dan mematikan pemantik bomnya, tapi untuk mencapai kepintu depan tanpa di ketahui Ganung sepertinya itu hal yang sulit. Pintu utama bisa dilihat dari meja makan, jadi Ken tidak akan bisa leluasa mematikan pemantiknya tanpa terlihat.


Mereka berpikir bersama memecahkan kasus ini, Ken mengedarkan pandangannya menyapu seluruh kamar, berusaha mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk bersembunyi. Kiran pun juga melakukan hal yang sama, dan kemudian dia menatap gaun pengantinnya yang ada di dalam kotak dan menemukan sebuah ide.


" Ken aku ada ide " Bisik Kiran antusias, dia kemudian mengambil gaun putih dengan bagian roknya yang mengembang besar tersebut. Kiran mengamati gaunnya sekilas. Dia ingat dulu Ganung pernah bertanya padanya gaun pengantin seperti apa yang ingin dia kenakan saat menikah nanti, dan Kiran menjawab gaun seperti putri kerajaan inggris kuno yang mengembang di bagian roknya. Dan inilah sekarang, gaun itu akan sangat berguna.


" Gaun yang indah, tapi maaf sayang sepertinya kau harus menunda dulu pamer mu, karena keadaan kita sedang tidak memungkinkan untukku terpesona oleh gaun pernikahanmu " saut Ken acuh dan terus saja mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk pergi ke lantai bawah tanpa ketahuan oleh Ganung.


" Kau ini ! Lihat baik-baik gaun ini " Ulang Kiran lagi menenteng gaunnya tinggi-tinggi di hadapan Ken.


Ken yang terpaksa melihatnya masih saja tidak paham dengan maksud Kiran. Dia mengedikkan bahunya menyerah.


" Lihat bentuk gaun ini, sangat besar bukan di bagian bawahnya, kau bisa bersembunyi disini saat aku turun nanti, dan aku akan mencari celah untuk mendekati pintu depan sementara kau mematikan pemantiknya " Jelas Kiran antusias dengan rencananya.


Ken yang paham dengan maksud Kiran mendadak tersipu malu, dia tidak bisa membayangkan ide gila Kiran.


" Jangan berpikir yang aneh-aneh, ini keadaan darurat " Kiran mendelik melihat Ken yang tersipu malu, dari ekspresinya saja Kiran bisa tau apa yang di pikirkan Ken.


" Tapi bukankah itu sedikit vulgar ? " Ucap Ken malu-malu.


" Vulgar apanya ? Ini tidak akan seperti yang kau bayangkan, sudah cepatlah " Kiran segera meminta Ken untuk berbalik badan agar dia bisa mengganti bajunya dengan gaun pengantin tersebut.


Setelah semua selesai, Kiran menepuk pundak Ken dan mengajaknya segera melaksanakan rencananya. Namun saat pandangan matanya bertatapan dengan wajah Kiran yang telah berdandan, Ken diam membeku. Wanita yang ada dihadapannya saat ini lebih layak di sebut bidadari karena sangat cantik dengan balutan gaun putih.


" Kau sangat cantik " Puji Ken tanpa sadar.


" Terima kasih " Kiran menjawab malu-malu, wajahnya memanas. Disuasana yang tegang seperti ini, mereka malah asyik berromantis ria dan melupakan keadaan yang mendesak.


" Aku berjanji akan mengeluarkan mu dari sini dengan selamat " Ken memeluk Kiran dengan erat. Yang di jawab dengan anggukan pelan dari Kiran di dalam pelukan Ken.


" Aku percaya padamu, sangat percaya " Jawab Kiran lirih, suasana haru mendadak muncul di dadanya, bayangan mimpinya tentang Ken yang terluka kembali terlintas di ingatannya, Kiran semakin mengeratkan pelukannya, tanpa sadar air matanya mengalir.


" Apapun yang terjadi berjanjilah kau tidak akan terluka bahkan demi aku " Kiran terisak, pertahanannya runtuh, air mata yang semula hanya butiran-butiran kecil kini turun dengan deras.


Ken yang mendengar suara parau Kiran melepaskan pelukannya, dia menangkup kedua pipi Kiran dengan tangannya, memaksa mereka untuk saling berhadapan.


" Jangan menangis sayang, akan ku pastikan kita tidak akan terluka, tidak akan ada yang terluka, kau tenang saja " Jawab Ken lirih penuh perhatian, dia berusaha menenangkan Kiran yang semakin terisak dan hanya mampu memeluk Ken kembali, entah kenapa firasatnya terasa semakin kuat, kata-kata Ken terdengar seperti tanda perpisahan darinya.


" Aku mencintai mu " Ucap Kiran di tengah isak tangisnya, kata-katanya meluncur begitu saja seperti tidak akan ada kesempatan lain untuk mengucapkannya.


" Kau tau aku juga sangat mencintaimu " Balas Ken lembut, dia mengeratkan pelukannya untuk yang terakhir kali.


" Sudah cukup mesra-mesranya, sekarang ayo kita beraksi " Ajak Ken penuh semangat, dia melepaskan pelukannya dan merangkul pundak Kiran.


Kiran mengusap air matanya dan berusaha tersenyum, melihat Ken yang bersemangat dia juga ikut bersemangat. Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan untuk menenangkan dirinya. Dia menegakkan pundaknya dan mengangkat wajahnya, jika dia ingin menjadi wanita dari Ken, dia harus sekuat, setegar dan seberani Ken juga.


Kiran berjalan pelan menuju pintu kamarnya, dengan Ken yang berdiri di sampingnya. Kiran menoleh sekali lagi ke arah Ken.


" Baiklah kita mulai " Jawab Ken dengan mengangguk mantap. Dia kemudian menunduk dan membuka gaun Kiran.


" Hei apa yang kau lakukan ? " Kiran yang terkejut dengan tindakan Ken segera melompat mundur menghindar.


" Kau bilang aku harus bersembunyi di dalam gaun mu kan ? " Tanya Ken bingung melihat reaksi Kiran. Dia berdiri dan menegakkan bahunya, berusaha mengatasi rasa malunya.

__ADS_1


" Kapan aku bilang begitu ? Ah jadi ini alasannya kenapa kau tersipu malu ? Karena kau berpikir kau akan masuk kedalam sini ? Begitu ? Dasar mesum " Kiran memukul pundak Ken yang masih berjongkok di depannya.


" Aku... aku bukan mesum, aku... " Ken yang malu karena salah paham menjawab terbata-bata, rona merah di wajahnya semakin menjadi. Ken mengira kesialannya jika berhadapan dengan Kiran sudah hilang sepenuhnya, tapi nyatanya di saat genting seperti ini dirinya masih saja tertimpa rasa malu.


" Maksud ku kau bersembunyi di balik gaunku nanti saat menuruni tangga, dan saat kau mematikan pemantiknya aku akan berdiri di belakangmu untuk menghalangi pandangan Ganung " Omel Kiran kesal tidak menyangka Ken akan punya pikiran seperti itu.


" Kenapa kau tidak bilang dari awal, membuatku membayangkan yang tidak-tidak saja " Jawab Ken kesal karena terpergok berpikiran mesum.


" Wuah ternyata Ruby tidak berbohong soal keluarganya yang mesum " Cibir Kiran sinis, mendengar sindiran Kiran Ken semakin salah tingkah.


" Aish sudah lah ayo cepat, kita tidak punya banyak waktu " Ken mengalihkan pembicaraan, dia segera berjongkok lagi dan bersembunyi di balik sisi yang lain dari gaun Kiran yang mengembang besar.


Kiran membuka pintu kamarnya dan berjalan pelan, dia harus menyesuaikan langkahnya dengan Ken yang berjalan dengan berjongkok. Perlahan-lahan Kiran menuruni tangga, Ganung dan yang lainnya menoleh ke arah Kiran.


Terpesona oleh kecantikan wajah Kiran Ganung mengabaikan keadaan sekitarnya, dia menurunkan kewaspadaannya. Di tatapnya wajah Kiran lekat-lekat, wanita yang selama ini hanya menjadi angan-angannya sekarang berdiri tepat di hadapannya dan setuju menikah dengannya. Sepeti pungguk merindukan bulan, impian Ganung bukan hanya omong kosong belaka. Dia berjalan mendekat ke arah Kiran.


" Tunggu disana paman " Tolak Kiran spontan.


Ganung yang terkejut menghentikan langkahnya dan memandang Kiran dengan curiga. Menyadari kesalahannya Kiran segera berimprovisasi.


" Aku ingin berfoto dulu dengan gaun ku ini paman, bisakah kau melakukannya ? " Kilah Kiran dengan berusaha tersenyum secara wajar.


" Ah begitu, baiklah, aku memang sudah mempersiapkan semuanya, duduklah di meja makan, aku akan memfotomu disana " Ucap Ganung semangat penuh antusias.


" Dimana ? Disini ? " Tanya Kiran pura-pura larut dalam kebahagiaan.


" Disini jelek, aku ingin berfoto di... " Kiran menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seakan mencari letak tempat foto yang bagus.


" Aku ingin di depan sana " Tunjuk Kiran ke arah pintu depan, didekat pintu depan memang terdapat hiasan pohon sakura tiruan, dan juga beberapa hiasan ornamen klasik. Tempat yang sempurna untuk berfoto dan melakukan rencana mereka.


" Kau benar, pohon itu pohon favoritmu " Jawab Ganung senang, dia benar-benar di butakan cintanya hingga tidak sadar apa yang akan terjadi selanjutnya.


" Baiklah aku akan mengambil kameranya dulu " Lanjut Ganung, dan secepat kilat dia berlari ke arah kamar Adelia, tempat dimana kamera itu disimpan.


Melihat kesempatan itu, Kiran segera memberi aba-aba untuk Ken agar berlari ke arah pintu, dan Kiran mengikutinya. Mereka segera mengatur posisi agar rencana mereka terealisasi dengan baik.


Tak berapa lama Ganung sudah kembali dengan tripod dan kameranya, dia sedikit terkejut melihat Kiran yang sudah bersiap dibawah pohon sakura. Tapi dia mengabaikannya, dia kemudian mengatur tripodnya dan memasang kameranya. Setelah semuanya selesai Ganung menghampiri Kiran.


" Paman mau kemana ? " Tanyanya panik.


" Bukankah kau bilang kita akan berfoto bersama ? Tentu saja aku akan berdiri disampingmu " Jawab Ganung bingung.


" Aku ingin difoto sendiri dulu sebagai permulaan, lagi pula kau tidak memakai tuksedo, kita tidak mungkin berfoto bersama " Jawab Kiran berpura-pura polos.


" Ah kau benar, aku belum berganti pakaian " Ganung tersenyum saat melihat dirinya sendiri.


" Nanti saja gantinya, sekarang foto aku dulu, ok ? " Ucap Kiran riang.


Ganung tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, dia memotret Kiran berkali-kali dengan berbagai macam gaya, namun tidak pernah berpindah posisi. Dan saat Ganung memintanya berpindah posisi Kiran segera menyuruh Ganung untuk berganti pakaian, mereka harus bergerak cepat dan hati-hati.


" Jangan lupa rapikan rambutmu menggunakan hairspray ok ? " Teriak Kiran saat Ganung berlari kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Hal ini di manfaatkan Kiran untuk melepaskan ikatan Dylan dan Adelia, namun mereka akan berpura-pura terlihat seolah-olah masih terikat, jika Ken belum menyelesaikan tugasnya. Sementara Ken masih berkutat dengan pemantik yang dipasang Ganung di knop pintu, dia harus berhati-hati, salah sedikit saja pemantik itu akan aktif dengan sendirinya dan memicu ledakan besar.


Ganung cukup lama bersiap-siap, dia merapikan rambutnya berkali-kali agar terlihat tampan karena itu adalah permintaan Kiran. Jadi dia beberapa kali berganti gaya rambut, mulai dari belah kanan, belah kiri, dan belah tengah. Dia ingin terlihat sempurna di foto pernikahan mereka.


Sementara itu para penjinak bom di luar telah sepenuhnya berhasil melumpuhkan ranjau darat yang dipasang di halaman, namun mereka belum berhasil mematikan bom-bom utama yang ada di setiap sudut penjuru rumah.


Ken yang telah separuh jalan mematikan pemantik itu merasakan tegang saat langkah terakhir, di hadapannya terdapat 2 kabel berwarna merah dan putih, dia harus memotong salah satunya dengan hati-hati.


" Aku tidak berniat mati sekarang jadi aku mohon, semoga ini kabel yang benar " Dengan yakin dia memotong kabel berwarna merah, dan seketika itu juga lampu indikator yang ada di knop pintu segera padam. Ken menghela napas lega, dia menoleh ke arah Kiran yang masih sibuk dengan Dylan dan Adelia.


" Sstt... Kiran, sudah selesai, ayo cepat keluar " Ken memanggil Kiran, Adelia yang mendengarnya menoleh ke arah Ken yang memberikan aba-aba dengan tangannya.


" Kiran, dia sudah selesai, keluarlah lebih dulu " Bisik Adelia pada Kiran yang sedang membuka tali ikatan Dylan. Melihat hal itu Kiran semakin mempercepat gerakannya, ikatan Dylan sudah terbuka sepenuhnya, dia berdiri dan menuju kursi Adelia yang ikatannya telah lebih dulu di lepaskan.


" Aku akan membawa ibu mu keluar, kau keluarlah bersama Ken " Ucap Dylan dan kemudian menggendong Adelia di punggungnya, Adelia terlalu lemah untuk bisa berjalan dengan cepat.


Kiran mengikuti di belakang mereka, namun sial Ganung telah keluar dari kamarnya dengan pakaian pernikahan.

__ADS_1


" Berhenti kalian !! " Teriaknya marah.


Mereka semua menoleh ke arah Ganung, Ken segera berlari menghampiri Dylan dan menyuruhnya cepat keluar, sementara dia melindungi Kiran.


Ganung yang sadar telah di tipu oleh Kiran berlari menghambur Kiran dan menamparnya, membuat Kiran jatuh tersungkur dan terbentur meja makan.


Ken tidak tinggal diam, dia menendang Ganung, dan menyerangnya membabi buta. Perkelahianpun tidak dapat di hindari, satu lawan satu tanpa senjata. Ganung yang bertarung dengan gaya petarung jalanan jelas sekali kalah dengan Ken yang terlatih bela diri sejak kecil. Beberapa kali pukulan yang di layangkan Ganung meleset dan kemudian di balas oleh Ken dengan tendangan di perutnya atau di pukulan di wajahnya.


" Dasar kalian semua sialan, kau, berani-beraninya kau menipu ku ! " Maki Ganung kepada Kiran yang hanya diam melihat perkelahian antara Ganung dengan Ken.


" Jangan banyak bicara lagi pak Tua, atau kau akan kehabisan napas " Ejek Ken sinis.


" Pak Tua ? Aku tidak setua itu kau tau, aku belum tua !! " Teriak Ganung kesal, dia kemudian mengambil pisau yang di sembunyikannya di bawah kakinya, dan mengacungkannya ke arah Ken.


Kiran yang panik berusaha ikut menolong Ken, dia mencari apa saja yang bisa di gunakan sebagai senjata untuk memukul Ganung. Di lihatnya lukisan besar yang tergantung di lorong pintu masuk, dia bergegas naik ke meja tempat hiasan dan melepas lukisan tersebut, terhuyung oleh beratnya lukisan itu membuat Kiran jatuh dari atas meja. Kepalanya sukses membentur lantai dan meninggalkan luka merah di pelipisnya.


Namun dia segera bangkit, melihat Ken yang terpojok dia segera mengumpulkan kekuatannya dan mengangkat lukisan tersebut. Berlari ke arah Ganung dan dengan keras menghantamkannya ke kepala Ganung.


Ganung yang tidak siap dengan serangan dari Kiran tersungkur ambruk. Kiran segera berlari ke arah Ken dan mengajaknya keluar dari rumah secepat mungkin. Namun saat mereka sampai di halaman, tiba-tiba Ganung berlari menenerjang mereka dengan sebilah pisau di tangannya. Menusuknya tepat di lengan kanan Ken.


Regis yang mengawasi hal itu segera berlari untuk menyelamatkan Ken dari serangan membabi buta Ganung. Regis berhasil memukulnya hingga mematahkan hidungnya. Mereka berdua berduel dengan sengitnya.


Kiran memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menolong Ken dan membawanya pergi menjauh.


" Tolong panggil ambulan " Teriak Kiran panik di iringi tangisnya yang mulai sesegukan. Namun semua orang tidak memperdulikannya, mereka terpaku pada Ganung dan Regis yang saling baku hantam.


Rai yang melihat itu segera pergi berlari menghampiri mereka dan bermaksud menolong ayahnya, namun langkahnya di halangi oleh para penjinak bom.


" Tidak tuan, bomnya aktif secara otomatis, kita harus pergi sejauh mungkin, bomnya akan meledak dalam satu menit " Beberapa penjinak bom menarik Rai agar pergi menjauh.


" Tapi ayahku ada disana, kita harus membawanya lebih dulu " Teriak Rai panik mendengar ucapan anak buahnya.


" Kami akan berusaha menyelamatkannya " Sebagian dari mereka pergi menjauh dan sebagian lagi kembali untuk menjemput Regis.


Perkelahian antara Regis dan Ganung memang sedikit tak seimbang, Ganung yang lebih muda beberapa tahun di banding Regis tentu saja memiliki kekuatan untuk bertahan lebih lama dari pukulan Regis yang bertubi-tubi.


" Tuan, pergilah keluar, rumah ini akan meledak dalam satu menit " Teriakan para penjinak bom yang semakin mendekat membuyarkan konsentrasi Regis. Untuk sesaat kewaspadaannya menurun. Hal itu di manfaatkan oleh Ganung untuk membalas pukulan Regis. Dengan cepat dia melayangkan tinjunya ke arah pelipis Regis, tapi hal itu tidak cukup kuat untuk membuatnya roboh. Merasa usahanya sia-sia, dia mengunci tubuh Regis dengan gaya gulat.


" Kita mati bersama-sama " Ucap Ganung putus asa karena tidak bisa mengalahkan Regis.


" Kalian semua menjauhlah, aku akan mengatasi ini sendiri " Perintah Regis tegas kepada para anak buahnya yang mendekat dan menghujani Ganung dengan pukulan.


" Tapi tuan... "


" Pergilah, cepat !!! " Teriak Regis.


" Kau sangat royal untuk ukuran boss besar, tapi sayangnya kau akan mati disini hari ini hahaha... " Oceh Ganung dengan tawa jahatnya.


" Itulah yang membedakan kita, kau tidak akan pernah bisa mendirikan klan ataupun memiliki hubungan, karena kau terlalu egois dan tidak mau berkorban " Jawab Regis dengan tenang.


" Dimana ayah ? " Tanya Rai panik melihat mereka semua keluar tanpa Regis.


" Tuan memerintahkan kami untuk pergi dan meninggalkannya, maafkan kami " Jawab mereka dengan penuh penyesalan.


" Tidak !!! " Teriak Rai dan berlari kembali ke arah rumah Kiran, namun sekertaris Yuri dan semuanya menahannya agar tidak kembali. Rai berusaha melepaskan diri.


Boooomm !!!!! Ledakan keras terdengar memengkakkan telinga. Semua orang terdiam, rumah Kiran mengeluarkan asap tebal di iringi suara gemuruh bangunan yang runtuh.


" Ayah " Gumam Rai lirih seperti tersambar petir, matanya menatap nanar bangunan yang semakin rubuh tersebut. Ken yang semula kesakitan merasakan sakitnya tusukan benda tajam pun mengabaikannya. Pikirannya hanya terpaku pada satu orang. Ayahnya.


" Tidak " Gumam Ken tanpa sadar. Dia berjalan gontai mendekat ke arah suara ledakan. Namun langkahnya juga di halangi oleh anak buahnya.


" Ayaaahh !!!! " Teriak mereka bersamaan, dunia seakan runtuh menimpa diatas kepala, menyaksikan kejadian terburuk sepanjang hidup mereka.


Dengan sigap para anak buah klan Loyard segera memegangi Rai dan Ken, mencegahnya berlari ke arah bangunan yang sudah luluh lantak oleh bongkahan-bongkahan besar tersebut.


Mereka berdua berteriak dengan keras memanggil Regis namun tak ada jawaban. Dalam mimpi sekalipun mereka tidak pernah membayangkan akan kehilangan ayah mereka dengan cara setragis ini.


" Ayah " Suara Rai dan Ken hilang timbul di tengah tangisan mereka.

__ADS_1


Dan semua yang menyaksikannya hanya mampu menunduk sedih, pengorbanan Regis sebagai ketua Klan sekaligus seorang ayah terlampau besar. Tak ada penghormatan tertinggi yang mampu di berikan untuknya, hanya air mata kesedihan dan kepedihan yang tercurah untuk pemimpin Klan terbaik.


Rai dan Ken jatuh bersimpuh, runtuh sudah kekuatan mereka menyaksikan kematian ayahnya didalam sana. Mereka menangis sejadi-jadinya.


__ADS_2