
Ken tetap melakukan pendekatan kepada Kiran dengan perlahan tapi pasti, dia tidak peduli meski harus backstreet sekalipun, walau dia tau pada akhirnya tentu saja Regis akan tau, tapi Ken sudah membulatkan tekadnya, dia tidak akan melepaskan Kiran. Sudah terlambat, begitu pikir Ken. Dia tidak ingin mencari lagi seseorang untuk kemudian memulai semuanya dari nol lagi, kembali ke dalam tahap pengenalan awal.
" Kiran.. " Panggil Ken lirih saat mereka ada di kantin untuk makan siang, suasana kantin yang ramai, karena tidak ada istilah kantin guru atau kantin murid, semua menjadi satu, membuat Ken harus berbisik bila ingin bicara dengan Kiran tanpa terdengar orang lain.
Saat ini mereka duduk berhadapan di sebuah meja panjang dengan kursi yang berderet-deret, mereka sedang makan siang bersama para staf guru lainnya.
Kiran tidak mendengar panggilan lirih Ken, dia masih sibuk dengan makanannya.
" Kiran... " Panggil Ken lagi, kali ini dengan suara yang lebih mirip desisan ular cobra jika dibandingkan panggilan pertama yang seperti cicitan burung emprit.
Tapi Kiran tidak mendengar karena suasana kantin memang ramai, anak-anak berbicara saling bersaut-sautan, menceritakan tentang pelajaran, tempat les, pacar, drama baru, atau bahkan tentang hal remeh temeh khas anak remaja.
Ken yang sudah sangat kesal menendang pelan kaki Kiran, sedangkan Kiran yang akan menyendokkan makanannya ke mulut terlonjak kaget, dan sendoknya meleset mengenai hidungnya, membuat wajahnya belepotan saus.
Kiran menatap Ken tajam, melotot lebih tepatnya.
" Maaf, maaf " Ken berucap sungkan, dia tidak bermaksud membuat Kiran jadi seperti itu.
Kiran yang sudah mengambil tissu yang ada di meja dan mengelap wajahnya, kembali menoleh ke arah Ken.
" Ada apa ? " Erangnya dengan mulut tertahan dan tubuh mencondong ke depan.
" Aku ingin bicara dengan mu, berdua saja " Ken kembali mendesis lirih di antara mulutnya yang terkatup rapat.
" Tentang ? " Kiran masih menahan geraman di antara giginya yang gemeratakan.
__ADS_1
" Ada lah, sesuatu pokoknya " Ken lagi-lagi mendesis tidak sabaran.
" Nanti pulang sekolah saja " Erang Kiran yang kesal karena mereka kan bisa membicarakan itu nanti, kenapa sampai harus menendang kakinya segala.
" Ok baiklah, tunggu aku di parkiran " Desis Ken dengan sedikit perasaan bahagia, sejenak dia lupa bahwa Dylan juga akan ikut pulang bersama mereka nanti, dan tidak akan ada waktu berbicara hanya berdua saja.
" Hmm " Erang Kiran singkat sebagai jawaban dan bonusnya dia memberikan tatapan mendelik kesal kepada Ken yang di balas dengan senyum konyolnya.
Posisi Kiran dan Ken saat ini sangat dekat, saling mencondongkan badan di atas meja, membuat guru-guru yang lain heran dengan tingkah mereka. Kiran dan Ken memang staf guru dengan usia paling muda, yang lainnya sudah berusia matang dan ada juga yang berusia lanjut setengah baya dan masing-masing dari mereka sudah menikah bahkan sudah memiliki beberapa anak, jadi tingkah Ken dan Kiran saat ini seperti seorang murid yang sedang berusaha mencontek ujian. Semua guru-guru sedang melihat penasaran ke arah mereka, namun mereka tidak sadar karena sibuk berkomunikasi dengan bahasa yang tak lazim, yang satu terdengar seperti desisan ular, yang satu terdengar seperti geraman kucing yang akan berkelahi.
Setelah selesai berbicara Ken dan Kiran menoleh ke arah guru-guru, barulah mereka sadar kalau mereka sedang menjadi pusat perhatian, mereka segera membenarkan posisi duduk mereka, bergerak menjauh dengan cepat, dan masing-masing berdehem untuk memecah kecanggungan.
" Silahkan makan " Ucap Ken dengan sopan dan menundukkan kepala, menghindari tatapan menyelidik dari para guru.
Jika Rai di segani karena sikapnya yang dingin dan wajahnya yang tidak murah senyum, membuat semua orang lebih memilih menghindar bila kebetulan bertatap mata dengannya. Lain halnya dengan Ken, dia seperti anak anjing yang menggemaskan, lembut dan lucu, membuat semua orang ingin menyentuhnya dan mengelusnya, tapi anak anjing tetaplah anak anjing, dia bisa juga bersikap galak jika sudah terdesak, begitulah pandangan orang lain tentang pewaris tahta Klan Loyard yang kedua itu. Ken mungkin saja terlihat menyenangkan dan tidak berbahaya, tapi coba saja membuatnya marah, dia tidak akan tinggal diam.
Para guru, sebagian adalah guru Ken dulu saat dia bersekolah, masih lekat di ingatan mereka betapa mengerikannya Ken jika sudah marah, bayangkan saja wajah yang selalu tersenyum itu marah yang benar-benar marah, dengan mata merah dan otot wajah menegang.
Dia menghajar tiga murid yang menindas murid lainnya hanya karena dia anak dari petinggi negara, dan anak yang di tindas adalah anak yatim piatu seperti dirinya. Yang membuat Ken marah bukan karena hinaan mereka, tapi karena anak-anak sombong itu adalah temannya, dia bersikap baik di depan Ken lalu bersikap buruk di belakangnya. Bahkan mereka bergosip jika saja bukan karena keberuntungan Ken yang diangkat menjadi anak dari pemilik Klan sudah pasti hidup Ken akan melarat dan nelangsa penuh penderitaan, dan yang membuat Ken lebih meradang lagi, mereka tidak menyukai keberuntungan Ken tersebut tapi malah melampiaskannya kepada anak yang juga yatim piatu tapi dengan nasib yang berbeda.
Ken marah karena dirinya, orang lain sampai harus menjadi korban kenakalan teman-temannya yang bermuka dua, karena dia, orang lain jadi harus menderita padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan Ken.
Ken menghajar mereka tanpa ampun bahkan di saat kelas sedang berlangsung, saat guru sedang menerangkan pelajaran. Dia masuk begitu saja dan langsung menghajar ketiga temannya yang menjadi pelaku bullying tanpa ampun.
Sedangkan Rai waktu itu bukannya memisah dia malah menyemangati Ken untuk sekalian saja menghancurkan bisnis keluarganya tanpa ampun, selalu saja ancaman itu yang di berikan Rai.
__ADS_1
Tapi karena Ken seorang anak yang hangat, lagi-lagi dia membuktikan kelembutan sikapnya dengan meminta maaf setelah mengirim mereka semua kerumah sakit, dan secara gentle mendatangi orang tua mereka untuk minta maaf. Itulah bedanya Ken dengan Rai, tapi dibalik itu semua mereka tetap orang baik yang tidak akan memulai peperangan tanpa alasan yang jelas. Karena itulah aturan dasar Klan Loyard.
Setelah makan siang yang berlangsung penuh ketegangan, mereka kembali ke ruangan masing-masing, Kiran ke ruang konseling, Ken ke ruang kepala sekolah, dan para guru ke ruang guru. Dengan penuh semangat Ken mengerjakan tugas-tugasnya sebagai kepala sekolah yang baik. Dia berjanji akan membuktikan kepada ayahnya bahwa Kiran bukanlah pengaruh buruk untuknya, dan tidak akan mempengaruhi kinerjanya sebagai pemimpin perusahaan. Tanpa tau alasan sebenarnya Regis melarang Kiran bersama untuk sementara waktu ini.
Sementara itu seseorang sedang berjalan mondar mandir di depan area sekolah, dia seperti mengawasi sesuatu sambil terus berbicara dengan seseorang di earphone nya, melaporkan setiap keadaan yang terjadi di sekolah tersebut.
" Biarkan saja mereka menikmati kebebasan mereka yang sementara ini, kita harus berhati-hati untuk saat ini, kalau sedikit saja kita melakukan kesalahan, maka Regis akan dengan mudah melenyapkan kita, dan saat ini kita akan kalah telak dalam jumlah. Karena Regis bukan orang sembarang, dia bisa melenyapkan 10 orang sekaligus dalam satu tebasan pedangnya, kau harus tau itu " Sebuah suara berat berbicara di ujung telepon, memberikan peringatan kepada anak buahnya.
Setelah mendapatkan perintah dari bosnya, laki-laki yang menyamar sebagai pemulung tersebut segera meninggalkan area sekolah.
Bel pulang sekolah berbunyi, Ken bergegas merapikan tumpukan berkasnya dan segera pergi menjemput Kiran ke ruangannya, padahal mereka berjanji bertemu di parkiran tapi karena Ken tidak sabaran dia memutuskan akan menghampiri Kiran saja.
Kebetulan sekali, Kiran baru saja keluar dari ruangannya dan sedang menutup pintunya.
" Hai " Sapa Ken canggung.
" Hmm ? " Kiran mengernyitkan keningnya, heran.
" Kiran aku suka padamu " Ken langsung saja keintinya tanpa basa basi, dia tidak sanggup lagi menahannya.
" Aku juga suka padamu " Balas Kiran polos.
Cieeee... cinta ku berbalas. Berhasil, berhasil, berhasil horeee. Ken tersenyum lebar penuh kebahagiaan.
Berarti sebelum-sebelum ini dia tidak menyukai ku. Kiran
__ADS_1