Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Rahasia Dylan


__ADS_3

Ken mengawali paginya dengan penuh semangat, dia belum pernah merasa sesemangat saat ini. Dan semua ini karena dirinya berpikir Kiran juga menyukainya, membalas cintanya lebih tepatnya.


Dia terus saja bersenandung riang saat keluar kamar dan sarapan bersama anggota keluarganya yang lain.


Regis yang sudah tau hubungan Kiran dan Ken, diam acuh seakan-akan tidak terjadi apapun, sedangkan Rai dan Ruby malah melayangkan pandangan penuh rasa iba melihat Ken seperti itu.


Mereka berpikir Ken sedang berusaha menutupi rasa sakit hatinya, atau singkat kata berpura-pura bahagia.


" Ken makanlah yang banyak, karena berpura-pura bahagia juga butuh tenaga " Hibur Ruby lembut seraya meletakkan sepotong besar ayam panggang di piring Ken.


" Hm ? " Ken yang tidak paham maksud ucapan Ruby mengernyitkan alisnya.


" Tidak apa-apa, sudah makan saja " Ruby seperti paham kalau Ken sedang bingung, dia dan Rai sudah berjanji tidak akan mengungkit nama Kiran lagi di hadapan Ken, hitung-hitung membantunya meringankan beban tekanan batin cinta yang dirasakan Ken. Di kemudian hari Ruby juga berjanji akan menemui Kiran dengan sembunyi-sembunyi.


Selesai sarapan Ken berangkat lebih awal karena harus menjemput Kiran lebih dulu.


Sementara itu Kiran sudah bersiap-siap dan menunggu Dylan di dekat tangga. Kiran ingin memastikan Dylan aman untuk mendekati Ken. Aman dari segala macam benda tajam, semprotan lada, atau hal berbahaya lainnya yang bisa melukai Ken, baik itu luka ringan atau luka parah.


" Mulai hari ini aku akan merazia seluruh tas anak-anak disekolah, jadi kau yang pertama mendapat kehormatan itu " Kiran menodongkan tangannya meminta tas Dylan.


" Cih, razia apanya. Kau pikir aku membawa apa ke sekolah, aku seorang siswa, jelas yang ku bawa adalah buku pelajaran " Dylan menjawab ketus.


" Jangan lupa kau pelajar yang terlibat perkelahian dengan preman, kalau di kantor polisi kau bisa saja jadi salah satu tersangka nya " Jawaban Kiran telak membuat Dylan terdiam.


" Kau melihatnya ? " Tanya Dylan lirih, sekarang wajahnya berubah agak sedih atau takut, atau campuran keduanya. Yang jelas Dylan merasa tidak nyaman karena sejak dekat dengan tetangga dan kepala sekolahnya, perlahan-lahan kehidupannya mulai berubah.


" Hu'um...tentu saja aku lihat, aku punya mata. Ah ya, kalau seseorang menawarkan bantuan, aku harap kau menerimanya, jangan berpura-pura mampu mengatasi semuanya sendiri " Kiran menasehati Dylan, dia sebenarnya juga ingin punya adik untuk di lindungi atau di nasehati, tapi sayang dulu ibu tirinya adalah seseorang yang di vonis dokter tidak bisa memiliki anak.


" Cih " Dylan lagi-lagi mencibir sinis. Tapi dia tetap mengulurkan tasnya untuk di periksa Kiran.


Kiran memeriksa tiap ruang didalam tas Dylan, hasilnya nihil, dia bersih dari dunia kelam anak remaja, tidak ada senjata tajam, rokok, atau majalah dewasa, yang ada adalah semua buku pelajaran lengkap beserta sebuah buku hasil pinjaman perpustakaan tentang hukum. Bacaan yang cukup berat untuk anak SMA. Tapi itu tidak terlalu menjadi beban pikiran Kiran, dia hanya merasa lega karena tidak menemukan sesuatu hal yang berbahaya untuk Ken.

__ADS_1


" Aku lolos ? " Tanya Dylan dengan nada mengejek.


" Sangat mengejutkan. Ya " Kiran mengembalikan tas Dylan, dan Dylan langsung pergi menuruni tangga meninggalkan Kiran yang masih diam membeku.


Dia sempurna sebagai murid, nilai-nilainya juga di atas rata-rata. Tidak pernah membuat onar, tapi juga tidak bersosialisasi. Terkadang kasar dan tidak sopan, tapi terkadang juga bisa bersikap baik dan menangis. Siapa sebenarnya dia, di data siswa dia adalah yatim piatu, tapi berdasarkan cerita nenek gayung, ibunya meninggal karena ayahnya, lalu apa hubungan ayahnya dengan klan Loyard, kenapa dia sangat membenci klan. Bukankah dia hanya harus membenci ayahnya, kenapa sampai harus menghancurkan klan ? Dan kenapa dia mengaku yatim piatu, apa demi mendapatkan beasiswa, tapi beasiswa itu berdasarkan prestasi.


Selama perjalanan menuju sekolah Kiran terus saja bergelut dengan pikirannya sendiri tentang misteri Dylan, tapi tidak juga menemukan apa hubungan antara kematian ibunya dan Klan Loyard. Sebenarnya Kiran hanya perlu bertanya tentang Klan kepada Ken, tapi itu akan sangat mencurigakan, dan bukan tidak mungkin Ken akan menyelidikinya, dan kalau dia sampai tau niat Dylan, maka bisa saja Klan Loyard melenyapkan Dylan tanpa jejak, karena Dylan adalah ancaman. Dan itu juga akan berbahaya untuk Dylan.


Kiran menemui jalan buntu, pikirannya tidak mampu lagi meneruskan setiap kemungkinan dendam Dylan dan Klan dari berbagai sudut karena keterbatasan pengetahuannya. Jadi yang bisa dia lakukan sekarang adalah menuntaskan masalah itu dari sumbernya langsung, dalam hal ini adalah Dylan.


" Mmm.. Dylan, kenapa kau tiba-tiba saja memutuskan untuk menumpang mobil Ken waktu itu, bukankah kita bertiga tidak terlalu akrab, tapi kau langsung melompat masuk " Kiran memulai pertanyaan basa basinya.


" Ya karena aku tau ini mobil milik kepala sekolah, dan kau juga guru disana, jadi kalau kalian berangkat bersama sudah pasti tujuannya adalah sekolah bukan, ku pikir bagus untuk menumpang, sekalian mengirit ongkos naik bus " Dylan menjawab acuh. Dia merasa tidak sepenuhnya berbohong, karena selain alasan utamanya adalah untuk melindungi Kiran, dia juga ingin mengirit ongkos, jika bisa gratis kenapa harus bayar, begitulah prinsip ekonomi yang di anut Dylan.


Dia terkekeh sendiri saat mengingat hari pertama dia melompat masuk ke dalam mobil Ken yang datang untuk menjemput Kiran.


" Aku juga murid disana, jadi boleh kan aku menumpang " Kata Dylan santai saat itu, tidak memperdulikan ekspresi terkejut, heran dan kesal dari Ken. Karena kesan pertama mereka memang sudah buruk sejak insiden rambu dilarang parkir.


" Hanya bersikap seperti laki-laki " Dylan tersenyum miring di sudut bibirnya, masih dengan sikap acuhnya.


Ken yang semula diam saja mengikuti perbincangan mereka sekarang terkejut dan mengerem mendadak. Dia tidak percaya apa yang baru saja di dengarnya.


" Kenapa kau membayar ongkos bus pacar ku ? " Tanya Ken histeris yang tertahan.


" Pacar ? " Kiran dan Dylan menjawab bersamaan. Mereka berdua heran kenapa Ken menyebut kata "pacar" kepada Kiran.


" Kenapa dia bisa jadi pacar mu ? " Tanya Dylan penuh selidik khawatir.


" Iya kenapa aku bisa jadi pacarmu ? " Kiran juga bertanya heran.


Ken hanya menoleh kearah mereka berdua secara bergantian.

__ADS_1


" Karena kau juga bilang kalau kau menyukai ku " Ken menjawab bingung, ada apa sebenarnya, kenapa mereka berdua terkejut. Dan yang lebih membuat heran lagi adalah Kiran juga terkejut, bukankah dia yang menjawab perasaan Ken, tapi kenapa sekarang dia seolah-olah tidak tau.


" Jadi waktu itu yang kau maksud suka adalah... " Kiran terbata-bata mengingat momen Ken yang bilang bahwa dia menyukainya di parkiran.


" Hahaha..." Dylan tertawa terbahak-bahak, dia mengerti sekarang kenapa Kiran juga ikut heran dan terkejut.


" Jangan bilang kau menganggap dia pacar mu hanya karena dia menjawab juga menyukai mu ? " Dylan menunjuk Ken masih dengan tawanya.


" Tentu saja dia akan menjawab menyukai mu, dia tidak membencimu, tapi suka juga bisa berarti luas, tidak harus melulu cinta, masa begitu saja kau tidak paham " Dylan mengeluarkan argumennya, menyerang Ken dengan cibiran dan sindirannya. Perang seakan di mulai kembali setelah masa tenang kemarin.


Ken menatap Kiran tajam, namun Kiran malah menghindari tatapannya. Dia memandang keluar jendela. Ken yang kesal melajukan mobilnya lagi, sangat cepat.


" Wooo... tenang pak kepala sekolah, kau melanggar batas kecepatan berkendara, itu melanggar hukum " Dylan mengingatkan dengan menyindir tetapi berpegangan rapat di handle mobil. Begitu juga Kiran, dia mencengkram sabuk pengamannya dengan erat. Namun Ken terlalu marah dan kesal untuk menanggapi sindiran Dylan.


Lihatkan, kau menunjukkan sifat asli mu sebagai preman busuk sialan. Bagus saja bu Kiran menolakmu, dia tidak tau laki-laki busuk yang saat ini menembaknya hanya ingin mempermainkannya, hanya ingin membuatnya menderita lalu menginjak-injaknya seperti keset yang sudah usang.


Dylan tersenyum miring mengejek, merasa telah berhasil memukul telak Ken, memukul telak klan Loyard.


Mobil yang di kemudikan Ken bermanuver tajam langsung menuju parkiran, tanpa memperdulikan setiap jeritan ketakutan Kiran yang merosot di tempat duduknya.


Dengan kasar dia membuka pintu dan membantingnya lalu bergegas pergi meninggalkan Kiran dan Dylan. Kiran merasa bersalah, dia akan menjelaskan lagi nanti saat Ken sudah sedikit lebih tenang. Sementara itu Dylan malah terlihat sangat menikmati setiap kesakitan yang di derita Ken.


" Tidak sopan bersikap begitu Dylan, bagaimanapun dia orang yang lebih tua darimu " Tegur Kiran lembut karena melihat Dylan yang terus saja tertawa.


" Aku akan bersikap sopan dan hormat hanya kepada orang yang pantas, tapi untuk orang seperti mereka ? Jangankan sopan dan hormat, dia bahkan tidak layak mendapatkan tempat di manapun di dunia ini " Dylan menjawab ketus dan pergi meninggalkan Kiran, namun baru beberapa langkah dia berbalik.


" Percayalah, kau akan berterima kasih padaku suatu saat nanti saat tau betapa busuknya dia dan klan sialannya itu " Dylan berbalik dan melambaikan tangannya pergi dengan gaya sok kerennya.


Awal yang baik dan buruk untuk memulai hari.


Dylan mencelos dalam hati, baik karena melihat penderitaan musuhnya, tapi buruk karena membuatnya harus mengingat kejadian buruk tentang ibunya.

__ADS_1


__ADS_2