Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Pilihan Yang Tepat


__ADS_3

Ken yang sedang berbahagia segera menyusul Kiran, berlari-lari kecil dan membuat gerakan tangan penuh kemenangan. Namun Kiran tidak terlihat dimanapun.


Ah mungkin dia ada di ruangan marimar, baiklah mari kita perkenalkan calon bibi mu yang baru Raline sayang.


Ken bersenandung riang menuju ruangan Ruby. Tak terkira sudah berapa lagu bahagia dia senandungkan untuk menggambarkan suasana hatinya yang terbang melayang seperti pemenang lotre.


" Sayaaang... " Teriak Ken begitu membuka pintu kamar Ruby, Raline yang sedang tidur pun terkejut dan menangis.


Ruby dan Rai seketika menoleh ke arah Ken, memandangnya penuh dengan aura kebencian. Semua pengunjung telah pulang, dan hanya ada mereka berdua diruangan itu.


" Uppss " Ken menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


" Maaf, maaf, aku hanya sedang bahagia " Lanjutnya dengan senyum 5 jari, dia mengedarkan pandangannya berkeliling mencari Kiran, namun nihil, keberadaan Kiran tidak terdeteksi di ruangan itu.


" Kau sini " Lambai Ruby kepada Ken yang sibuk menoleh kesana kemari mencari Kiran.


" Dimana Kiran ? " Tanya Ken bingung.


" Itu juga yang ingin aku tanyakan padamu, kenapa Kiran sampai harus di panggil ayah, kau benar-benar keterlaluan, bukankah ayah sudah melarangmu berhubungan dengan Kiran, tapi kau malah melanggarnya, sekarang bagaimana nasib Kiran " Omel Ruby kesal karena pikirnya Ken membahayakan nyawa Kiran.


Sementara itu Rai sibuk menggoyang-goyangkan tempat tidur bayi agar Raline tertidur kembali. Rai sedang berusaha menjadi ayah siaga, setidaknya untuk saat ini.


" Ya kau benar kakak ipar, aku bersalah " Ken berpura-pura sedih dan menyesal, hal itu malah membuat Ruby semakin kesal.


" Kau ini bagaimana, sekarang Kiran dimana ? Aku tidak bisa pergi mencarinya, ponselnya juga tidak di angkat " Cecar Ruby kesal.


" Jadi Kiran tidak kesini ? " Tanya Ken bingung dan panik.


" Tidak, memangnya apa yang di katakan ayah tadi ? Ken kau memang adik ipar tersayangku, tapi kalau kau menyakiti sahabatku seperti itu aku juga tidak akan tinggal diam " Ancam Ruby ketus.


" Ayah bilang pernikahan kami sebulan lagi, ayah yang akan mempersiapkan semuanya " Jawab Ken sombong seraya berkacak pinggang.


" Apa ?!? " Ruby berteriak namun dengan cepat dia menutup mulutnya karena mengingat Raline sedang tidur.


" Jangan terkejut, jangan terkejut " Ken menjawab dengan nada khas ipin yang jumawa saat merasa di atas awan.

__ADS_1


" Sungguh ? Kau tidak bercanda ? " Tanya Ruby tidak percaya sekaligus ragu-ragu, antara harus senang atau prihatin.


Ruby tentu saja senang Kiran mendapatkan laki-laki baik yang jelas seperti Ken terlepas dia seorang putra ketua Klan. Tapi dia juga takut Kiran akan bernasib sama dengannya, bukan rahasia umum lagi jika Ruby memiliki anti-fan club dalam sebuah akun media sosial, isinya apalagi jika bukan tentang citra buruk dirinya. Mungkin dia bisa bertahan karena merasa cukup kuat secara mental, tapi Kiran memiliki riwayat cedera mental, jika di tambah dengan ini, entah apa jadinya.


" Tentu saja, aku akan segera menikah dan melepas masa lajangku, ini keputusan yang besar dan tiba-tiba, aku takut para wanita di luaran sana akan kecewa mendengar berita bahagia ini " Ken terkekeh sendiri dengan percaya dirinya.


" Tentu saja mereka akan kecewa, karena kau playboy yang jomblo sejak lahir " Ejek Rai sinis, dia kembali duduk di sofa panjang setelah berhasil menidurkan Raline.


" Kau ini merusak suasana hati ku saja " Sungut Ken kesal.


" Bagaimana bisa dia playboy tapi jomblo sejak lahir ? " Tanya Ruby heran.


" Dia ini ahli merayu, tapi begitu wanita yang dia rayu menyerahkan dirinya, dia melarikan diri karena takut " Jelas Rai santai.


" Sudah pergi sana cari Kiran, jangan-jangan dia sudah kabur karena takut menikah denganmu " Tebak Rai seperti bisa meramal masa depan.


" Dasar tidak berperasaan, Rhoma kau sungguh terlalu " Ejek Ken sinis, tanpa bicara lagi dia pergi meninggalkan ruangan Ruby mencari Kiran.


Ken menghubungi ponsel Kiran berkali-kali namun tidak di jawab. Dia sudah mengelilingi seluruh lantai rumah sakit demi mencari Kiran, namun tetap saja tidak terlihat penampakan Kiran dimanapun. Ken yang hampir putus asa berjalan menuju kantin, kelelahan dan ingin menyegarkan diri dengan sebotol minuman dingin.


Namun betapa terkejutnya Ken saat melihat sesosok wanita duduk di meja sudut kafetaria sedang makan dengan penuh emosi.


Ken yang hendak mendekat pun ragu-ragu, dia mundur selangkah. Insting pertahanan dirinya mengatakan untuk kabur saat ini juga sebelum dia terkena jurus kamehame dari Kiran.


" Maaf permisi " Suara seseorang mengagetkan Ken yang sedang melamun, dia menoleh ke arah asal suara. Terlihat seorang ibu-ibu yang sudah baya berdiri di belakang Ken membawa nampan dengan piring berisi ceker ayam berkuah merah sama seperti yang di makan Kiran saat ini.


" Maaf " Jawab Ken sopan dan segera bergeser memberi jalan ibu-ibu yang hendak lewat tadi. Ken terus saja memperhatikan kejadian didepannya saat ini, dan benar saja ibu-ibu tadi membawakan Kiran seporsi makanan lagi, dan kembali setelah menyelesaikan tugasnya.


" Ah permisi " Cegah Ken saat ibu-ibu itu akan melewatinya lagi.


" Siapa gadis itu ? " Tanya Ken pura-pura penasaran.


" Entahlah aku tidak tau, tapi dia sudah memesan 5 porsi ceker ayam yang pedasnya level neraka, mungkin dia sedang stres saat ini " Jawab Ibu itu santai, dan kemudian pergi meninggalkan Ken yang terbengong-bengong sendiri.


" Apa dia sebahagia itu sampai merayakannya dengan 5 porsi ceker ayam level neraka ? " Ken mencoba menyangkal kenyataan di hadapannya saat ini.

__ADS_1


Ken ragu-ragu, dia memutuskan akan pergi meninggalkan Kiran sendirian, karena mungkin butuh waktu untuknya menerima status barunya sebagai tersangka, tapi meninggalkan dia sendirian juga bukan tindakan laki-laki sejati. Ken gelisah menimbang langkah apa yang harus diambil.


Setelah melalui 5 menit yang terasa seperti 5 hari dalam pergumulan batinnya, akhirnya Ken memutuskan membiarkan Kiran untuk sendiri dulu sampai dia cukup tenang untuk di ajak bicara. Dan Ken akan menunggunya di meja yang cukup jauh tapi tetap bisa memantaunya.


Namun baru saja berbalik badan suara yang sangat dikenalnya memanggilnya dengan nada yang aneh membuat merinding.


" Hei kau lelaki yang kehilangan perjakanya, kemari lah " Ejek Kiran dengan tajam.


Ken yang mendengar itu berbalik badan dengan perlahan-lahan, mata mereka bertatapan, terlihat kilatan api di mata Kiran. Ken yang menyadari bukan tindakan tepat meninggalkan Kiran saat ini berpura-pura tersenyum ceria.


" Kau disini rupanya ? Aku mencarimu kemana-mana " Ucap Ken riang yang di buat-buat. Dia segera berjalan mendekat sebelum Kiran semakin marah.


" Duduk " Perintah Kiran tegas.


Ken pun menurutinya dengan patuh, dia tau bukan saatnya membantah.


" Kau sedang makan apa ? " Tanya Ken basa basi.


" Kau mau ? " Tawar Kiran sinis.


" Boleh " Jawab Ken singkat.


Kiran lalu mengambil sepotong ceker ayam dan dengan gerakan tegas dia mematahkan tulang-tulang ceker ayam tersebut, dengan sikap yang terkesan kasar dan seram memisahkan daging dengan tulangnya. Hal itu membuat Ken menelan ludah ngeri, dia tidak menyangka Kiran yang dia kenal lemah lembut, feminine dan sabar bisa sekejam itu.


" Ini, ku harap kau tahan pedas, karena aku memesannya langsung dari neraka terdalam " Sinis Kiran seraya menawarkan suapan potongan daging ceker ayam tersebut kepada Ken.


Ken diam membeku, dia tidak bisa makan makanan pedas, tidak mungkin dia menerimanya. Namun melihat Kiran yang sedang mendelik padanya, mau tidak mau Ken menerima suapan Kiran. Benar saja, mulut Ken langsung merasakan sensasi terbakar, tanpa pikir panjang dia segera memuntahkan makanan itu dan mengambil mangkok kecil di depannya, dengan buru-buru langsung meminumnya untuk menghilangkan rasa pedas yang membakar lidahnya.


" Ken itu... " Pekik Kiran mencegah Ken, namun Ken sudah menghabiskan air didalamnya dalam beberapa tegukan saja.


" Air kobokan " Lanjut Kiran lirih tepat saat Ken menyentakkan mangkok tersebut ke meja.


" Apa ?!? " Ken berteriak mendengar penjelasan Kiran.


Ken membenamkan wajahnya di meja, mengutuki nasibnya yang selalu saja sial jika bersama Kiran.

__ADS_1


Aku membuat pilihan yang tepat, aku membuat pilihan yang tepat, aku membuat pilihan yang tepat...


Jerit Ken dalam hati.


__ADS_2