Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Pergi


__ADS_3

Kiran terbangun di tengah-tengah ruangan yang gelap, dia mengerjapkan mata untuk menajamkan penglihatannya namun nihil, tak ada satupun gambar yang berhasil di tangkap oleh indera penglihatannya. Dia panik, berjalan maju dengan takut.


" Dimana ini ? Kenapa semua nya gelap ? " Teriaknya sendiri, tapi suara itu langsung hilang di telan pekatnya kegelapan begitu bibirnya tertutup.


Kiran diam mematung, menoleh ke kiri dan ke kanan mencari setitik cahaya atau siluet gambar atau apapun yang bisa menenangkannya.


Namun, sebuah tangan tiba-tiba muncul dari arah belakang di tengah kegelapan yang menyelimutinya. Membekap mulutnya dan menahan tubuhnya agar tidak berlari.


Kiran yang terkejut berusaha melepaskan diri, meronta sekuat tenaga tapi tangan itu terlalu kuat untuk di lawan. Kemudian ke dua tangan itu menariknya paksa keluar dari kegelapan, membawanya ke sebuah ruangan terang benderang hingga membuatnya harus memejamkan mata karena silaunya. Tangan itu tak lagi menahannya.


Kiran mengangkat tangannya untuk menghalangi sinar yang menusuk matanya tersebut. Perlahan-lahan semua gambar terlihat dengan jelas, samar-samar terdengar suara tangisan. Kiran menurunkan tangannya untuk melihat. Di hadapannya berkumpul orang-orang secara melingkar, mereka semua menangis.


" Rumah sakit ? " Gumam Kiran lirih saat melihat dimana dia berada, ranjang pasien, alat-alat pendeteksi jantung, serta selang oksigen yang terpasang di tubuh pasien semakin menguatkan keyakinannya.


" Siapa yang sakit ? " Tanyanya pada diri sendiri.


Namun belum selesai Kiran mengamati pasien yang tertutup selimut sampai leher itu, semua kerumunan orang itu menoleh serempak kepadanya, memberikannya tatapan kebencian yang teramat sangat.


" Ruby ! " Pekik Kiran yang melihat wajah sahabatnya itu di tengah kerumunan orang-orang.


" Jangan panggil nama ku dengan mulutmu yang membawa sial itu " Sinis Ruby di tengah isak tangisnya.


" Ada apa? " Kiran bertanya bingung dengan sikap Ruby yang menunjukkan permusuhan tanpa di tutup-tutupi tersebut.


" Pergi kau wanita pembawa sial " Teriakan Rai membuatnya terlonjak kaget.


Kiran mundur tanpa sadar, dan gemetaran.


" Ada apa ini ? " Tanyanya terbata-bata.


" Harusnya aku tidak pernah merestui kalian berdua, kau hanya gadis pembawa sial untuk Ken ku " Ucap Regis dingin dan menatap tajam Kiran yang masih saja tidak mengerti tentang apa yang terjadi saat ini.


Kiran semakin bingung, antara ketakutan dan heran. Namun belum hilang rasa terkejutnya, dari arah belakang terdengar tawa jahat menggema. Tawa jahat yang sudah sangat dia hapal di luar kepala.


" Suara itu... " Bisiknya semakin gemetar.


" Kau sudah lihat bukan ? " Suara yang sangat di kenali Kiran itu semakin mendekat, hingga tepat berada di sampingnya.


Mimpi terburuk Kiran saat ini ada di sampingnya, merangkulkan tangan kotornya ke pundak Kiran.


" Itu lah akibatnya kalau kau mencoba kabur dariku, lihat... kau pikir putra pemimpin Klan sepertinya bisa melawanku ? Dia cuma anak ingusan. Aku membunuhnya hanya dengan satu tusukan saja. Hahahaha.... " Ganung kembali tertawa seraya menunjukkan sebilah pisau yang berlumuran darah yang ada di genggamannya.


Kiran yang segera mengerti tentang situasi ini menolehkan kepalanya ke arah pasien yang sedang terbaring itu. Wajahnya di penuhi alat-alat untuk menunjang kehidupannya, namun sepertinya itu masih belum cukup kuat untuk tetap membuatnya bertahan. Layar monitor di sampingnya berbunyi nyaring memengkakkan telinga dan tergambar garis lurus yang menghiasi layarnya yang kecil. Yang menandakan berakhir pula detak jantung sang pemakai alat tersebut.

__ADS_1


" Tidak ! " Pekik Kiran berteriak, tapi anehnya tidak ada satupun suara yang keluar dari mulutnya. Semuanya tercekat di tenggorokannya yang terasa sakit.


Butiran bening air langsung membanjiri pipinya, mengalir deras seperti sebuah anak sungai yang arusnya sangat deras tak terbendung.


" Ini tidak mungkin, tidak, tidak, tidak... " Kiran masih terus saja menangis tanpa suara, kakinya bahkan seketika kehilangan tenaganya, membuatnya limbung dan jatuh bersimpuh.


" Ken.... " Jeritnya, namun lagi-lagi tak ada suara yang keluar, sebuah perasaan sesak menghantam dadanya, memenuhinya hingga terasa mencekik erat.


Ganung yang sedari tadi ada disampingnya hanya terus saja menggemakan tawa jahatnya. Kemudian berjongkok agar sejajar dengannya dan berbisik lirih di telinga Kiran.


" Kau milik ku, selamanya milik ku, ingat itu baik-baik " Desisnya penuh ancaman, seakan menegaskan kepada Kiran bahwa percuma saja berlari kepelukan orang yang memiliki kekuasaan seperti Ken, dia tetap saja akan kembali pada Ganung.


Kiran yang sudah hancur dan tersiksa oleh kepedihan kehilangan Ken berusaha melawannya. Dia merebut pisau dari tangan Ganung dan dengan membabi buta menusuk Ganung tepat di jantungnya.


" Tidak akan !! " Teriaknya penuh emosi.


Kiran bangun terduduk dengan napas pendek-pendek memburu dan keringat dingin yang bercucuran di dahi serta membahasi seluruh tubuhnya. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis sekeras-kerasnya. Mimpi buruk itu lagi. Akhir-akhir ini Kiran selalu bermimpi melihat Ken terbaring di rumah sakit, meregang nyawa karena Ganung. Seperti nyata, seperti sebuah firasat.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Kau percaya padaku bukan ? " Ganung bertanya lirih pada seorang wanita yang terlihat keibuan tersebut.


" Aku percaya padamu, sangat percaya, kau menjaga Kiran sejak dia masih kecil, kau bahkan rela terluka tertimpa tumpukan beras di gudang hanya demi melindungi Kiran, bagaimana mungkin aku tidak percaya " Adelia menjawab lembut, namun sikapnya seperti berkata lain. Dia terus saja merem*as jari-jari tangannya seperti ingin mengatakan sesuatu yang tertahan.


Sudah ribuan kali Ganung memohon kepada kakaknya agar membujuk Kiran untuk mau menemuinya, namun Adelia selalu menolak.


" Aku bukannya tidak pernah membujuknya, tapi dia tetap tidak mau, sudahlah, biarkan saja, ya ? " Kali ini Adelia yang terdengar memohon kepada Ganung agar melepaskan Kiran dan kesalahpahamannya selama ini.


" Kakak mau selamanya dia menganggap aku yang bersalah ? " Tanyanya sinis.


" Bukan begitu, kau tau dia sangat trauma denganmu, dia bahkan harus di rawat di ru... " Adelia menghentikan kata-katanya, tenggorokannya terasa tercekat mengingat betapa terpuruknya Kiran beberapa waktu yang lalu.


" Kak aku mohon kali ini saja, setelah ini aku akan pergi jauh dan tidak akan pernah muncul lagi di hadapannya " Ganung tetap saja merengek dengan memelas.


" Maafkan aku, tapi aku tidak bisa, Kiran berhak hidup tenang, dia sudah lebih baik akhir-akhir ini, dia bahkan sudah mau mengangkat teleponku, aku mohon padamu, lepaskan dia, biarkan dia " Adelia mengenggam tangan Ganung yang ada di hadapannya.


" Baiklah kak, kalau itu keputusanmu, aku berterima kasih " Ucap Ganung dengan pasrah. Adelia yang mendengar itu tersenyum lebar, dia merasa lega karena akhirnya Ganung menyerah dengan Kiran.


" Terima kasih, terima kasih banyak " Ucapnya penuh rasa syukur.


" Aku juga minta maaf kak " Ganung menepuk pelan tangan Adelia yang menggenggam tangannya. Adelia menaikkan alisnya heran.


" Minta maaf untuk apa ? " Tanyanya heran.

__ADS_1


" Untuk ini... " Dengan sekali gerakan cepat Ganung memukul tengkuk Adelia dengan cukup keras hingga bisa membuatnya pingsan.


Adelia ambruk hanya dengan sekali pukulan tangan kosong Ganung. Dia jatuh ke pangkuan Ganung yang ada di depannya untuk menahannya.


" Maafkan aku tapi aku kehabisan waktu, para pemburu Regis akan segera menangkapku, jadi sebelum itu terjadi aku harus kabur jauh, bersama Kiran tentunya " Gumam Ganung seraya mengangkat tubuh kakaknya untuk di bawa ke kamarnya.


Dia mendudukkan kakaknya di kursi dan mengikatnya erat dengan tali. Kemudian mengambil ponsel Adelia untuk menghubungi Kiran.


" Aku tidak percaya dia memblokir semua nomor baru yang menghubunginya hanya demi menghindari ku, tapi kau benar, semua nomor baru itu memang aku " Ocehnya sendiri seraya mencari nama Kiran di kontak ponsel milik Adelia.


Dia menemukannya, dan segera melakukan panggilan video.


Kiran yang masih berusaha menenangkan diri terkejut oleh suara panggilan masuk di ponselnya, dia meliriknya malas.


Kenapa ibu melakukan panggilan video, tidak biasanya.


Merasa ada yang aneh Kiran memutuskan untuk menjawabnya setelah sebelumnya menghapus air matanya dan mengatur suaranya agar terlihat biasa saja.


" Ha.. "


Deg ! Detak jantung Kiran berdetak dengan sangat cepat, gambar yang bergerak-gerak di ponselnya seakan mampu memberikannya serangan jantung mendadak.


" Apa sudah tersambung ? " Suara Ganung dari ujung sana mencoba mencari tau, lalu berganti dengan senyum sumringah lebar tatkala layar ponsel telah menampilkan wajah Kiran yang pucat pasi.


" Halo Kiran, ini aku " Sapanya kemudian seraya menggerakkan ponselnya kesana kemari agar Kiran juga ikut memperhatikan keadaan sekelilingnya, atau lebih tepatnya keadaan ibunya yang pingsan dan terikat di kursi.


" Kenapa kau diam saja ? " Tanyanya kemudian setelah beberapa lama dia tidak mendapat jawaban dari Kiran yang sudah menjatuhkan ponselnya karena syok. Layar ponsel itu berganti dengan pemandangan atap rumah yang membuat Ganung keheranan.


" Kau tidak khawatir dengan ibumu ? " Lanjutnya kemudian, Kiran yang sudah mundur menjauh dari ponselnya hanya mampu melipat lututnya dan memeluknya erat, seakan melindungi dirinya dari serangan panik yang datang menyerang.


" Datanglah kerumah, ibumu sangat merindukanmu, kita akan makan malam bersama, ok ? " Oceh Ganung yang tidak peduli dengan ketakutan Kiran saat ini.


" Kau masih ingat rumah mu kan ? Ah salah, rumah kita hahaha... " Ganung terus saja mengoceh meskipun tidak ada jawaban sama sekali dari Kiran.


" Aku tunggu kau hingga waktunya makan malam, kalau tidak aku juga tidak bisa menjamin bagian mana dari diriku yang akan melukai ibu mu, salam sayangku untuk mu Kiran " Ganung mengucapkan ancamannya dengan tenang yang semakin membuat Kiran gemetaran hebat. Dan kemudian dia menutup sambungan teleponnya.


Aku harus bagaimana ini ? Ibu, aku harus menolongnya. Aku akan minta bantuan pada Ken.


Kiran meraih ponselnya secepat kilat dan menghubungi nomor Ken, namun dia segera menutupnya kembali saat teringat mimpi buruknya.


Tidak, apakah ini pertanda, kalau aku meminta bantuannya, dia akan terluka, tidak boleh, aku harus menyelesaikannya sendiri, dendam ini tidak boleh membuatku kehilangan Ken.


Kiran segera bangkit dan terseok-seok pergi keluar kamarnya dan berlari meninggalkan tempat persembunyiannya untuk menyelamatkan ibunya.

__ADS_1


Ibu tunggu aku...


__ADS_2