Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Kebencian Dylan


__ADS_3

Matahari hampir terbenam saat Ken sampai di depan gedung kost Kiran, dia melirik Kiran yang sedari tadi hanya duduk diam di kursi penumpang, dengan hidung merah dan mata sembab karena terlalu banyak menangis.


" Kau baik-baik saja ? " Tanya Ken khawatir, entah apa yang dia bicarakan dengan Ruby sampai membuat keadaannya kacau seperti ini. Tapi Ken tidak akan bertanya pada Kiran, dia lebih memilih bertanya pada kakak iparnya saja nanti.


" Ya aku baik-baik saja " Suara Kiran masih serak akibat sisa isak tangisnya.


" Kau mau ku antar ke dalam ? " Tanya Ken menawarkan basa basi, dia masih tidak berani melangkah terlalu jauh untuk dekat dengan Kiran karena memandang trauma masa lalu Kiran.


" Tidak apa-apa aku bisa pergi sendiri " Kiran mengangguk dan tersenyum lembut.


" Begini, aku akan mulai masuk besok, jadi apa kau mau aku jemput ? " Tanya Ken ragu-ragu.


Aku tidak boleh terlalu dekat dengannya, aku tidak ingin perasaan ku semakin berkembang. Aku tidak pantas untuk Ken, aku tidak pantas untuk Ken.


Kiran berusaha sekuat hati menolak perasaan sukanya pada Ken, dia merasa terlalu kotor untuk Ken. Dia teringat cerita Ruby tentang dirinya dan Rai yang sama-sama adalah cinta pertama masing-masing, terlepas hitungan sejak masih kecil. Sedangkan dia, dulu dia adalah gadis yang bebas, dengan kecantikannya dia sempat memiliki beberapa kekasih sebelum kesialan menghampirinya. Jadi hal itulah yang mendasari Kiran menganggap dirinya tidak pantas untuk Ken, dia bukan orang yang murni seperti Ruby. Konyol memang menetapkan standart hidup Ruby untuknya saat ini, tapi dia benar-benar ingin hidup menjadi seseorang yang baru lagi, jadi dia akan mulai dari awal meskipun sudah terlambat.


" Kenapa kau tidak ingin aku jemput ? " Tanya Ken ragu-ragu, berpikir keras apakah dia telah membuat kesalahan terhadap Kiran.


" Itu karena aku selalu berangkat bersama Dylan, dan kau tidak bisa akur dengannya, kalian seperti popeye dan brutus yang selalu saja bertengkar " Kiran mencoba beralasan, namun kali ini dia jujur. Dylan akhir-akhir ini selalu bersikap protektif padanya, terlebih lagi terhadap Ken.


" Aku popeye nya, karena aku suka bayam, aku ragu bocah kurang ajar itu suka makan sayuran " Ken mencibir sinis dan memalingkan wajahnya.


Kiran yang melihat tingkah konyol Ken ingin tertawa tapi di tahannya.


" Jangan bilang dia bocah kurang ajar, dia anak yang baik " Kiran membela Dylan, dia yakin sekarang pasti Dylan sedang merasakan alisnya berkedut terus karena mereka menggosipkannya.


" Kau tau sikapnya sama sekali tidak punya hormat kepada orang tua, seperti itu masih kau anggap baik ? " Ken menjelaskan ketus, tidak paham bagaimana Kiran bisa menganggapnya anak baik, dari segi mana Kiran memandangnya.


" Aku sering melihatnya mengalah, memberikan tempat duduknya di bus untuk ibu hamil, nenek tua, bahkan anak kecil sekalipun. Dan aku juga sering melihatnya membantu nenek pedagang sayur di ujung jalan saat membereskan dagangannya di pagi hari sebelum Dylan berangkat sekolah " Kiran menjelaskan penilaiannya terhadap Dylan, karena memang begitulah kenyataannya.

__ADS_1


" Lalu kenapa dia bisa bersikap kurang ajar padaku ? " Tanya Ken ketus.


" Itulah yang aku maksud kan dulu, bukankah aku pernah cerita dulu dia juga bersikap kasar padaku, dan bilang dia sangat membenci Klan Loyard bahkan sampai ke semua anggotanya " Kiran mengingatkan kembali tentang awal mula Dylan dan dirinya bertemu.


" Itu hanya alasannya saja untuk bersikap kurang ajar " Ken membuang muka, memilih menyudahi perdebatannya dengan Kiran tentang Dylan.


Melihat Ken yang sepertinya sedang kesal, Kiran memutuskan untuk pamit pergi, dia sudah membuka pintu mobilnya dan turun. Namun Ken juga bersikeras ikut turun, dia masih belum puas melihat wajah Kiran. Dia masih sangat merindukannya karena berhari-hari tidak bertemu.


" Aku ingin sekali menjemputmu besok " Ken kembali menawarkan kepada Kiran.


" Tidak perlu, kita bisa bertemu di sekolah besok, kau harus simpan tenaga mu untuk memeriksa tumpukan berkas di meja mu daripada kau habiskan untuk berdebat dengan Dylan " Kiran tersenyum dan sekali lagi menolak tawaran Ken dengan lembut.


Dia sudah berbalik akan pergi namun Ken memberanikan diri untuk memegang tangannya. Kiran yang terkejut menoleh, mata mereka bertemu. Wajah mereka sama-sama merona merah. Adegan romantis di sore hari dengan latar belakang langit jingga serta angin yang bertiup sejuk, membuat jantung mereka berdetak kencang. Seperti mangnet kutub utara dan kutub selatan yang saling tarik menarik saat berdekatan.


" Hei lepaskan tangan mu " Teriakan dari arah gedung membuat Kiran dan Ken terlonjak, dan kembali ke kenyataan. Kiran berusaha melepaskan tangannya, tapi Ken tidak ingin melepaskannya. Sementara itu Dylan yang melihat wajah sembab Kiran punya persepsi lain tentang adegan barusan.


" Aish kau bocah ingusan, kenapa selalu ikut campur dengan urusan orang dewasa " Ken kesal dan melotot kepada Dylan.


" Aku tidak akan membiarkan lelaki seperti mu melecehkan bu Kiran " Dylan berdiri di antara Kiran dan Ken, memposisikan dirinya sebagai pelindung Kiran.


" Lelaki seperti ku ? Memangnya lelaki seperti apa aku ? Hah ? " Ken mulai kesal dengan sikap Dylan, tapi dia tidak mungkin menghajarnya, hanya akan membuatnya berurusan dengan pihak berwajib, apalagi menyangkut anak di bawah umur.


" Aku tau siapa kau sebenarnya " Balasnya sengit menatap Ken tajam.


" Bu Kiran, asal kau tau dia ini buronan rumah sakit jiwa, dia adalah orang gila yang berbahaya untuk wanita cantik sepertimu, dia akan menganggap semua wanita cantik adalah kekasihnya, cari saja di Faceb*ok, kau pasti akan mendapatkan dia sebagai orang yang paling berbahaya dalam pencarian no 1 " Dylan menjelaskan kepada Kiran yang ada di belakang punggungnya.


Membuat Kiran heran dan Ken terkejut marah. Tentu saja Ken sangat tau maksud Dylan karena itu adalah buntut panjang dari postingan kakak iparnya. Meskipun sudah di hapus, tapi sudah banyak orang yang menscreen shoot fotonya, dan mungkin menyebarkannya. Dunia digital selalu meninggalkan rekam jejaknya, entah itu baik atau buruk.


" Marimar durjana !!! " Teriak Ken kesal mengingat kelakuan kakak iparnya yang satu itu.

__ADS_1


" Kau lihat sendiri kan, dia itu sudah gila, kau jangan dekat-dekat dengannya " Dylan semakin meyakini argumennya.


" Ayo pergi " Dylan buru-buru menyeret tangan Kiran, mengajaknya pergi menjauh.


Ken yang terlalu sibuk memaki Ruby sampai tidak sadar Dylan dan Kiran sudah pergi, masuk kedalam gedung.


" Sial, sial, sial, aku hanya punya satu kakak ipar dan kelakuannya benar-benar konyol " Ken terus memakinya dan kembali masuk kedalam mobil, melajukannya dengan kencang kembali ke rumah.


Dylan yang sudah merasa aman di dalam gedung melepaskan genggaman tangannya pada Kiran, menatap Kiran dengan kesal.


" Aku tau kau wanita yang polos, tapi masa kau tidak bisa membedakan mana orang waras dan mana orang gila ? " Cibir Dylan sinis.


" Kau salah paham Dylan, Ken bukan orang seperti itu. Semuanya salah paham, ceritanya panjang. Ken orang yang baik sebenarnya " Kiran membela Ken, berharap agar Dylan bisa sedikit menghilangkan kebenciannya terhadap Ken, yang entah karena alasan apa.


" Tidak ada yang baik sama sekali dalam klan sialan itu asal kau tau, tidak ada satupun. Mereka semua hanya kumpulan preman yang sok bersikap baik dimasyarakat. Semua orang buta dengan sifat mereka yang di sembuyikan " Dylan menjelaskannya seperti memiliki dendam pribadi dengan Klan Loyard.


" Ada apa Dylan ? " Tanya Kiran khawatir.


" Tidak ada apa-apa " Jawab Dylan singkat, mereka menaiki tangga menuju lantai 3 tempat kamar mereka berada.


" Kenapa kau sangat membenci mereka ? " Kejar Kiran.


" Aku bukan hanya membenci mereka, aku akan menghancurkan mereka semua, menghancurkan klan sialan itu, sampai ke akar-akarnya " Dylan mengucapkannya dengan jelas kemudian berlari menaiki tangga meninggalkan Kiran yang semakin terheran-heran dengan sikap Dylan.


Kiran merasa bukan hanya karena masalah "Buronan" Ken yang membuatnya membenci Klan Loyard, tapi masalah yang lebih dalam lagi.


Bagaimana tidak, apakah mungkin untuk anak seumuran Dylan yang seharusnya hanya berpikir tentang bermain atau mungkin cinta monyet, tapi malah berpikir untuk menghancurkan klan Loyard. Itu bukan pemikiran sederhana dari anak remaja, meski remaja labil sekalipun.


Aku akan mencari tahu lebih lanjut, kenapa kebenciannya sebesar itu.

__ADS_1


__ADS_2