
Ken memasuki ruangannya dengan langkah gontai, tamat sudah riwayatnya. Bagaimana bisa sebuah kebetulan kejam membuatnya hancur dalam sekejap.
Dia mengambil ponselnya, menekan speed dial nomor 1.
Tut, tut, tut !! Nada sambung yang menunggu terhubung.
" Ada apa ? " Tanya suara serak di ujung telefon.
" Ayah bagaimana kau bisa melakukan ini pada ku ? Kau membuatku hancur sampai ke dasar bumi terdalam " Suara Ken histeris memelas.
" Siapa yang berani- beraninya membuat mu hancur ? " Tanya Regis khawatir.
" Kau ayah. Kau memiskin kan aku sampai-sampai aku tidak punya uang untuk mengisi bahan bakar dan mobil ku harus di derek " Ken menjelaskan dengan memelas yang teramat sangat.
" Ah itu. Ayah minta maaf. Tapi bagaimana pun kau harus menepati janji mu, kau berani bertaruh dengan kakak mu, tapi kenapa tidak berani menepati hasil taruhan mu ? Kau laki-laki bukan ? Kau tau ayah tidak pernah mengajarkan mu untuk lari dari masalah " Regis menjelaskan panjang lebar, dia tetap tidak merasa kasihan meskipun Ken merengek.
" Tapi ayah kau benar-benar kejam dengan memiskinkan aku " Ken masih merengek.
" Ken kau harus belajar mengendalikan mulutmu, bukankah kau tau mulutmu bisa jadi alasan kematian mu ? Lalu kenapa kau masih asal dalam membuat taruhan ? " Regis kembali menceramahi anaknya.
" Sudah lah, bersikap jantan seperti seorang laki-laki, jalani hukuman mu dan tepati janji mu. Kalau kau ingin hukuman mu segera berakhir, bawa calon istri mu ke rumah, maka akan ayah cabut hukuman mu. Sudah ayah sedang sibuk " Regis menutup telefonnya tanpa memberikan Ken kesempatan untuk menjawabnya.
Ken menghela nafas putus asa, begitu lah ayahnya. Kadang bisa bersikap konyol, namun di satu sisi dia adalah sosok yang mengerikan. Tidak heran dia masih menduduki peringkat pertama sebagai orang yang ditakuti, ternyata karena sifatnya yang tak kenal belas kasihan, bahkan kepada anaknya sendiri.
" Aish mulutku memang ember, kenapa asal saja menyetujui taruhan kakak. Dia enak masih punya kakak ipar yang siap memesankannya taksi online untuk antar jemput. Sedangkan aku ? Kenapa nasibku bisa sesial ini. Seperti nya aku harus mengadakan ritual buang sial " Ken mengacak-acak rambutnya.
Dia meraih ponselnya lagi, lalu menghubungi Ruby untuk meminjam uang.
" Kakak ipar pinjamkan aku uang " Ucapnya langsung tanpa basa-basi saat Ruby telah mengangkat telefonnya.
" Nanti aku jelaskan di rumah, kirim saja ke nomor rekening teman mu Kiran, kau telefon saja dia dan tanyakan lebih jelasnya. Aku sedang tidak punya muka untuk bertemu dengannya " Ken menjawab lemas.
" Baiklah terima kasih " Ken menutup sambungan telefonnya. Dia kembali mengacak acak rambutnya dengan frustasi.
__ADS_1
" Aarrgghh " Teriaknya tiba-tiba melihat Kiran yang sudah berdiri di depannya.
" Maaf tuan, aku sudah mengetuk pintu tapi kau tidak menjawab lama sekali, jadi aku mencoba membuka pintunya dan ternyata tidak di kunci " Kiran menjawab gugup dan sama terkejutnya. Dia membawa jas Ken di tangannya di samping robekan roknya. Membuat robekan itu tertutupi jas yang dia pegang.
" Tidak, tidak aku hanya kaget melihatmu tiba-tiba sudah di depanku, ada perlu apa ? " Ken berusaha menguasai dirinya, meskipun harga dirinya telah hangus terbakar bahan bakar mobilnya tadi, setidaknya dia harus punya wibawa di sekolah ini.
" Aku tidak tau di mana ruangan ku, aku menuju ruang guru dan ternyata tempat duduk disana sudah penuh, guru-guru yang lain menyuruhku menghadap mu " Kiran masih menjawab gugup terbata-bata.
" Sial, aku benar-benar tidak bisa konsentrasi saat ini !! " Gumam Ken memaki dirinya sendiri.
Dia benar-benar baru dalam hal ini, selama ini dia memimpin perusahaan yang sudah terstruktur dengan rapi dan memiliki fungsi bagian masing-masing. Tapi di sekolah, semua keputusan di ambil berdasarkan kepala sekolah, dan dia harus mengatur sampai urusan yang terkecil.
Penambahan guru bimbingan dan konseling adalah memang ide nya, jadi dia belum menyiapkan apapun dengan penambahan guru tersebut.
" Duduklah dulu, aku akan bertanya pada pengurus sekolah " Ken mempersilahkan Kiran duduk di sofa, Kiran berjalan menunu sofa untuk duduk dan menutup pahanya dengan jas Ken.
Ken mengambil ponselnya, dia menghubungi seseorang.
Tak selang berapa lama seseorang mengetuk pintu.
" Masuk " Perintah Ken dengan penuh wibawa.
Seorang laki-laki paruh baya memasuki ruangan, terbungkuk-bungkuk memberikan hormat kepada Ken dan Kiran.
" Ada perlu apa tuan ? " Tanya nya sopan.
" Aish kau ini, kenapa bersikap seperti itu. Duduklah. Pak Dim apa ada ruangan kosong di sekolah ini ? " Tanya Ken santai. Pak Dim adalah pengurus sekolah sejak zaman Ken bersekolah dulu, dan mereka sebenarnya lumayan akrab, jadi Ken kesal pak Dim terus saja bersikap hormat padanya.
" Tuan anda sudah berubah, dulu anda masih anak-anak jadi bisa saja saya menasehati anda, tapi sekarang kedudukan anda adalah pemimpin sekolah ini, bagaimana mungkin saya bersikap tidak hormat pada anda " Pak Dim menjelaskan dengan tersenyum, dan sudah duduk berhadapan dengan Kiran.
" Disini tidak ada ruang kosong lagi tuan, untuk apa tuan bertanya ? " Pak Dim melanjutkan.
" Aku menerima guru baru tapi tidak memikirkan ruangannya, bagaimana ini ? " Tanya Ken bingung.
__ADS_1
" Kalau menurut saya kita bisa membangunnya, tapi tentu saja akan membutuhkan waktu yang lama " Pak Dim memberikan saran.
" Membangunnya ? Dimana lagi kita akan membangunnya ? " Tanya Ken bingung. Karena setiap sudut sekolah ini benar-benar sudah di manfaatkan, jadi tidak ada ruang tersisa.
" Di sudut lapangan olah raga masih ada sedikit tanah yang di gunakan siswa siswi untuk bermesraan. Jadi sebaiknya tempat itu di jadikan sebuah ruangan saja agar menghindari mereka berbuat asusila di area sekolah " Pak Dim menjelaskan.
" Uhuk uhuk " Ken terbatuk mendengar penjelasan Pak Dim, kenapa dia bisa tidak tau ada tempat seperti itu di area sekolah. Dan bagaimana mungkin mereka masih sekolah tapi berani bermesraan di tempat umum.
" Zaman sudah berubah tuan, tidak seperti anda bersekolah dulu. Anak-anak sekarang tumbuh lebih cepat dari usia nya " Pak Dim seperti paham dengan batuknya Ken, karena Pak Dim lah yang melihat perubahan anak-anak dari tahun ke tahun.
" Anak-anak itu benar-benar sesuatu, bahkan aku saja belum pernah bermesraan dengan seorang kekasih " Pekik Ken kesal karena mendengar penjelasan Pak Dim. Pak Dim hanya tersenyum mendengar ocehan Ken.
Ken yang segera menyadari disana masih ada Kiran kembali berdehem untuk menjaga wibawa nya.
Sial aku terlihat seperti seseorang yang mengenaskan, tidak punya uang dan tidak punya kekasih. Apa dia berfikir karena aku tidak punya uang makanya tidak ada satu pun wanita yang mau dengan ku. Aish !!
Ken mengumpat di dalam hati, dia melirik Kiran dengan ujung matanya. Sejenak kemudian Ken bernafas lega karena melihat Kiran yang polos tanpa ekspresi. Sepertinya Kiran tidak terlalu memperhatikan perkataannya tadi.
" Baiklah kalau begitu, kita bangun saja tempat itu menjadi ruang bimbingan dan konseling. Nanti temani aku untuk melihat-lihat lokasi nya " Perintah Ken berwibawa kepada pak Dim.
" Dan untuk mu Kiran, sepertinya kau harus berada di kantor ku untuk sementara waktu, aku akan menyuruh pak Dim untuk menyiapkan meja dan kursi untuk mu di sudut sebelah sana " Ken menunjuk sudut ruangan yang lenggang kepada Kiran.
Ruangannya memang besar dan luas, serta tidak banyak perabotan yang ada, hanya meja kerja besar dan sofa untuk menerima tamu, serta beberapa lemari tempat piala penghargaan yang di raih oleh sekolah.
" Pak Dim bisa siapkan meja dan kursi untuk nya ? " Tanya Ken sopan.
" Baik Tuan kalau meja dan kursi sekolah ini memang memiliki persediaan, akan segera saya siapkan " Pak Dim menganggukkan kepala dan pamit pergi untuk mengambilnya.
" Maafkan aku karena kecerobohan ku yang tidak menyiapkan ruangan untuk mu, aku benar-benar baru dalam hal ini " Ucap Ken dengan sungkan.
" Tidak apa-apa " Kiran hanya menundukkan kepalanya.
Setelah agak lama menunggu pak Dim beserta pengurus sekolah yang lain datang dengan membawa sebuah meja dan kursi untuk Kiran. Mereka mengaturnya sesuai intruksi Ken. Dan pada akhirnya mereka berdua akan bekerja dalam satu ruangan untuk beberapa minggu kedepan sampai proses pembangunan ruang yang baru selesai. Karena setelah Ken melihat-lihat area yang akan di jadikan lokasi pembangunan memang seperti lokasi yang tersembunyi. Jadi Ken harus berkonsultasi dengan pihak pengembang yang akan mendesain ruangan tersebut tanpa harus merubah tempat yang lain.
__ADS_1