
Pertemuan siang itu berlangsung dramatis, raut bahagia terpancar jelas dari wajah Ken yang semula sedih karena akan merelakan Kiran.
Lihatlah dia, tadi seperti ingin melepaskan Kiki tapi bisa di pastikan sekarang dia sudah lupa apa yang di ucapkannya.
Ruby mencibir Ken dalam hati dan memutar bola matanya malas.
Kiran mencarinya karena Ken sudah beberapa hari tidak masuk bekerja, dan dari jawaban wakil kepala sekolah Ken sedang cuti karena harus membereskan urusan lainnya. Dia khawatir karena panggilan teleponnya sudah di alihkan oleh Ken.
" Aku takut kau sakit " Ucap Kiran saat mereka sudah lebih santai duduk di ruang tamu.
" Tidak, aku sedang banyak urusan kau tau, sibuk disana sini " Ken menjawab sombong, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Kiran, apalagi alasannya hanya karena patah hati.
" Syukurlah " Kiran menghela nafas lega mendengar penjelasan Ken.
" Aku mampir kemari karena memerlukan tanda tangan mu untuk beberapa laporan ku, dan juga sekalian ingin bertemu dengan Ruby " Kiran menjawab antusias bahagia saat menyebutkan nama Ruby yang di sambut Ruby dengan teriakan histeris tertahan seperti mereka sudah lama terpisah saja.
" Cih ku pikir karena aku " Gumam Ken lirih dengan kecewa, tapi tidak dapat di pungkiri ekspresi wajahnya yang bahagia saat bertemu Kiran membuat suasana hatinya juga kembali bahagia. Sepertinya dia memang tidak bisa melupakan Kiran, jadi dia membulatkan tekadnya akan mendapatkan Kiran alih-alih menyerah.
Pertemuan siang menjelang sore itu lebih banyak di habiskan antara Kiran dan Ruby, kesempatan itu juga di gunakan Ruby untuk mengetahui cerita yang sebenarnya versi Kiran.
" Kiki aku minta maaf sebelumnya, aku dan Lucas... " Ruby mencoba memulai pembicaraan ke arah yang lebih serius lagi.
__ADS_1
" Aku tau, aku mengenalnya selama beberapa waktu, dia mengikuti kelas psikiater bersama ku, sampai beberapa bulan sebelum akhirnya dia memutuskan menghilang... " Kiran menjelaskan lirih, saat ini mereka ada di bangku kayu favorite Ruby, tempat yang nyaman dan sejuk untuk saling mencurahkan isi hati.
" Tunggu dulu, tapi dia bilang kau yang menghilang " Ruby menyela cerita Kiran, karena versi Lucas adalah Kiran yang berhenti mengikuti sesi konseling di psikiater.
" Tidak waktu itu Lucas menghilang lebih dulu, saat itu kondisinya benar-benar parah, dia mengaku bernama Leon dan ngotot bahwa kau adalah istrinya yang di culik Rai, mungkin karena itu dia tidak ingat pernah mengikuti kelas konseling sebelumnya, kau tau pikirannya sedang tidak menjadi Lucas, waktu itu aku tidak menyadari Ruby yang di maksud adalah kau, karena kuakui Ruby namamu lumayan pasaran " Kiran terkekeh saat menjelaskan ceritanya, tapi itu tidak membuat Ruby sama sekali tersinggung karena itu sangat khas Kiran sahabatnya.
" Lalu apa yang terjadi kemudian ? " Tanya Ruby penasaran, dia mendengarkan semuanya dengan sabar.
" Begitulah, Lucas menghentikan sesi konselingnya dengan psikiater dan menghilang begitu saja, lalu beberapa waktu kemudian dia kembali lagi setelah menjadi tersangka kasus penculikanmu yang ditayangkan di televisi. Saat itu aku sudah mulai mau membuka diri untuk terapi pengobatan ku, tapi kemudian kami bertemu lagi, dan aku ketakutan. Kau tau, karena dia mengenalmu, aku takut dia akan bilang padamu kalau aku juga sakit jiwa " Suara Kiran hilang timbul saat bercerita, tak jarang kadang juga tercekat seakan kata-kata itu sangat berat untuk di ucapkan.
Tentu saja Ruby paham, bercerita tentang gangguan jiwa yang adalah penyakitnya, siapapun pasti tidak akan bisa bercerita dengan nyaman, lain halnya jika kau bercerita tentang indahnya jatuh cinta, waktu seharian bahkan terasa kurang untuk menjabarkannya.
" Kiki sebenarnya apa yang terjadi ? " Tanya Ruby lirih, dia menggenggam tangan Kiran yang sedang menunduk dalam.
" Memangnya aku itu kau yang punya banyak waktu luang " Ruby memutar bola matanya malas, dan merasa apa yang di katakan Kiran sangat benar.
" Ya dan aku menyesal telah memiliki waktu sebanyak itu untuk bersenang-senang, sekarang aku sibuk mengutuki diriku sendiri " Kiran melanjutkan, senyumnya berubah kecut, terlihat sekali kepedihan dalam matanya.
" Kiki... " Ruby mencoba menghiburnya namun Kiran hanya tertunduk.
" Laki-laki yang ku kenal itu ternyata bekerja sama dengan paman ku sebagai mucikari, pada saat hari aku berkencan dengannya, dia bilang bahwa dia ingin makan malam dengan ku di sebuah hotel berbintang, ku pikir itu akan jadi makan malam romantis. Dengan percaya dirinya aku datang kesana, namun dia tak terlihat di restoran hotel tersebut. Dia menghubungi ku lagi dan bilang kalau dia sedang melayani petinggi Klan di salah satu kamar hotel dan meminta ku menunggu di depan kamar itu, itu adalah hal terbodoh yang pernah ku lakukan, percaya terhadap laki-laki. Aku menurutinya, dan kau tau, ternyata itu bukan petinggi Klan, dia menjebakku. Itu adalah lelaki hidung belang yang telah membeli ku. Jangan tanya bagaimana aku bisa keluar dari kamar itu, kau pasti tidak ingin membayangkannya. Saat aku membuka pintu kamar itu dalam upaya ku melarikan diri, aku melihat Ken lewat, dia mungkin saja sedang menemui Rai di hotel itu, entahlah aku juga tidak tau alasannya. Dia melihat laki-laki itu mengejarku yang memaksa ku kembali ke kamar, lalu tanpa bertanya Ken menghajarnya begitu saja, dan memberikan jas nya untuk ku, dia sangat baik " Kali ini air mata Kiran sudah tidak bisa di bendung lagi, tidak ada senyuman, walau hanya senyum masam sekalipun, yang ada hanya suara tercekat dan buliran air mata yang menghiasi pipi merahnya.
__ADS_1
" Ken tidak pernah cerita " Ruby bergumam lirih.
" Tentu saja, memangnya siapa aku sampai bisa mendapatkan perhatiannya, dia menolongku mungkin karena hanya sebatas kasihan. Saat keesokan harinya aku bertemu dia untuk berterima kasih, dia bahkan tidak ingat sama sekali " Kiran semakin sesegukan. Ruby mendekat dan memeluk Kiran, mengelus-elus punggungnya. Dia merasa bersalah karena tidak tau apa-apa tentang sahabatnya.
" Lalu kenapa kau pindah ? " Tanya Ruby juga dengan suara tercekat.
" Aku tidak pernah pindah Ruby, aku hanya masuk rumah sakit jiwa karena trauma ku, aku tidak memberitahu mu karena takut kau akan menjauh, tidak akan jadi hal bagus kalau kau punya sahabat dengan gangguan kejiwaan " Kiran kembali terisak.
" Dasar gadis bodoh, asal kau tau hidupku sudah di kelilingi orang gila, bertambah satu lagi bukan masalah untuk ku " Ruby menepuk agak keras punggung Kiran kali ini, sedikit kesal padanya karena memandang terlalu rendah persahabatan mereka.
Selama beberapa lama mereka larut dalam pengakuan perasaan Kiran, menangis bersama saat mencocokkan kembali kepingan puzzle di hidup mereka, dan kadang tertawa bersama saat menyadari betapa bodoh dan lugunya mereka di masa lalu.
Mereka menghabiskan sisa sore itu dengan kucuran air mata sampai mata mereka sembab dan merah, setelah puas saling mencurahkan rahasia terdalam mereka akhirnya Kiran berpamitan pulang, Ken memutuskan akan mengantar Kiran pulang.
" Kau tidak tau bagaimana hidup itu berputar-putar disekeliling kita, ternyata Kiran sudah lebih dulu jatuh cinta pada Ken jauh sebelum Ken jatuh cinta padanya, hanya saja mereka bertemu di saat yang tidak tepat saat ini. Kiran merasa tidak baik untuk Ken, dia merasa Ken pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik " Kiran menceritakan kepada Rai, setelah mobil yang di kendarai Ken dan Kiran pergi menjauh.
" Kau tau apa lagu yang cocok untuk mereka ? " Tanya Rai asal.
" Apa ? " Tanya Ruby dengan mengernyitkan alis, bingung. Kenapa Rai harus memikirkan sampai sejauh itu.
" Darah Muda " Canda Rai dengan lagu dari seseorang yang menjadi julukan Ruby untuknya.
__ADS_1
" Rhoma kau terlaaluu " Balas Ruby yang kemudian di sambut gelak tawa mereka berdua.