
Ken duduk di ruang tamu bersama dengan Adelia, Kiran dan juga nenek Mis. Mereka sedang sarapan bersama.
Ken duduk dengan menunduk dalam dan memakan sarapannya dalam diam. Kiran hanya meliriknya sesekali. Sementara Nenek Mis memandangnya dengan pandangan marah dan kesal.
" Oh Ken kau tidak mengambil lauknya ? " Tanya Kiran karena melihat hanya ada nasi putih di atas piringnya.
" O-oh ya " Jawab Ken tergagap, perasaannya sungguh tak karuan karena insiden semalam. Dengan masih menundukkan kepala dia mengulurkan tangannya hendak mengambil lauk yang ada di piring. Namun tanpa sengaja tangannya malah bersentuhan dengan tangan Nenek Mis yang juga akan mengambil lauk yang sama.
" Huh " Nenek Mis langsung memalingkan wajahnya begitu Ken melihatnya.
Aduh... kenapa marahnya seperti anak remaja akhir pekan yang sedang di mabuk cinta.
Batin Ken geli.
Kiran dan Adelia yang melihat itu hanya terkekeh. Setelah selesai sarapan bersama, Kiran mengajak Ken berjalan-jalan sebentar sebelum pulang.
Setelah mengalami sport jantung sebanyak 3 kali, Ken memutuskan menyudahi liburannya dan akan pulang siang ini. Dia tidak ingin mengalami sport jantung yang ke empat atau kalau tidak fotonya akan tertempel di karangan bunga bertuliskan turut berbela sungkawa, yang di kirimkan oleh para kolega nya.
Ken berjalan mendahului Kiran, perbedaan panjang kaki mereka membuat Kiran tertinggal jauh di belakangnya.
" Ken tunggu " Teriak Kiran, namun Ken masih saja acuh.
" Cih, begitu saja marah " gerutu Kiran kesal. Mendengar Kiran berkata begitu, Ken langsung menghentikan langkahnya kemudian menoleh dan menatap Kiran dengan tajam.
" Apa ? " Tanya Kiran takut, dia berhenti dengan jarak beberapa meter dari Ken.
" Ck " Ken mencebik kesal dan melotot pada Kiran, lalu membalikkan badannya dan kemudian melanjutkan perjalanannya lagi.
" Tunggu dong " Teriak Kiran lagi setelah melihat Ken berjalan. Namun Ken kembali menoleh lagi dengan tiba-tiba.
" Aish, kenapa lagi sih ? " Teriak Kiran kesal karena Ken yang tidak mau bicara dan hanya memberikannya tatapan marah.
" Hei kau masih belum sadar salahmu apa ? Wuah gadis ini benar-benar mengerikan " Omel Ken kesal.
" Apa salahku ? " Tanya Kiran polos.
" Kau masih berani bertanya apa salahmu ? " Teriak Ken semakin kesal.
" Ok ok aku minta maaf masalah semalam, tapi itu bukan sepenuhnya salahku, salahmu sendiri kau tidak meminta izin dan langsung menyerang " Kiran membela diri.
" Apa ? Menyerang ? Hei !! Siapa yang bilang tidak perlu minta izin dulu ? Kau bilang aku boleh mencium mu tanpa harus bilang padamu, jadi mana ku tau kalau tiba-tiba yang ada disebelahku itu... " Ken tidak mampu meneruskan kalimatnya karena terlalu marah sekaligus malu.
" Tapi setidaknya kan kau bisa menoleh untuk melihat " Kiran masih tetap membela dirinya.
" Hei wangi parfum kalian sama, jadi untuk apa aku repot-repot mengeceknya di tengah kegelapan begitu ?! " Sanggah Ken marah.
" Mana ku tau Nenek Mis memakai parfumku tanpa izin " Jawab Kiran polos.
" Aish !! Terserah !! " Teriak Ken kesal, dia lalu berbalik dan berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya karena merasa kesal yang teramat sangat.
Ken yang ada di belakangnya hanya terkekeh melihat Ken bertingkah begitu. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka telah sampai di puncak bukit, menikmati sinar matahari pagi yang hangat.
" Aahh hangatnya " Seru Kiran riang seraya merentangkan kedua tangannya dan tersenyum lebar. Dengan memejamkan matanya dia merasakan vitamin D yang meresap kedalam pori-pori kulitnya.
__ADS_1
" Cih " Cibir Ken sinis.
" Kau jadi ikut pulang kan ? " Tanyanya kemudian.
" Ya " Jawabnya singkat.
" Lalu ibumu juga ? " Tanya Ken lagi.
" Sepertinya tidak, mungkin ibuku harus tinggal beberapa hari lagi untuk menenangkan nenek, harus ada yang bertanggung jawab bukan ? " Goda Kiran tersenyum ke arah Ken.
" Hei sekali lagi kau bilang tanggung jawab, aku akan... " Ancam Ken kesal.
" Akan apa ? " Potong Kiran dengan senyum jahil.
" Akan... " Jawab Ken bingung.
" Aish sudahlah, pokoknya kau jangan ucapkan kata tanggung jawab di depanku, membuatku merinding " lanjutnya acuh.
Aish sialan, kenapa akhir-akhir ini banyak sekali kata yang kutakutkan, pertama kata tali lalu sekarang tanggung jawab. Aarrgghh...kenapa aku selalu sial sih.
Rutuknya penuh emosi.
Setelah puas menikmati sinar matahari, Ken dan Kiran turun untuk bersiap-siap pulang. Ken telah mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya kedalam bak mobil, begitu juga dengan barang-barang Kiran.
" Kami permisi dulu bu " Pamit Ken sopan kepada Adelia yang dijawab dengan anggukan dan senyuman hangat.
" Kami permisi dulu nek " Ucap Ken takut-takut, Ken membungkukkan badannya kepada Nenek Mis yang ada di samping Adelia.
" Tidak mau, mas Ken jahat " Jawab Nenek Mis membuang muka.
Apa aku jodohkan dia dengan pak Handoko saja ya.
Batin Ken asal.
Setelah selesai berpamitan, Ken dan Kiran naik ke atas mobil, dan Ken kemudian melajukan mobilnya dengan perlahan meninggalakan desa.
Kiran yang masih saja tersenyum-senyum sendiri mengingat hubungan Ken dan Nenek Mis pun di kejutkan oleh teriakan Ken.
" Hei aku minta kau tutup mulutmu itu ya, jangan katakan apapun pada siapapun masalah ini, itu rahasia kita berdua, hanya kau dan aku yang tau " Sunggut Ken kesal.
" Iya iya cerewet sekali, aku bukan tipe orang yang tukang ngadu kau tau " Balas Kiran sengit.
" Ok ku pegang kata-katamu " Jawab Ken percaya.
Perjalanan mereka berjalan lancar tanpa hambatan, dan saat sore hari menjelang mereka baru sampai rumah.
Ken mengajak Kiran untuk kerumahnya lebih dulu, karena harus menyerahkan oleh-oleh yang di berikan oleh warga desa kepada keluarga Ken.
" Wuah !!! " Pekik Ruby takjub.
" Ini bukan apa-apa, hanya hasil desa " Saut Kiran malu-malu.
" Memangnya di desamu penghasil kayu ya ? " Tanya Rai bingung.
__ADS_1
" Maaf ? " Ulang Kiran sopan, tidak mengerti arah pembicaraan Rai.
" Itu... " Rai menunjuk singkong yang di bawa Ken yang masih dengan batang pohonnya.
" Kenapa kau membawa pulang kayu ? " Tanya Rai polos.
" Hei itu bukan kayu sembarangan " Pekik Ken tiba-tiba.
" Oh ya ? " Tanya Rai antusias.
" Kau bisa memakannya " Jawab Ken.
" Hei kau ingin membodohi ku ya ? Mana mungkin kau makan kayu itu, memangnya kau rayap " Omel Rai kesal.
" Aku sungguh-sungguh, kau tau bambu ? Aku makan bambu yang masih muda, mereka memasaknya dengan kuah santan, rasanya tidak buruk. Tapi aku belum pernah mencoba bambu yang sudah tua, bagaimana ya rasanya ? " Ceritanya panjang lebar.
" Kiran ibu mu bisa memasak bambu yang sudah tua tidak ? Aku penasaran bagaimana rasanya " Tanyanya polos.
Melihat Ken yang seperti itu, baik Kiran maupun Ruby sama-sama menghela napas panjang.
Jika kau membicarakan masalah ekonomi luar negeri, senjata atau pasar saham dengan mereka, maka kedua makhluk di hadapan mereka ini akan sangat lancar dan fasih menjawabnya, tapi jika kau membicarakan yang kuno-kuno, maka mereka seakan menjelma menjadi manusia paling primitif di muka bumi ini.
" Bagaimana liburan mu ? " Tanya Ruby kepada Kiran.
" Baik menyenangkan " Jawab Kiran riang.
" Ehem...ehem... " Ken berdehem dan Kiran menoleh padanya, seakan mengingatkan Kiran agar jangan sampai keceplosan.
Kiran menghela napas jengah terus mendapat tekanan seperti itu dari Ken.
Sebegitu tidak percayanya dia padaku.
Makinya dalam hati.
" Ah ya Kiran, aku minta maaf ya " Ucap Ruby tiba-tiba.
" Soal ? " Kiran mengernyitkan keningnya bingung.
" Soal bunga kamboja " Jawab Ruby sungkan.
" Hei !! " Teriak Rai dan Ken berbarengan.
Namun terlambat, Kiran sudah mendengarnya dan dia merasakan ada yang tidak beres, bagaimana mungkin Ruby bisa tahu perihal bunga kamboja padahal dia belum bercerita padanya.
" Darimana kau tau ? " Tanya Kiran dingin dan menyeramkan.
" Tentu saja aku tau, kan mereka berdua yang mengirimnya " Ruby menunjuk Ken dan Rai yang sudah beberapa langkah menjauh dari mereka, mencoba kabur diam-diam.
" Oh jadi bunga itu dari mereka ? Dari Ken ? Apa begitu maksudmu Ruby ? " tanya Kiran dengan senyum penuh kemarahan.
" Ya itu dari mereka " Jawab Ruby mantap.
" Hahaha..." Kiran tertawa kesal, dirinya ketakutan setengah mati dan harus kabur ke desa tapi ternyata itu adalah ulah Ken.
__ADS_1
Kau harus bertanggung jawab Ken.
Teriak batin Kiran kesal.