Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Restu


__ADS_3

Regis menunggu Ken dan Kiran di ruangan kepala rumah sakit. Sementara itu Ken berjalan mondar mandir di depan pintunya. Kiran sangat heran dengan Ken yang terlalu gelisah.


" Ken ada apa sebenarnya ? Aku sangat takut " Ucap Kiran terbata-bata, baru kali ini dia akan berbicara secara langsung dengan ketua Klan, dan auranya seribu kali sangat mengintimidasi daripada berada di sebelah Rai.


" Jangan bicara dulu dengan ku, aku sedang berpikir " Ken menganyunkan tangannya mencegah Kiran menuntut penjelasan darinya, tapi dia masih belum bisa berhenti mondar mandir.


" Aku akan melihat dulu bagaimana ayah bicara, baru setelah itu akan memikirkan cara selanjutnya. Kiran kau percaya padaku bukan ? " Ken meraih pundak Kiran dengan kedua tangannya, menatap wajahnya dengan serius.


" Apa ini sangat serius ? " Kiran semakin mengkeret karena melihat pancaran ketakutan dari mata Ken.


" Ini lebih dari serius, kau tau kalau seorang penjahat bisa di jatuhi hukuman mati ? Ini bahkan lebih buruk dari hukuman mati " Ken menjelaskan dengan sungguh-sungguh.


Kiran yang berada di pegangan Ken mendadak merasakan kakinya lemas, wajahnya pias tak berwarna, matanya berkunang-kunang. Ken yang melihat keadaan Kiran seperti itu menjadi khawatir.


" Kiran percayalah padaku, aku akan melindungi mu bagaimana pun caranya. Kau hanya perlu diam dan mengangguk-angguk saja dengan alasan yang akan ku berikan pada ayahku nanti, mengerti ? " Ken menjelaskan kepada Kiran yang sudah seperti kehilangan kesadaran dan hanya di jawab dengan anggukan lemas olehnya.


Ken semakin mantap setelah mendapat persetujuan dari Kiran, dia kemudian membantu Kiran berdiri tegak dan berjalan memasuki ruangan. Wajah Regis yang sangat serius sudah menyambut mereka, menjadikan suasana sangat tegang bahkan tanpa efek musik latar belakang suara tembakan seperti di film-film action.


" Silahkan duduk kalian berdua " Ucap Regis tegas.


Ken dan Kiran berjalan pelan menuju sofa besar yang ada di ruangan tersebut, menghadap Regis yang sudah lebih dulu duduk bersilang kaki di sofa tunggal.


Aku yakin alasanku akan berhasil, karena ini yang di ajarkan kakak.


Ken meyakinkan dirinya sendiri.


" Kurasa kita sudah sepakat, bukan begitu Ken " Ucap Regis begitu Ken dan Kiran duduk dengan nyaman di depannya.


" Aku punya alasan kuat melakukan ini ayah " Jawab Ken dengan lirih, belum pernah dia setakut ini saat berhadapan dengan ayahnya.


" Benarkah ? " Tanya Regis biasa saja, namun hal itu saja sudah membuat Kiran gemetaran hebat, dahinya di penuhi keringat dingin.


" Lalu apa alasanmu itu ? " Lanjutnya kemudian, dia mengubah posisi duduknya menjadi lebih serius, membuat nyali Ken yang semula sudah ciut kini terbang melayang bersamaan dengan pancaran sinar kriptonite dari mata Regis.

__ADS_1


" Ayah aku tau ini akan mengejutkan mu, tapi aku mohon maafkan aku " Ucap Ken ragu-ragu memberanikan diri. Regis yang mendengar itu juga terkejut.


" Jangan bilang kalau... " Regis menjawab ragu-ragu, firasatnya mengatakan dia merasa telah lalai dalam mendidik anak. Dia menatap Kiran lekat-lekat, ke arah perutnya.


" Ya kau benar ayah, aku bukan perjaka lagi, dan dia yang telah menodai ku, jadi bukankah kita harus menahan tersangka ini untuk selamanya hidup dengan ku, mempertanggung jawabkan perbuatannya ? " Ucap Ken mantap, dia belajar hal itu dari Rai.


" Apa ?!? " Kiran dan Regis kompak berteriak mendengar pernyataan Ken yang tidak masuk akal tersebut.


" Tidak tuan, dia bohong, saya belum pernah... ah tidak bahkan berciuman pun kami tidak pernah, saya tidak mungkin berani melakukan hal itu, ku mohon jangan percaya padanya " Kiran terbata-bata membela diri, dia melirik Ken tajam tidak percaya dengan tuduhan yang di alamatkannya.


Sementara itu Regis langsung menghela napas lega, dia tau Ken sedang berbohong hanya demi mendapat restunya.


" Kau ini !! " Omel Regis kepada Ken yang tetap duduk dengan tenang. Kemudian dia beralih kepada Kiran yang sudah semakin pucat pasi, tergagap-gagap berusaha menjelaskan tuduhan yang mengarah padanya.


" Nona Kiran tenanglah dulu " Ucap Regis lembut.


" Iya tenanglah dulu " Ken ikut bicara.


" Tenang ? Hei bagaimana aku bisa tenang kalau kau menuduhku menodai mu ? Kau kehilangan perjaka ? Aku saja tidak yakin kau masih perjaka saat memulai hubungan dengan ku, bukankah kau bilang antrian para wanita yang meminta jadi kekasihmu saja sudah seperti kereta ? Bisa-bisanya kau menuduhku merenggut kesucian mu. Kau benar-benar laki-laki " Sindir Kiran sinis, dia bahkan lupa kalau Regis masih ada disana untuk menyaksikan semua umpatan yang keluar dari mulutnya.


" Aku setuju tapi bukan alasan ini yang harus kau ungkapkan " Sanggah Kiran tak kalah ketus.


" Apa bedanya sekarang atau nanti kau menerima tuduhan itu, toh pada akhirnya aku juga tidak akan perjaka lagi saat menikah denganmu, yang ku lakukan sekarang hanya mempercepat julukannya " Ken mendebat Kiran dengan sengit.


" Mempercepat julukannya ? Hei kau bukan hanya mempercepat julukannya, tapi juga memberiku status baru " Saut Kiran kesal.


" Status ? " Tanya Ken tidak paham.


" Lihat itu lihat, kau bahkan tidak mengerti apa yang kau ucapkan. Kau membuatku dalam sekejap berubah jadi tersangka " Jelas Kiran ketus.


Brak !! Terdengar suara gebrakan di meja, mereka berdua menghentikan pertengkaran mereka dan menoleh ke arah Regis yang sudah duduk bersandar, memijit pelipisnya karena pusing melihat kelakuan Ken yang diluar normal.


" Maafkan saya tuan, tapi saya benar-benar tidak pernah menodainya " Ucap Kiran lirih.

__ADS_1


" Silahkan keluar dulu nona Kiran, aku ingin bicara dengannya sebentar " Jawab Regis lemas.


Kiran segera berdiri dan berpamitan undur diri, dia menundukkan kepalanya dan segera berlari menuju pintu keluar.


Setelah dirasa cukup tenang Regis menatap tajam Ken, menyelidik dari atas sampai bawah lalu menggelengkan kepalanya tidak percaya.


" Apa yang kau lakukan ? " Tanya Regis jengah.


" Ayah bilang tidak akan merestui kami, jadi aku membuat alasan " Jawab Ken lirih.


" Jangan sampai orang lain melihat kelakuan mu yang seperti ini, berwibawalah sedikit dihadapan wanita " Omel Regis kesal.


" Tidak masalah, Kiran sudah pernah melihatku lebih terpuruk dari ini, jadi ayah... aku merasa tidak ada wanita lain yang bisa mengatasiku sebaik Kiran mengatasi ku " jawab Ken santai.


" Sudahlah keluar sana " Usir Regis malas.


" Tapi ayah kau belum merestui kami " Rengek Ken memelas.


" Memangnya kau butuh restu dariku setelah melihat kejadian ini ? " Sindir Regis sinis.


" Tentu saja, bagaimana pun kau adalah segalanya untuk ku, jadi aku tetap butuh restumu untuk melanjutkan hidupku bersama Kiran " Jawab Ken lirih.


" Dasar anak ini " Regis mengangkat tangannya seperti akan memukul Ken, namun di luar dugaan dia malah mengelus pelan rambut Ken.


" Ayah akan persiapkan pernikahanmu sebulan lagi, tapi sebelum itu ayah harus mengurus sesuatu dulu " Jawab Regis lembut.


Mendengar jawaban Regis yang seperti lampu hijau, Ken terlonjak girang. Dia memeluk erat ayahnya.


Seperti mimpi ayahnya menyetujuinya tanpa banyak pertimbangan, dunia serasa berbunga-bunga dan di penuhi pelangi untuk Ken. Dia segera pergi keluar ruangan untuk menyusul Kiran dan memberitahukan kabar gembira ini, bahwa mereka akan segera menikah.


Regis yang juga ikut berbahagia sekaligus khawatir dengan Ken segera menghubungi sekertaris Yuri.


" Sebulan lagi Ken akan menikah, aku ingin semua masalah ini selesai sebelum itu, lenyapkan saja dia jika perlu, tidak akan ku biarkan seseorang mengganggu anak-anak ku " Perintah Regis tegas, dia tidak punya pilihan lain selain melakukannya.

__ADS_1


" Haah Lorie, lihatlah... kita membesarkan dua anak aneh, andai kau ada disini sekarang kau pasti menuduhku yang bertanggung jawab atas tingkah konyol mereka. Aku merindukanmu sayang, setiap hari " Regis tersenyum melihat foto dirinya dan Lorie serta dua anak laki-laki kecil berwajah serius di layar ponselnya.


__ADS_2