
Kiran dan Dylan berjalan keluar melewati pintu restoran dengan hati-hati, mereka mengamati situasi sekitar dulu sebelum memutuskan untuk melangkah keluar, setelah di rasa cukup aman mereka membuka pintu kaca tersebut dan keluar dengan menundukkan wajah.
Deg ! Jantung Kiran serasa melompat keluar dari tempatnya saat seseorang memegang bahunya, menahan lebih tepatnya. Dia meraih lengan Dylan yang ada di sebelahnya. Dylan berhenti untuk menoleh ke arah Kiran, namun dirinya juga terkejut melihat sosok di belakang Kiran saat ini.
" Apa kita harus lari pada hitungan ke tiga ? " Tanya Kiran lirih dengan wajah takut.
" Tidak perlu " Dylan menjawab singkat, tapi sorot matanya menatap tajam ke arah laki-laki tersebut.
" Kenapa kalian berpenampilan begitu ? " Tanya laki-laki yang menahan bahu Kiran. Kiran yang hapal dengan suaranya menolehkan tubuhnya dengan cepat.
" Ipin " Pekik Kiran antara lega, bahagia, kesal dan juga menuntut penjelasan, entahlah banyak hal berkecamuk di kepalanya saat ini.
" Kalian ini apa-apaan ? Kau tidak membalas pesan ku, juga tidak mengabariku kapan pulang, dan kalian keluar dari sana dengan penampilan begini ? " Cecar Ken seraya memperhatikan penampilan mereka berdua dari atas sampai bawah. Keduanya mengenakan masker wajah hitam, kacamata hitam, serta tudung jaket hoodie yang menutupi kepala.
" Darimana kau tau kalau ini kami ? " Tanya Kiran penasaran, kalau Ken saja bisa mengenali mereka, maka kemungkinan besar laki-laki itu juga bisa.
" Dari tas mu " Jawab Ken seraya menunjuk tas Kiran dengan wajahnya.
Kiran menepuk jidatnya karena kebodohannya, mana mungkin dia bisa sebodoh itu membiarkan gantungan tas bertuliskan nama "Kiran" dengan warna merah menyala itu terlihat jelas oleh siapapun.
" Kalian kenapa berpenampilan seperti ini ? Ingin main detektif-detektifan ya ? " Tanya Ken menggodan Kiran dan Dylan, kali ini dia akan memastikan untuk memberikan apresiasi tertingginya agar harga diri Kiran tidak terluka untuk kedua kalinya.
" Ini semua karena Klan busuk mu itu " Dylan menjawab ketus dan segera menarik tangan Kiran untuk pergi, tapi Ken juga sigap, dia menarik tangan Kiran yang satu lagi, menahan kepergiaanya.
" Aaww " Kiran berteriak kesakitan karena tarikan keras di kedua tangannya yang berlawanan arah.
" Lepaskan tangan mu dari kekasihku, kau tau aku masih menganggapmu anak di bawah umur, jadi aku tidak pernah serius menghadapi mu, tapi kalau sekali lagi kau berani membawanya pergi atau menyakitinya, aku tidak akan berbelas kasihan lagi " Ancam Ken dengan tatapan tajam ke arah Dylan, baru kali ini Kiran melihat Ken dalam mode menyeramkan dan super serius seperti itu, ada sedikit rasa takut merayapinya.
Dylan yang sadar diri tidak akan menang melawan Ken melepaskan tangannya dari lengan Kiran. Dan Ken sudah melunak kembali.
" Sebenarnya kalian ini kenapa ? Kalian terus saja bermain drama, apa memang akan ada pementasan drama di acara kelulusan murid tahun ke tiga ? " Tanya Ken kesal karena bingung dengan sikap Kiran dan Dylan yang seperti menyimpan rahasia.
" Masih berani bertanya ? " Dylan mencibir sinis Ken yang memasang wajah polosnya.
" Aku bertanya karena benar-benar tidak tau " Jawab Ken semakin bingung.
" Bukankah Klan kalian yang mengirim laki-laki itu pada kami agar bisa melenyapkan kami ? " Saut Dylan ketus.
__ADS_1
" Mengirim siapa ? Laki-laki apa ? " Tanya Ken masih bingung, Kiran menatap lekat Ken yang masih kebingungan mencerna setiap kalimat Dylan, Kiran melihat ekspresi Ken yang tulus tidak di buat-buat, jadi Kiran memutuskan untuk mencoba mempercayai Ken sekali lagi.
Kiran meraih tangan Dylan dan Ken bersamaan, lalu menarik mereka kembali kedalam restoran. Mereka memilih tempat duduk yang tadi mereka tempati, namun kali ini meja itu sudah bersih dan rapi, tidak ada bekas piring mereka yang tadi dengan makanan yang masih utuh.
" Aku sudah tidak tahan lagi, aku akan bertanya padamu dan kau harus menjawab dengan jujur " Kiran menatap Ken lekat-lekat setelah mereka duduk berhadapan.
" Ba-baik " Jawab Ken terbata-bata karena heran dengan Kiran dan Dylan yang sepertinya sangat serius.
Kiran lalu mulai menceritakan awal mula kejadian tentang dirinya, dari A sampai ke B, karena kalau harus ke Z terlalu jauh.
Lalu setelah selesai dengan ceritanya, Kiran menyenggol lengan Dylan yang bertumpu di meja, yang sedari tadi acuh membuang pandangannya keluar jendela. Dylan menoleh dan memilih menolak bercerita, dia masih tidak percaya dengan Ken.
Kiran yang melihat itu menghela napas kesal, dia kemudian mengambil alih tugas Dylan bercerita, di menceritakan semua kejadian yang menimpa Dylan dan tentang hubungan mereka berdua yang bisa di katakan saudara tidak langsung. Ken mendengarkan dengan seksama dan hati-hati, dia tidak ingin melewatkan setiap kata yang meluncur dari bibir Kiran, karena bagaimanapun ini menyangkut Klannya.
" Aku mengerti, aku akan menanganinya dari sini, aku dan kakakku akan berunding dulu apa yang harus kita lakukan " Ken menjawab serius, kini predikat kepala sekolah konyol sepertinya tidak lagi melekat padanya, dia murni putra mahkota Klan bila menilik dari sikapnya yang serius dan hati-hati.
" Cih, kau berharap aku percaya padamu ? " Cibir sinis Dylan, pandangan matanya mengejek Ken seperti menantang berkelahi.
" Aku tidak peduli kau percaya atau tidak padaku, yang aku pedulikan adalah nama baik Klan ku, ayahku membangun reputasi Klan kami dengan susah payah, dia berusaha sekuat tenaga agar para preman jalanan yang salah langkah bisa mendapat pekerjaan terhormat dan tidak menjadi sampah masyarakat lagi, aku tidak mau karena orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu akan membuat semua preman baik terkena imbasnya " Ken menjawab dengan serius, dia sedang tidak main-main, tidak bersikap konyol dan tidak salah sedikitpun dalam kata-katanya. Kiran heran dengan sikap Ken saat ini.
" Aku akan menyembunyikan kalian di tempat yang aman, karena hanya aku dan kakak ku yang tau tempat ini " Ucap Ken kemudian.
" Aish kalian ini tenang saja, sebenarnya ini rahasia. Kakak ku diam-diam mencari rumah masa kecil Marimar yang dulu di jual untuk menutupi biaya berobat ibunya, karena marimar bilang dia rindu dengan rumah lamanya. Lalu kakak ku merenovasi rumah tersebut agar mirip dengan aslinya, dan ini sebagai hadiah ulang tahun Marimar nanti. Rumah itu sudah selesai di renovasi, tapi karena marimar akan segera melahirkan jadi kakak menunda untuk memberitahukannya agar dia sepenuhnya berkonsentrasi pada junior " Jelas Ken dengan sungguh-sungguh demi meyakinkan Kiran dan Dylan.
" Apa yang bisa kami jadikan jaminan untuk mempercayaimu ? " Tanya Dylan sinis.
" Apa ya ? Kalian ingin apa ? Senjata untuk melindungi diri ? Atau di jaga ketat oleh pengawal ? Atau apa ? Bilang saja " Ken menjawab santai.
" Aku percaya padamu dan Ruby, kalian tidak akan berbohong padaku " Kiran menggenggam tangan Ken dan tersenyum tulus.
" Aku minta senjata saja " Saut Dylan acuh.
" Ok baiklah " Ken menepuk pahanya tanda setuju, dia tersenyum lega karena Kiran dan Dylan percaya padanya.
" Ayo pergi kesana " Ken bangkit berdiri, mengajak Kiran dan Dylan pergi.
Mereka bertiga pergi meninggalkan restoran dan masuk kedalam mobil Ken. Dengan cepat Ken melajukan mobilnya menuju tempat persembunyian mereka.
__ADS_1
Tak berapa lama mereka sampai memasuki sebuah rumah berpelataran luas, rumah sederhana tapi dengan halaman yang luas. Halaman itu adalah rumah-rumah di sebelahnya yang ikut di beli dan di ratakan oleh Rai demi mewujudkan keinginan Ruby yang ingin memiliki rumah dengan halaman luas.
" Aku berani menjamin rumah ini aman, hanya kami berdua yang tau, kode pintunya 1241 " Jelas Ken singkat saat mereka sampai di depan pintu.
" Baiklah, mana senjata ku ? " Tagih Dylan cuek, dia masih tidak percaya dengan Ken.
" Tenanglah, senjatamu ada di dalam sana " Ken menjawab tersenyum dan memencet kode pintunya, dan dia membuka pintunya, membiarkan mereka masuk.
" Mana ? " Tagih Dylan tidak sabar.
" Kau ini terburu-buru sekali, hei pantas saja kau tidak bisa menikmati masa remaja mu, kau itu terlalu serius seperti kakak ku, hati-hati nanti kau jadi bodoh kalau sudah jatuh cinta, otak cerdasmu itu tidak akan berjalan beriringan dengan detak jantungmu yang tidak beraturan saat berurusan dengan cinta " Nasehat Ken kepada Dylan.
" Aku tidak peduli, sekarang mana senjata ku " Tuntut Dylan menadahkan tangannya ke arah Ken.
Ken berjalan menuju tembok ruang keluarga, Kiran dan Dylan mengamati dengan penasaran dan heran.
Dia mengambil salah satu hiasan dinding yang terpajang disana dan menyerahkannya kepada Dylan.
" Nih, pergunakan sepuasmu, pelurunya kau cari sendiri " Ujar Ken mantap saat menyerahkan sebuah ketapel di atas tangan Dylan.
" Apa-apaan ini ? " Teriak Dylan kesal merasa di kerjai Ken.
" Hei kau ini masih anak di bawah umur, mana boleh memakai senjata, ketapel itu saja cukup untuk mu, hati-hati kalau sudah selesai kembalikan lagi ke tempatnya, itu ketapel langka buatan pengrajin perancis, di pesan langsung oleh kakakku untuk marimar " Jelas Ken serius, dia tidak bercanda soal ketapel itu.
Ruby sewaktu kecil adalah gadis yang tomboy dan sering bermain ketapel untuk mengambil mangga tetangga bersama teman-teman sebayanya. Dan saat Ruby menceritakan ingin bermain ketapel lagi, Rai langsung menelepon perusahaan senjata di perancis agar membuatkan ketapel khusus yang bisa tepat untuk menembak buah mangga, agar Ruby bisa bernostalgia dengan masa kecilnya.
Dia serius ? Ketapel ini berharga ?
Dylan menatap Ken tidak percaya.
" Baiklah, istirahatlah dulu sayang, aku akan kembali nanti sore, aku ingin bertemu Rai dulu untuk mendiskusikan ini " Ken berpamitan kepada Kiran, dia mencium lembut kening Kiran.
Dengan cepat Ken keluar dari rumah dan menuju mobilnya. Dia melajukannya dengan kecepatan tinggi ke arah club, dia akan berdiskusi dengan Rai diclub saja, jadi tidak akan di ketahui oleh Ruby.
Upin dan Rembo pasti akan baik-baik saja di sana.
Ckiiittt !!! Tiba-tiba Ken menginjak pedal remnya dengan mendadak.
__ADS_1
" Upin dan Rembo berduaan di sana ?? Tidak !! " Ken tersadar dengan tindakannya menyembunyikan Kiran dan Dylan dalam satu atap tanpa orang ke tiga. Dia membelokkan mobilnya dengan tajam kembali ke rumah itu.