
Hari sudah menjelang sore saat Ken dan Kiran pulang ke rumah, Kiran yang merasa bersalah karena telah membuat Ken meminum air kobokan hanya diam saja sepanjang hari, urung mendebatnya masalah kasus " penodaan " yang di alamatkan padanya.
Masih ada hari esok, begitu lah pikiran Kiran saat akan mendebat Ken dengan segala argumennya.
Sedangkan Ken yang harus merasakan panasnya rasa pedas dari ceker itu hanya bisa merengut kesal kepada Kiran, dia ingin marah tapi cintanya terlalu besar kalau hanya di gunakan untuk bertengkar karena masalah sepele seperti ini.
Mereka masih saja saling diam saat mobil memasuki pelataran rumah persembunyian Kiran. Ken memarkirkan asal mobilnya dan mereka turun berbarengan.
Kiran yang masih kesal masuk ke dalam rumah lebih dulu, dia ingin segera mandi air dingin untuk menenangkan kepalanya yang panas, sementara Ken juga ingin mandi tapi dia tidak membawa baju ganti, jadilah dia hanya bisa cuci muka saja.
Ken menunggu Kiran di ruang tamu, menunggu untuk memecahkan kecanggungan di antara mereka berdua, tapi Kiran tak juga keluar kamar. Dylan yang seharian hanya berada dikamar saja keluar untuk melihat keadaan, dia mendapati Ken sedang duduk bersandar dan memejamkan mata, seperti lelah oleh sesuatu.
" Sepertinya kau sangat lelah, apa itu karena kau berusaha sangat keras untuk menangkap penjahat itu ? " Sindir Dylan sinis, dia berdiri bersandar di pintu kamarnya.
Ken yang memang sudah kepayahan tidak menggubris sama sekali tawaran bertengkar yang di layangkan Dylan. Dia tidak ingin meladeni tentang apapun atau siapapun saat ini, kecuali Kiran.
Dylan yang merasa di acuhkan menjadi semakin kesal, dia mendekat dan duduk di sofa yang ada di hadapan Ken.
" Kau bilang hal yang mudah untuk menangkap penjahat itu, sekarang beberapa hari sudah berlalu, jangankan menangkap penjahat itu, bagaimana kabarnya pun kau tidak tau " Cibir Dylan kesal, dia berusaha menarik perhatian Ken yang masih saja tetap dalam posisinya.
Merasa usahanya sia-sia saja, Dylan menendang meja yang ada dihadapannya, cukup keras hingga meja itu bergeser dan menabrak lutut Ken.
" Aish !!! " Gerutu Ken kesal, tapi dia tidak mengubah posisinya sama sekali.
" Jangan acuhkan aku, aku tau kau mendengar semuanya tapi pura-pura tidak mendengar " Omel Dylan ketus.
Ken mengubah posisinya, tatapan matanya tajam dan ada yang aneh dengan wajahnya, bibirnya terlihat sedikit bengkak dan berwarna merah, Dylan yang melihat itu sedikit terkejut, dia berjengit dan mengubah posisi duduknya, menghindar menatap wajah Ken yang terlihat aneh dan lucu. Dylan berusaha sekuat tenaga mengalihkan pikirannya agar tidak tertawa.
" Apa sekarang ? Kau bilang aku tidak boleh mengacuhkanmu, sekarang kau sudah mendapatkan perhatianku tapi malah memalingkan wajah. Lihat aku ! " Perintah Ken kesal.
Dylan tetap bergeming, kalau dia harus menoleh ke arah Ken maka dia tidak akan bisa menahan tawanya lagi.
" Hei aku bilang lihat kesini, kenapa wajahmu seperti itu ? Hah ? " Omel Ken semakin kesal.
Seorang pelayan yang mendengar Ken memarahi Dylan segera berlari menghampiri untuk memeriksa keadaan, namun pelayan itu sangat terkejut melihat kondisi Ken dan kelepasan tertawa.
" Kenapa kau tertawa begitu ? Apa saat aku marah terlihat lucu ? " Tanya Ken sinis, dia menatap pelayan itu dengan lekat.
__ADS_1
" Maafkan saya tuan, tapi itu... " Pelayan itu segera menutup mulutnya yang tertawa, dan menunjuk wajah Ken.
" Kenapa wajahku ? " Ken penasaran dan berdiri menuju cermin, di ruangan itu memang terdapat cermin besar klasik yang berfungsi sebagai hiasan.
Betapa terkejutnya Ken saat mendapati wajahnya yang sudah seperti donal bebek dengan bibir bengkak tebal berwarna merah merona.
" Kiraaaannn !!! " Teriaknya kesal.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Tuan umpan yang kita pasang sudah di makan oleh buruan kita, tapi itu saja belum cukup untuk membuktikan dia tidak bersalah " Sekertaris Yuri melaporkan hasil perkembangan penyidikannya kepada Regis.
" Tidak masalah, cukup jadikan itu sebagai peringatan untuk level bawah, dan segera minta dia bertemu dengan ku secepatnya " Perintah Regis tegas.
Sekertaris Yuri yang menerima perintah itu segera menghubungi anak buahnya dan melanjutkan perintah Regis.
Huan yang mendapat perintah langsung itu segera paham dan mengatur rencana, dia dan anak buahnya akan bergerak hati-hati untuk menangkap para antek-antek pengkhianat yang terbukti bersalah, dia akan melakukannya diam-diam sehingga rencana ini tidak akan bocor yang bisa mengakibatkan para pemberontak itu berpura-pura pindah haluan lagi.
" Aturkan pertemuanku dengannya besok siang, hari ini waktu ku untuk shift malam " Lanjut Regis dengan lelah, terlihat jelas bahwa Regis sudah beberapa malam tidak bisa tidur nyenyak.
" Tuan jangan khawatirkan masalah ini, saya akan mengatasinya dengan segera. Anda hanya perlu beristirahat dengan nyenyak " Jawab Sekertaris Yuri prihatin melihat kondisi tuannya yang tampak kelelahan.
" Maaf ? " Sekertaris Yuri mengernyitkan keningnya mendengar penuturan tuannya. Pikirannya membahas masalah para pengkhianat, tapi kenapa sepertinya Regis membahas hal yang lainnya.
Apa ada masalah yang terlewat oleh ku ? Tidak, aku tau semua masalah tuan, lalu ini masalah apa ? Apa yang terjaga sepanjang malam ? Tidak, jelas ini mengacu pada seseorang. Siapa yang berani mengusik malam-malam tuan ? Aku harus memberikan perhitungan padanya, aku akan menyelidikinya nanti. Siapapun kau tidak akan ku lepaskan begitu saja.
Sekertaris Yuri berpikir keras dan gugup, baru kali ini dia merasa gagal dalam melakukan tugasnya sebagai orang kepercayaan Regis.
" Aku sangat lelah sekali, tapi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, itu sangat mengganggu perhatian ku " Lanjut Regis menumpahkan keluh kesahnya, terlihat jelas sekali beban berat sedang di tanggungnya.
" Tuan katakan pada saya siapa dia yang berani mengganggu perhatian tuan, saya akan segera mengurusnya untuk anda " Saut Sekertaris Yuri dengan sigap, dia tidak ingin kecolongan yang berakibat menurunnya daya produktifitasnya.
" Mengurusnya ? " Tanya Regis mengernyitkan kening.
" Kau yakin mampu mengatasinya ? " Lanjutnya tidak percaya.
" Tentu saja tuan, jangan khawatirkan hal itu " Jawab Sekertaris Yuri cepat.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu " Jawab Regis mengangguk-angguk percaya.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Hoek...hoek...hoek... " Suara tangis Raline menggema di seluruh ruangan, tangisan yang keras dari bayi yang sehat, gemuk dan lebih aktif di malam hari.
Di ruangan khusus Raline itulah sekertaris Yuri saat ini berada, memenuhi janjinya pada tuan Regis. Raline, entah seperti bayi pada umumnya atau tidak, dia selalu bersikap manis dan menggemaskan di siang hari, tapi begitu matahari bersembunyi di belahan bumi yang lain, dia langsung aktif. Seperti boneka yang memiliki tombol on off otomatis yang peka terhadap rangsangan cahaya.
" Jadi tuan putri Raline lah yang mengusik ketenangan tuan Regis " Gumam Sekertaris Yuri pasrah, dia tidak bisa memberikan pelajaran apapun untuk tuan putri yang super menggemaskan itu yang menjadi primadona di Klan Loyard, yang bahkan padanya lah separuh harta warisan tuan Regis akan di berikan, tuan putri yang bahkan mengalahkan popularitas Rai dan Ken di mata tuan Regis.
Sekertaris Yuri mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan, disana memang telah berjaga 3 perawat yang secara khusus untuk merawat Raline.
Ruby sebenarnya ingin merawat sendiri Raline meskipun harus begadang setiap malamnya, namun setelah beberapa hari begadang siang dan malam, Ruby tumbang juga, badannya demam tinggi, menurut hasil pemeriksaan dokter itu bisa di karenakan pembekakan payudara yang biasa terjadi di awal-awal masa menyusui. Hal itu membuat Regis dan Rai sedih, dan mereka memutuskan bergantian menjaga Raline di saat malam hari. Mereka tidak ingin membiarkan Ruby kelelahan setelah melahirkan, apalagi dia butuh pemulihan dari masa nifasnya.
" Biasanya apa saja hal yang harus di lakukan untuk menenangkan tuan putri Raline ? " Tanya Sekertaris Yuri sopan kepada para perawat.
" Biasanya tuan putri akan terdiam dan tertidur lelap dalam gendongan tuan Regis atau tuan Rai, karena entah mengapa kalau wanita selain nyonya Ruby yang menggendong, tuan putri Raline langsung menangis " Jawab perawat itu sopan dan menundukkan kepalanya takut, merasa tidak berguna dalam hal merawat bayi. Namun ada hal-hal yang memang tidak bisa di atur sesuai kehendak orang lain, termasuk Raline, dia pemilih terhadap siapa saja yang menggendongnya.
" Baiklah kalau begitu bantu saya menggendong tuan putri " Perintah Sekertaris Yuri mantap, dia merasa hanya tugas ringan jika harus menggendong tuan putri Raline sampai dia tertidur.
" Tapi tuan, anda harus menggendongnya sepanjang malam " Jawab perawat itu ragu-ragu.
" Sepanjang malam ? Maksudnya begadang ? " Tanya Sekertaris Yuri tidak percaya.
" Benar tuan, entah kenapa tuan putri Raline selalu saja terbangun kembali jika di letakkan di tempat tidurnya, jadi biasanya Tuan Regis atau tuan Rai akan menggendongnya terus sampai matahari terbit " Jawab perawat itu ragu-ragu, kalau sekertaris Yuri tidak mampu menenangkan tuan putri malam ini, maka pekerjaan mereka akan bertambah 2 kali lipat karena tangisan tuan putri, dan mereka terpaksa akan membangunkan Ruby yang sedang sakit.
" Baiklah saya akan mencobanya " Sekertaris Yuri berapi-api, dia tidak akan mengecewakan Tuan Regis yang memberikannya perintah khusus untuk hal ini.
Para perawat pun mulai memakaikan alat bantu untuk menggendong Raline di tubuh sekertaris Yuri, namun yang membuatnya aneh adalah alat khusus yang di pegang oleh perawat lainnya.
" Itu apa ? " Tanya nya heran menunjuk alat yang terlihat seperti botol susu tapi dengan banyak tali dan pengait.
" Ini akan di pasangkan di dada tuan, jadi seolah-olah tuan putri Raline sedang menyusu pada nyonya Ruby " Jawab perawat itu malu-malu.
" Apa ?!? " Pekik Sekertaris Yuri tertahan.
Aku yang seorang perjaka ting-ting belajar menyusui bayi ?
__ADS_1
Seketika hancur sudah harga diri yang dibangun sekertaris Yuri, dia bahkan berpakaian formal dengan setelan jas dan celana yang baru saja dia beli, itu semua karena tuan Regis memberinya perintah khusus.